Pemikiran Hasyim Asy’ari tentang Etika Murid terhadap Guru dalam Pembentukan Akhlak al-Karimah

  1. A.     Implementasi Pemikiran Hasyim Asy’ari tentang Etika Murid terhadap Guru dalam Pembentukan Akhlak al-Karimah

Telah dipaparkan pada bab-bab sebelumnya, bahwa Hasyim Asy’ari merupakan tokoh pendidikan yang banyak mencurahkan gagasan mengenai etika murid terhadap guru yang melandasi ajarannya dengan penekanan religious ethic. Etika religius ini, di dasarkan atas keimanan sehingga proses pencarian ilmu itu merupakan bagian dari realisasi iman dan sekaligus untuk menjaganya dalam rangka mencari ridha Allah. Dalam kerangka praksisnya, mencari ilmu senantiasa harus mengacu pada etika dan memperhatikan kemanfaatan (al-ilmu al-naf).

Menurut baliau hal ini, hanya dapat dihasilkan apabila etika murid terhadap guru dilaksanakan secara baik sesuai dengan aturan dalam kegiatan belajar mengajar yang berdasarkan kepada akhlak. Mengapa demikian, karena menurut beliau  adanya etika religius  itu merupakan komponen yang menjadi indikator dan prasyarat keberhasilan dalam pendidikan. Sehingga dalam kontek ke kinian dengan adanya penekanan etika religius ini sangat sesuai dengan tujuan pendidikan nasional sebagaimana dalam UU No. 20 Tahun 2003 Bab II Pasal 3. Yaitu:

“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.[1]

Pasal tersebut, menunjukkan bahwa pendidikan nasional mempunyai tujuan membentuk:

  1. Pribadi yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa.
  2. Manusia sebagai pribadi yang berakhlak mulia, sehat, kreatif dan mandiri
  3. Warga Indonesia yang demokratis dan bertanggungjawab.

Sebagai landasan moral bangsa Indonesia, rumusan tujuan pendidikan nasional, sangat tepat kalau dikembangkan dijalur pendidikan. Hal ini, karena tujuan pendidikan nasional tidak hanya menyangkut aspek domain kognitif, afektif dan psikomotorik, akan tetapi rumusan itu juga menyentuh pada aspek iman dan takwa. Dengan demikian, relevansi pemikiran beliau tersebut terletak pada aspek pembentukan akhlak mulia. Sebagaimana tercantum dalam UU No. 20 Tahun 2003 Pasal: 3. Aspek akhlak mulia ini, merupakan aspek kejiwaan yang lebih abstrak, berupa filsafat hidup dan kepercayaan (iman dan takwa). Dan aspek ini juga, mengarahkan serta memberi corak kepada seluruh kehidupan individu yang di sebut dengan hati yang berpusat pada personality.

Jadi, apa yang menjadi tujuan pendidikan nasional itu pada dasarnya sudah ditekankan oleh Hasyim Asy’ari. Dengan demikian, dalam kontek ke kinian, pemikiran beliau patut direspon dan ditumbuhkembangkan dalam rangka mencapai fungsi dan tujuan pendidikan nasional, yakni mengembangkan kemampuan dan membentuk akhlak serta peradaban bangsa yang bermanfaat dalam rangka mencerdaskan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berilmu, serta menjadi negara yang demokratis dan bertanggungjawab. Hal ini juga dipertegas oleh Abidin Ibnu Rusn, bahwa potensi-potensi manusia akan bermafaat hanya jika digali melalui pendidikan.[2]

Sangat jelas sekali, bahwa proses pembelajaran tidak hanya sekedar di arahkan pada penguasaan ilmu pengetahuan. Lebih dari itu, ia mampu membentuk akhlak yang sempurna dan mengoptimalisasikan akhlak dan religiusitas dalam setiap unsur pendidikan. Hal ini akan mudah terjalin keharmonisan dalam proses pembelajaran. Karena di dalamnya terdapat nilai-nilai demokratis, keterbukaan, kemanusiaan, eksistensi murid diakui dan diperlakukan dengan manusiawi diberikan hak untuk mengemukakan pendapatnya, bertanya, mengkritik dan diperlakukan sesuai dengan bakat dan potensi.[3]  Jadi hal ini, tidak akan membunuh kreatifitas murid, juga mendorong terciptanya akhlak yang mulia dalam pendidikan, sebagaimana itu menjadi cita-cita dan tujuan pendidikan Islam

Karena dengan hal itu, kita akan merasa mudah mencari format pendidikan Islam yang benuansa akhlak al-karimah. Mengingat keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan banyak ditentukan oleh adanya etika dan religius dalam setiap proses pembelajaran. Dalam hal ini, dipertegas oleh Athiyah al-Abrozy  bahwa pendidikan budi pekerti atau akhlak merupakan jiwa dari pendidikan Islam, dan Islam menyimpulkan bahwa pendidikan budi pekerti adalah jiwa pendidikan Islam. Mencapai suatu akhlak sempurna merupakan tujuan sebenarnya dari pendidikan Islam.[4]

Berbeda dengan pendidikan Barat yang hanya mengutamakan pengajaran pengetahuan an-sich, yang menitikberatkan pada segi empirik, tidak mengalami eksistensi jiwa dan tidak mempunyai arah yang jelas serta jauh dari landasan spiritual. Dalam kontek lebih khusus lagi, hal ini, merupakan realitas bahwa pendidikan Barat tidak mengarahkan perhatiannya pada masalah moral dan etika. Kalaupun ada pendidikan nilai, maka nilai target tersebut adalah humanistik semata dam bersifat antroposentris. Paradigma seperti ini, akan berakibat hilangnya nilai-nilai etika dan transendental dalam pendidikan yang akhirnya justru menimbulkan dehumanisasi, bukan lagi humanizing of human being.[5]

Kondisi seperti di atas, disadari atau tidak telah mengalami pergeseran nilai dan orientasi pendidikan Islam yang awalnya bertujuan membentuk karekter anak didik dan membentuk etika relegius, ternyata secara metodologis justru lebih banyak terjebak dalam pola pendidikan satu arah bersifat pengajaran semata. Kondisi seperti ini pada akhirnya akan kembali menimbulkan krisis moral dan kegamaan.

Melihat kondisi seperti itu, maka kontribusi yang akan diberikan oleh beliau adalah sebagai berikut:

  1. Orentasi tujuan pendidikan yang mempunyai arah jelas ke ukhrawi.

Dalam hal ini, akan terjadi keseimbangan antara jasmani dan rohani. Keseimbangan ini akan menjadi dasar untuk mencapai kebahagiaan  yang sempurna. Dengan adanya tujuan ke arah ukhrawi, maka perkembangan pendidikan tidak hanya terfokus pada transfer of knowledge dengan pengajaran semata.

  1. 2.         Penyertaan religius dalam setiap unsur proses belajar mengajar

Adapun yang dimaksud adalah berusaha membuat suasana keagamaan dalam proses pendidikan. Dan ini, mempunyai peran besar  dalam menumbuh kembangkan moral dan spiritual peserta didik. Karena suasana religius dan membiasakan akhlak dalam setiap kegiatan belajar mengajar merupakan langkah maju menuju cita-cita keseimbangan  dunia dan akhirat.

  1. 3.         Optimalisasi  religius terhadap guru dan murid.

Tentang optimalisasi religius terhadap guru dan murid merupakn konsep untuk pengamalan secara maksimal terhadap ajaran-ajaran Islam. Dalam kontek ini, ajaran  agama tidak boleh hanya dikuasai sebagai pengetahuan, melainkan pengamalan yang mengkristal dalam diri kita. Optimalisasi religius ini menitikberatkan pada individu guru dan murid. Kalau dilihat secara seksama, pemikiran Hasyim Asy’ari berusaha membuat dasar bangunan masyarakat moral religius melalui pembinaan moral.

 

B.     Kelebihan dan Kelemahan Pemikiran Hasyim Asy’ari

Pada bab III telah disebutkan secara sistematis dan rinci mengenai pemikiran Hasyim Asy’ari tentang hubungan guru dan murid. Maka pada bab IV ini akan penulis jelaskan tentang kelebihan dan kelemahan:

  1. 1.   Kelebihan

Beberapa kelebihan pemikiran Hasyim Asy’ari dapat dilihat dari beberap hal. Pertama, bahwa pemikiran Hasyim Asy’ari sangatlah humanis dan religius, sehingga apa yang menjadi ajarannya menjadi bahan acuan yang sangat penting dalam mengembangkan komunitas pendidikan yang respec terhadap nilai-nilai  kemanusiaan dan religiusitas. Berbeda dengan pendidikan di Barat yang hanya menekankan pada aspek humanis saja dan melupakan aspek religius. Sehingga pendidikan tersebut hanya bersumber pada ilmu pengetahuan  atau transfer of knowledge saja.

Kedua, adanya profesionalisme guru harus benar-benar qualified, baik secara keilmuan yang menjadi spesifikasi maupun keilmuan pendukung lainnya. Bagi Imam Ghazali profesionalisme guru tidak begitu diprioritaskan, ini bisa dibuktikan dengan pemaknaan beliau terhadap makna Uztas yang mempunyai pengertian suri tauladan. Padahal makna dari kalimat uztas mempunyai sebuah pengertian profesor yang  bermakna mempunyai spesifikasi dalam bidang keilmuan. Jadi bisa disimpulkan bahwa pemikiran Hasyim Asy’ari sangatlah cemerlang dan tanggap terhadap perubahan yang muncul.   

Ketiga, bahwa pemikiran Hasyim Asy’ari dalam kitab ”Adab al-Alim wa al-Muta’allim” lebih terfokus pada terjadinya keseimbangan dalam berhubungan, baik dalam etika belajar atau di luar belajar. Dengan kata lain, bahwa guru dan murid mempunyai etika masing-masing dalam berhubungan (balance). Hal ini, bisa dilihat dalam muqoddimah kitab Adab al-Alim wa al-Muta’allim.

Keempat, Hasyim Asy’ari menganggap bahwa ilmu bukan hanya didapat dari pengamatan dan penalaran, tetapi juga kebersihan hati. Sementara alran progressivisme menganggap bahwa ilmu adalah suatu bersumber dari realitas inderawi dan tidak ada hubungannya dengan kebersihan hati.

 

  1. 2.      Kelemahan

Beberapa kelemahan pemikiran Hasyim Asy’ari dapat dilihat dari beberapa hal: Pertama, pemikiran Hasyim Asy’ari lebih dekat dengan konsepsi kaum sufi, dimana murid harus menghormati guru, yang dalam batas-batas tertentu terkesan berlebihan. Sehingga kondisi seperti ini, siswa tidak mempunyai kebebasan dalam mengungkapkan ide-ide pikirannya.

Kedua, pemikiran Hasyim Asy’ari tentang  proses pembelajaran lebih berpusat kepada guru (center teacher). Dalam hal ini, hubungan dalam batas-batas tertentu menekankan penghormatan yang terkesan berlebihan tersebut dengan sendirinya penempatan guru pada posisi sangat dominan dalam proses pembelajaran.  Sementara dalam dunia pendidikan saat ini, perlu adanya konsep cilderen center karena dalam proses pendidikan anak didik di samping sebagai  obyek juga sebagai subyek dari pendidikan. Mengapa demikian, karena anak didik perlu mendapatkan kesempatan yang cukup untuk bebas dan sebanyak mungkin mengambil bagian dalam kejadian-kejadian yang berlangsung di sekitarnya.

Ketiga, menurut Hasyim Asy’ari  tujuan pendidikan adalah untuk membentuk manusia individu dan masyarakat yang baik. Namun ukuran baik manusia menurut Hasyim Asy’ari adalah berstandar pada agama. Jadi seakan-akan Hasyim Asy’ari mengabaikan aspek sosiologis dalam masyarakat.


[1] Undang-Undang Tahun 2003, Tentang Pendidikan Nasional dan Penjelasannya, (Jakarta: Eko Jaya, 2003), hlm. 4

[2] Abidin Ibnu Rusn, Pemikiran Al-Ghazali Tentang Pendidikan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998), 138

[3] Abudin Nata, Perspektif Islam Tentang Hubungan Guru-Murid: Studi Pemikiran Tasawuf Al-Ghazali, (Jakarta: Raja Grafindo, 2001), hlm. 1114

[4] Athiyah al-Abrozi, Dasar-Dasar Pokok Pendidikan, (Jakarta: Bulan Bintang, 1974), hlm. 15.

[5] Ismail, SM, Paradigma Pendidikan Islam Syekh Naquib al-Attas, dalam Ruswan Thoyyib dan Darmu’in, Pemikiran Pendidikan Islam Kajian Klasik dan Kontemporer, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997), hlm. 295

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: