HERMENEUTIKA KRITIS JÜRGEN HABERMAS

Kalau kita berbicara tentang hermeneutika kritis Habermas, kita berbicara tentang suatu bangunan teoritikal yang sangat kaya. Karena ternyata didalamnya selain ada hermeneutika juga ada metodologi, atau sosiologi , filsafat bahasa, kritik ideologi, yang merupakan capaian prestasi teoritis besar oleh Habermas. Apalagi diketahui bahwa Habermas merupakan tokoh yang sangat terkenal mengagungkan multi-disipliner.  Jadi, tidak bisa dikatakan bahwa pemikirannya murni hanya filsafat atau sosiologi, tetapi merupakan kombinasi dari beberapa disiplin sekaligus. Karena itu, kita tidak bisa memahami masalah ini (hermeneutika kritis), kalau sebelumnya kita tidak paham teori verstehen-nya Max Weber, filsafat bahasanya Wittgenstein, pendekatan hermeneutika Gadamer, dan sebagainya. Jadi, Habermas kira-kira boleh disebut tukang ramu teori.
Berbicara mengenai Habermas, biasanya kita membicarakan teori kritis. Orang mengatakan bahwa dia merupakan generasi kedua dalam tradisi ini. Nah, apa itu teori kiritis?
Was das Krietiek Theorie?
Teori kritis merupakan kemunculan kembali filsafat yang berdimensi praxis, teori yang berdimensi praxsis, atau teori yang berdimensi emansipatoris yang sebenarnya hal ini telah dikembangkan sebelumnya oleh Socrates. Filsafat Socrates merupakan filsafat yang berupaya mengkritisi permainan kuasa yang mengurung rasionalitas manusia, jadi disini filsafat membuka belenggu mitos dan bentuk kultural lain yang menafikan kebebasan. Kira-kira semangat inilah yang ingin dibangun oleh teori kritis dengan menggabungkan berbagai pendekatan, mulai dari psikoanalisa, hermeneutika, sosiologi, dan lain sebagainya.
Habermas sering disebut sebagai orang yang paling sukses dalam merekontruksi kembali teori kritis. Sebab, ditangan orang-orang sebelumnya seperti Horkheimer, Adorno, dan teman-temannya, hal ini sempat mandeg. Sebabnya ialah, fakta historis yang terjadi dikalangan para mahasiswa, yang mengadopsi teori kritis sekitar tahun 68-an, gagal total dalam gerakan moral dan politiknya. Ternyata apa yang disebut class councieness, emansipasi buruh, dan sebagainya, tidak terjadi saat itu. Karena ada gap antara gerakan mahasiswa (agen perubahan) dan objek yang ingin dibebaskan, yaitu buruh.
Berbekal khazanah yang cukup banyak dari berbagai disiplin, terkemudian Habermas merumuskan teori hermeneutika kritis. Membahas ini, kita harus bertolak dari perbincangan tentang metode dalam sosiologi. Habermas merupakan orang yang sangat mengagung-agungkan atau berpijak pada pendekatan Max Weber. Weber merupakan salah satu sosiolog pengusung ontologi yang sifatnya memberikan perilaku sosial yang memuat makna, bukan sekadar regularitas tetapi ia disarati makna. Metode sosiologi bukan sekadar ukuran kuantitatif tetapi ditarik pada tingkat yang lebih interpretatif. Mulai Weber lah, terjadinya pemilahan keilmuan antara ilmu kealaman dan ilmu sosial (humaniora). Ilmu sosial ini mengidap perasaan minder digadapan ilmua alam. Karena itu untuk menutupi kelemahan dalam akurasi analisanya, ilmu sosial meminjam  metodologi ilmu alam agar dapat diakui sebagai setara dengan ilmu alam. Namun, berkat Weber lah, ilmu sosial mempunyai metodologi sendiri, pada kasus Weber yaitu metode verstehen yang artinya menafsirkan, yang berbeda dengan sifat ilmu alam yang erklaren, yang artinya menjelaskan. “menjelaskan” dipakai oleh ilmu-ilmu alam, sedang “menafsirkan”  atau “memahami” sipakai oleh ilmu-ilmu sosial.
Theodore Abel mengatakan bahwa kita bisa memahami keterhubungan sesuatu yang kita amati, jika kita mengetahui pararerelismenya dalam instropeksi diri atau observasi diri. Tujuan verstehen ialah memahami tindakan berdasarkan makna subjektif yang  tertawan didalamnya, entah itu motif, keyakinan, nilai atau emosi. Sedang karakter kedua, langkah-langkah metodologi bergantung pada kapasitas-kapasitas introspektif , yaitu internalisasi stimulus, respon dan maxim perilaku. Ketiganya bersandar pada penerapan pengalaman personal pada perilaku yang teramati. Ilustrasinya sebagai berikut: misalkan seorang tetangga yang membelah kayu dan membuat api unggun, berarti sedang terjadinya penurunan temperatur. Verstehen memungkinkan kita menghubungkan antara tempetratur rendah dengan suhu dingin, dari perilaku yang diamati dalam menghangatkan tubuh. Perilaku membuat api unggun disebabkan oleh udara yang lebih dingin dari biasanya.
Pendekatan verstehen menjadi diskusi hangat dikalangan sosiolog pasca positivisme, pasca kuantitatifisme, yang menyoal bahwa apakah makna yang tertanam dalam perilaku pribadi itu sesungguhnya betul-betul subjektif. Sebagian sosiolog bertolak dari konsep Heidegger yang mengatakan bahwa manusia tidak selalu murni subjektif dalam bertindak dalam. Karena menurut Heidegger, manusia tertanam dalam dunia intersubjektif, jadi manusia berada dalam dunia bersama, dimana nilai, motif, makna, didefinisikan secara bersama, tidak secara individual. Juga hal tersebut bisa diwariskan, mulai dari norma, pandangan dunia, nilai, peranan. Sehingga para sosiolog akhirnya merekomendasikan bahwa verstehen harus menyertakan analisis kultural dan institusional yang memaknai suatu yang “tertentu”. Artinya, observasi terhadap perilaku kultural tertentu maknanya bisa berbeda dengan hal yang sama ditempat lain. Yang penting bukan lagi semata-mata makna subjektif, tetapi latar sosial yang sifatnya intersubjektif yang menjadi pendasaran bagi semua perilaku sosial, juga mendefinisikannya. Pendekatan verstehen dikritisi oleh banyak behavioris dalam sosiologi yang mengatakan,” lho, kalau  makna itu subjektif, atau realitas sosial itu tergantung pengertian maknawiyah, bagaimana mengukur makna itu?”. Kaum ini sangat menekankan akan perlunya kuantifikasi. Hangat misalnya, bagi kaum behavioris tidak bisa diambil pengertian maknawinya, ia harus dikuantifikasi kedalam 28 derajat. Mereka juga menanyakan, bagaimana kita mengukur maxim suatu sistem sosial dari pendasaran yang subjektif itu? Jawaban behavioris terhadap pengukuran-pengukuran itu adalah, perlunya abstraksi perilaku sosial dalam suatu konsep umum. Boleh saja perilaku sosial itu dianggap mengandung makna, namun makna itu kemudian diabstraksi menjadi konsep umum. Konsep umum ini oleh kalangan behavioris disebut sebagai teori pilihan rasional (rational choice theory), dan hal ini sudah sangat terkenal sekali dikalangan ekonom dan politikus neo-klasik. Sumbangan ini oleh kaum behavioris diajukan untuk kesan verstehen yang sangat subjektif dan tidak bisa diukur. Konsep ini mengandaikan bahwa manusia merupakan makhluk rasional, yang tindak-tanduknya didasarkan pada alasan-alasan rasional. Meskipun menurut Habermas, rasionalitasnya hanya merupakan rasionalitas instrumental. Rasionalitas yang hanya sekadar menentukan sarana-sarana paling efisien dalam menentukan dan mencapai tujuan, bukan tujuannya yang direfleksikan. Sehingga hanya sebatas sarana tujuan itu sendiri. Dan Habermas banyak mengkritik konsep ini.
Abstraksi teoritis perilaku manusia dengan payungnya teori rasional banyak ditentang. Sehingga akhirnya filsafat masuk pula dalam sosiologi, yaitu dalam bentuk fenomenologi sosial. Dengan tokohnya yang cukup banyak seperti Garfunkel, Schultz, dan banyak lagi. Namun yang ingin saya katakan disini ialah Albert Schultz, yang mengatakan bahwa abstraksi perilaku sosial dalam bentuk konsep-konsep umum mengabaikan dunia kehidupan alam perilaku sosial. Yang penting ialah bukan mengabstasikan sesuatu pada konsep yang umum, tetapi justru kita harus menghayati dunia kehidupan para pelaku dari suatu komunitas tertentu. Tidak bisa dikatakan bahwa pilihan rasional merupakan suatu konsep yang melatari semua perilaku sosial. Kita harus mengukur perilaku sosial sesuai hati para pelakunya. Misalkan saja kalau diadakan analisis terhadap perilaku sosial komunitas agama tertentu dengan  mengambil konsep-konsep atau merumuskannya dari disiplin ilmu sosiologi yang kita pegang, kita harus mempertimbangkan kosep-konsep yang dianut oleh komunitas tersebut. Perilaku beragama yang diteliti secara intens oleh Durkheim misalnya, yang analisisnya diambil dari disiplin sosiologi, ditentang oleh Alfred Schultz dan kawan-kawan. Menurutnya kalau kita ingin menganalisis perilaku sosial suatu komunitas, kita harus memakai konsep-konsep yang dipakai oleh para pelaku sosial komunitas yang bersangkutan, jangan diambil dari sosiologi sendiri.
Nah, persoalan pada Schultz, ia kembali pada subjektivisme yang pada awal tadi saya bicarakan. Dimana Schultz mengatakan, setiap upaya penjelasan ilmiah suatu realitas sosial itu mesti merefleksikan makna subjektif darimana realitas sosial berasal. Jadi, struktur sosial harus didudukan pada persepsi atau penafsiran orientasi perilaku individual. Misal peran domestik istri sebagai pelayan dalam relasi antara suami-istri, nilai yang tertanam dalam peran sosial itu harus dikembalikan  pada tafisr subjektif masing-masing perilaku. Jadi, subjektivisme lagi. Bisa saja istri A memaknai peran itu sebagai kewjiban kompensatoris atas nafkah yang diberikan, tapi istri B memahaminya berbeda, yaitu sebagai (mungkin) manifestasi dari local wisdom bahwa seperti apa yang terdapat dalam istilah Jawa__istri suargo manut neroko katut. Intinya selalu didudukan pada penafsiran subjektif. Tidak bisa diabstraksikan bahwa peran domestik digeneralisir atau diabstrasikan sebagai peran kompensatoris saja.
Habermas mengatakan bahwa pendekatan fenomenologis terhadap realitas sosial merupakan revolusi tersendiri, karena selama ini pendekatan sosiologi sangat objektivis, sangat cenderung untuk melihat realitas sosial sebagai sesuatu yang sudah ready-made (sudah jadi). Padahal realitas sosial merupakan realitas yang ditafsirkan, realiatas yang terus-menerus dalam proses penafsiran internalisasi, objektivasi, dan seterusnya. Sehingga menurut Habermas, ini (fenomenologi?) cukup berarti bagi pengembangan metodologi dalam sosiologi. Habermas juga menaruh keberatan terhadap Schultz yang menurutnya gagal menjembatani antara yang subjektif dan sosial. Habermas melihat bahwa norma, institusi, nilai bukanlah produk kesadaran subjektif, berbeda pendapat Schultz yang sebaliknya. Habermas mengatakan bahwa itu semua merupakan hasil dari yang dinamakannya sebagai komunikasi intersubjektif. Dalam kehidupan, norma, nilai, merupakan hasil dari komunikasi intersubjektif. Segala sesuatu merupakan hal yang dibagi bersama dalam lingkungan sosial tertentu, bukan sesuatu yang pribadi melainkan dibangun secara sosial melaui sarana komunikasi. Apa yang kita lakukan semata-mata merupakan internalisasi dari apa yang telah dibangun secara sosial.

Prioritas pada fenomenologi sosial, persoalan yang privat oleh Habermas digeser menjadi prioritas pada relasi komunikatif. Ketika inilah bahasa masuk perannya. Bahasa menjadi penting dalam analisa perilaku sosial juga analisa sosial. Bahasa menjadi penting– jawabannya dapat diambil dari filsafat bahasanya Wittgenstein, terutama dalam pemikiran bahasanya tahap II (sebagaimana diketahui bahwa Wittgenstein memiliki dua fase pemikiran: pertama, keragaman bahasa ternyata memiliki suatu logika yang definite, suatu logika yang mendasari hal yang mungkin pada semua gramatika bahasa.  Kedua, Wittgenstein mengatakan bahwa bahasa tidak dapat dirangkai dalam logika. Masing-masing komunitas bahasa mempunyai apa yang disebut dia sebagai languange game-nya masing-masing. Contohnya saja, kalau kita mendengar kata “gergaji” dari seorang tukang batu kepada rekannya, kita akan gagal memahami makna “gergaji”, kalau kita tidak menghayati permainan bahasa yang dihayati oleh permainan bahasa tukang batu yang ada dalam suatu komunitas tertentu. Waktu, tempat, institusi menentukan permainan bahasa. Atau misalkan seorang akuntan yang tiba-tiba maju kedepan berbicara di mimbar Jum’at, dan dia berceramah panjang lebar namun tidak didengarkan. Sebabnya karena ia tidak mengikuti aturan permainan bahasa yang dihayati oleh komunitas itu.
Sepertinya, bahasa adalah suatu permainan, suatu aturan. Namun ternyata, bukan sekadar aturan gramatikal (antara subjek-objek), tetapi sebuah aturan sosial yang memperhatikan siapa yang bisa berbicara, apa yang dibicarakan, dimana dibicarakan. Saya sekarang ini terlibat dalam sebuah permainan bahasa, artinya sekarang ini saya sebagai seorang yang diberikan otoritas untuk bicara. Kalaulah saya bicara tentang tafsir al-Qur’an yang tidak saya kuasai, pasti tidak ada yang mendengar. Aturan bahasa adalah aturan sosial.
Orang pertama yang menjadikan bahasa sebagai aturan sosial ialah Peter Weanch (?). Dia mengatakan bahwa kebermaknaan perilaku sosial, itu diproses pada struktur  pemaknaan dunia kehidupan. Dia mengatakan bahwa sesuatu yang bermakna diatur oleh pola-pola struktural, namun hukum yang mengatur perilaku tersebut bukan sesuatu yang tetap, melainkan hukum yang diatur oleh perilaku yang bersangkutan dan hanya berkaitan dengan perilaku yang melahirkannya. Jadi, seorang sosiolog tidak sampai pada pemahaman reflektif suatu realitas sosial tertentu tanpa pertama-tama memahami pemahan non-reflektif para pelaku perilaku sosial. Sosiolog tidak dapat berefleksi tentang apa sebenarnya yang melandasi suatu perilaku sosial tertentu tanpa memahami terlebih dahulu pemahan non-reflektif. Mudahnya, kalau kita misalnya masuk dalam suatu perilaku sosial sebuah sekte keagamaan atau kepercayaan tertentu, kita tidak bisa sampai pada pemahaman reflektif  apa yang mereka lakukan sebelum kita menghayati pada pemahaman mereka yang sifatnya non-reflektif. Mereka melakukan hal demikian (yang kita amati) secara non-reflktif, tidak memikirkannya dahulu, mereka melakukannya secara serta-merta. Kalau kita tidak tahu apa yangf mereka hayati pada apa yang mereka lakukan secara serta-merta itu, kita tidak akan sampai pada pemahaman perilaku mereka yang reflektif.  Ini yang ingin digaris bawahi oleh Peter  Weanch. Contohnya ialah: jika seorang sosiolog hendak menentukan apakah dua ajaran penutur asli merupakan bagian dari aktivitas-aktivitas religius tertentu, kriteria yang diambil harus berdasarkan pada agama yang bersangkutan. Karena itu merupakan penghayatan non-reflektif dari pelaku komunitas tersebut.
Metodologi untuk hal diatas, karenanya metodologi partisipatoris. Tidak lagi mengambil sikap teoritis berjarak, tapi melebur dalam objek kajiannya dan bahasa yang dimainkan. Artinya, kita bisa memahami perilaku sosial kultural komunitas dan religius tertentu, kalau kita mengerti permainan bahasa dari komunitas tersebut. Seorang etnolog-linguis yang mengamati bahasa dari penutur asli suku tertentu, yang bila suku tersebut menemui kelinci lewat, penutur asli suku tersebut berucap “gavagay”, ento-linguis tersebut yang bermain dengan bahasanya sendiri dengan serta-merta mengatakan, “gavagay” berarti kelinci. Selanjutnya, kalau kata “gavagay” seiring dengan perilaku penutur asli yang mengejar kelinci, menurut enolog tersebut berarti: kelinci yang menjadi objek buruan untuk dijadikan santapan malam. Kalau etnolog-linguis tersebut tidak memahami pemahaman non-reflektif suku tersebut, maka setnolog tersebut telah gagal memahami maksud si penutur asli. Karena ternyata kata “gavagay” itu, berarti hewan dewa yang apabila disentuh mampu memberikan kekuatan magis, sebab itulah kelinci tersebut dikejar-kejar. Karena itu seorang sosiolog gagal total ketika ia tidak masuk memahami pemahaman non-reklektif suatu komunitas yang bersangkutan, karena bicara dengan bahasa sosiologi yang ia anut bukan disesuaikan dengan komunitas itu. Weach ingin mengatakan bahwa dimungkinkan bahkan lebih dari itu, artinya mesti bagi seorang sosiolog melepaskan diri permainan bahasa dan aturan-aturan bahasa yang melingkupinya, kemudian melebur dan menjadi satu dengan permainan bahasa yang dihayati oleh objek kajiannya. Permainan bahasa yang kita punyai,  kita lepaskan, kurung dan tunda dahulu, baru kemudian kita masuk pada permainan bahasa komunitas yang bersangkutan. Menurut Weanch hal ini dimungkinkan.
Namun Habermas meragukan hal ini. Menurutnya, apakah bisa seseorang dengan mudah begitu saja berpindah dari permainan bahasa yang satu kepada yang lainnya. Habermas juga meragukan bahwa suatu permainan bahasa yang satu dapat diterjemahkan secara sempurna kedalam permainan bahasa lainnya. Persoalnnya ialah keterjemahan (translatability), bisa tidak diterjemahan secara toatal, atau jangan-jangan malah mendistorsi apa yang kita amati. Metodologi Weanch memuat konservatisme tersembunyi, karena eksplorasi permainan bahasa yang diwariskan secara historis pada realitas sosial tertentu menafikan refleksi yang sifatnya kritik ideologi.  Seolah-olah tugas seorang sosiolog hanya mendeskripsikan perilaku sosial suatu komunitas tertentu. Tetapi Habermas punya misi lain, yaitu yang bukan hanya mendeskripsikan, namun juga membuat refleksi kritis terhadap anasir-anasir ideologis yang termuat dalam realitas yang bersangkutan. Bukan sekadar deskriptif, tapi juga emansipatoris.
Dari keberatan Habermas kita ketahui bahwa kesulitan verstehen mulai dari Weber, Abel, samapai Weanch adalah orientasinya yang masih objektivis, orientasi makna pada apa yang terkandung pada objek yang diamati. Orientasi ini sangat mengabaikan lingkaran permainan bahasa sang pengamat dalam sebuah realitas sosial, padahal ia mempunyai permainan bahasa sendiri. Namun, orang seperti Weanch menginginkan kita (pengamat/sosiolog) melepaskan baju permainan bahasa kita dan masuk kedalam permainan bahasa yang kita teliti, dan Habermas menolak ini. Kita tidak bisa, meskipun menarik dan memunculkan pertanyaan: Lalu apa pendekatan yang memungkinkan kita menganalisis komunitas tertentu tanpa kita melepaskan baju permainan bahasa yang kita hayati.
Hermeneutiek
Hermeneutika dalam tradisi Kristiani  bertolak dari penafsiran teks suci. Orang yang pertamakali menguasai bidang ini adalah para teolog, rohaniawan. Sedang di Islam sebaliknya.
Pada perkembangannya, hermeneutika memperlebar sayapnya yang tidak hanya terbatas pada teks suci, tapi juga teks-teks non-skriptural, seperti karya sastra, filsafat, dan sebagainya. Persoalannya, perkembangan hermeneutika selanjutnya membawa juga tradisi hermeneutika teks suci. Yaitu adanya asumsi hermeneutika teologis dalam hermeneutika filosofis yang dikembangkan para hermeneut dikemudian hari. Asumsi itu ialah yang disebut normatif-dogmatis, yaitu orientasi hermeneutika yang selalu mencari makna azali, apa makna  hakiki dari kitab suci. Tradisi penafsiran kitab suci berada pada posisi agung yang tidak dapat diinfiltrasi oleh penafsiran-penafsiran apapun yang tujuannya bukan pada otoritas tafsir sendiri. Hermeneutika selanjutnya pun terbawa, berorientasi pada otoritas teks dan mencari makna normatifnya bagi masa kini. Inilah kecenderungan hermeneutika yang masih mengadopsi tradisi penafsiran kitab suci. Tujuannya semata-mata transmisi keyakinan dan norma tradisional untuk diterapkan pada persoalan kekinian. Mengambil dari masa lalu, ditarik ke masa sekarang, lalu diterapkan untuk menyelesaikan apa yang ada di masa sekarang.
Tokoh seperti Dhiltey, juga masih merumuskan hermeneutika filosofis yang mengandung asumsi-asumsi hermeneutika teologis. Pendekatan hermeneutika Dhiltey misalnya yang disebut sangat psikologistik, dimana hermeneut hanya bertugas menyelami konteks biografis sang pengarang, guna menyingkap maksud sesungguhnya dari teks. Pengarang, dalam bahasa Inggris ialah “Author”, yaitu orang yang memegang “The Ultimate Authority of The Meaning of Text”. Kenapa “Author”? karena berarti ia adalah pemegang otoritas. Seolah-olah author mengatakan, “Makna teks itu berada di pihak saya”, karena itu saya harus dikejar untuk mendapatkan makna teks tersebut. Meskipun dalam kitab suci sulit menentukan siapa “saya” di situ. Karena pengarang dalam kitab suci ialah Tuhan, ditambah lagi klaim orang yang merasa paling tahu maksud Tuhan, namun siapa yang tahu? Berbeda kalau pengarang itu manusia, tinggal saja menanyakan, apa maksudnya? Inilah persoalan tersisa dari tradisi hermeneutika teologis.
Agus Syafi’i: Berarti Tuhan tidak bertanggung jawab?
Pembicara: apa?
Agus Syafi’i: Tuhan tidak bertanggung jawab…
Pembicara:
Justru bertanggung jawab, karena Tuhan sangat menghormati rasionalitas manusia. Memang akhirnya banyak penafsiran. Kritik tajam terhadap hermeneutika yang masih sangat psikologistik seperti pada Dilthey atau hermeneutika yang masih membawa asumsi-asumsi hermeneutika teologis, datang dari Heidegger. Ia mengatakan bahwa bahasa tidak selalu sama pada setiap perkembangan sejarah. Bahasa pada masa abad pertengahan, renaisssance, aufklarung, modern berbeda-beda.
Achmad Chojim: Itu meski kata-katanya tetap?…Hanya maknanya yang beda?
Pembicara: Meski kata-katanya tetap. Dan bukan sekadar penyempitan atau perluasan makna. Kalau kita mungkin hanya mengenal penyempitan atau perluasan, tapi ini lebih dari itu, maknanya berubah total, menyimpang.  Jadi, ada suatu retakan-retakan yang tidak bisa dijelaskan kenapa makna kata sesuatu pada masa tertentu berbeda. Hal ini menurut Heidegger, karena bahasa terikat dalam kesejarahannya. Jadi, dalam masa-masa tertentu bahasa punya logikanya sendiri, makna sendiri, komunitasnya sendiri.
Manusia akan selalu menemukan dirinya dalam dunia yang sudah bermakna. Ketika saya lahir di Indonesia, tahun 1974, dalam lingkungan tertentu berarti saya sudah tercemplung dalam suatu dunia yang bermakna. Hal itu diwarisi secara historis dalam periode tertentu. Heidegger hendak berkata bahwa mereproduksi secara akurat bahasa dari masa lalu adalah omong kosong. Tidak bisa kita mereproduksi secara total makna dari masa lalu seperti yang dihayati betul oleh penutur masa itu. Ini pandangan Dilthey. Scheleimacher masih percaya betul bahwa dalam menafsir sesuatu, kita seolah-olah mereproduksi secara akurat bahasa yang dihayati oleh penutur pada jaman yang kita teliti.
Tradisi filosofis ini dilanjutkan oleh seorang bernama Hans G. Gadamer. Ia mengajukan sanggahan terhadap apa yang dinamakan monadologi bahasa (Heidegger?), yaitu pengandaian akan kesadaran, karena kita tertanam dalam permainan bahasa sedang epos sejarah punya permainan bahasa masing-masing, maka seolah-olah kita menjadi relativis, tidak bisa memahami bahasa dari permainan bahasa yang berbeda, terisolasi dalam monad-monad bahasa yang kita tertinggal di dalamnya. Gadamer memulai menggugat relativisme bahasa, karena ia menaruh kepercayaan pada universalitas rasio. Menurutnya kita dapat memahami komunitas bahasa dengan bahasa berbeda, kita tidak terkungkung total pada permainan suatu komunitas bahasa tertentu. Penafsir menurut Gadamer tidak menghadapi objek tafsirannya dalam keadaannya bebas nilai (dan ini yang menjadi menarik atau suatu terobosan hermeneutika filosofis). Gadamer mengatakan penafsiran selalu membawa horizon ekspektasi, keyakinan, praktek, konsep, serta norma-norma yang berasal dari dunia kehidupannya. Penafsir tidak bisa…(kalau Weanch di awal tadi kan berusaha mengharuskan seseorang melepaskan praanggapan didirinya, sedang Gadamer malah tidak). Penafsir selalu melihat objek tafsirannya dari perspektif yang dibuka  oleh horizon tradisi yang meliputinya atau horizon penafsiran yang melingkupinya. Misal: terhadap satu ayat suci, tafsirnya bisa berbeda bila dihadapkan kepada dua orang yang berbeda ideologinya (jelas!), hal ini menggambarkan bahwa kita tidak bisa lepas dari horizon ekspektasi, nilai, norma, konsep, yang meliputi kita. Ada orang misalnya yang menafsirkan ayat dari perspektif feminis, namun bagi pihak kyai ortodok ini dianggap tidak boleh, bagi mereka tafsirnya harus sesuai tradisi.
Menurut Gadamer proses pertemuan kita dengan teks yang hendak ditafsirkan merupakan sesuatu yang melingkar, sebab itu hermeneutikanya sering disebut sebagai hermeneutika melingkar. Kita bermula dari teks, lalu teks dibawa kepada horizon ekspektasi kita, yang sudah diinfiltrasi oleh keyakinan, konsep, norma, dan ideologi yang kita anut. Kemudian kita harus kembali kepada teks lagi, tidak bisa kita serta-merta memberangus teks yang hendak kita tafsirkan dengan konsep-konsep yang kita miliki. Karena teks itu juga merupakan sedimentasi penafsiran-penafsiran sebelumnya. Dengan kata lain Gadamer ingin mengatakan bahwa kita tidak dapat melepaskan diri dari tradisi penafsiran teks yang sudah ada sebelumnya. Pertemuan antara kurungan pemaknaan yang mengitari saya (kita) dengan teks itu sendiri disebut Gadamer sebagai fusi horizon. Antara horizon teks dan kita sebagai penafsir, kalau itu bertemu akan menghasilkan satu yang tidak mendominasi lainnya, bukan peneliti melepaskan baju (horizon) untuk mendapatkan makana orisinal teks. Bukan juga kita menyelimuti teks tersebut dengan baju yang kita pakai, yang berarti penjajahan teks dengan konsep-konsep yang kita miliki. Fusi horizon ini juga berarti bahwa adanya kesadaran terhadap objek yang tidak bebas nilai dan menyadari bahwa objek tidak dapat diberangus, ditafsirkan tuntas oleh kita sebagai penafsir. Teks selalu menyimpan keasingan, sebab teks selalu berasal dari masa lalu dan berasal dari penafsiran-penafsiran lain. Fusi horizon ini akan melahirkan makna baru. Bukan makna saya, makna teks, tetapi makna baru. Bukan makna dari horizon saya, bukan makna horizon teks, tetapi makna baru. Artinya hermeneutika bukanlah mengambil makna masa lalu untuk sekarang, bukan juga menutupi masa lalu demi masa kini, tetapi mempertemukan keduanya untuk sesuatu yang baru. Inilah konsep yang diajukan Gadamer. Konsep ini kemudian menjadi tren, doktrin, yang masyhur dalam tradisi hermeneutika di Amerika dan Eropa, sebelum Habermas mengajukan keberatan terhadap metodologi Gadamer.
Habermas mengkritik dan menilai bahwa pendekatan hermeneutika Gadamer memuat elemen-elemen konservatisme tanpa disadari. Sebab, menganggap penafsiran tidak bisa lepas dari tradisi akan menjadikan penafsiran menjadi semacam preservasi atau pemeliharaan tradisi. Dengan begitu Gadamer hanya sampai pada kesadaran tradisi, tetapi tidak mengajukan metodologi apapun untuk mengkritisinya. Seolah tradisi itu sesuatu yang given, dengan tanpa menaruh kecurigaan bahwa tradisi mengandung sesuatu, salah, atau sarat permainan ideologis. Habermas menganggap bahwa tradisi tidak pernah netral, menolak anggapan Gadamer yang mengatakan bahwa tradisi netral, sesuatu yang harus dijauhi dalam kevakuman dan netralitasnya. Sebaliknya, Habermas melihat bahwa tradisi adalah hasil kontruksi sejarah yang ditopang oleh permainan kuasa dan ideologi. Statement ini menunjukan pula bahwa Habermas merupakan generasi teori kritis yang tidak dapat melepaskan diri dari Marx.
Gadamer hanya memberikan bagaimana dialog dengan tradisi dimungkinkan, tatapi tidak mengajukan relasi kritis antara penafsir dan tradisi yang melingkupinya, dengan menganggapnya sebagai pihak yang harus diajak dialog. Bagi Habermas hal ini perlu ditinjau kembali, karena jangan-jangan tradisi yang hendak diajak dialog  mengandung ideologi yang perlu dikritisi. Refleksi kritis harus mempertanyakan keabsahan tradisi, refleksi yang menyibak otoritas gramatika bahasa yang dimutlakkan sebagai suatu undang-undang untuk menafsirkan kenyataan dan bertindak sesuai dengannya.  Dengan kata lain, tugas hermenutika secara kritis berusaha membongkar distorsi-distorsi yang melandasi tradisi. Sehingga__kalau menyangkut sosiologi__penelitian sosial tidak semata-mata mengarah pada eksplitasi makna atau pe-manifestasi-an makna dengan bertanya, apa makna? Tapi mengkritisi bagaimana proses ideologi sampai memunculkan makna, apa mekanisme yang berlaku sehingga makna ini yang muncul, bukan yang itu. Pasti ada permainan kuasa yang menopang itu, ini yang lebih ditekankan. Menurut Habermas juga, makna yang tertanam dalam budaya tertentu ditentukan oleh ranah non-linguistik. Bahasa bukan satu-satunya institusi, ia juga dipengaruhi oleh institusi lainnya seperti institusi sosial dan dominasi politik. Contohnya ialah konsep tanah. Pada abad pertengahan konsep tanah yang berporos pada ekonomi feodalistik berarti simbol kehormatan dan status. Kalau saya mempunyai tanah 1000 hektare berarti saya menempati sistem aristokrasi tertentu dalam hirarki kebangsawanan. Pada poros kapitalistis kemudian, tanah tidak lagi merupakan simbol status tapi sebagai kapital. Pergeseran makna ini menandakan adanya pergeseran modus produksi dari feodalistis ke kapitalistis. Makna berubah seiring perubahan proses produksi. Kerangka ini kelihatan pinjaman Habermas dari Marx dengan teori supra dan infrastruktur. Bahasa terletak pada suprastruktur, di kesadaran sosial, yang ditentukan oleh infrastruktur  yaitu relasi dan modus produksi. Sasaran hermeneutika menurut Habermas bukanlah penciptaan makna melainkan melacak distorsi yang memunculkan makna. Bukan pada makna tapi mencari sebab apa yang mendistorsi makna ini.
Catatan-Catatan
Saya setuju dengan kritik Habermas terhadap Gadamer, khususnya persoalan universalitas hermeneutika. Kritik-kritik Habermas terhadap Gadamer yang saya setujui yaitu: pertama, baiklah bahwa rasionalitas memang tidak terkungkung dalam suatu permainan bahasa, tapi ia bisa menerobos permainan bahasa untuk mendapatkan makna yang universal terhadapnya. Kedua, Gadamer terlalu yakin terhadap tradisi yang dianggap terlalu otoritatif terhadap suatu penafsiran. Ketiga, bahasa sebagai salah satu institusi. Saya setuju bahwa bahasa bukanlah satu-satunya institusi dalam realitas sosial.
Namun saya ingin mengatakan, baiklah bahwa Habermas sangat sukses dalam merumuskan hermeneutika kritis dimana penafsiran menjadi bukan lagi sekadar dialog antar tradisi, tapi juga melacak makna yang terdistorsi secara ideologis dalam tradisi tertentu. Tetapi menurut hemat saya, Habermas masih mendudukan dominasi dalam logika komunikasi ekonomi, khususnya kapitalisme lanjut, yang mengalami derpresi besar dekade 1930-an. Gadamer? (Habermas) mengatakan bahwa komunikasi satu arah semata-mata disebabkan oleh rasionalitas ekonomi yang mengesampingkan dunia kehidupan. Ini menunjukan saya, seolah-olah komunikasi tidak memiliki dominasinya sendiri, seolah-olah ia terdistorsi secara komunikatif karena ada dominasi ekonomi dan politik yang meliputi kita. Sepertinya Habermas berkata demikian.
Padahal para pemikir sosial kontemporer menunjukan hal yang bertolak belakang dengan itu. Saya ambil contoh dua pemikir sosial kontemporer. Pertama Pierre Bourdieu, asal Perancis, dan kedua penasihatnya Tony Blair (PM Inggris), yaitu Anthony Giddens. Bourdieu menunjukkan bahwa dominasi dalam komunikasi tidak semata-mata berdasarkan pada logika ekonomi. Kenapa? Sebab kekuasaan ekonomi bukan satu-satunya yang menentukan dominasi ekonomi. Modal ekonomi bukan satu-satunya sumber dominasi. Bukan karena saya mempunyai satu-satunya sumber ekonomi lalu saya mendominasi kuasa atas orang lain secara komunikatif. Sebab ternyata ada sumber dominasi yang lain__menurut Bourdieu__yaitu yang bukan berupa modal sosial tapi berupa modal kultural (atau modal budaya). Bisa kita terjemahkan begitu. Apa itu modal budaya? Modal budaya bukanlah hasil dari akumulasi kapital yang sifatnya finansial, tapi akumulasi kapital yang sifatnya kultural. Jadi (misalnya), kalau mahasiswa semester I bacaannya Pengantar Filsafat-nya Fuad Hasan, kemudian semester II bacaannya sudah (ber-) bahasa inggris Introduction Philoshopy-nya Bertran Russel, semester III sudah mulai membaca karya asali filsafat tertentu dari Ayer atau Wittgenstein, semester IV sudah bisa mengakses buku-buku yang critical, semua ini adalah modal budaya. semula pada waktu semester I baru menjadi pendengar, modal budayanya sudah banyak ia naik menjadi pembicara. Hal ini juga menunjukan dominasi kekuasaan dalam komunikasi.
Contoh lain: konon Marx sangat geuting, benci, terhadap musuh diskusinya yaitu Ferdinand Lassal, seorang sosiolog seangkatan, juga yang sebetulnya lebih ngetop dari Marx. Karena Lassal tidak hanya menulis buku tebal yang tidak ketulungan rumitnya, ia juga menulis buku-buku atau publikasi semacam pamflet untuk buruh yang mengajukan bagaimana agenda-agenda dan nasib buruh dibangun. Sehingga ia lebih terkenal dari Marx. Marx kesal karena tidak terkenal dan dianggap akademisi yang tidak mengakar di grass-root, sehingga ia mengatakan, “ah, Lassal itu tahunya apa sih? Dia itu kan belajar sosialis dari orang yang dianggap intelektual kelas dua dalam sosialisme”. Dengan kata lain Marx ingin mengatakan bahwa sayalah tokoh yang belajar sosialisme dari intelektual kelas satu, yang artinya Marx ingin mengatakan bahwa modal budaya saya lebih besar daripada Lasssal. Atau mahasiswa yang berujar, “bacaan saya bukan lagi Fuad Hasan loh, tapi Bertran Russel, jadi kamu harus lebih percaya pada saya”. Kira-kira begini (yang dinamakan modal budaya). Bourdieu melihat ini merupakan dominasi komunikasi yang berasal dari modal budaya, bukan modal ekonomi atau modal finansial.
Giddens pun mengatakan bahwa relasi sosial komunikasi dengan ekonomi merupakan berbeda sama lain. Komunikasi adalah interaksi sosial yang mengandaikan satu bingkai penafsiran tertentu, sedang ekonomi merupakan interaksi sosial yang berdasar pola dominasi atas barang. Saat kita menarik uang di ATM, kita menjalani pola dominasi atas barang, sedang kalau kita berbicara dengan teman se-kepercayaan, seagama, seiman, maka kita sedang menjalankan pola dominasi komunikasi tertentu, paling tidak kalau disitir satu ayat suci masing-masing saling memahami. Jadi, berbeda pola komunikasi dengan pola ekonomi. Hubungan antara pola komunikasi sebagai interaksi sosial dengan ekonomi bukanlah hubungan satu yang menentukan yang lain. Pada Habermas, dominasi politik dan ekonomi masih menentukan pola komunikasi, namun Giddens melihatnya sejajar. Dominasi ekonomi dan ekonomi sama-sama sejajar hanya ada kesalingan diantaranya. Yang satu tidak bisa dilepaskan dari yang lain. Misalkan saja dalam komunikasi kita sama-sama menyakini satu skemata, atau bingkai penafsiran, bahwa presiden adalah panglima terttinggi angakatan bersenjata. Skemata itu berhubungan dengan dominasi politik bahwa presiden atau otoritas presiden terhadap angkatan bersenjata adalah mengumumkan perang sebagai misal. Jadi, dominasi politik berhubungan dengan dominasi dalam komunikasi. Atau skemata penafsiran yang mengatakan bahwa Bank Indonesia merupakan otoritas moneter tertinggi, ini berhubungan antara dominasi ekonomi. Dominasi pola atas barang bersama dominasi komunikasi, memungkinkan perkataan bahwa Bank Indonesia mempunyai otoritas untuk melakukan intervensi bila terjadi depresiasi. Namun, semua itu hanya hubungan kesalingan bukan dominasi, inilah paparan Giddens yang tidak dilihat Habermas.
Ekonomisme, Habermas yang begitu menekankan bahwa ekonomi sebagai satu-satunya alat dominasi, menggiring distorsi ekonomi melulu pada konteks rasionalitas instrumental kapitalisme lanjut. Sehingga, Habermas hendak mengatakan bahwa kepentingan-kepentingan yang ingin mengkonstruk makna kebahasaan itu tunggal yaitu ekonomi, padahal tidak tunggal demikian. Dan hal ini ditunjukkan oleh seorang filsuf yang juga sosiolog, yaitu Michael Foucoult yang mengatakan bahwa fenomena bahasa seperti seksualitas, kegilaan, penghukuman, semuanya melibatkan sistem bahasa yang plural, majemuk. Dan melibatkan berbagai ilmu pengetahuan, institusi dan profesi. Misalkan fenomena kegilaan, dimana ia dianggap sebagai fenomena kebahasaan yang dimaknakan sebagai perilaku yang menyimpang dari kewarasan. Makna ini dihasilkan oleh kepentingan yang semata-mata bukan berdasar pada ekonomi, namun kepentingan yang berdasarkan institusi seperti fakultas psikologi, ilmu pengetahuan psikologi, kemudian profesi psikiater. Ada institusi, pengetahuan-pengetahuan dan profesi. Ketiganya bekerjasama dan mengkonstruksi makna kegilaan seperti yang kita pahami sekarang. Padahal pada sejarah semula, orang gila dibebaskan dari karantina bawah tanah yang sangat inhuman, yang perilakunya sangat tidak manusiawi ke sebuah assylum, rumah sakit jiwa__yang menurut orang bayak__akan lebih manusiawi. Tapi pembebasan yang kemudian menggeser makna kegilaan itu __sebelumnya kegilaan dianggap sebagai kutukan Tuhan, sebagai turunnya derajat manusia ke tingkat binatang, sehingga harus disiksa dan diperlakukan apa saja hingga sadar bahwa dirinya adalah manusia__ bergeser pada makna kegilaan sebagai sebuah penyakit jiwa, sebagai mentalis order. Pergeseran ini tidak bertalian dengan kapitalisme, ekonomi, tapi sebuah retakan sejarah yang tidak bisa dijelaskan mengapa tiba-tiba bisa berubah. Kenapa begitu, karena kepentingannya sangat beragam. Lewat tiga tokoh ini terjelaskan bahwa Habermas terlalu miskin jika mendudukan komunikasi dalam struktur ekonomi. Dan ia tidak bisa lepas dari ini, karena toi kitis mata airnya dalah Marxisme. Apapun variannya, pasti ekonomi politik yang dilihat sebagai sumber penyimpangan makna. Terlepas dari itu kita harus memberikan applaus terhadap pendekatannya dalam ilmu-ilmu sosial.
Ada satu tokoh lagi sebenarnya yang juga menerapkan hermeneutka dalam ilmu sosial, yaitu Paul Ricouer. Padahal hermeneutika sebelumnya berpokok pada teks. Tanpa Habermas, ilmu sosial ilmu-ilmu sosial masih sangat konservatif pada positivisme. Padahal yang beragam itu melanggengkan status-quo.
Moderator:
Uraian yang sangat menarik, dan juga sangat bayak. Saya sendiri tidak bisa menyimpulkan, kalaupun disimpulkan belum tentu benar. Menyoal teori kritis paling tidak kita ingat tiga master prejudice.
Lewat ini, kiranya kita bisa pula memahami bagaimana hermeneutika memahami perilaku Islam literal. Atau perilaku bunuh diri konflik Palestina-Israel. Saya persilahkan bagi teman-teman untuk bertanya…
Achmad Chojim:
Yang ingin saya tanyakan, bagaimana aplikasi Habermas ini jika dikaitka dengan dakwah. Dakwah yang dibawa dari Timur-Tengah agar diterima dipaksakan terhadap orang begitu saja. Contohnya: kita kenal kata “makhluk”, yang jelas artinya dalam bahasa Indonesia kata itu merupakan kata serapan. Artinya, dahulu orang Indonesia belum mengerti kalau ada makhluk. Karena, konsep Jawa misalnya yang memandang bahwa yang ada hanya Tuhan dan titahnya. Titah itu artinya cuma firman, dimana semua alam semesta merupakan perwujudan dari Tuhan. Sebab itu, orang Jawa menyebut makhluk itu sebagai “tumita”, bukan yang dijadikan tapi yang diciptakan. Namun lewat sistem Islam, kata itu dipaksakan untuk diakui bahwa ada dualitas, yaitu khalik-makhluk.
Sutrisno Abdillah:
Saya mempunyai dua persoalan. Pertama, kritik Bourdieu dan teman-teman terhadap Habermas. Mengapa Habermas melulu bersandar pada ekonomi, saya kira harus dilihat pada konteks ekonomi bukan dalam konteks yang digambarkan dalam teks mas Donny (pembicara) yang merupakan konteks mikro sosiologi (sangat personal) tapi Habermas melihat dalam teori makro sosiologi. Karena itu kalau kritik mas Donny demikian menjadi tidak relevan akhirnya. Menarik pada pokok persoalan ekonomi dalam tingkat makro merupakan hal tak terhindarkan. Saya kira betul habermas melihat dmikian. Kedua, ada penjelasan yang meloncat, yaitu tentang kesulitan verstehen. Dalam paper disebutkan kalimat “adalah orientasi objektivis” mengenai kesulitan verstehen. Ini menurut saya membingungkan. Karena kalimat diatas sebelumnya mengungkapkan bahwa Weber dan kawan-kawannya akan dipolakan sebagai seorang yang strukturalisme, dimana individu tidak berdaya. Kalau itu memang seperti itu, artinya tidak ada persoalan dengan orientasi objektivis, sebab itu khas keilmuan. Penjelasan selanjutnya, “mengabaikan lingkaran permainan bahasa” dalam penelitian sosial, menurut Habermas hanya bisa diatasi bila kita berpaling dalam penelitian yang sifatnya hermeneutis.  Sebetulnya, paragraf ini tidak menyelesaikan, bagaimana hermeneutika Habermas bisa menyelesaikan persoalan-persoalan vertehen-nya Weber. Tapi, kita bisa mengerti bagaimana Weber bisa memahami persoalan mikro yang pribadi lewat rasionalisasi yang diajukannya. Ini yang tidak dipunyai Habermas. Dalam sosiologi orang biasanya menganggap lebih baik menggunakan Weber saja ketimbang Habermas.
Ismail Fahmi:
Untuk Wittgenstein, yang pada awal diskusi ini disinggung, ada contoh yang lebih dekat dengan kita sebenarnya. Yaitu, suatu komunitas di hutan yang berteriak “kelinci,” itu berarti tidak hanya menginformasikan kelinci. Languange Game Wittgenstein, dimana ia sadar pada Wittgenstein I, yang mengatakan bahwa setiap bahasa adalah cerminan fakta-fakta. Tapi Ricouer mengatakan bahwa tidak cukup bahasa hanya mencerminkan fakta, karena itu ia (Wittgenstein) telurkan konsep languange Game itu. Saya kira dari teori LG-nya itu, yang kemudian berpengaruh pada teori posmodernisme. Kata “kiri” dalam komunitas yang satu dan lain dimaknai secara berbeda, juga kata “rapet”. Bagi kita yang begitu akrab dengan berkendaraan naik metromini, kata “kiri” berarti berhenti. Dalam cerpen misalnya, kata “kiri” tidak diterjemahkan sebagai left tapi stop, juga kata “rapet”. Kalau kenek bilang “rapet-rapet”, artinya tancap gas. Maksud saya, hal itu berbeda dalam komunitas-komunitas. Mengenai Habermas, bisa tidak mas melihatnya lewat kacamata Hannah Arend. Saya melihat teori komunikasi Habermas sangat berhutang dengan vita activa-nya Hannah Arend, yaitu kerja, karya, tindakan. Dalam tindakan, saya kira kerja itu adalah “labour”, karya merupalan “work”, sedang tindakan adalah “action”. Inti tiga istilah ini menurut Arend, mengandaikan adanya gradasi dalam hubungan manusia. Dalam komunikasi tahapnya sudah action. Yang terakhir dari Arend inilah yang saya kira menginspirasikan Habermas dalam teori komunikasinya.
Menurut saya, kritik Bourdieu dan Giddens tidak relevan untuk masa kini. Sebab Habermas telah melahirkan teori etika diskursus, juga demokrasi deliberatif. Ternyata Habermas tidak melulu memakai pendekatan pada pokok ekonomi. Etika diskurus juga mngacu pada prinsip universalitas Kant, yaitu tentang maxim yang sejauh mana dapat diterima oleh umum, dengan menanyakan terlebih dahulu pada maxim (mu). Habermas memodernkan prinsip ini kedalam aturan sejauh dapat diterima oleh orang yang mendapat dampak negatif dan positifnya.
Agus Syafi’i:
Bukankha justru Habermas mengungkapkan alam bawah sadar pada konteks kata, yang hal tersebut pada ruang masyarakat proletar menurut Marx? Apakah ini terabaikan dari uraian mas Donny?
Pembicara:
Habermas memang kritis terhadap Marx, namun perlu digaris bawahi bahwa ia tetap sajamelihat lembaga ekonomi sumber dominasi bagi supra-infra struktur. Kita tidak bisa mengatakan bahwa ia dengan mudah terlepas dari pengaruh Marx. Pasti ada infiltrasi yang tersisa.
Habermas mengatakan, kalau kita mau membebaskan masyarakat, maka kita harus menyelami alam bawah sadar sebab ketertindasan mereka. Dan mengangkatnya pada kesadaran dengan mengatakan bahwa kesadaran ini palsu. Dibalik kesadaran ada kesadaran yang didistorsi. Kalau dikatakan A namun yang keluar S, berarti ada yang didistorsi. Dalam bahasa Freud, ada yang disebut latent meaning dan manifest meaning. Hal ini memang berhutang sekali terhadap psikoanalisa.
Bagaimana hermeneutik diterapkan pada dakwah? Hal ini akan berbuah pada hal kontraproduktif sebab banyak sekali tradisi-tradisi yang berbeda. Sebab dari yang bayak itu ada kritik ideologi dengan penelusuran kepentingan-kepentingannya. Jadi, bukan mengafirmasi tradisi, hanya mencari pa yang terdistorsi itu. Harus ada proses dialog. Untuk dakwah, agaknya Gadamer lebih pas.
Sebenarnya saya tidak memakai kritik Bourdieu dan Giddens dalam mengkritisi Habermas. Saya hanya memakai kerangka teoritis mereka untuk kritik saya sendiri. Karena saya melihat dalam Habermas, economic institution seolah menjadi sumber kekuasaan utama. Kalau ditanyakan apakah ia lebih memilih antara tataran makro atau mikro ekonomi, nampaknya ia memang lebih tepat dikatakan masuk pada tataran mikro. Sebab teori rasional yang Habermas tentang lebih masuk dalam konsep mikro ekonomi bukan makro ekonomi, bukan yang bersifat state, tapi perusahaan. Karenanya Habemas mengatakan interaksi ekonomi bukan hanya salah satu interaksi yang mungkin. Masih juga dipertanyakan masalah nilai dan sebagainya. Memang ia melihat dunia ekonomi itu menjajah aspek lainnya. Makanya, pernah ada gerakan pemuda 1960-an di Jerman, yang melakukan counter terhadap pola ekonomi ini dengan melakukan kerja sukarela.
Yang saya maksud orientasi objektivis ialah konsentrasinya yang melulu pada objek, tanpa menyadari adanya nilai yang menyusup didalamnya. Pendekatan Weber memang sudah sangat revolusioner.
Contoh saudara Ismail Fahmi memang sangat bagus. Artinya hal ini meang dapat terjadi pada kehidupan sehari-hari.
Mengenai Hannah Arend, ia memang melihat bahwa hubungan ideal manusia bukan pada labour, sebatas hubungan memenuhi kebutuhan biologis saja. Namun ia melihat bahwa hal itu harus beranjak pada karya seperti monumen, buku, yang mengandung aktualisasi manusia. Tingkat ketiga hubungan yang lebih pada aksi, dimana masing-masing manusia otonom dan unik, dan tidak saling mengakui. Ini diadopsi Habermas dalam teori komunikasinya. Dan memang Arend mengatakan hubungan ideal manusia adalah pada aksi bukan pada kerja. Dalam dunia politik__kira-kira__ mau dikatakan, kalau mau jadi politikus harus kaya terlebih dahulu. Agar ketika masuk lingkar politik ia tidak melulu mencari materi. (sampai disini diskusi Habermas widering away).

2 Komentar

  1. hasan mutawakkil said,

    Maret 21, 2011 pada 3:15 am

    terimakasih tlh mmberi jln utk pemikirnx jurgen,,kebetulan saya mempunyai tugas yg berkaitan ttg hermeneutik jurgenn…..semoga kajian2 ttgx bs lbh relavan dan detail,,, sukron akhi
    salam kenal dari hasan mutawakki

    • asfuriahmad said,

      Desember 1, 2011 pada 1:08 pm

      untuk sarannya thxs,,,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: