Menepis Gagasan Ide Pluralisme

Tujuan artikel ini mencoba mempertanyakan kembali pentingnya memahami dasar epistemologi pluralisme, sebagai sebuah paradigma kesatuan agama-agama yang sekarang ini sedang diusung oleh pelbagai kalangan. Alasannya, mereka beranggapan bahwa persoalan-persoalan pelbagai konflik, termasuk konflik agama ditenggarai oleh cara pandang ekslusivisme dalam beragama, sehingga agama hanya “seonggok” doktrin dan kepercayaan yang tidak dapat mengantisipasi dan memberikan solutif terbaik krisis bagi kemanusiaan dan kemoderrenan ini. Inilah raison d’etrenya, kenapa mereka mengusung dan mempromosikan teologi inklusif (baca: pluralisme).

Bagi mereka (baca: kaum pluralis), gemirincing pemikiran pluralisme agama menemukan momen yang significan di penghujung abad 21, dibuktikan dengan maraknya membuka jendela dialog antaragama, toleransi, inklusivisme, dan pluralisme. Banyak faktor terkait yang melahirkan wacana, konflik agama salah satunya, seperti yang disinyalir oleh pelbagai kalangan, karena ekses sampingan dari penyebaran agama yang dilakukan secara ekspansif oleh masing-masing pemeluk agama, ataupun karena ada sebuah mainstream doktrin ekslusifisme agama-agama tersebut. Contoh klasik, seperti peristiwa fitnah al-kubra dan mihnah ataupun kontemporer seperti pembajakan pesawat terbang komersial, perang saraf antara Bush dan Saddam Hussein, atau peristiwa aksi-aksi terorisme yang semuanya sama mengatasnamakan agama.

Dalam argumentasi kaum pluralis, fakta-fakta ini dianggap sebagai bentuk pembajakan terhadap ajaran agama yang justru doktrinnya tidak mentolerir kekerasan. Tentu saja, kesalahannya terletak pada paradigma keliru, yaitu teologi ekslusivisme atau teologi perang yang dibangun untuk mengklaim Tuhan dan kebenaran di pihaknya,  atau untuk melegitimasi tindakan aksinya dalam melakukan kekerasan atas nama Tuhan.

Dengan demikian, wacana pluralisme mau tak mau, suka tidak suka, mempunyai prospek membentuk sikap dan mental untuk menjunjung nilai-nilai kemanusiaan dan sikap menghargai perbedaan diantara para agamawan. Tidak hanya mengandalkan bentuk, melainkan esensi atau dengan bahasa lain, tidak sekedar mengatur kehidupan beragama, tetapi memberikan ruang sosial dan politik secara terbuka bagi segala hal yang berkait dengannya. Katanya.

Apakah Benar Demikian? Dalam konteks peranan agama, Nur Solihin (Pikiran Rakyat, 30/11/2002) dan Musa Asy’arie (Kompas, 07/02/ 2003) merumuskan bahwa pluralisme agama bukan berarti suatu sikap basa-basi pergaulan sosial, tetapi harus berangkat dari ajaran agama dan paradigma baru. Tulisnya, bahkan lebih dari itu, teologi baru ini akan memberi tempat bagi keabsahan agama lain. Sebab, teologi ini menolak episteme pikiran dan persepsi tentang tuhan (baca:agama) yang dipakai untuk menilai pikiran dan persepsi orang lain tentang tuhan, kemudian menghakimi sesat kebenaran tuhan yang ada pada pikiran dan persepsi tuhan orang lain, maka teologi seperti ini akan berujung pada konflik paham ketuhanan (baca: agama). Karena masing-masing memutlakkan kebenarannya sendiri dan memaksakannya pada orang lain.

Tetapi, dengan meyakini bahwa di luar agama yang kita yakini mempunyai kebenaran yang sama walaupun masing-masing agama tersebut mempunyai jalan atau tata cara yang berbeda. Misalnya dalam Islam menyebutnya, perbedaan itu hanyalah dari segi syariah dan minhaj saja, tetapi semuanya jalan-jalan tersebut mengacu kepada Tuhan yang satu. Dengan demikian, menurutnya, menempuh sikap pluralis adalah jalan yang paling tepat untuk membina hubungan antaragama saat ini.

Masalahnya apakah benar demikian, tudingan bahwa segala dan berbagi konflik, khususnya konflik agama, disebabkan karena masyarakat menganut cara pandang dan berpikir teologi yang demikian, yaitu eksklusifisme? Sayang sekali, semua argumentasi, yang diatas tersebut tidak mendasar, sebab alasan-alasannya yang dikemukakan hanya berdasarkan asumsi yang keliru dan kekuatiran yang berlebihan.

Fakta ini tidak terbantahkan, sebab semua kasus yang terjadi baik itu peperangan ataupun kasus pemaksaan tidak berdasarkan motif pandangan eksklusif terhadap agamanya, tetapi lebih merupakan benturan-benturan pelbagai kepentingan-kepentingan yang berhubungan dengan kekuasaan dan politik.

Buku standar karangan Harun Nasution, Pengantar Teologi Islam, menyebutkan peperangan-peperangan seperti finatul kubra atau perang Jamal, awalnya merupakan kasus politik dan pertarungan untuk merebutkan kekuasaan. Kemudian meluas menjadi “arena pertandingan kebenaran” dengan mencari justifikasinya dari agama. Kemudian muncullah aliran-aliran atau madhab dalam Islam. Persoalannya apakah kasus ini dapat dijadikan sebagai alasan untuk mengatakan ini dilatarbelakangi oleh motif dari ekslusifisme agama?

Lalu apakah benar dugaan aksi-aksi kontemporer seperti pembajakan pesawat terbang dan pemboman terhadap kaum sipil atau perang Poso di Maluku diduga karena bermotifkan agama?

Namun, sampai hari ini belum ada penelitian yang valid yang menjelaskan bahwa awal tindakan mereka ini didasari oleh kesadaran keimanan agamanya. Orang jarang melihat apa yang mereka lakukan itu sebagai upaya pembelaan diri, tapi secara umum dan gampangan disebutkan bermotifkan pada cara pemahaman dan penghayatan ekslusifisme pada agamanya.

Sayang memang, tudingan ini keburu diblow up secara besar-besaran dan dengan cara tidak fair, kemudian direduksi citra aksi mereka menjadi image yang jelek. Reduksi ini tidak hanya mem-blow up terma-terma saja tapi tujuan dan tindakannya.

Tulisan Rumadi (Media Indonesia, 15/11/2002), mengaitkan aksi dan tindakan perilaku umat beragama dengan doktrin agama itu sendiri. Dalam komentarnya menyatakan agak sulit untuk menerima pemahaman sebuah realistas sejumlah para pelaku yang melakukan aksi-aksi vandalisme dan bernuansa konflik agama yang sarat dengan simbol dan spirit agama, dengan realitas lain yang cenderung enggan mengakui ada sejumlah doktrin agama yang bisa dijadikan legitimasi dan pembenar untuk melakukan aksi-aksi yang menjurus pada konflik itu.

Bagi Rumadi, justru pada tingkat doktrin bisa digunakan untuk memotret keterkaitan antara agama dan vandalism, sebab agama atau sistem kepercayaan lainnya mempunyai potensi untuk memunculkan kelompok “fundamentalis” atau eksklusifisme. Realitas tersebut dapat dibuktikan berbagai bentuk gerakan-gerakan ekstrem yang senantiasa terdapat dalam semua agama. Seperti dalam Islam, terdapat doktrin ‘jihad’ yang sering ditafsirkan dengan “seenaknya” untuk melakukan bentuk-bentuk “vandalism”.

Tentu saja ini pernyataan ini sangat menyesatkan, karena menjustifikasi bahwa aksi-aksi itu merupakan bukti penghayatan dan pembacaan atas doktrin agama yang bersifat eksklusif, padahal eklusifisme umat beragama tidak ada kaitannya dengan keterlibatan pelbagai aksi-aksi yang menjurus pada konflik-konflik itu. Menduga ada kaitannya jelas sekali sebagai sikap  yang objektif inparsial.

Justru eksklusifisme agama merupakan sebuah keharusan. Ia sudah menjadi “cetak biru” Tuhan untuk membangun keimanan pada-Nya agar ia dapat mengetahui mana yang benar dan mana yang bathil (salah) tanpa ragu-ragu. Apalagi bagi umat Islam doktrin ini begitu penting. Ia menjadi landasan untuk memahami yang lainnya. Kenapa demikian? Tentu saja ini sangat berhubungan dengan konsep syahadah (tauhid).

Tauhid dan Eksklusifisme Agama

Konsep tauhid adalah sebuah pengakuan –patuh, tunduk, atau siap terikat pada aturan-aturan-Nya– seseorang kepada Allah dengan menegasikan segala bentuk kepatuhan atau ketundukan kepada yang lain atau embel-embel disekelilingnya, dan siap menjunjung atau menjaga dari bentuk pengrusakan kepada alam atau melakukan bentuk-bentuk vandalism yang menjurus pada konflik sosial.

Konsep syahadah atau tauhid mempunyai dua dimensi; vertikal dan horizontal. Bentuk dimensi syahadah vertikal adalah bentuk kepatuhan dan ketundukan kepada Allah dengan menegasikan dari pelbagai kepatuhan dan ketundukan kepada bentuk-bentuk lain, yang menjurus pada bentuk penyekutuan terhadap Allah sendiri.

Syahadah vertikal ini sangat berhubungan dengan segala bentuk prilaku yang tidak menjaga dan menjunjung nilai-nilai suci Agama itu sendiri, maka kalau orang melakukannya, seperti mengakui kebenaran agama atau sistem kepercayaan selain agama Islam, saat itu juga ia telah berbuat syirik (penyekutuan).

Adapun, bentuk dimensi syahadah horizontal adalah sebuah kepatuhan dan ketundukan menerima tugas dari Allah untuk menjaga dan memelihara dari pelbagai bentuk perusakan laut, hutan dll. (30:41), (28:77), (02:205). Dan sebuah kepatuhan untuk siap menerima tugas menjunjung nilai-nilai suci, menegakkan keadilan, membangun interaksi sosial yang harmonis, dll. (02:30), (10:14), (10:73), (07:69), (27:62).

Lalu, kalau kemudian, ia melakukan sesuatu yang menyimpang dari tugas ini, seperti melakukan penggundulan hutan, yang mengakibatkan erosi, akhirnya merusak keseimbangan alam, maka ia telah melakukan bentuk syirik horizontal. Sama seperti ketika ia tidak mempunyai kepedulian pada rakyat yang di/teraniaya, sebenarnya ia telah melakukan syirik horizontal. Karena dalam perspektif ini, semua tersebut ada hubungannya dengan kepatuhan kepada Allah yang termanefestasikan pada seluruh muka alam, yang konsekuensi logisnya harus dijaga, dipelihara, kalau perlu ditegakkan tentunya dengan keadilan.

Lalu, kalau ada pertanyaan kita sebagai Muslim mengklaim hanya Islam satu-satunya agama yang benar dan selamat, kemudian pada saat yang sama haruskah keberatan dengan klaim serupa yang dimiliki agama lain? Sebab dalam perspektif pluralisme agama, jika semua agama mengklaim paling benar, maka berarti ada banyak kebenaran, berarti bertentangan dengan paham bahwa kebenaran itu hanya satu, yaitu Allah. Bagi kaum pluralis ini tidak bertentangan. Sebab, Agama itu terdiri dari bentuk dan substansi. Bentuknya bisa berbeda-beda, karena diturunkan pada zaman yang berbeda-beda, dibawa oleh nabi yang berbeda, untuk umat manusia yang berbeda pula. Tetapi substansi semua itu satu, karena datang dari kebenaran yang satu, yaitu Allah.

Tapi dalam perspektif syahadah, pernyataan ini jelas keliru dan menjurus pada bentuk syirik vertikal (penyekutuan) terhadap Allah, sebab pernyataan ini secara fundamental masih menyisakan pengakuan dan ketundukan pada dzat yang lain, yaitu mengakui kebenaran terhadap agama atau sistem kepercayaan selain Islam. Pengakuan atau ketundukan Ini jelas tidak bisa ditolelir oleh umat Islam, apalagi isu yang menyangkut aqidah (sebuah pengakuan terhadap Allah).

Dengan demikian, jelas bagi umat Islam sangat keberatan kalau perlu ide semacam ini harus ditolak. Nah, kalau kemudian kaum pluralis merasa keberatan dengan sikap Muslim tersebut yang menyatakan hanya Islamlah yang paling benar dan selamat. It is not our business. Sikap ini ditegaskan dalam al-Qur’an, surat al-Kafirun, ayat terakhir, it is not our business, begitu terjemahan bebasnya.

Lalu, apakah Islam juga menolak sebuah gagasan berdialog antar agama. Dengan tegas Islam tidak menolak. Namun isunya bukan persoalan seperti ini. Karena secara epistemologi sudah berbeda apalagi sangat kentara perbedaan platform antar Islam dengan agama-agama atau sistem kepercayaan lainnya.

Kalau begitu, isu apa yang perlu didialogkan? Tentunya isu-isu seperti, masalah lingkungan hidup, kemiskinan struktural dan kultural, dampak penggunaan teknologi nuklir, peperangan, dan pelecehan hak-hak asasi manusia (HAM). Isu tersebut, tidak hanya menjadi agenda agama tertentu saja (baca: Islam), tapi isu tersebut harus menjadi agenda semua agama, semua umat manusia.

Jika tidak menjadi concern umat Islam, maka kita sebagai umat Islam telah melakukan syirik horizontal, sebuah penyekutuan terhadap Allah, karena kita tidak melakukan sebuah ketundukan dan pengakuan terhadap-Nya untuk melakukan sebuah kebajikan.

Dengan demikian, dalam rangka dialog antar agama, setiap pemeluk agama dapat bergerak lebih leluasa tanpa sekat-sekat formalisme untuk menjadikan isu tersebut sebagai keprihatinan bersama. Dalam arti keprihatinan yang diderita oleh pemeluk lain dapat dihayati sebagai keprihatinannya sendiri. Itulah arti dari konsep syahadah, sebuah pengakuan dan ketundukan kita terhadap Allah.

Demikianlah arti tauhid dan eksklusifisme agama. Tentunya penghayatan, pemahaman dan pembacaan terhadap tauhid yang benar, tidak akan mengakibatkan pelbagai konflik apapun, termasuk konflik agama. Karena sangat jelas eksklusifisme dalam agama Islam justru menjadikan pemeluknya menjadi kaum beragama yang beradab. Membentuk militansi dan fundamentalisme dalam memahami agamanya. Tidak sekedar mengimani adanya Tuhan, tetapi melaksanakannya secara teguh apa yang yang tersurat dalam Al-Qur’an. Tapi juga, ia punya komitment yang jelas, sebagai pengakuan dan ketundukannya pada Allah, untuk bersama-sama menciptakan dunia yang harmonis dan membentuk sikap dan mental yang toleran, sehingga ia dapat menepis anggapan Malaikat bahwa manusia diciptakan hanya untuk berbunuh-bunuh dan berkonflik. Wallahu alam bi ash-shawab.

2 Komentar

  1. cinta said,

    Maret 8, 2012 pada 8:40 pm

    sebagai sebuah publikasi di dunia maya yang notabene akan dibaca semua pengguna internet yang tentunya bersifat plural, tulisan anda tampak menarik sebagai sebuah wacana lain diluar gagasan pluralisme yang ada. tetapi selama ini saya yakin para penggagas ide pluralisme lebih mendasarkan pada hubungan horisontal. mereka percaya bahwa hubungan vertikal dengan Tuhan mereka besar kemungkinan tidak bisa diterima ataupun sulit dimengerti (apalagi diyakini) oleh penganut kepercayaan lain. Memang sulit untuk merealisasikan sebuah ide,baik itu pluralisme ataupun non-pluralisme, atau mungkin masih ada banyak ide lain. yang dibutuhkan adalah sebuah solusi atas sebuah hubungan horisontal yang harmonis tanpa mengganggu ranah hubungan vertikal. Tapi mungkinkah hal ini terwujud?? Jawaban inilah yang musti kita cari.. matur suwun.

    • asfuriahmad said,

      April 28, 2012 pada 3:58 pm

      makasih,,,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: