METODE ILMU PERBANDINGAN AGAMA

Agama sudah terdapat pada semua lapisan masyarakat dan seluruh tingkat kebudayaan sejak awal permulaan sejarah umat manusia. Kenyataan ini merangsang timbulnya minat para ahli untuk mengamati dan mempelajari agama, baik sebagai ajaran yang diturunkan melalui kewahyuan maupun sebagai milik pribadi, maupun sebagian dari masyarakat. Lingkungan dan kebudayaan, baik sebgai milik pribadi maupun kelompok. Minat orang untuk mengamati dan mempelajari agama itu didasarkan atas anggapan dan pandangan bahwa agama sebagai sesuatu yang berguna bagi kehidupan pribadinya dan umat manusia. Tetapi selain itu ada juga yang didasarkan atas pandangan yang negatif dengan anggapan yang sinis terhadap agama, karena agama baginya adalah merupakan khayal, ilusi dan merusak masyarakat.

Dua kecenderungan yang bertentangan ini memberikan gambaran bahwa agma itu adalah univesal. Hal ini berarti bahwa agama telah dan kan tetap menyentuh hati dan mengusik pikiran orang. Dikatakan menyentuh hati dan mengusik pikiran, karena walaupun agama dianggap universal dalam sepanjang sejarah dan seantero kediaman manusia, namun ini tidak berarti bahwa semua orang beragama pada kadar yang sama. Dahulu dan juga sekarang selalu ada saja orang yang mengatakan dirinyatidak beragama. Mereka sangsi dan memusuhi semua bentuk agama. Mereka dikatakan anti agama, atau inti Tuhan atau ateis, karena mereka menolak adanya sesuatu kekuatan ghaib yang diper-Tuhan. Atau mereka disebut golongan yang tak acuh terhadap agama atau agnostic, karena mereka menganggap, bahwa kekuatan ghaib atau Tuhan itu tidak akan dapat diketahui atau dimengerti secara pasti, atau mereka tidak mau tahu dengan urusan agama atau Tuhan.

Bagi golongan dimana agama menyentuh hati mereka dan kalau dihayati secara pribadi secara mendalam, terjalin rasa hubungan langsung dengan kekuatan ghaib itu, maka ia menjadi penganut agama yangbaik. Apalagi ajaran agama itu dihayati sebagai norma-norma yang mengikat pribadi dan kelompok, maka mereka tergolong kepada umat atau pemeluk agama yang taat. Ada juga diantara pemeluk agama yang dengan pengalaman dan penghayatannya yang mendalam terhadap agmanya, menyebabkan kekuatan ghaib yang diyakininya mampu memperkuat pribadinya, sehingga ia menjadi anutan, ikutan, dihoramati, diserahi dan dipercayakan kepadanya tugas-tugas khusus. Dalam hal in ia dianggap sebagai pemimpin agama dalam bentuk imam, ulama, kyiai, pendeta, room, pastur, atau apa saja isatilah yang searti denga itu.

Demikianlah, agama telah berada di tengah-tengah manusia sepanjang sejarahnya. Ia merupakan aspek yang tidak dapat dipisahkan dari pribadi dan masyarakat. Tidak ada agama dan juga tidak ada struktur masyarakat yang dapat dianggap sebagai suatu gejala yang terpisah sama sekali satu sama lain, demikian kata Edward H. Winter.

Mempelajari hubungan agama dengan struktur sosial, sudah barang tentu harus melalui dua fase, yaitu pengaruh agama terhadap struktur sosial dan pengaruh struktur sosial atas kepercayaan dan amalan-amalan keagamaan. Ini tentu merupakan bidang penelitian antropologi budaya.

Dengan apa yang telah diuraikan diatas jelaslah, bahwa agama memang sudah dijadikan sasaran studi yang sangat menarik oleh para ahli dengan melalui bermacam-macam cara atau metode dan dari banyak segi. Dan sesuai pula dengan apa yang sudah digambarkan diatas, maka metode-metode pokok yang dapat disebut dan telah diterapkan oleh para ahlinya adalah metode kefilsafatan, metode sejarah, metode antropologi, metode sosiologi, metode philology, metode psikologi, metode teologi atau apologi dan lain-lainnya, The new encyclopedia Britannica menghidangkan metode-metode penelitian terhadap agama : Sejarah, Arkeologi, Satra, Antropologi, Sosiologi, Filosofi, Teologi, Fenomenologi.

Sedang Joachim Wacth hanya mengutamakan empat macam metode pendekatan terhadap agama, yaitu : Sejarah, Philologi, sosiologi dan fenomenologi. Dan A. Mukti Ali menambahkan metode Volkerpsychology disamping : philology, antropologi, sosiologi dan sejarah.

Metode-metode atau pendekatan ilmiah terhadap agama ini sebenarnya timbul berkat perkembangan berbagai ilmu pengetahuan di abad-19 yang lalu. Terutama sosiologi dan psikologi lebih menimbulkan rangsangan bagi pendekatan-pendekatan yang bercorak analitis terhadap berbagai agama. Sementara itu dalam waktu yang sama, teologi memperlihatkan dirinya sebagai suatu yang lebih duniawi atau sophisticated.

Saling kait antara berbagai ilmu pengetahuan dalam hubungannya dengan agama sebagai lapangan pembahasan, dapat digambarkan secara singkat sebgai berikut : agama bersifat kompleks atau majemuk, karena ia mengandung ajaraan tentang kpercayaan, cerita, moral, dankemasyarakatan yang membentuk pengalaman-pengalaman batin serta perasaan-perasaan keagamaan. Factor-faktor in terlihat dan terjelma dibalik penciptaan bentuk berbagai bangunan, seni musik dan lain-lain sebagainya yang dibina atas dasar keyakinan dan kepercayaan.

Akan tetapi, semua agama tidak sama. Beberapa agama memiliki institusi, seperti ummah dalam Islam, gereja dalam Kristen, sangha dalam Buddha, yang bersifat nasional dan internasional serta cultural. Sebaliknya berbeda dengan agama-agama yang bersifat insttitusional diatas, maka agama-agama suku umpamanya tidak selalu bersifat institusional. Namun nyatanya corak kehidupan dalam masyarakatnya tidak terlepas dari segi-segi keagamaan. Semua tingkah laku mereka adalah tingakah laku agama.

Berbagai dimensi agama sebagai dicatat di atas, memang dapat dikatakan bersifat tradisional. Akan tetapi untuk memberikan gambaran yang wajar dan berimbang, maka akan lebih baik, jika hal itu dilihat sebagai suatu fakta sejarah, karena setiap agama mempunyai masa lampau dan mempunyai kemampuan pula untuk berkembang dimasa depan. Agama-agama yang sudah mati tentu saja sebaiknya dikecualikan, walaupun pada zamannya agama tersebut juga mengandung kecendrungan yang sama dengan agama-agama masa kini.

Berbagai bidang ilmu pengetahuan dapat saling membantu untuk mempelajari bentuk-bentuk dasar dan struktur suatu agama. Psikologi umpamanya dapat dipakai untuk mempelajari berbagai pengalaman dan perasaan keagamaan, juga dalam batas-batas tertentu, dapat meneliti cerita atau dongeng-dongeng dan symbol atau lambang keagamaan yang melahirkan keagamaan. Sosiologi dan antropologi budaya, juga antropologi sosial, menyelidiki berbagai lembaga lembaga dan institusi, tradisi-tradisi keagamaan dan hubungan institusi-institusi itu dengan kepercayaan dan nilai-nilai yang dikandung agama itu. Satra dan philology, terutama mengkaji aspek-aspek cerita atau dongeng-dongeng tentang penciptaan mausia, para dewa, kejadian alam dan sebagainya yang terdapat dalam berbagai agama,baik cerita itu hanya berdasar atas kisah lisan yang turun temurun maupun bersumber dari tulisan-tulisan yang dianggap sebagai kitab suci atau disucikan segolongan penganut agama, atau lukisan-lukisan lain yang non literer. Bahkan sastra dapat menjangkau agama semenjak parasejarah, dan philology terbatas kegunaan dan kemampuannya kepada agama-agama dalam sejarah yaitu mempelajari sumber-sumber tertulis agama-agama tarikh.

Berdasarkan campur tangan yang hampir tidak terbatas dari berbagai ilmu pengetahuan terhadap agama, seperti tergambar diatas maka muncul pulalah ilmu yang dihasilkannya. Imu yang dimaksud adakalanya dinamakan ilmu agama, sperti yang dipakai oleh Honig dan Jongenel dan oleh Kitagawa diistilahkan dengan Science of Religions, atau ada juga yang menamakannya dengan sejarah Agama seperti yang dipakai oleh IHAR. Ada pula yang senang menyebutnya dengan Ilmu Perbandingan Agama seperti yang dianut oleh BAKERPIPA, dan dipakai juga oleh A. Mukti Ali dengan buku pertamanya yang berhubungan ilmu ini diberinya judul Ilmu Perbandngan Agama, sebuah pembahasan tentang metodos dan sistema, terbit untuk pertama kali pada tahun 1964. buku ini merupakan buku pertama dalam bahasa Indonesia yang menguraikan ilmu agama dari segi metode dan sistemnya. Wach mempergunakan istilah ini pula dengan menamakan bukunya The Comparative Study of Religions yang diterbitkan antara lain oleh Columbia University Press, New York. Pencipta pertama istilah ini adalah Ernest RenanĀ  (1822-1892). Tulisan ini menganggap juga studi agama-agama ini sebagai studi dari ilmu Perbandingan Agama.

Dengan demikian, maka sekarang tibalah tulisan ini pada pembicaraan tentang beberapa metode atau pendekatan dalam ilmu perbandingan agama itu satu persatu secara agak lebih mendalam.

Pendekatan Sejarah adalah suatu usaha manusia untuk menelusuri asal usul dan pertumbuhan ide-ide serta lembaga-lembaga keagamaan melalui periode-periode perkembangan sejarah tertentu dan untuk menilai peranan kekuatan-kekuatan yang menunjukkan agama itu berada selama periode-periode tersebut. Dalam mmpelajari asal usul agama berbagai teori sudah dihasilkan orang.

Hesiod dalam tulisannya Theogony telah melakukan usaha pertama untuk menghimpun cerita-cerita tentang dewa-dewa Yunani dalam satu kesatuan yang tetap. Kemudian Herodotus (484-425 SM) menyatakan bahwa semua manusia sama mengetahui tentang hal ketuhanan. Namun kedua tokoh ini tidak dianggap sebagai tokoh sejarah yang kritis terhadap agama.

Berbagai pemikiran spekulatif tentang bagaimana, kapan dan mengapa timbul agama, baru semenjak sekitar seratus tahun belakangan ini. Di abad pertengahan dan Modern Eropa orang menganggap, bahwa manusia pertama yaitu Adam dan Hawa menurut cerita Kitab Kejadian dalam Perjanjian Lama, sudah menerima wahyu dari Tuhan, atau bahwa mereka telah menghasilkan suatu agama yang asli yang didasarkan kepada prinsip-prinsip yang rasional. Namun para ahli ketuhanan Kristen bersama-sama dengan ajaran gereja berkeyakinan, bahwa agama yang pertama itu sudah dirusak oleh dosa dan kejatuhan manusia kedalam dosa. Oleh karena itu para rasional ada yang menyatakan, bahwa para pendeta dan kebodohanlah yang telah merusakĀ  agama itu dan membuat berhala dan beragamnya agama yang dapat disaksikan sekarang ini diseluruh dunia.

Sewaktu teori evolusi tampil di abad ke-19 dan berkembang ilmu kritik sejarah, orang kembali mempertimbangkan tentang evolusi agama dan menyusun berbagai spekulasi tentang asal usul agama.

Pada tahun 1871, Edwar. B Tylor (1832-1917) berteori bahwa animisme adalah asal agama. Menurut teori ini manusia primitif sudah menyimpulkan dari berbagai mimpi, khayal, kebingungan atau kekacauan pikirannya dan dari kenyataan tentang mati, bahwa ia didiami oleh suatu jiwa yang bersifat non materi sewaktu manusia itu bermimpi jiwanya berpisah buat sementara dati badannya dan kalau manusia itu mati maka jiwa itu berpisah untuk selamanya dari badan, akan tetapi jiwa itu tetap hidup dan bertempatĀ  pada berbagai benda.

Tylor adalah bapak antropologi Ingris. Ia berasal dari Quaker suatu gerakan agama di Inggris, maka ia mendapat pndidikan universiter di bawah norma-norma yang ada pada waktu itu. Pertemuannya yang secara kebetulandengan Henry Christy- seorang yang sangat keranjingan terhadap penelitian prahistoris pada tahun 1856 di Havana, menyebabkan ia mengadakan tour ke Mexico. Hasil peninjauannya itu direkamnya dalam sebuah buku yang diberinya judul Anahuac, atau Mexico and Mexicans, Ancient and Modern, terbit tahun 1861 di London. Setelah buku pertamanya ini disusul dengan karyanya kedua yaitu Researches into the Early History of Mankind tahun 1865. bukunya yang paling terkenal yang menguraikan teori dasarnya adalah Primitive Culture. Buku ini terdiri dari dua jilid dan terbit untuk pertama kali di London tahun 1871.

Pada waktu yang sama ahli sosiologi dan filsafat kenamaan Herbert Spencer (1820-1903) berpendapat, bahwa agama itu berasal dari khayal atau dari hantu-hantu orang mati. Hantu atau roh orang mati ini-leluhur- disembah sebagai dewa-dewa. Akan tetapi, baik Spencer maupun Tylor tidak bisa menunjukkan bahwa orang primitif yang sunguh-sungguh pada zaman prasejarah sudah mempunyai pemikiran semacam ini maka perpindahan dari hantu atau roh kepada dewa atau Tuhan didasarkan pada rekaan-rekaan semata. Maka andaikata pun hal ini pernah berlaku pada satu ketika, namun hal itu tidak pernah berlaku universal. Animisme seperti ini sebenarnya tidak dipakai lagi sebagai pembahasan ilmiah terhadap agama dewasa ini.

Suatu penyempurnaan terhadap teori animisme ini, dikemukakan oleh R.R. Marret pada tahun 1899. Ia berpendapat bahwa kepercayaan terhadap suatu roh yang berpribadi atau animisme bukanlah kepercayaan orang primitif yang pertama sekali, karena kepercayaan mereka yang pertama adalah kepercayaan terhadap suatu kekuatan yang bersifat nonpribadi yang hidup di dunia ini. Ini ia disebut dengan Animatisme atau pra animisme. Menurut Marret, orang-orang dahulu yang lebih berperan sebagai factor daripada sebagai pemikir berkata berkata, bahwa agama mereka tidak memerlukan pemikiran benar, sebagaimana ia terjelma seperti terjelmanya tari-tarian. Hal ini membuktikan bahwa kepercayaan ini pada tingkatnya yang pertama tidak jauh berbeda dengan magis. Dan memang jalan pikiran Marret sangat erat atau tidak keluar dari lingkungan paham mana yang terdapat dikalangan suku-suku Melanesia dikepulauan Pasifik. Walaupun demikian, sebetulnya mana berdasarkan penyelidikan terakhir bagi bangsa Melanesia, tidak searti benar dengan animatisme, karena mana tidak berarti kekuatan yang bersifat nonpribadi yang mendiami alam semesta ini, melainkan lebih menyerupai roh atau jiwa.

Itulah bebarapa contoh teori tentang asal usul agama sebagai hasil penelitian ilmiah dari segi pendekatan antropologi-sejarah. Sebetulnya, dominasi agama terletak pada kepercayaan atau keimanan, sebab agama adalah kebenaran dan petunjuk tentang kebenaran, maka hasil-hasil yang dicapai oleh para ahli dalam masalah ini, hanya akan dihargai sebagai suatu prestasi ilmu, bukan sebagai kebenaran. Sebab itu agama yang benar tentu berasal dari Yang Maha Benar yang mewahyukan Kebenaran itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: