PERIPATETISME DALAM ISLAM

Aristoteles (384-322 SM) adalah seorang failosuf Yunani terbesar dan berpengaruh besar dalam berbagai ilmu pengetahuan: logika, metafisika, biologi, politik, etika, estetika, dan lain-lain. Pengaruh besar ini tetap berlangsung sampai abad pertengahan, dan mengalami masa stagnasi pada zaman renesainse Eropa. Namun pengaruh pada bidang logika tetap abadi sampai saat ini; bahkan dalam studi falsafah, logika Aristoteles masih tetap merupakan studi utama. Ilmu  mantik yang diajarkan dipesantren-pesantren dan perguruan tinggi di Indoensia tidak lain adalah logika Aristoteles. Logika ini terkenal dengan logika tradisional, yang bertumpukan pada metode Syllogistis; dimana jalan pikiran berlangsung dari yang umum kepada yang khusus, ia bersifat deduktif.

            Umat Islam mengenal falsafah Yunani umumnya, falsafah Aristoteles khususnya, sudah sejak dini, yaitu beberapa tahun saja setelah wafatnya nabi Muhammad Saw., melalui negri-negri yang dibebaskan oleh umat Islam dibawah para khalifah, seperti daerah Irak, Syam dan Mesir (Iskandariyah), dimana daerah-daerah ini, sebelum dibebaskan , merupakan pusat-pusat studi  filsafat Yunani.

            Akan tetapi pengenalan awal umat Islam terhadap falsafah Yunani ini baru merupakan interaksi intelektual yang bersifat pribadi yang berupa debat, diskusi dan tukar pikiran, bebas diantara orang-orang Islam dengan guru-guru falsafah yang mengajar disekolah-sekolah dan perguruan tinggi di daerah-daerah yang dibebaskan itu. Biasanya falsafah yunani itu diajarkan pada sekolah-sekolah gereja dan biara. Yang guru-gurunya adalah pemuka agama.

            Ibn Katsir menyebutkan bahwa falsafah Yunani sudah masuk kedunia Islam sejak abad pertengahan Hijriah, yaitu pada masa orang-orang Islam membebaskan negri “A’jam” (bukan Arab: Syam, Irak, Mesir, pen.), tetapi hanya terbatas pada beberapa individu yang tak dikenal; sebab ulama-ulama salaf melarang mereka mendalami ilmu tersebut.

            Ali Sami al-Nasysyar juga mengatakan bahwa orang-orang Islam telah mengenal falsafah Aristoteles sejak abad pertama Hijriyah. Ia mengemukakan argumentasi bahwa telah terjadi kontak intelektual antara orang-orang Islam dengan pemuka-pemuka gereja di Syam dan Mesopotamia, karena pemuka-pemuka agama itu adalah guru-guru falsafat Yunani dari gereja-gereja dan biara-biara. Demikian juga kata Nasysyar, Khalid Ibn Yazid (w. 90H) di Iskandariyah untuk menerjemahkan Organon (kitab logika Aristoteles) ke bahasa Arab. Ini berarti, kata Nasysyar, bahwa orang-orang Islam telah mengenal logika Aristoteles pada  masa Bani Umayyah, yaitu abad pertama Hijriyah.

            Sebagaimana diketahui bahwa setelah Aristoteles meninggal dunia pada tahun 322 SM. Bangsa Yunani mengalami masa kemuduran. Dan pada masa itu pula Iskandar yang Agung telah membangun kota Iskandariyah  dan berpengaruh besar di sekitar lautan tengah. Akhirnya banyak ahli fikir dan failosuf berkumpul dan lahir dikota Iskandariyah. Sampai pada abad 7 M., saat dibesarkan Islam, kota ini merupakan pusat studi falsafah, teologi dan sains  yang sangat penting.

Diantar failosuf yang termasyur di kota ini dan berpengaruh atas pemikiran Islam adalah:

Philo (30SM-50M), lahir di Iskandariyah, semasa dengan nabi Isa as. Ia adalah seorang failosuf Yunani yang berusaha dengan segala kecakapannya untuk menyesuaikan agama Yahudi dengan falsafah.  Agama Yahudi digarapnya dengan sedemikian rupa, sehingga cocok untuk disintesekan dengan falsafah Yunani. Sebab menurut keyakinan para filosuf Yunani juga mendapatkan hikmah yang sama dengan para nabi; karena itu hakekat agama dan falsafah adalah sama dan satu, tidak mungkin bertentangan.

Philo banyak melakukan penafsiran  secara allegoris atau secar kiasan (ta’wi) terhadap  kitab perjanjian lama (Taurat). Ia menganggap bahwa penafsiran ayat-ayat secara harfiyah, lahiriyah, hanyalah tafsir yang disukai oleh orang yang dangkal cara berfikirnya, oleh karenanya harus ditolak, sebab tidak  logis dan mengandung gambaran-gambaran yang salah. Pemahaman secara leterlek, harfiah, sama dengan jasad; sedangkan pemahaman alegoris sama dengan memahami makna yang terdalam, atau rohnya sesuatu. Agama selalu berbicara dengan dua bentuk, zahir dan batin. Bentuk batin hanya dapat ditangkap makna zahir saja. Metode Philo ini banyak mempengaruhi kaum rasionalis dan Islam pada Abad pertengahan, baik cesara langsung ataupun tidak.

Akan tetapi Plotinus-lah yang paling banyak mempengaruhi pemikiran kaum rasionalis Islam. Ia lahir di Lykopolis (sekarang: Asiyuth, Mesir), tahun 204-270M. Ia adalah pendiri aliran neo platonosme, yang telah melakukan peraduan antara pemikiran Plato dan Aristoteles. Akan tetapi secara prinsipil terpengaruh oleh Plato. Ia juga telah melakukan pemaduan antar agama Kristen dan falsafah Yunani.

Failosuf lain yang berpengaruh atas kaum rasionalis Islam adalah Porphyrius (233-301M), murid Plotinus, dan banyak memberikan komentar atas falsafah dan logika Aristoteles, sehingga membuat logika Aristoteles menjadi lebih praktis dan terkenal, baik di Timur maupun di Barat. Logika Aristoteles yang sampai ketangan orang-orang Islam umumnya adalah yang sudah dikomentari oleh Porphyrius ini.

II

Dari  uraian di atas terlihat kepada kita bahwa falsafah Yunani buat pertama kalinya sampai pada orang-orang Islam tidak langsung dari dan failosuf Yunani sendiri, melainkan melalui daerah seperti Syam, Irak  dan Mesir, dari failosuf-failosuf Yunani dan Kristen. Ini berarti bahwa falsafah Aristoteles yang sampai ke tangan umat Islam  pada mulanya sudah tidak murni lagi dari sumber aslinya, Aristoteles sendiri, tetapi sudah merupakan synkritis dari pelbagai aliran falsafah  yang ada, seperti unsur pithagoras, Stoa, Neo Platonisme dan lain-lain.  Karena itu, seperti kata Nurcolos Madjid, meskipun orang-orang Islam sedemikian tinggi menghormati Aristoteles dan menamakannya guru pertama (guru kedua adalah al Farabi, pen.), namun yang mereka ambil dari dia bukan hanya fikiran-fikiran dari Aristoteles saja, melainkan justru kebanyakan  adalah fikiran, pemahaman dan tafsiran orang lain terhadap ajaran Aristoteles. Singkatnya, memang bukan Aristoteles sendiri yang berpengaruh besar kepala dalam Islam, tetapi Aristoteleanisme.

            Apalagi jika diingat bahwa umat Islam menerima falsafah Yunani itu lima ratus tahun setelagh fase terakhir perkembangan di Yunani sendiri. Dan mereka mengenal falsafah itu pada mulanya tidak langsung dari bahasa  Yunani sendiri, melainkan dari terjemahannya dari bangsa Syiria, Persi dan lain-lain. Yaitu bahasa yang umum dipakai pada waktu itu di gereja-gereja dan biara-biara di Syam dan Irak. Lagi pula penerjemah pada umumnya  adalah guru gereja dan  uskup. Mereka tidak menerjemahkan  buku-buku falsafah Yunani itu secara baik dan sesuai dengan naskah aslinya, terutama buku-buku yang berhubungan dengan etika dan falsafah ketuhanan.  Hal ini bisa terjadi disebabkan, karena ada naskah Yunani yang sukar difahami, maka mereka hilangkan saja pada terjemahannya, dan kadang-kadang terjadi kesalah pahaman penerjemah dalam memahami naskah-naskah Yunani, ataupun kadang-kadang memang ada faktor kesenjangan untuk merobah pemikiran-pemkiran Yunani  dalam terjemahan atau ulasan-ulasan mereka, dengan tujuan supaya dapat disesuaikan dengan ajaran-ajaran Kristen.

            Falsafat Aristoteleanisme ini masuk ke dunia Islam tidak sekaligus, tetapi mengalami  beberapa fase. Djemil Shaliba menyebutkan ada tiga fase, yaitu dimulai dengan masa terjemahan kebahsa Arab pada abad ke-1 H/ke-7 M., keaktifan terjemahan pada abad ke-8 M., dan fase puncaknya, yaitu fase produktif yang melahirkan para pakar dan failosuf pada abad ke-9 M., Pada abad ke-20 M. Inilah khalifah Abbasiyah, al-Ma’mun mendirikan pusat sebuah pengajaran  dan penerjemahan yang terkenal di dalam sejarah Islam sebagai wisma kearifan  (Bait al-Hikmah) pada tahun 830/215 H. Yang, meurut Harus Nasution, lembaga ini terdapat lebih dari 90 orang ahli-ahli penerjemah.

            Menurut Ibn al-Nadin al-Fihrist, salah satu motif yang mendorong khalifah al-Ma’mun menerjemahkan kitab-kitab asing dan khususnya kitab logika  Aristoteles ke bahasa Arab ialah: “bahwa al-Ma’mun mengatakan, bahwa ia pada suatu kali pernah bermimpi melihat seorang laki-laki berkulit putih, berkumis pirang, berkening lebar, bermata biru dan berperawakan tenang. Ia duduk diatas sofa saya, kata al-Ma’mun, lantas saya ingin tahu siapa orang itu, dan saya bertanya; engkau siapa? Saya adalah Aristoteles, jawab orang itu, mendengar jawaban itu saya sangat girang sekali, kata al-Ma’mun. Lalu saya berkata: hai! Failosuf besar, bolehkan saya bertanya kepada engkau: silahkan jawab Aristoteles. Baik itu apa? Baik adalah apa yang baik menurut akal, jawab Aristoteles; kemudian apa lagi? Apa yang baik menurut syira’ (agama); kemudian apalagi? Apa yang baik menurut jumhur umat….

            Terlepas benar tidaknya riwayat ini, tapi yang jelas bahwa khalifah al-Ma’mun benar-benar bersungguh-sungguh melakukan penerjemahan yang meliputi berbagai bidang ilmu pengetetahuan dan menerjemahkan buku-buku karya Aristoteles secara khusus. Sehingga pernah disebutkan bahwa al-Ma’mun membayar setiap buku yang diterjemahkan dari bahasa asing kebahasa Arab dengan emas seberat buku itu. Pada masa ini pulalah tercatat dalam sejarah, bahwa Islam pernah mencapai zaman keemasannya, dan al-Ma’mun menjadikan aliran teologi rasionalis Mu’tazilah sebagai madhab negara, dimana aliran ini banyak mengunakan penalaran logis menurut metodologi Aristoteles.

            Kelahiran kaum rasionalis Islam, mu’tazilah yang banyak memakai akal tidak dapat lepas dari pengaruh besar Aristoteleanisme, terutama dalam pengunaan penalaran logis menurut logika Aristoteles, yang menurut Ibrahim Madkour, mu’tazilah adalah peletak ilmu kalam (teologi) yang sesungguhnya, karena ia telah membahas persoalan-persoalan teologi dengan lebih mendalam dan bersifat filosofis.

            Akan tetapi al-Kindi (185/801-260 H/873M) adalah failosuf pertama yang memprakasai proses perumusan vokabuler teknis falsafah dalam Islam, dan melakukan sorotan-sorotan terhadap falsafah dengan ajaran-ajaran Islam. Al-Kindi telah mengatakan gagasan-gagasan baru dalam mendamaikan atau mamadukan atau mengharmonisasikan atau memadukan warisan Aristoteles dengan ajaran-ajaran Islam. Usaha pemaduan atau pengharmonisasian antara falsafah dan agama untuk jangka lama menjadi  ciri utama   falsafah dalam Islam.

            Di atas sudah disebutkan bahwa al-Ma’mun telah memprakarsai secara besar-besaran Helenisasi di dunia Islam. ia mendukung aliran Mu’tazilah yang lebih dekat kepada para failosuf. akan tetapi setelah al-Ma’mun  meninggal dunia, kekhalifahan digantikan oleh al-Mutawakkil (w.247H.), maka ia mendukung para ulama sunni dan menentang kaum rasionalitas Islam. Al-Kindi sendiri, menurut Ibn Abi Ushaibi’ah, pernah disakiti karena pekerjaanya mengembangkan pemikiran falsafah. Dengan disakiti itu al-Kindi bukannya menjadi jera, malahan menjadi bertambah gigih mempertahankan falsafah. Al-Kindi sungguh yakin bahwa falsafah adalah ilmu yang mengetahui tentang kehakekatan sesuatu, ia adalah tugas manusia yang paling tinggi dan mulia serta paling tinggi martabatnya.

            Kalau orang-orang Yunani telah membukakan dan memudahkan  jalan bagi kita untuk mencari hakekat yang tersembunyi, seharusnya kita berterimakasih kepada mereka yang telah bersungguh-sungguh mencari kebenaran itu, bukannya harus  memberikan celaan dan makian, kata al-Kindi. Al-Kindi benar-benar yakin bahwa antara filsafat dan agama selalu harmonis, dan tidak pernah bertentangan, karena akal dan wahyu sama-sama bersumber dari Tuhan.

            Usaha al-kindi kemudian secara intensif dilanjutkan oleh al-Farabi (258/870-339H/950M) yang membuat dasar falsafah Aristoteleanisme menjadi kukuh dalam Islam. Al-Farabi, sebagai yang dikenal dengan “guru kedua”, begitu yakin dengan kebenaran falsafah, sehingga ia mengatakan bahwa kebenaran yang dibawa failosuf  sebenarnya adalah satu dan sama. Falsafah Plato dan Aristoteles sebenarnya adalah sama, yang berbeda hanya berbentuk lahirnya saja, demikian juga pada hakekatnya ajaran antara para failosuf dan para nabi adalah sama, dan tidak bertentangan.

            Akan tetapi eksponen Islam yang terbesarnya adalah Ibnu Sina (980-1037 M). Ia mengarah ke suatu filsafat yang berdasarkan penggunaan logika dan bertumpu pada hakekatnya pada metode syllogis Aristoteles dan berupaya mencapai kebenaran dengn argumen berdasarkan nalar. Baginya tidak ada yang tidak dapat dikaji oleh akal, harta alam metafisik, alam gaib, atau masalah ketuhanan, karena antara failosuf dan  nabi  tidak akan berbeda, sebab setiap nabi adalah failosuf. Hal inilah yang dipersalahkan oleh al-ghazali (450/1058-505H/1111M). Al-Ghazali menyerang tendensirasionalistis yang inheren dalam falsafah Aristoteles dan menuduh para failosuf, terutama al-Farabi dan Ibnu Sina, telah membuat banyak kesalahan dengan logika mereka, terutama dalam masalah metafisika (ketuhanan). Sampai-sampai al-Ghazali mengkafirkan para failosuf  dalam masalah ini. dengan serangannya itu ia berhasil mengurangi pengaruh filsafat Aristoteleanisme di dunia Islam, khususnya dikalangan sunni, dan mengandung danpak negatif. Sungguh al-Ghazali sendiri sebenarnya masih menghalalkan dan memakai logika Aristoteles, namun dalam ketentuan yang terbatas.

            Aspek rasionalistis falsafah Aristoteles mencapai puncaknya pada Ibnu Rusyd (520/1126-595 H./1198 M). Ia merupakan tokoh yang paling berpaham Aristoteles dikalangan paripatetik muslim. Puncak kesempurnaan yang dicapai oleh Ibnu Rusyd adalah usahanya dalam memadukan antara falsafah dan agama. Bahkan ia berpendapat bahwa agama Islam secara inheren adalah agama yang filosofis, karena agama mewajibkan kita berfalsafah.

            Ibnu Rusyd diakui sebagai pengikut termurni Aristoteles di antara failosuf muslim. Ia adalah komentator terbesar abad pertengahan tentang Aristoteles. St. Tomas menyebutnya “sang komentator” dan Dante menamakannya orang yang membuat komentar hebat”. H.A. Walfson menyebutnya “seorang ahli terkemuka tentang falsafah abad petengahan  dan khususnya perihal Aristoteles”. Gelar-gelar ini memang tepat untuknya, karena ia telah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengembalikan falsafah  Aristoteles kepada kemurniannya yang semula, setelah falsafah itu sampai ketangan orang-orang Islam bercampur dengan berbagai aliran berfalsaafat, dan berbagai fikiran dan pemahaman.

            Meman disadiri bahwa Ibnu Rusyd adalah seorang Aristotelean yang dapat dikatakan sangat mengaguminya dan pengikut yang setia. Ibnu Sab’in menyebutkan bahwa Ibnu Rusyd mengikuti pemikiran Aristoteles dengan penuh kesadaran, dengan akal dan perasaan, seolah-olah Aristoteles adalah seorang laki-laki yang bersifat ilahi. (nabi, pen.) yang tidak pernah bersalah.

            Didalam pengantar kaitan fisika (al-Tabi’iyat) Ibnu Rusyd mengatakan: “pengarang kitab ini Aristoteles, failosuf Yunani yang paling agung dan jenius. Peletak pertama ilmu logika, fisika, dan metafisika, dan sekaligus dengan cara yang paling sempurna, yang tidak pernah dicapai oleh para failosuf sebelum dan sesudahnya. Orang yang datang sesudahnya tidak dapat berbuat sesuatu melebihi Aristoteles, dan orang selalu mengambil darinya. Sampai saat ini (masa Ibnu Rusyd, pen.) orang tidak pernah menambahkan sesuatu yang baru dan tidak  pernah menemukan sesuatu yang salah dan  keliru  dari Aristoteles  Aristoteles. Ini sungguh aneh dan luar biasa, mu’jijat. Kata Ibnu Rusyd, karena semua ilmu ini (logika, fisika dan metafisika) telah berkumpul pada diri satu orang. Karena diistimwakannya itu  ia lebih pantas  disebut sebagai seorang pribadi yang bersifat illahi ketimbang pribadi manusiawi.

            Malahan lebih lanjut lagi Ibnu Rusyd mengatakan, bahwa ajaran Aristoteles adalah kebenaran tertinggi (al-Haqq al-a’la) dan sesuatu tertinggi yang pernah tercapai oleh seorang manusia peripurna. Ajarannya adalah kebenaran obsolut (al-haqiqah al-muthlaqah), yaitu yang pernah dicapai oleh tingkatan akal manusia yang tertinggi. Aristoteles termasuk orang yang disebutkan dalam firman Allah (al-haddid, 57:21)” itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada yang dikehendaki-Nya.

            Memang Ibnu Rusyd, dilihat dari suatu pandangan sejarah falsafah di Eropa Barat, dianggap sebagai penafsiran Aristoteles yang terbesar disepanjang masa. Ibnu Rusyd menjadi sumber-sumber utama Aristoteleanisme abad pertengahan. Dan untuk jangka waktu lama ia dipandang sebagai pemikir muslim yang paling besra pengaruhnya di Barat. Keyatannya, sebagian besar karyanya yang masih ada waktu ini adalah versi Latin dan Ibrani, bukan dalam bahasa Arab. Demikian juga lahir suatu gerakan yang terkenal dengan “Latin Averroist”.

            Jika sepeninggal Ibnu Rusyd, falsafahnya tidak mendapat penghargaan yang wajar dari dunia Islam sendiri, namun dalam lingkungan Yahudi dan Kristen memberikan penghargaan yang tingi-tingginya terhadap Ibnu Rusyd dan berkembang menjadi salah satu bahan pokok pembangkitan intelektual di dunia Eropa. Jika didunia Barat banyak sekali yang tercatat sebagai murid dan pengikut Ibn Rusyd, seperti Maimonides seorang Yahudi, Josep ibn Judah muridnya, Siger de Brabat dan lain-lain, maka di dunia Islam Ibn Rusyd hampir tidak mempunyai murid atau penerusnya.

III

            Kenyataan bahwa kaum muslim banyak memanfaatkan metode berfikir logis menurut logika formal (sillogisme) Aristoteles,  cukup sebagai bukti betapa jauhnya ajaran Aristoteles dikalangan orang-orang Islam. Hingga sampai saat ini logika Aristoteles tetap merupakan ajaran pokok dalam pesantren-pesantren dan perguruan tinggi. Pengaruhnya tidak hanya terbatas dikalangan failosuf dan teolog, tetapi juga masuk kedalam ulama dan tafsir. Disamping banyak yang terpengaruh oleh Aristoteleanisme, terdapat pula orang-orang yang kontra terhadapnya, yaitu dari kalangan bahasa, Ibn Taimiyah , Ibn Qayyim al-Jauziyah, al-Syuhrawardi dan lain-lain.

            Memang tidak ada alasan untuk  mengatakan bahwa pemikiran Islam tidak mengenal pengaruh dari pemikiran  Yunani dan lainnya, tapi bagi orang Islam pemikiran Yunani bukan hanya satu-satunya yang mereka miliki, di samping itu mereka juga memiliki al-Quran, yang oleh Ibn Rusyd disebutkan bahwa, kitab yang secara inheren mengandung nilai-nilai filosofis, karena al-Quran mengajarkan pada kita berfilsafat. Akal dan wahyu akan selalu sejalan  dan harmonis, tidak bertentangan, sebab akal adalah pemberian Tuhan, ia merupakan suatu kebenaran, wahyu juga pemberian Tuhan, juga suatu kebenaran; maka kebenaran itu tidak akan bertentangan dengan kebenaran, malah saling menguatkan dan mengokohkan.

            Kita tidak menolak bahwa  pemikiran falsafah Islam terpengaruh oleh falsafah Yunani, para filosof muslim meminjam sebagian besar pandangannya dari Plato, Aristoteles, Neo Platonisme dan lain-lain. Akan tetapi kita juga bertanya, siapakah yang tidak pernah menjadi murid dari orang yang mendahuluinya dan tidak terkena pengaruh dari para pendahulunya? Kita saja generasi abad ke-20 selalu menggantungkan diri kita dalam banyak hal kepada kajian Yunani dan Rumawi. Tentu saja benar-benar salah dan keliru jika kita berpendapat bahwa  belajar dan berpengaruh dari pendahulu kita adalah meniru dan membebek semata-mata, dan mengatakan bahwa falsafah Islam hanyalah copy naskah yang dinukil dari Aristoteleanisme, Neo Platonisme, dll.

            Transformasi dan peminjaman beberapa pemikiran tidak harus mengkonsekwensikan perbudakan dan perhambatan. Maka satu ide dapat dibahas oleh banyak orang, dan tidak lama segera tanpil atas prakasa mereka di dalam berbagai macam fenomena. Seorang failosuf berhak mengambil pandangan orang lain, tetapi hal itu tidak menghalanginya untuk membawa teori-teori dan falsafahnya sendiri. Spinoza, misalnya, walaupun dengan secara jelas sebagai pengikut Deskrates, tetapi ia dianggap memiliki pandangan-pandangan filosofis yang berdiri sendiri. Begitu pula kaum rasionalis Islam, para teolog dan failosuf, walaupun sebagai murid yang murni dari Aristoteles atau Neo Platonisme, tetapi mereka mempunyai pandangan tersendiri yang tidak pernah dikatakan oleh failosuf Yunani.

            Banyak persoalan pokok falsafat yang tidak terdapat dalam falsafat Yunani mendapatkan pembahasan pokok dalam falsafat Islam. Kaum rasionalis Islam, para teolog dan failosuf, disamping membahas persoalan falsafat dan agama secara terpadu, mereka juga membahas masalah baik dan buruk, pahala dan dosa, tanggung jawab pribadi dihadapan Tuhan, kebebasan dan keterpaksaan (determenisme), kehidupan sesudah mati, surga dan neraka, teori tentang kenabian, mu’jizat. Asal-usul penciptaan, dsb., yang kesemuannya itu bagian integral dari ajaran Islam, dan sedikit sekali terdapat hal serupa  dalam hellenisme.  Dalam artian, bahwa dalam suatu pinjaman dan utang dari pemikiran asing dengan cara yang selectif adalah logis dan wajar, tetapi kemudian kaum rasionalis Islam melestarikan dan mengembangkannya, yang kalau  tidak karena mereka tentu peradaban Yunani itu menjadi hilang ditelan masa dan tidak akan ada orang yang mengenalinya secara baik pada saat ini. Karena merekalah yang mewariskan peradaban Yunani itu kepada generasi yang akan datang sesudahnya. Di samping itu persoalan-persoalan baru yang mereka bahas, yang tidak terdapat pada peradaban asing, telah merupakan sumbangan yang tidak ternilai artinya terhadap peradaban umat manusia.

Wa Allahu A’lam bi al-Shawab.


R. Slamet Imam Santoso, Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan, (Jakarta: Sastra Hudaya , 1977), h.40.

Bertrand Russell, History of Western Philosophy, (London: George Allen/Unwin LTD., 1974), h. 206.

Logika, seperti yang disebutkan oleh Aristoteles  sebagai ilmu analisis, adalah ilmu berfikir yang benar, atau ilmu undang-undang berfikir, yang membedakannya antara yang benar  dan yang salah dari cara kerja akal, atau dikatakan juga logika adalah satu ilmu memberikan atauran-aturan berfikir valid, yang dipergunakan untuk mencari sesuatu yang belum diketahui berdasarkan atas sesuatu yang telah diketahui; sehingga dengan menggunakan aturan-aturan itu akal kita dapat mencapai kebenaran dan terhindar dari ketidak benaran. (lihat: Mahdi Allah, Madkhal ila-Ilm al-Manthig, (Bairut: Dar al-Thali’ah, 1977), h.28. lihat juga Djemil Shaliba, Al-Mu’jam al-Falsafi II, (Bairut: al-Kitab al-Libnany,1973),h.428), hh.5,6.

Di dalam  deduktif kesimpulan lebih kecil dari premisnya atau sama besarnya. Misalnya, setiap manusia akan mati, Aristo adalah manusia, jadi: Aristo akan mati. Contoh yang sama, hewan ada yang bersuara ada yang tidak, dan bersuara dan tidak akan mati, jadi semua hewan akan mati. Lihat, Muhammad Baqir al-Shadr, Al-Usus al-Manthiqiyah li al-Istiqrai, (Bairut: Dar al-Fikr, 1972), hh.5,6.

Ahmad Amin, Fajr al-Islam, Kairo: Maktabah al-Nahdhah al-Mishriyah, 1978), 123.

M. Abd al-Sattan Nasr, al-Madrasah al-Salafiyah wa Mauqif Rijaluha min al-Manthiq, (Kairo: Dar al-Anshar, 1976), h. 118.

Jalal al-Din al-Sayuthiy, Shaun al-Manthiq wa al-Kalam, ed. Ali Sami al- Nasysyar,  (Kairo: Tanpa Penerbit, 1947), h. 12.

Ali Sami al-Nasysyar,  Manahijal-Bahts inda Muffairi al-Islam (Kairo: Dar al-Ma’rif, 1978), h. 20

Ibid., h. 21.

Majid Fakhri, Sejarah Filsafat Islam, Ter. (jakarta:Pustaka Jaya, 1986), h. 27.

Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat I. (jakaera:Pustaka Jaya, 1986), h. 27.

Ibid.

Muhammad Yusuf Musa, Bain al-Din wa al-Falsafah, (Mesir: Dal al-Ma’arif, 1968), h. 115

Djemil Shaliba, Min Aflaton ila Ibn Sina, (Bairut: Dar al-Andalas, 1981). H. 24.

De lacy O’ Leary, D.D., How Greek Science Passed to the Arab, (London: 1957), h. 26.

Ali Sami al-Nasysyar, Manajih, h. 31. Lihat juga T.j De Boer, The History of Philosophy in Islam, (New York: Dover Publication, Inc., 1967), h. 16.

Nuchalis madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, (Jakarta: Paramadina, 1992), h. 227.

Penerjemah pertama adalah Probus, seorang pendeta dan dokter di Antioch. Penerjemah lainnya adalah  Sergius atau Girgis dari Ras’ain, seorang uskup dan dokter. Kemudian Jacob dari Edessa, Athanasus dan muridnya George seorang uskup Arab. Lihat, M. Abd al-Hadi Abu Redha, Tarekh al-falsafah fi al-Islam, (Kairo: 1938), h. 19 (pada catatan kaki). Lihat juga masjid Fakhri, sejarah, h. 29.

T.J. De Boer, The History, h. 15.

Djemil Shaliba, Tarekh al-Falsafah al-Arabiyah, (Bairut: Dar al-Kitab a-Libnaniy, 1973), h. 96

Harun Nasution, Falsafah dan Mistisisme dalamIslam, Jakarta: Bulan Bintang, 1978) h. 12.

Ibn al-Nadin, Al-Fihrist, (Bairut: Dar al-Ma’rifah, 1978), h. 339

George N. Attyeh, Al-Kindi Tokoh Failosuf  Muslim, (Bandung: Pustaka, 1983), h. 2.

Ibrahim Madkour, Fi al-Falsafah al-Islamiyah II, (Mesir Dar al-Ma’arif, 1976), h. 36.

Seyyed Hossen Nasr, Science and Civilization in Islam, (Massachusetts: Cambridge, 1968), h. 293.

Usaha pemaduan al-Kindi  ini lebih jauh dapat dilihat pada M. ‘Atif al-iragi, Mazhab Falasifah al-Masyriq, (Kairo: Dar al-Ma’arif, 1978), hh. 35-47.

Ibid.,h. 31

Ibid.,h. 35.

Dalam hal ini al-Farabi menulis sebuah buku khusus yang bernama: Kitab al-Jam’u Batin Ra’yi al-Hikimain.

Harun Nasution, Falsafah, h. 38.

Ibn Rusyd, Fashl al-Maqam fi ma bain al-Hikmah wa al-Syari’ah min al-Ittishal, ed. M. Emara (Kairo: Dar al-Mairrif 1972), h. 22.

Nashr, Science, h. 54

Djemil Shaliba, Min Aflaton ila Ibn Sina, h. 47.

Ernest Renan, Ibn Rustd wa al-Rusydiyah, terj. Adil Zu’aitir (Kairo:Isa al-Babi al-Halabi, 1957), h. 70.

Djemil Shaliba, Min Aflaton, h. 48

Ernest Renan, Ibnu Rysyd, h. 71.

Nurcholis Madjid, ed., Khasanah Intelektual Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1948), h. 36.

Nashr, Science, h. 54.

Majid Fakhri, Sejarah, h. 380

Ibn Rusyd, Fashl al-Maqal, h. 31.

Ibrahim Madkour, Fi al-Falsafah al-Islamiyah-I, h. 22.

Ibid.

Nurchalis Madjid, Islam, h. 229.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: