SEKILAS LDII LEMBAGA DA’WAH ISLAM INDONESIA

Dikalangan umat beragama terdapat aliran-aliran agama yang diantaranya dianggap menyimpang. Salah satu aliran agama yang tumbuh dikalangan umat Islam Indonesia adalah Lembaga Da’wah Islam Indonesia (LDII).

Paham keagamaan yang dikembangkan oleh LDII meresahkan masyarakat di berbagai daerah, karena dinilai masih mengajarkan faham Darul Hadits/Islam Jamaah yang telah dilarang oleh jaksa agung Republik Indonesia. Keberadaan LDII mempunyai akar kesejarahan dengan Darul Hadits/ Islam Jam’ah yang didirikan oleh H. Nurhasan Al Ubaidah Lubis pada tahun 1951. Setelah aliran tersebut dilarang tahun 1971, kemudian bergantian nama dengan Lembaga Karyawan Islam (Lemkari) pada tahun 1972, selanjutnya Lemkari tahun 1972 tersebut berganti nama lagi dengan Lembaga Karyawan Da’wah Islam pada tahun 1981 yang disingkat juga, yaitu Lemkari 1981. Dan kemudian berganti nama lagi dengan Lembaga Da’wah Islam Indonesia (LDII) pada tahun 1990 sampai sekarang. Pergantian nama tersebut dikaitkan dengan upaya pembinaan eks Darul Hadits/ Islam Jama’ah agar mereka meninggalkan ajaran Darul Hadits/ Islam Jama’ah yang telah dilarang tersebut.

Diantara pokok ajaran Darul Hadits/ Islam Jama’ah yang menyimpang dari kemurnian ajaran Islam terutama yang dianut kaum muslimin Indonesia sebagaimana telah diformulasikan oleh Majlis Ulama Indonesia meliputi aspek imamah, baiat, taat dan Islam manqul. Islam jama’ah terutama pad paham yang menyatakan bahwa tidak sah beragama kalau tidak berbai’at kepada Al Amir aygn dipilih oleh Allah sebagai seorang pemimpin rohaniah/ agama yaitu H. Nurhasan Al Ubaidah, dan umat Islam yang tidak berbaiat kepada Amir akan mati dengan cara jahiliyah atau tidak sah Islamnya dan atau dengan kata lain disebut kafir. Islam hanya dapat dipelajari melalui Al Amir atau wakil-wakilnya secara lisan (manqul).

Lemkari didirikan tanggal 13 Januari 1972 dengan maksud untuk menampung eks anggota Darul Hadits/Islam Jama’ah yang dilarang oleh Jaksa Agung pada tanggal 29 Oktober 1971. Pengikut aliran tersebut dalam  Pemilu 1971 mendukung Golongan Karya (Golkar), dan kemudian Lemkari berafiliasi ke Golkar. Namun dengan adanya Undang-Undang No. 08 tahun 1985, Lemkari sebagai singkatan Lembaga Karyawan Islam sesuai Mubes 11 tahun 1981 ganti nama dengan Lembaga Karyawan Da’wah Islam (LEMKARI).

Beberapa praktek keagamaan yang berkembang di lingkungan LEMKARI, antara lain : khutbah Jum’at menggunakan bahasa arab,dalam sholat tidak boleh makmum kepada orang yagn tidak sealiran, tidak boleh berjabat tangan laki-laki dengan perempuan yang bukan muhrim dan wanita baligh harus berjilbab.

Eks anggota Darul Hadits/Islam Jama’ah yang menjadi anggota LEMKARI masih meneruskan ajaran-ajaran yang telah dilarang karena mubaligh/da’I LEMKARI umumnya eks Darul Hadits/Islam Jama’ah dan mereka yang pernah belajar di Pondok Pesantren Darul Hadits/Islam Jama’ah Burengan, Kediri Jawa Timur. Selain, itu aliran tersebut tampak eksklusif terhadap umat Islam sekitarnya,dan bahkan terjadi beberapa kasus putusnya hubungan dalam suatu keluarga karena tidak sealiran. Faham keagamaan yang dikembangkan oleh LEMKARI tersebut menimbulkan keresahan masyarakat diberbagai daerah.

Lembaga Da’wah Islam Indonesia (LDII) merupakan nama baru dari LEMKARI sesuai keputusan Kongres Muktamar LEMKARI tahun1990. Perubahan nama tersebut dengan maksud menghilangkan citra lama LEMKARI yang masih meneruskan paham Darul Hadits/Islam Jama’ah. Di samping itu dengan alasan agar tidak jumbuh dengan istilah LEMKARI yang merupakan singkatan dari Lembaga Karatedo Indonesia. Dengan demikian berarti di bidang organisasi tela berhasil ganti nama dari LEMKARI ke LDII. Sedangkan dalam susunan kepengurusan belum seperti yang diharapkan. Sementara itu laporan dari berbagai daerah menyatakan masyarakat resah terhadap paham LDII, karena dinilai masih mengembangkan ajaran Darul Hadits/Islam Jama’ah yang telah dilarang.

Kegiatan dan penyebaran paham LDII masih dinilai mengembangkan paham Darul Hadits/Islam Jama’ah, gerakan pengajian LDII bersifat eksklusif dan tertutup. Dalam belajar Al Qur’an diwajibkan bersambung paham dari murid ke guru hingga sampai kepada amir agar ilmunya tidak batil dan ibadah tidak rusak. Bai’at kepada guru merupakan jaminan masuk syurga, orang yang diluar kelompok dianggap kafir dan najis, zakat anggotanya ditangani sendiri.

2 Komentar

  1. Bagus Irawan said,

    Agustus 15, 2011 pada 7:10 am

    kepada sdr penulis asfuriahmad, saya adalah seorang wartawan stasiun televisi lokal surabaya dan seorang peneliti, yang berfokus kepada politik agama, dan budaya. memahami apa yang ada tulis tentang LDII, saya kurang setuju, karena dalam beberapa kasus saya temui dilapangan tidak seperti itu, termasuk berdisukusi dengan para ulama terkait dengan seperti yang anda sampaikan diatas. Bahwa ada pergeseran dari ajaran sebelumnya, menurut saya, beberapa tahun melihat perkembangannya organisasi ini jauh berbeda dengan yang sebelumnya, ini mungkin dalam rangka membersihkan nama baik atau apa saya belum mengetahui secara pasti, namun yang perlu dicatat dalam artikel yang anda tulis sebaiknya tidak mengundang fitnah serta provokasi, entah anda itu agen atau penyampai pesan, namun saya sendiri beberapa kali terjebak dengan hegemoni yang terus bergulir baik dimedia dan arus massa yang tidak sehat tentang isu perpecahan, dan adu domba diantara kita.
    saya sendiri seorang muslim, tidak mudah begitu saja menerima omongan yang katanya,katanya dan katanya hanya dari mulut ke mulut, buku, artikel yang tidak jelas. dugaan saya ini hanya isu perpecahan yang terus dipaksakan masuk kedalam jiwa kita, masih ingat anda dengan tragedi ahmadiyah beberapa waktu lalu, kini kabarnya hilang ditelan bumi, pemerintah berfokus pada teror bom, dan ancaman terorisme trans nasional.
    kejadian tentang ahmadiyah beberapa waktu lalu serta, serbuan warga di masjid ldii didaerah jawa barat tahun 2009 lalu juga, kalau saya boleh bilang ini, semacam agenda politik alih perhatian yang terus menerus digulirkan, aneh tapi ini terus terjadi sama halnya dengan orang-orang valun dafa/ atau falun gong yang menentang china dengan ideolgi negaranya. selalu ada jahat, dan baik yang seakan-akan diciptakan agar kita melihat bahwa kita ini mudah diprovokasi dan dibakar amarahnya, wallahu alam..

    saya hanya ingin mengajak berdisukusi dengan saudara tentang keanehan yang terus terjadi dengan agenda agama, kepercayaan sebagai landasan berfikirnya.. semoga kita bisa menjadi teman berdiskusi yang baik

    Best regards

    Bagus

    • asfuriahmad said,

      Desember 1, 2011 pada 1:07 pm

      oh… ya thxs atas saran dan kritiknyaaa


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: