FATWA MUI No. 04 TAHUN 2007 TENTANG ALIRAN AL-QIYADAH AL-ISLAMIYAH

A. Latar Belakang

    Munculnya kelompok aliran al-Qiyadah al-Islamiyah, Quran Suci, Hidup dibalik hidup dan yang sejenis akhir-akhir ini merupakan fenomena gunung es dalam kehidupan spiritual di masyarakat. Pemahaman semacam ini yang lebih dulu muncul ada Inkar Sunnah, Islam Pembaharu, Islam Jamaah, Al-Zaitun, Jamaah Kerasulan dan lain-lainnya. Pemahaman semacam ini terjadi di semua agama di dunia. Bahkan di dunia kehidupan spiritual pun tumbuh berbagai aliran pemikiran tentang makna hidup lewat berbagai media supranatural. Kejadian semacam ini pun sudah sudah terjadi sejak ribuan tahun yang lalu dengan berbagai variannya.[1] Sekian banyak aliran sesat yang ada di Indonesia seperti aliran al-Qiyadah al-Islamiyah, Ahmadiyah, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), Salamullah (Lia Eden atau Kerajaan Tuhan), NII,  dan lain-lain.

    Aliran sesat ini telah merekrut demikian banyak pengikut dari kalangan Mahasiswa dan Pelajar di berbagai penjuru tanah air. Cara yang mereka lakukan adalah dengan mengajak pelajar Islam untuk mempelajari Al-Qur’an, namun mereka tafsirkan sesuai dengan misi mereka. Lantas mereka kait-kaitkan dengan ajaran Yesus dan ujung-ujungnya mencampur adukan antara ajaran Islam dan Kristen. Nampak dari luar Islam tapi dalamnya Kristen.

    Al-Qiyadah al-Islamiyah didirikan oleh Ahmad Moshaddeq, seorang pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS) Pemerintah DKI Jakarta dan mantan pengurus Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI), pada tanggal 23 Juli 2006. Berbeda dengan penampilan kebanyakan pimpinan agama Islam yang memakai jubah dan memelihara jenggot, Mushaddeq tidak memelihara jenggot. Ia hanya memakai kopiah dan pakaian kemeja dengan kumis tumbuh di ujung sebelah kanan-kiri mulutnya. Sebagai pendiri aliran ini, Moshaddeq mengaku telah mendapatkan wahyu untuk menjadi rasul baru di abad ke-21. Ia percaya, setelah selama 40 hari 40 malam bertapa disebuah Gua, di Gunung Bunder, Bogor, Jawa Barat, Allah menunjuknya untuk menjadi al-Masih al-Mau’ud. Selama tiga hari berturut-turut, ia bermimpi mendapatkan wahyu dari Allah. Ini terjadi di tahun 2001.[2]

    Meskipun mengaku berlandaskan agama Islam, aliran baru ini justru memunculkan doktrin yang menyimpang dari syari’at Islam. Termasuk syariat yang terpenting, yaitu shalat lima waktu, mereka menganggap orang yang shalat sebagai orang yang musyrik, mereka bercita-cita memerangi orang-orang yang shalat, syahadat mereka pun berbeda, bukan lagi “Asyhadu anna Muhammad Rasulullah” tapi “Asyhadu Anna Al-Masih Al-Maw’ud Rasulullah”. Masih banyak keyakinan al-Qiyadah al-Islamiyah yang sangat menyimpang dari prinsip-prinsip ajaran Islam yang murni.[3] Selain memiliki syahadat baru, dimana setiap pengikutnya diminta beriman pada al-Masih al-Mau’ud dan menganggap orang yang tidak beriman padanya adalah kafir, al-Qiyadah al-Islamiyah juga tidak mewajibkan shalat lima waktu, puasa, membayar zakat, dan naik haji.[4] Gerakan yang sangat terselubung menjadikan berbagai pihak menemui kesulitan untuk memantau secara seksama. Gerakan yang terselubung itu baru terangkat menjadi pembicaraan umum setelah MUI mengeluarkan Fatwa sesat No 04 Tahun 2007 pada tanggal 3 Oktober 2007. Fatwa itu didasarkan atas laporan Komisi pengkajian dan pengembangan MUI.[5]

    Al-Qiyadah al-Islamiyah berpusat di Kampung Gunung Sari, Desa Gunung Bunder, Kecamatan Cibungbulan, Kabupaten Bogor, dalam fase dakwahnya, ia miripkan dengan fase dakwah Rasulullah Muhammad SAW, yakni Sirron (Dakwah dengan sembunyi-sembunyi), Jahron (Dakwah dengan terbuka), Hijrah, Qital (perang), Fathu Makkah (dakwah puncak) dan Madinatul Munawaroh (al-Qiyadah tegak di dunia). Terakhir mengklaim bahwa kini dakwah al-Qiyadah sudah memasuki Jahron (Dakwah dengan cara terbuka) dan Madinatul Munawaroh sebagai puncak perjuangannya ditandai dengan berdirinya Khilafah diramal akan terjadi pada tahun 2024.[6]

    Jumlah pengikut aliran al-Qiyadah al-Islamiyah mencapai 41.000 orang.[7] Mereka tersebar di sembilan daerah, yakni Jakarta, Tegal, Cilacap, Yogyakarta, Surabaya, Padang, Lampung, Batam, dan Makasar. Mereka tertarik dengan pendapat Ahmad yang sangat persuasif dan mudah menarik simpati orang. al-Qiyadah al-Islamiyah pun telah menerbitkan beberapa buku yang memuat ajaran mereka dan tersebar khusus di kalangan umatnya. Buku utamanya setebal 192 halaman berisi kisah Al-Masih Al-Mau’ud ketika mendapatkan wahyu berjudul “Ruhul Kudus Yang Turun Kepada Al-Masih Al-Mau’ud”. Disamping dua judul buku lainnya yang disinyalir ditulis oleh Ahmad Mushaddeq sendiri.[8]

    Al-Qiyadah al-Islamiyah, merupakan salah satu aliran sesat yang akan mewakili terhadap fenomena diatas. Sebagai organisasi keagamaan, karena kelompok inilah yang belakangan paling banyak mendapat sorotan. Selain karena ajarannya yang kontroversial, jumlah pengikutnya yang banyak dan hampir tersebar diseluruh daerah di Indonesia. Dalam Islam konsep kenabian sudah di tutup sesuai sabda Nabi Muhammad SAW:

    حَدَّ ثَنَا أَنَسُ بْنُ مَالِكِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الرِّ سَالَةَ وَالنُّبُوَّةَ قَدْ اِنْقَطَعَتْ فَلاَ رَسُوْ لَ بَعْدِي وَلاَ نَبِيَّ (رواه أحمد والترمذي)[9]

    Artinya: Telah menceritakan kepada kami Anas bin Malik dia berkata:  Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya kerasulan dan kenabian telah berhenti. Oleh karena itu, tidak ada lagi rasul dan nabi sesudahku.

    Para pengikut al-Qiyadah al-Islamiyah menolak kenabian Muhammad SAW, karena menganggap kenabiannya berakhir setelah ia meninggal dan hadisnya pun dianggap tidak dapat dipercaya karena dirawikan 320 tahun kemudian setelah Nabi Muhammad wafat, dan untuk menggantikan Muhammad, Mereka mengangkat al-Masih al-Mau’ud, yang tak lain adalah Ahmad Mushaddeq, sebagai nabi pengganti.[10] Hal ini tentunya akan menjadi obyek yang menarik sebagai kajian bagi Intelektual Muslim baik dari sisi ajaran al-Qiyadah al-Islamiyah itu sendiri maupun untuk melihat sejauh mana Fatwa Majelis Ulama  Indonesia (MUI) dalam pelarangan aliran al-Qiyadah al-Islamiyah di Indonesia sebagai salah satu aliran sesat.

    Dalam hal ini penulis lebih terfokus pada aliran al-Qiyadah al-Islamiyah, karena aliran ini dinyatakan sesat di Indonesia, mungkin kelompok inilah yang belakangan paling banyak mendapat sorotan. Selain karena ajarannya yang kontroversial, jumlah pengikutnya yang banyak dan hampir tersebar diseluruh daerah di Indonesia cukup mengejutkan berbagai khalayak,[11]

    MUI sebagi salah satu lembaga yang aktif memberikan saran kepada pemerintah mengenai keberadaan aliran-aliran agama di Indonesia, bersikap hati-hati menghadapi penyimpangan yang ditunjukan oleh al-Qiyadah al-Islamiyah. Setelah melalui penelitian dan pengamatan selama tiga bulan, maka pada tanggal 3 Oktober 2007, MUI melalui ketuanya DR. KH. M. Anwar Ibrahim mengeluarkan Fatwa No 04 tahun 2007, menyatakan bahwa aliran al-Qiyadah al-Islamiyah sesat. Keputusan itu lahir setelah MUI membuktikan bahwa ajaran al-Qiyadah al-Islamiyah menodai dan mencemari agama Islam.[12]

    Disamping fatwa MUI No 04 Tahun 2007 mengenai aliran  al-Islamiyah menyesatkan, Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat juga menggelar pertemuan pada tanggal 7 November 2007, dalam pertemuan tersebut kejaksaan Agung mengundang unsur-unsur Bakor Pakem (Badan Koordinasi Pengawasan Aliran Keagamaan) Pusat antara lain Markas Besar Polisi Republik Indonesia, Departemen Agama dan Departemen Pendidikan Nasional, pertemuan dijadwalkan berlangsung di Kejaksaan Agung dan dipimpin oleh Jam Intel (Jaksa Agung Muda Intelejen) Wisnu Subroto. Pihak yang hadir, selanjutnya, dimintai pendapatnya masing-masing mengenai aliran kepercayaan yang kini ada, termasuk al-Qiyadah al-Islamiyah, dari hasil pertemuan tersebut dapat ditentukan apakah aliran-aliran menyimpang atau tidak. Jika mereka terbukti menyimpang bisa dikenai pasal-pasal tentang penodaan atau penistaan agama.[13]

    B. Biografi Ahmad Mushaddeq

      Ahmad Mushaddeq adalah nama lain dari Abdul Salam, atau Abu Salam, yang berusia 63 tahun. Sebelumnya dia adalah Pegawai Negeri Sipil Pemerintah DKI Jakarta yang membidangi olah raga. Pada 1971, dia pernah menjadi pelatih bulutangkis. Ia juga pernah menjadi salah seorang pembina di PBSI (Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia). Adapun istrinya, Hj. Dra. Waginem, adalah mantan kepala SMP Al-Azhar kemang Jakarta Selatan.

      Penguasaannya tentang ilmu agama didapat dengan belajar sendiri. Dia mempelajari Al-Qur’an secara otodidak, sehingga mempunyai pemahaman dan keyakinan sendiri. Istrinya merupakan orang pertama yang menerima pelajaran itu. Bahkan Mushaddeq juga mengaku pernah turut membangun Negara Islam Indonesia KW-9 (NII KW-9).

      Pada awal tahun 2000-an, Abdul Salam mulai mengajarkan pemahamannya dan mendirikan kelompok al-Qiyadah-al-Islamiyah. Pada tahun 2006 dis bersemedi selama 40 hari 40 malam di Gunung Bunder, Bogor. Sejak 23 Juli 2006, Abdul Salam menyatakan dirinya sebagai rasul, serta mengaku mendapatkan wahyu dari Allah untuk menggantikan posisi Nabi Muhammad SAW.

      Abdul Salam mengaku mendapatkan petunjuk tersebut melalui mimpi sebanyak tiga kali. Setelah itu, ia mengangkat dirinya menjadi rasul Allah dan mengubah namanya menjadi Ahmad Mushaddeq. Berdasarkan keterangan yang didapat, Ahmad Mushaddeq merupakan tipe orang sangat luwes, ramah, dan simpati dengan penderitaan orang lain, sehingga bisa membuat seseorang cepat tertarik dan bersimpati. Dalam kondisi psikologi seperti ini, masyarakat yang tengah dilanda kesulitan ekonomi dan memiliki barbagai masalah hidup, ketika didatangi orang seperti Mushaddeq, mereka dapat dengan mudah tertarik masuk jadi pengikutnya.

      Pendiri Al-Qiyadah Al-Islamiyah, Ahmad Mushadeq, alias Abdul Salam, atau Pak Haji dikenal sebagai pribadi yang jarang komunikasi dengan warga masyarakat. Ia bisa menghabiskan waktu seharian di warung kopi. Setidaknya, seperti itu pendapat beberapa warga di Jl. Haji Kahfi Jagakarsa Jakarta Selatan jika ditanya tentang Mushaddeq. Sebagai catatan, markas Al-Qiyadah Jakarta terletak di Jl. Haji Kahfi tersebut.[14]

      C. Sejarah Berdirinya Al-Qiyadah Al-Islamiyah

        Al-Qiyadah Al-Islamiyah Didirikan pada tanggal 23 Juli 2006 oleh Ahmad Moshaddeq alias H Salam. Dirinya mengaku sebagai nabi baru yang menggantikan posisi Nabi Muhammad SAW dan mendapatkan wahyu dari Allah SWT.Pengakuan itu muncul setelah dirinya melakukan pertapaan selama 40 hari 40 malam. Pelantikan H Salam sebagai rasul dilakukan pada tanggal yang sama di Gunung Bunder, Bogor, Jawa Barat. Kitab suci yang diyakini aliran ini tetap al-Qur’an. Hanya saja, mereka menafsirkan sendiri kandungan ajaran al-Qur’an, tanpa merujuk pada pendapat para ahli tafsir masa lalu.[15]

        Berawal dari pencarian identitas diri dan pemantapan spiritualitas seorang man­tan pegawai negeri sipil Pemerintah Daerah DKI Jakarta, dan mantan pelatih bulu­tang­kis Indonesia, bernama H. Abd Salam atau Ahmad Moshaddeq, lahirlah sebuah aliran baru yang cukup menggegerkan muslim Indonesia. Ia terlahir sebagai putera Betawi di kawasan Jalan Bangka, Jakarta Selatan. Sebagai putera Betawi, tentu saja ia terbiasa me­laksanakan ajaran Islam yang dianut mayoritas komunitas etnis ini, yaitu Islam Sunni. Meskipun alumni Sekolah Tinggi Olah raga, ia lancar mengucapkan lafal al-Qur’an dengan baik. Mungkin karena  pendidikan agama yang diperoleh dari orang tuanya atau mengaji di lingkungan tempat tinggalnya yang banyak berdiri mushalla atau masjid, tempat mencari ilmu agama. Bahkan  menurut para tetangganya, sejak muda ia sangat aktif sebagai pengurus masjid di lingkungannya.

        Al-Qiyadah al-Islamiyah terbentuk pada tahun 2000 setelah terjadi ketidak cocokan dengan metode pada NII KWIX pimpinan Panji Gumilang. Menurut pendapat Moshaddeq, kehancuran Khilafah Islamiyah tahun 1923 merupakan akhir dari zaman peradaban Islam yang diajarkan Muhammad Saw dan dalam fase stagnan (tanpa kepemimpinan) ummat Islam akan menghadapi kegelapan (layl) dan pada masa menjelang kebangkitan Islam ke-dua ummat Islam mesti melakukan persiapan berdasarkan amsal shalat malam qiyaamu llayl, yang kemudian di waktu shubuh saat matahari (amsal Nur Allah )mulai terbit dan bulan ( Nur Kenabian )mulai tenggelam perjuangan ummat Islam secara aktif mulai dilaksanakan dipimpin oleh seorang pembawa Risalah diteruskan oleh Khalifah selama 700 tahun.[16]

        Jumlah pengikut Al Qiyadah, tercatat ada 41 ribu orang di sembilan wilayah di Indonesia, antara lain, Jakarta, Lampung, Makassar. Kebanyakan dari pengikutnya adalah pelajar dan mahasiswa, sekitar 60 persen,” kata Adang. Menurut data dari Kepolisian RI, pengikut di Jakarta 8.972 orang. Sedangkan pengikut di Jawa Tengah, di Tegal 511 orang dengan pimpinan Ejam Muhtadi, serta di Cilacap 1.446 orang dengan pimpinan David Fatonah. Di Yogyakarta ada 5.114 orang pengikut dengan pimipinan Mushadik, 60 persen di antaranya mahasiswa. Sedang di Jawa Timur terdapat di Surabaya dengan pengikut 2.610 orang dipimpin Muzakkir. Untuk wilayah Sumatera, tersebar di Padang, Sumatera Barat dengan 1.306 pengikut dengan pimpinan Malik Akbar. Juga ada di Lampung dengan 1.467 orang yang dipimpin Muhyidin al Muntajar. Ada juga di Batam dengan pengikut 2.320 orang yang dipimpin Yozua Ibnu Khatab. Di Sulawesi terdapat di Makassar, Sulawesi Selatan dengan 4.101 orang, dipimpin Imam Khawari. Sementara untuk menghindari tindak kekerasan yang dilakukan masyarakat, sampai saat ini sudah 40 orang pengikut Al Qiyadah Jakarta yang diamankan polisi. “Rinciannya di wilayah Jakarta Utara, 8 orang. Di Jakarta Selatan 8 orang, Jakarta Barat 24 orang,[17]

        Al-Qiyadah Al-Islamiyah sudah membubarkan diri secara kelembagaan, namun karena faktor-faktor (antara lain sistem ekonomi yang terus berputar) secara de fakto kegiatan masih berjalan dalam pengawasan KH Agus Miftach dari Wahdatul Ummah dan KH Said Agil Siradj dari NU, jamaah dipimpin oleh rekan seperjuangan Ahmad Mushaddeq yaitu Ustadz Mudzakkir.[18]

        Dalam menyebarkan aliran ini, memiliki 6 fase yaitu sirran (rahasia), jahran (inklusif), hijrah (berpindah), qital (perang), futuh (kemenangan) dan khilafah (pemimpin). Menurut internal Al-Qiyadah model fase ini mengambil dari uswah/contoh dari fase-fase enam tahap penciptaan alam semesta (Kerajaan Allah di alam aktual), enam tahap penciptaan manusia (dari zigot menjadi bayi), dan fase perjuangan Nabi Muhammad Saw. Dimana fase-fase tersebut mesti dijalankan secara sempurna. Pada tahun 2023 (bertepatan dengan 100 tahun kehancuran Khilafah Islamiyah 1923, istilahnya:masa tidur Uzair) diproyeksikan bahwa Bangsa Indonesia akan memimpin Khilafah.

        Al-Qiyadah Al-Islamiyah memiliki organisasi yang terstruktur, dengan jabatan:

        1. Rasul , Pemimpin Tertinggi
        2. Mala’ul Awwal
        3. Mala’ul Tsani
        4. Katib, Sekretaris
        5. Wazir, Manajemen
        6. Kisbul Maliyah, Finansial
        7. Kisbul Ummah, Sumber daya Manusia
        8. Kisbul Difa’, Keamanan/Security

        Sedangkan tingkatan ada tujuh tingkatan dengan model piramid sesuai struktur langit dalam surat Al-Mulk. Dimulai dari tingkat paling bawah:

        1. Misbah membawahi 1 – 10 KK
        2. Buruj membawahi 12 Misbah
        3. Siraj membawahi 12 Buruj
        4. Thariq membawahi 12 Siraj
        5. Najm membawahi 12 Thariq
        6. Kawakib membawahi 12 Najm
        7. Mala’ul A’la membawahi 12 Kawakib[19]

        1.  Ajaran-Ajaran Al-Qiyadah Al-Islamiyah Yang Berkenaan Dengan Aqidah

        1. Syahadat baru

        Lafadz syahadat baru mereka adalah ”Asyhadu an laa ilaaha ill Allah wa asyhadu ann Masih al-Mau’ud Rasulullah”.

        1. Jika pengikut aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah melakukan suatu perbuatan dosa, maka mereka hanya perlu menebus dosa mereka kepada Al-Masih Al-Mau’ud dengan memberikan sejumlah uang kepadanya.
        2. Aliran ini memiliki pemahaman, bahwa ajaran yang dibawa Musa, Yesus dan Musaddeq adalah sama, karena mamiliki sumber ajaran yang juga sama, yaitu Allah.
        3. Ajaran-ajaran aliran ini tidak hanya didasarkan interprestasi ajaran islam, melainkan juga mengajarkan paham-paham kristen, bahkan banyak mengutip dan mendasarkan ajarannya pada Alkitab.
        4. Secara garis besar, ayat-ayat Mutasyabihat (menurut versi al-Qiyadah) ialah yang berbicara tentang hari kiamat. Neraka dianggap sebagai simbol kehancuran kekuasaan jahiliyah Quraisy pada masa Rasulullah karena keberhasilan rasul dan para sahabatnya. Misalnya pada tafsir Al-Haqqah: 16-21, tafsir dari ayat 6 dari QS. Al-Ma’arij, tafsir dari QS. Al-Muzammil.
        5. pengelompokan manusia menjadi tiga golongan yaitu: Ashabul A’raf adalah Assabiqunal Awwalun, Ashabul Yamin adalah golongan anshar, Ashabul Syimal adalah golongan oposisi yang menentang rasul.
        6. Penafsiran tentang malaikat yang memilul Arsy seperti yang tersurat dalam QS. Al-Haqqah ayat 17, al-Qiyadah menafsirkan malaikat itu sebagai para ro’in atau mas’ul yang telah tersusun dalam tujuh tingkatan struktur serta kekuatan massa ada di bumi.
        7. penafsiran (Man fis samma: yaitu siapakah yang ada dilangit), dalam surat QS. Al-Mulk ayat 16 diartikan sebagai benda-benda angkasa dan pada ayat 17 yang diartikan sebagai penguasa langit.
        8. Kapal Nuh ditafsirkan sebagai sarana organisasi dakwah yang dikendalikan oleh Nuh sebagai nakoda. Ahli nuh adalah orang-orang mukmin yang ikut beliau, sedangkan binatang ternak yang dimasukan berpasang-pasangan adalah penumpang umat yang ikut mengikuti beliau. Lautan yang dimaksud adalah bangsa Nuh yang musyrik.

        10. Al-Qiyadah menafsirkan hakikat jin, sejenis manusia yang hidupnya tertutup dari pergaulan manusia biasa (orang-orang yang memiliki kemampuan berfikir dan berteknologi yang selalu menjadi pemimpin dalam masyarakat manusia) golongan yang dimaksud dalam QS. Al-Jin adalah orang-orang nasrani shaleh yang berasal dari utara Arab.[20]

        2.  Ajaran-Ajaran Al-Qiyadah Al-Islamiyah Yang Berkenaan Dengan Ibadah

        1. Kelompok Al-Qiyadah Al-Islamiyah mempunyai cara ibadah yang bersifat wajib, yanh dikenal dengan 6 program ibadah yaitu:

        a.   Qiyamul Lail (sholat malam/tahajud)

        b.   Hafidz Qur’an (menghafal qur’an)

        c.  Taklim (Belajar)

        d.  Talwiyah (Menyampaikan dakwah)

        e.  Taswiyatus Shufuf (merapatkan shof)

        1. Shodaqoh

        Shodaqoh adalah tindakan pembenaran akan program-program risalah dengan mengeluarkan Amwal (harta) sebagai bukti kecintaannya  terhadap Allah.[21]

        1. Tidak melaksanakan shalat wajib lima waktu, zakat, puasa, haji dan sebagainya. Hal ini karena  Al-Qiyadah Al-Islamiyah berpendapat bahwa kini mereka masih berada dalam fase mekah, sehingga mereka hanya fokus

        dalam mengajarkan aqidah mereka, dan tidak melaksanakan kewajibannya seperti wajib lima waktu, zakat, puasa, haji dan sebagainya.[22]

        3.  Respon Masyarakat Terhadap Aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah

        Berdasarkan data dan informasi yang diperoleh sementara, masyarakat dan or­mas Islam, seperti NU, Muhammadiyah, dan ormas Islam lainnya, mengecam keras alir­an ini. Mereka mendesak pemerintah untuk membubarkan dan menangkap pe­mimpin anggota aliran ini. Masyarakat khawatir bila dibiarkan, aliran ini akan mengganggu keimanan dan keamanaan masyarakat muslim lainnya.

        Desakan itu terus dilakukan ter­lebih setelah MUI mengeluarkan fatwa diperkuat dengan hasil investigasi Depag bahwa al-Qiyâdah al-Islâmiyah termasuk salah satu aliran sesat dan dilarang ber­kem­bang di Indonesia. Desakan ormas Islam dan MUI untuk membubarkan al-Qi­yâdah al-Islâmi­yah, semakin menambah kepercayaan para anggota aliran ini, bahwa al-Qiyâdah al-Is­lâmiyah adalah yang benar. Karena itu, mereka tetap pada pendirian bah­wa mereka ti­dak akan kembali ke ajaran Islam lama yang mereka anut atau bertobat.

        Majelis Ulama Indonesia (MUI), meng­an­jurkan kepada mereka yang sudah terlanjur menjadi anggota aliran ini untuk bertobat dan kembali kepada ajaran Islam yang selama ini dianut oleh muslim In­donesia dan mungkin juga dunia. Tetapi tetap saja mereka tidak bergeming dan ber­ta­han pada ke­ya­kinan. Menurut Fachry Ali, pemerintah sulit membendung aliran sesat se­perti al-Qiyâ­dah al-Islâmiyah. Alasannya, pemerintah ada dalam posisi yang dilematis, karena tiap tindakan (pemberantasan) dikategorikan sebagai pelanggaran kebe­basan ber­a­gama dan itu juga berarti pelanggaran terhadap Hak Asasi Manusia ( HAM).[23]

        D. Dasardasar Hukum Fatwa MUI Nomor 04  2007 Tentang Aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah

          Majelis Ulama Indonesia merupakan wadah perkhidmatan yang mendasari semua langkah dan ajaran Islam. Karena Islam adalah agama yang berdasarkan pada prinsip tauhid dan mempunyai ajaran yang meliputi seluruh aspek kehidupan manusia. Dimana Majelis Ulama Indonesia merupakan wadah perkhidmatan ijabiyah yang senantiasa memberikan jawaban positif terhadap setiap permasalahan yang dihadapi masyarakat melalui prakarsa kebajikan (amal saleh) dalam semangat berlomba.

          Keputusan fatwa dirumuskan dengan bahasa hukum yang mudah dipahami oleh masyarakat luas. Dimana keputusan fatwa ini memuat salah satunya konsideran yang terdiri atas tiga bagian, yang pertama adalah menimbang, kedua mengingat, ketiga memperhatikan. Dari ketiga bagian tersebut, maka mengingat itu merupakan isi keputusan fatwa yang memuat tentang dasar-dasar hukum.

          Penetapan fatwa MUI menggunakan Al-Qur’an, sunnah (hadis), ijma’, dan qiyas. Dimana Al Qur’an merupakan kitab suci umat Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang secara beransur-ansur sebagai jawaban permasalahan-permasalahan yang terjadi. Sedangkan sunnah adalah ucapan, perbuatan serta ketetapan-ketetapan Nabi SAW. Kemudian ijma’ adalah  salah satu dalil syara’ yang memiliki tingkat kekuatan argumentatif setingkat di bawah dalil-dalil nash (Al Qur’an dan Sunnah) yang merupakan dalil pertama yang dapat dijadikan pedoman hukum setelah Al Qur’an dan hadits. Dan qiyas ialah menerangkan hukum sesuatu yang tidak ada nashnya dalam Al Qur’an dan Hadits dengan cara membandingkannya dengan sesuatu yang ditetapkan hukumnya berdasrkan nashnya.[24] Selain itu juga bersifat responsif, proaktif, dan antisipatif, dimana aktivitas penetapan fatwa dilakukan secara kolektif oleh suatu lembaga yang dinamakan ”Komisi Fatwa”.

          Firman Allah SWT:

          $¨B tb%x. JptèC !$t/r& 7‰tnr& `ÏiB öNä3Ï9%y`Íh‘ `Å3»s9ur tAqߙ§‘ «!$# zOs?$yzur z`¿ÍhŠÎ;¨Y9$# 3 tb%x.ur ª!$# Èe@ä3Î/ >äóÓx«   $VJŠÎ=tã﴿40﴾

          Artinya : Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (Q.S. Al-Ahzab Ayat 40).

          Qur’an Surat Al-An’am Ayat:153

          ¨br&ur #x‹»yd ‘ÏÛºuŽÅÀ $VJŠÉ)tGó¡ãB çnqãèÎ7¨?$$sù ( Ÿwur (#qãèÎ7­Fs? Ÿ@ç6¡9$# s-§xÿtGsù öNä3Î/ `tã ¾Ï&Î#‹Î7y™ 4 öNä3Ï9ºsŒ Nä38¢¹ur ¾ÏmÎ/ öNà6¯=yès9 tbqà)­Gs? ﴿153﴾

          Artinya : Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) Karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalannya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa. (Q.S. Al-An’am Ayat 153)

          Hadits Nabi SAW

          حَدَّ ثَنَا أَنَسُ بْنُ مَالِكِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الرِّ سَالَةَ وَالنُّبُوَّةَ قَدْ اِنْقَطَعَتْ فَلاَ رَسُوْ لَ بَعْدِي وَلاَ نَبِيَّ (رواه أحمد والترمذي)

          Artinya: Telah menceritakan kepada kami Anas bin Malik dia berkata:   Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya kerasulan dan kenabian telah berhenti. Oleh karena itu, tidak ada lagi rasul dan nabi sesudahku.

          عن قر ات القر از سمعت ابا حازم قال فاعدت ابا هريرة خمس سنين فسمعته يحدث عن النبى صلى الله عليه وسلم قال كا نت بنو  إسراليل تسوسهم الأنبيإ كلما هلك نبي خلقه نبي وانه لا نبي بعدى (متفق عليه)

          Artinya : Nabi SAW bersabda: dahulu Bani Israel dipimpin oleh para nabi, seorang nabi meninggal maka digantikan oleh nabi lain. Dan sesungguhnya tidak ada nabi sesudah aku.

          E. Istimbath Hukum MUI untuk Mengeluarkan Fatwa No. 04 Tahun 2007 Tentang Aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah

            Kajian mengenai fatwa MUI telah dilakukan oleh sejumlah cendikiawan muslim Indonesia . M. Atho Muhdzar dan Ahmad Fathoni telah melakukan penelitian mengenai fatwa MUI. Antara dua penelitian tersebut terdapat sedikit perbedaan. Penelitian atho muhdzar dilakukan terhadap fatwa yang dihasilkan antara tahun 1975-1988. Sedangkan Ahmad Fathoni lebih mengutamakan istimbath hukumnya.

            Pedoman fatwa MUI di tetapkan dalam surat keputusan MUI Nomor U-596/MUI/X/1997. Dalam surat keputusan tersebut terdapat tiga bagian proses utama dalam menentukan fatwa dan teknik serta kewenangan organisasi dalam penetapan fatwa.

            Istimbath hukum yang digunakan MUI untuk mengeluarkan fatwa No. 04 Tahun 2007 Tentang Aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah adalah sebagaimana uraian pada bab sebelumnya yaitu bahwa MUI mengeluarkan dasar-dasar fatwa berupa teks kitab suci Al-Qur’an, hadist, ijma, dan dalil-dalil hokum lainnya seperti ushul fiqih dan lain-lain sesuai dengan dasar-dasar umum penetapan fatwa MUI yang terdapat dalam pasal 1 dan 2.

            Setelah MUI menemukan dasar dalam teks baik itu ayat-ayat Al-Qur’an, hadist maupun kaidah fiqhiyah maka sesuai dengan yang disosialisasikan dalam berbagai media bahwa fatwa tersebut adalah sebagai hasil keputusan Ijtima Ulama komisi fatwa se-Indonesia pada tanggal 21 Ramadhan 1428 H/03 Oktober 2007M. Penulis berpendapat bahwa, bila terdapat Ijtima maka putusan tersebut sudah sebagai keputusan dari kesepakatan bersama dari Ulama Komisi Fatwa MUI pada saat membahas fatwa tentang aliran sesat tersebut. Menurut penulis, fatwa tentang aliran sesat tersebut juga sudah merupakan bagian dari kewenangan MUI sesuai pasal 10 yang disebutkan di atas. Yaitu fatwa tentang masalah-masalah keagamaan yang menyangkut umat Islam Indonesia secara nasional.

            Dalam menganalisis istimbath hukum yang digunakan MUI untuk mengeluarkan fatwa No.04 tahun 2007 tentang aliran sesat, maka  penulis sangat perlu untuk menelaah teks fatwa tersebut. Penulis berupaya semaksimal mungkin dengan kemampuan dan kapasitas yang dimiliki penulis. Sebagai penulis, walaupun masih sebagai mahasiswa namun siapapun sebagai manusia memiliki hak untuk dapat menempatkan diri dan dikatakan sebagai penafsir. Hal ini sesuai dengan pendapat Komarudin Hidayat bahwa: tidak salah jika dikatakan bahwa man is an interpreter being (manusia adalah makhluk penafsiran).

            Pada item pertimbangan fatwa tertulis bahwa tindakan aliran al-Qiyadah al-Islamiyah dengan berbagai bentuknya yang terjadi akhir-akhir ini di beberapa daerah di tanah air telah menimbulkan keresahan masyarakat, menurut penulis: bila saja aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah tidak terjadi di Indonesia sangat mungkin MUI tidak mengeluarkan fatwa tersebut.

            Setelah itu tertulis pertimbangan: bahwa terdapat tindakan aliran sesat al-Qiyadah al-Islamiyah terjadi beberapa persepsi, sebagian menganggapnya sebagai ajaran aliran al-Qiyadah al-Islamiyah sebagai ajaran sesat, karena mereka mempunyai pandangan bahwa ajaran tersebut menyimpang dari aqidah Islam yang sesungguhnya,  mereka mengatakan bahwa tidak mengakui kedudukan nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul terakhir. Sedang bagian yang lain menganggapnya sebagai ajaran pembaharu Islam. Penulis berpendapat bahwa dengan pertimbangan tersebut MUI memberi penjelasan adanya berbagai anggapan atau persepsi mengenai aliran sesat yang kurang tepat bahkan mendekati salah. Pada dasarnya fatwa ini salah satunya adalah sebagai bagian dari ikhtiar umat Islam dalam menjawab sekaligus meluruskan anggapan-anggapan salah yang berkembang di masyarakat tentang aliran sesat.

            MUI mengutip ayat-ayat al-Qur’an diantaranya adalah surat al-Ahzab ayat 40.

            مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

            Artinya: Muhammad sekali-kali bukanlah bapak dari seseorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. Al Ahzab ayat 40)

            Dalam tafsir Al-Misbah, M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa:

            Kaum musyrikin, orang Yahudi dan kaum munafikin menganggap perkawinan Nabi Muhammad dengan Zainab sebagai perkawinan ayah terhadap istri anaknya (HR. at-Tirmidzi melaui Aisyah ra), karena mereka menganggap bahwa anak angkat sama statusnya dengan anak kandung, padahal al-Qur’an telah membatalkan tradisi itu melaui awal surat ini(ayat 4). Di sini ditegaskan bahwa: Muhammad SAW, kendati mempunyai sekian istri dan sekian anak kandung laki-laki, sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki dewasa di antara kamu yang hidup dewasa ini. Dengan demikian tdaklah benar jika jika perkawinannya dengan Zainab dinilai perkawinan terhadap bekas istri anaknya, tetapi dia Rasulullah yakni bapak umat yang memelihara dan membimbing mereka dan yang harus diagungkan serta dihormati dan penutup nabi-nabi dan dengan demikian tidak ada lagi nabi sesudah beliau.

            Kata (رجال)   rijal adalah bentuk dari jamak dari kata (رجل) rajul yang pada umumnya diartikan lelaki dewasa. Penggunaan kata ini penting, karena Nabi Muhammad saw. Di sisi lain, beliau mempunyai empat anak laki-laki yaitu Qasim, ath-Thayyib, ath-Thahir dan Ibrahim, atau paling tidak dua orang yaitu al-Qasim dan Ibrahim, bagi ulam yang berpendapat bahwa ath-Thayyib dan ath-Thahir adalah gelar bagi al-Qasim. Namun mereka wafat sebelum dewasa. Penisbahan kata rijal kepada mitra bicara (رجالكم) rijalakum/laki-laki dewasa kamu menurut sementara ulama mengisyaratkan bahwa yang dimaksud adalah yang dewasa pada masa turunnya ayat ini. Katena Sayyidina al-Hasan dan al-Husain, cucu Nabi SAW. Juga dinamakan anak beliau, namun ketika itu mereka masih anak-anak.[25]

            MUI menggunakan ayat ini unutuk menunjukan bahwa kerasulan Muhammad sebagai penutup para nabi dan rasul.

            Ayat berikutnya adalah surat al-An’am ayat 153.

            وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

            Artinya: “Dan bahwa ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia: dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), sehingga menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa” (Al-An’am: ayat 153)

            Dalam tafsir Al-Misbah, M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa:

            Wasiat terakhir yakni yang kesepuluh mencakup apa yang belum disebut oleh kedua ayat sebelumnya, yaitu dan bahwa ini, yakni kandungan wasiat-wasiat yang disebut di atas atau ajaran agama Islam secara keseluruhan adalah jalan-Ku yang lapang dan lurus, maka ikutilah dia dengan penuh kesungguhan, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain yang bertentangan dengan jalan-ku ini, karena jalan-jalan itu adalah jalan-jalan yang sesat, Sehingga bila kamu mengikutinya ia mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya yang lurus lagi lapang itu. Yang demikian, yakni wasiat-wasiat yang sungguh tinggi nilainya itu diwasiatkan kepada kamu agar kamu bertaqwa, sehingga terhindar dari segala macam bencana.[26]

            Menurut penulis dari penjelasan diatas: sebenarnya kita diperintahkan untuk mengikuti jalan Allah atau agama Allah dan apabila kita mengikutinya kita akan selamat, dan sebaliknya jika kita bertentangan dengan jalannya maka kita akan celaka, karena itu jalan yang sesat. Selanjutnya mengenai fatwa MUI yang keempat yang mengenai ajaran al-Qiyadah al-Islamiyah telah terbukti mencemari agama Islam karena mengajarkan ajaran yang menyimpang dengan mengatas namakan Islam.

            Ayat berikutnya adalah surat al-Baqarah ayat 217.

            وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

            Artinya: “Dan Barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalnya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal didalamnya”. (AlBaqarah: ayat 217).

            Dalam tafsir Al-Misbah, M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa:

            Adanya perintah berperang sebelum ayat ini dengan redaksi yang bersifat umum menimbulkan pertanyaan di kalangan para sahabat, tentang peperangan pada bulan haram. Pertanyaan ini menjadi penting, karena trlah melekat dalam benak mereka perintah membunuh kaum musyrik di mana saja mereka berada kecuali di Masjid al-Haram (ayat 191). Disisi lain, kaum musyrik Mekah juga mengecam kaum muslim atas peristiwa pasukan Abdullah ibn Jahesy yang beranggotakan dua belas orang sahabat Nabi Saw. Dengan mengawasi kafilah musyrik Mekah, dan mencari informasi tentang rencana-rencana mereka. Pasukan itu menemukan kafilah dimaksud pada akhir bulan Rajab. Dalam riwayat lain awal bulan Rajab yang merupakan salah satu bulan haram. Ada juga yang mengatakan bahwa ketika itu, anggota pasukan menduga bahwa mereka masih berada pada penghujung bulan Jumadil Akhir. Mereka memutuskan untuk membunuh dan merampas kafilah. Seorang angota kafilah terbunuh, seorang berhasil melarikan diri, dan seorang lagi ditahan. Kafilah dan tawanan dibawa ke Madinah menemui Rasul  saw.[27]

            وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

            Artinya: “Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami arahkan dia kearah yang dipilih dan kami masukan ia ke dalam jahanam, dan jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali” (QS. An-Nisa Ayat 115).

            M. Quraish Shihab Dalam tafsir Al-Misbah,  menafsirkan:

            Setelah menjelaskan ganjaran bagi yang mengikuti tuntunan Rasul saw, ayat ini memperingatkan bahwa, dan barang siapa yang terus menerus menentang Rasul, sehingga ada di dalam hatinya atau perbuatannya sesuatu yang menentang beliau sudah jelas kebenaran baginya, dan upaya menentang itu dilanjutkan dengan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami arahkan dia, yakni kami biarkan dia leluasa, kearah yang dia pilih atau kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan kami masukan ia di akhirat nanti kedalam jahanam, yang menyambutnya dengan wajah muram dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali[28].

            Yang terakhir, dalil al-Qur’an yang digunakan MUI adalah surat QS. Ali-Imron: ayat 32.

            قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ

            Artinya: “Katakanlah:’Taatilah Allah dan Rasul, jika kamu berpaling , maka sesungguhnya Allah tidak Menyukai orang-orang kafir”(QS. Ali-Imron: ayat 32).

            Dalam tafsir Al-Misbah M. Quraish Shihab,  menjelaskan:

            Ayat ini masih berkaitan dengan sangat erat dengan ayat yang lalu, yang mengajak kepada cinta Allah dan Rasul-Nya. Tidak diragukan bahwa peringkat mengikuti dan meneladani Nabi yang mengantar kepada cinta Allah adalah suatu peringkat yang tidak mudah diraih, maka ayat ini mengajak kepada tingkat yang lebih rendah, seakan-akan al-Qur’an berpesan; “kalau anda tidak dapat mengikuti dan menaladani beliau sehingga mencapai tingkat cinta, maka paling tidak, taatilah beliau dengan mengerjakan apa yang beliau wajibkan atas nama Allah, dan jauhilah apa yang beliau haramkan atas nama Allah. Kalau ini pun kalian tolak dengan berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”[29]

            Menurut penulis, beberapa ayat al-Qur’an yang digunakan MUI sebagai dalil untuk memutuskan fatwa, banyak terjadi pemenggalan-pemenggalan ayat dimana MUI hanya mengambil ayat setengahnya bahkan seperempat dari ayat seperti yang terlihat dalam pengambilan surat al-Baqarah ayat 217. Sehingga makna dari ayat itu terlihat tidak utuh. Karena menurut penulis, kaitan lafadz yang satu dengan yang lain dalam satu ayat sangat erat hubungan maknanya.

            Dengan ditampilkannya ayat yang tidak utuh maka dapat berpeluang menjadikan siapapun yang membaca dalil tersebut akan salah paham dalam mengeatuhi maknanya. Hal ini terlihat dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 127  yang hanya menulis dalil Bila hanya seperti itu maka pembaca bias memaknai bahwa arti : “Barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalnya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal didalamnya”. Padahal makna sesungguhnya ayat itu adalah secara gambling menekankan upaya busuk kaum tidak beriman. Segala cara mereka gunakan, dan terus menerus hingga akhir hayat, untuk mencapai tujuan mereka memurtadkan umat Islam, itu kalau mereka dapat mencapai tujuan tersebut. Tetapi selama iman tetap mantap di dalam hati, maka tujuan itu diragukan akan mereka capai. Keraguan ini dilukiskan pada anak kalimat diatas yang menggunakan kain in (إن)  in itu mengandung makna diragukan atau sesuatu yang diandaikan jarang terjadi. Sejalan dengan penafsiran Qurais Shihab dalam al-Misbah diatas.

            MUI juga mengutip beberapa hadist nabi diantaranya adalah

            عن فرات القران : قال سمعت أ با حازم قال قاعد ت  ابا هريرة  خمس سنين فسمعته يحدث عن النبي صلى الله وسلم قال كا نت بنو إسرإًَُيل تسو سهم الأنبيا كلما هلك  نبي خلفه  نبي وإنه لا نبي بعدى (متفق عليه)

            “Nabi SAW bersabda: dahulu Bani Israel dipimpin oleh para Nabi, setiap seorang nabi meninggal maka digantikan oleh nabi lain. Dan sesungguhnya tidak ada nabi lain sesudah aku”  (Mutafaqun alaih).

            حد ثنا مسدد حدثنا يحي عن شعبة عن الحكم عن مصعب بن سعد عن أبيه أن رسول الله صل الله عليه وسلم خرج الى تبوك واستخلف عليا فقال أتخلفنى فى الصبيان والنساء قال ألا ترضى أن تكون منى بمنز لة هرون من موسى إلا أنه ليس نبى بعدى [30]

            Bahwa Rasulullah SAW pergi menuju tabuk dan digantikan Ali, maka beliau bersabda apakah kamu menggantiku untuk melindungi anak-anak dan perempuan ? nabi bersabda apakah kamu tidak rela dariku jika kamu menempati tempatnya harun dari musa kecuali sesungguhnya tidak ada nabi setelah aku.

            Dua hadist diatas menyatakan Muhammad sebagai nabi dan rasul yang terakhir, dan sesungguhnya tidak ada nabi dan rasul sesudahnya.

            Menurut analisis penulis, dalil-dalil yang digunakan MUI sudah cukup relevan karena tergolong hadist yang sahih sehingga tidak perlu diragukan penggunaannya, hal ini berdasarkan pendapat para ulama yang menyebutkan kriteria kesahihan hadist secara simpel yaitu: sanad hadist harus bersambung sampai Nabi Muhammad SAW, diriwayatkan oleh perawi yang adil dan dhabith, tidak mengandung keganjalan (syudzuz) dan tidak megandung Illati(cacat).[31]

            Dari uraian tentang kriteria kesahian hadist tersebut, kira dapat penulis sampaikan bahwa hadist-hadist yang digunakan MUI adalah Abu Dawud, Muslim, dan Bukhari yang dalam kalangan ilmuan hadist sudah sangat terkanal dan kuat kesahihannya. Selain itu, haidst-hadist tersebut sebagai bayan at-taqriri yaitu fungsi hadist menetapkan dan memperkuat apa yang telah diterangkan di dalam AL-Qur’an.[32]

            MUI juga mengutip kaidah fiqhiyah yang berbunyi:

            يتحمل الضرر الخا ص لدفع الضرر العا م

            dharar yang bersifat khusus harus ditanggung untuk menghindarkan dharar yang bersifat umum (lebih luas)i.

            اذا تعارض مفسدتان روعى أ عظمعها ضررا بارتكاب اخفهم

            “Apabila terdapat dua mafsadat yang saling bertentangan maka harus diperhatikan salah satunya dengan mengambil dharar yang lebih ringan”

            Dari dua qaidah fiqhiyah tersebut menurut penulis memang menjelaskan bahwa suatu dharar atau bahaya yang khusus harus ditangguhkan untuk mencegah bahaya yang lebih besar. Dan bilapun terpaksa tetap ada dharar atau bahaya maka qaidah selanjutnya mengijinkan untuk mengambil dharar yang lebih ringan bukan yang lebih berat.

            Lebih lanjut MUI memperhatikan, berpendapat bahwa aliran sesat telah memenuhi unsur tindak pidana berupa penodaan agama Islam, karena aliran al qiyadah telah mengajarkan ajaran yang menyimpang dengan mengatasnamakan Islam dan meminta pemerintah untuk melarang penyebaran paham dan ajaran al qiyadah, menutup semua tempat kegiatan serta menindak tegas pimpinan aliran tersebut sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.

            Hal ini menurut penulis, memang sudah seharusnya MUI menempatkan aqidah hukum pada tempat dan wilayahnya masing-masing, yaitu bila memang ada pelanggaran terkait degan hukum pidana maka diserahkan kepada pengadilan sebagai pihak atau institusi yang diberi kewenangan oleh Negara untuk menyelasaikan hal-hal terkait hukum pidana, sedangkan MUI menempatkan diri pada batas dan posisinya yang mengkaji, menggali terkait dengan agama Islam.

            Penulis menyarankan bahwa fatwa MUI No, 04 tahun 2007 tentang aliran al-Qiyadah al-Islamiyah ditambah item tentang perlindungan yang mendasar terhadap kemanusiaan sehingga terjamin keamanan sebagai warga Negara. Hal ini untuk mengantisipasi agar fatwa ini tidak disalah gunakan oleh pihak-pihak tertentu untuk berbuat anarkis terhadap kelompok yang difatwakan sesat oleh oleh MUI.

            F. Kesimpulan

              Setelah penulis bahas mengenai aliran al-Qiyadah al-Islamiyah dalam fatwa MUI No. 04 Tahun 2007,  maka dapat penulis simpulkan sebagai berikut:

              1. Yang menjadi latar belakang penting dari dikeluarkannya fatwa MUI No.04 Tahun 2007 adalah karena terhadap aliran al-Qiyadah al-Islamiyah terjadi beberapa persepsi; sebagian menganggapnya sebagai ajaran agama Islam yang menyimpang dari syariat Islam, sebagian yang lain menganggap sebagai penodaan agama.
              2. Fatwa MUI tentang aliran al-Qiyadah al-Islamiyah sebagai hasil keputusan Ijtima Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia pada tanggal 21 Ramadhan1428 H/03 Oktober 2007 memang masih terdapat kekurang tepatan dalam penggunaan dasar-dasar Al-Qur’an dan kekurang luasaan cakupan obyek fatwanya, penulis menyimpulkan bahwa fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah cukup relevan untuk menjawab kebimbangan umat Islam tentang aliran al-Qiyadah al-Islamiyah.
              3. MUI menetapkan bahwa aliran al-Qiyadah al-Islamiyah secara konseptual adalah aliran sesat dan menyesatkan, yang bertentangan dengan norma-norma agama Islam di Indonesia, yang tidak sesuai dengan syariat Islam, karena aliran al-Qiyadah al-Islamiyah mengajarkan syahadat baru, shalat sehari semalam satu kali, tidak mewajibkan zakat dan puasa, ibadah haji tidak harus ke Baitullah.
              4. MUI saat itu memang berposisi sebagai badan yang dibentuk oleh pemerintah dan qualifeid mempresentasikan umat Islam dari berbagai element ataupun organisasi masyarakat Islam Indonesia secara keseluruhan. Dengan posisi seperti ini, adanya wacana aliran sesat yang digiring pada penerjemahan dan apalagi pembuktian ajaran agama Islam tentunya MUI sudah seharusnya ikut gerah dalam menanggapi isu tersebut.

              G. PENUTUP

              Demikianlah makalah yang saya tulis, besar harapan penulis agar makalah ini minimal sebagai bagian kecil dari upaya untuk menanggulangi persoalan aliran sesat yaitu dengan kapasitas dan kemampuan penulis sebagai insan yang tak luput dari kesalahan. Penulis mengakui bahwa pasti dalam penulisan maupun penyampaian makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna, oleh karena itu, penulis sampaikan mohon maaf dan sangat mengharapkan saran dan kritik dari seluruh sidang pembaca.

              Terakhir, atas perhatian dan kerjasama dari semua pihak maka penulis ucapkan terimakasih. Wassalam.


              [1] Widya Mukti, Menilik Ajaran Sesat Menuju Pemahaman Spiritual, Yogyakarta: Tajidu Press, 2008. hlm 7

              [2] Ibid, hlm, 14

              [3] Nasrul Koharuddin, Ahmad Mushaddeq dan Ajaran Al-Qiyadah Al-Islamiyah, Yogyakarta: Media Pressindo, 2008, hlm. 18

              [4] Ibid hlm, 14

              [5] M. Yuanda Zara dkk,  Aliran-Aliran Sesat di Indonesia, Yogyakarta: Banyu Media, 2007. hlm 123

              [6] Ibid, hlm, 134-135

              [7] Ibid, hlm, 136

              [8] Ibid, hlm, 124

              [9] Abi Isa Muhammad Bin Isa Bin Saurah,  Sunan At Turmudzi,  Juz IV”: Berut Libanon Darul Fikr, tt, hlm. 502

              [10] Ibid, hlm, 16

              [11] A. Yogaswara, Aliran Sesat Dan Nabi-Nabi Palsu, Yogyakarta: Narasi, 2008. hlm 13

              [12] Keputusan Fatwa MUI  (Majelis Ulama Indonesia) Nomor : 04 Tahun 2007 Tentang Aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah

              [13] Anwar Khumaini, Bakor Pakem Gelar Pertemuan 7 November 2007,Jakarta: Detikcom, Hlm, 1

              [14] Koharudin Nasrul, Ahmad Mushaddeq dan Ajaran Al-Qiyadah Al-Islamiyah, Yogyakarta: Med Press, Cet Ke 1, 2008, hlm 31-32

              [15] http://djogjaku.multiply.com/journal/item/34

              [16] http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2007/10/05/brk,20071005-109098,uk.html

              [17] http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007

              [18] http://www.antara.co.id/arc/2007/10/25/depag-teliti-aliran-al-qiyadah-al-islamiyah/

              [19] Ibid

              [20] Ibid, hlm 19-21

              [21] Tablig Akbar Membongkar Kedustaan Rosul baru, Al-Qiyadah Al-Islamiyah Jaziroh Cilacap Jogjakarta, hlm 5

              [22] Ibid, hlm 23-24

              [23]http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=11548

              [24] Prof. Muhammad Abu Zahra, “Ushul Fiqh” Jakara, PT. Pustaka Firdaus ,1994, Cet.ke-II, hlm.99-336

              [25] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, Pesan, Kesan, dan Keserasian Al Qur’an, Jakarta : Lentera Hati, 2002, hlm. 354

              [26] Ibid, hlm. 198

              [27] Ibidi, hlm. 102

              [28] Ibid, hlm 245

              [29] Ibid, hlm. 289

              [30] Abi Abdillah Muhammad bin Ismail Al Bukhori, Matan Al Bukhori, Juz 3, Beirut Lebanon ; Dar Al Kitab Al Islamy, tt, hlm. 86

              [31] Muhibbin Noor, Kritik Kesahihan Hadist Imam Bukhari, Yogyakarta: Penerbit Waktu, 2003 hlm 91

              [32] Munizer Suparta, Ilmu hadist, Jakarta: PT Raja Grapindo Persada, 2003, hlm 58

              Tinggalkan Balasan

              Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

              Logo WordPress.com

              You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

              Gambar Twitter

              You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

              Foto Facebook

              You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

              Foto Google+

              You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

              Connecting to %s

              %d blogger menyukai ini: