PENYIMPANGAN ATAU PENYESATAN AGAMA OLEH AJARAN SALAMULLAH LIA EDEN

A. Latar Belakang

Sejak Islam diturunkan kepada manusia, maka sejak saat itulah Islam tidak monolitik lagi. Islam, dengan demikian, dibaca, ditafsirkan, dan diamalkan sesuai dengan perspektif penganutnya. Pada tahap ini Islam telah kukuh menjadi bagian dari realitas historis dan realitas sosiologis, yang berkembang sesuai dengan arus zaman.

Proses pemaknaan akan Islam melahirkan paling tidak dua pihak penting yaitu: pihak utama (ortodoksi/mainstream) dan pihak pinggiran (sempalan/splinter/subltern). Pihak utama mengacu kepada paham keagamaan yang dianut oleh mayoritas umat, sedangkan pihak pinggiran identik dengan ajaran yang keluar dari arus utama sehingga dianggap sesat dan menyesatkan.[1]

Dari sudut pandang agama, di Indonesia berkembang berbagai agama yang keberadaannya beragam. Agama-agama mayoritas mendapat pengakuan Negara, yang secara otomatis pemeluknya diakui oleh negara. Sementara agama-agama dengan jumlah minoritas (sempalan/splinter/ subaltern) keberadaannya resah dan dilematis karena identik dengan ajaran yang keluar dari syariat Islam yang diklaim sebagai aliran sesat dan menyesatkan.[2]

Dalam bahasa Arab, sesat disebut dhalal, ضلل yang dapat diartikan sebagai setiap yang menyimpang dari jalan yang dituju (yang benar).[3] Siapa yang dipandang sesat dan tidak sesat dalam Islam? Nabi Muhammad sudah pernah menjawabnya lewat hadis tentang 73 (tujuh puluh tiga)  golongan umat manusia. Ada satu di antaranya yang akan selamat.[4] Hadist Rasulullah tersebut berbunyi sebagai berikut:

ا فترقت اليهود على احد ى  وسبعين فر قة‚ وا فترقت النصارى على اثنتين وسبعين فرقة ‚ وستفترق ا متي على ثلا ث و سبعين فر قة‚ كلها في النارالآوا حدة‚ قيل ماهي يارس ل ا لله: هي ا لجما عة ﴿را وه ا بو دا ود‚ا لتر مذ ي‚ا بن ما جه﴾

Artinya: ”Yahudi terpecah menjadi 71 kelompok, Nasrani terpecah menjadi 72 kelompok, dan umatku akan terpecah menjadi 73 kelompok. Semuanya berada dalam neraka kecuali satu, kemudian ada yang bertanya,  siapakah kelompok itu, wahai yaa Rasulullah? Beliau menjawab, yaitu yang berada dalam jama’ah’ (”orang-orang yang menempuh jalan seperti yang aku dan sahabatku tempuh”).[5] (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Maajah)

Dalam memaknai hadis tersebut, umat Islam Indonesia yang cenderung pada pemahaman  Ahlussunah wal Jamaah, dewasa ini melihat ada sejumlah kelompok dalam Islam yang telah keluar dari tuntunan Nabi. Golongan-golongan itu antara lain : Negara Islam Indonesia komandemen wilayah IX (NII KW IX), Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), Inkar sunnah, Ahmadiyah, Salamullah, Isa Bugis, Baha’i, pluralisme agama (diwakili oleh Jaringan Islam Liberal (JIL), dan Lembaga kerasulan. Di antara kelompok tersebut, ada yang telah bertahan selama puluhan tahun (misalnya Ahmadiyah), dan ada juga yang baru berdiri beberapa tahun, seperti JIL (Jaringan Islam Liberal).[6]

Menurut Martin Van Bruinessen (Ulumul Qur’an Vol. III NO 1,1992), untuk memahami eksistensi gerakan-gerakan sempalan di Indonesia bisa dipakai klasifikasi sekte yang pernah dikemukakan oleh sosiolog Inggris, Bryan Wilson. Tipologi yang disusun berdasarkan sikap sekte-sekte terhadap dunia sekitar ini dibagi menjadi tujuh. Namun masing-masing tidak terlalu ketat dalam definisi.[7]

Tipe pertama ialah sekte conversionaist, perhatian utama adalah kepada perbaikan moral individu. Harapannya agar dunia akan dapat diperbaiki bila moral indivdu-individu diperbaiki. Kegiatan utama sekte ini adalah usaha untuk meng-convert atau meng-tobat-kan orang luar. Contoh tipikal di dunia Islam ialah gerakan dakwah seperti Tablighi jamaat.[8]

Tipe kedua adalah sekte revolusioner. Mereka mengharapkan perubahan masyarakat secara radikal, sehingga manusianya menjadi baik, Contoh tipikalnya antara lain gerakan mesianistik (yang menunggu atau mempersiapkan kedatangan seorang Mesias, Mahdi, Ratu Adil) dan millenarian (yang mengharapkan meletusnya zaman emas) yang pernah aktif di Indonesia pada masa kolonial.

Gerakan mesianistik atau millenarian ini berkemungkinan tidak lagi bekerja untuk transformasi dunia sekitar tetapi hanya memusatkan diri kepada kelompoknya sendiri atau keselamatan ruhani penganutnya sendiri (semacam uzlah kolektif). Oleh Wilson gerakan tipe ini disebut introversionis .Kelompok Samin merupakan contohnya.[9]

Tipe keempat dinamakan Wilson manipulationist atau gnostic (”ber-ma’rifat”). Meskipun mirip dengan introversionis, namun mereka mereka memiliki ilmu khusus, yang biasanya dirahasiakan dari orang luar. Untuk menjadi anggota aliran seperti ini, orang harus melewati proses inisiasi (tapabrata) dan baiat yang panjang dan bertahap. Sejumlah aliran kebatinan dan tarekat bisa dimasukkan kesini.[10]

Tipe lainnya adalah sekte-sekte thaumaturgical. Tipe ini berdasarkan sistem pengobatan, pengembangan tenaga dalam atau penguasaan atas alam gaib. Di Indonesia, unsur-unsur thaumaturgical terlihat dalam berbagai aliran kebatinan dan sekte Islam, misalnya Muslim-Muslimat (di Jawa Barat).

Tipe keenam adalah sekte reformis. Gerakan ini melihat usaha reformasi sosial dan/atau amal baik (karitatif) sebagai kewajiban esensial agama. Aqidah dan ibadah tanpa pekerjaan sosial dianggap tidak cukup.[11]

Tipe terakhir adalah gerakan utopian, yang berusaha menciptakan suatu komunitas ideal di samping, dan sebagai teladan untuk, masyarakat luas. Mereka menolak tatanan masyarakat yang ada dan menawarkan suatu alternatif, tetapi tidak mempunyai aspirasi mentransformasi seluruh masyarakat melalui proses revolusi. Di Indonesia, salah satu contohnya adalah kelompok Isa Bugis (dulu di Sukabumi, sekarang di Lampung).[12]

Pemahaman di atas memberikan perspektif yang pas untuk menilai Aliran-aliran sempalan yang ada di Indonesia. Keberadaan kentara yang mereka buat memperlihatkan posisi mereka yang tidak sama bahkan berseberangan dengan mayoritas umat. Dalam kondisi ini, perpecahan umat bayang-bayang yang paling dekat. Dan, sebelum bayang-bayang itu menyatu dengan badan, datanglah Majelis Ulama Indonesia (MUI) memberikan batasan untuk memisahkan antara ”Kita”dan”mereka”.[13]

Terlepas dari pro dan kontra apakah sekelompok ulama dalam MUI berhak atau tidak untuk memvonis satu kelompok sesat atau tidak, yang jelas fatwa, rekomendasi, atau nasehat yang di keluarkan MUI merupakan sebuah langkah yang tepat dalam menjawab keresahan dan kebingungan yang tengah melanda masyarakat. Sampai di sini, tradisi dialog antara ulama dan umat sesungguhnya berhasil dipertahankan dengan sempurna.[14]

Penelitian ini akan mendiskripsikan aliran jamaah Salamullah yang difatwa ”sesat dan menyesatkan” oleh MUI untuk mengetahui aliran itu lebih dalam, dilakukan penekanan pada latar belakang lahirnya kelompok tersebut, ide-ide yang mereka usung, serta aksi-aksi mereka. Di dalamnya terkandung gagasan-gagasan utopis, egoisme kelompok, kekeras kepalaan, perlawanan, dan konspirasi yang tak terdeteksi. Ikut dilampirkan pula fatwa-fatwa MUI, yang mana juga berisi pertimbangan MUI untuk memutuskan Aliran Salamullah Lia Eden sesat atau tidak.

Dalam deskripsi di atas sangat jelas bahwa persoalan tentang penyesatan atau penyimpangan agama yang terjadi akhir-akhir di  Indonesia ini banyak menimbulkan perpecahan antar umat bahkan kesatuan Republik Indonesia. Kasus penyesatan agama atau penyimpangan agama yang terjadi merupakan kasus yang sempat menyita perhatian publik nasional karena hal tersebut bersentuhan langsung dengan akar konflik horizontal yaitu konflik yang berkaitan dengan aqidah dan kepercayaan mayoritas umat beragama Islam.[15]

B. Pembahasan

  1. Latar Belakang Munculnya Keputusan Fatwa MUI  No.768/MUI/XII/1997

Berawal dari surat Ir. Andan Nadriasta tanggal 4 Oktober 1997 yang bertanya dan mengharapkan ada penjelasan dari Majelis Ulama Indonesia tentang ajaran kelompok pengajian yang dipimpin oleh Ibu Lia Aminuddin, Jl. Mahoni 30 Jakarta Pusat 10460 Telp. 4207420-4247218. Dalam surat tersebut dinyatakan, antara lain, bahwa Ibu Lia Aminuddin ditemani (didampingi) oleh Malaikat Jibril. Pengajian atau ajaran yang disampaikan Ibu Lia itu pada hakikatnya adalah ajaran yang dibawa Malaikat Jibril melalui Ibu Lia. Hal demikian, menurut pengirim surat, jelas dapat meresahkan umat karena bertentangan dengan akidah Islam.[1]

Pada hari selasa, 4 Nopember 1997, Lia Aminuddin memberikan penjelasan kepada Sekretaris Komisi Fatwa MUI bahwa, Lia Aminuddin membenarkan kalau ia didampingi dan mendapat ajaran dari Malaikat Jibril. Pada waktu yang berbeda Lia Aminuddin juga menjelaskan dalam Sidang Komisi Fatwa pada tanggal 11 Nopember 1997, yang antara lain juga mengatakan :[2]

  1. Setelah merasa dikecewakan oleh sikap Anton Medan dan dua kiai (Nur Muhammad Iskandar SQ dan Zainuddin MZ) mengenai masalah Yayasan At-Ta’ibin, Lia setiap malam menangis dan mengadu kepada Allah tentang ketidakadilan dan kebenaran yang dirasakannya tidak ada. Lia yang mengaku sangat awam dalam bidang agama Islam pada suatu malam mengalami suatu peristiwa: seluruh badan bergetar, keringat bercucuran, tetapi ia merasa kedinginan. Esok harinya tiba-tiba bisa melihat segala sesuatu (misalnya ia dapat mengetahui bahwa sebuah mobil yang dilihatnya adalah hasil korupsi) dan dapat mengobati berbagai penyakit.
  2. Setelah itu, ia didatangi oleh mahluk gaib yang kemudian mendampinginya serta memberikan ajaran dan tuntunan agama Islam. Makhluk itu kemudian diketahui (mengaku) sebagai malaikat Bernama Habib al-Huda.

c.   Pada suatu hari, seorang pasien bernama Indra yang menurut Lia, kasyaf jin memberitahukan bahwa pendamping Lia Aminuddin adalah Malak Jibril. Kemudian di hari lain, datang lagi seorang yang memberikan kesaksian serupa. Dan ketika Lia Aminuddin bertanya kepada pendampingnya tentang kebenaran kesaksian dua orang tersebut, penndamping itu membenarkan dan mengaku bahwa sebenarnya ia adalah Malak Jibril.

d.   Kemudian Lia Aminuddin disuruh beribadah umrah oleh ”Jibril” untuk mendapat kesaksian (pembuktian) bahwa ia adalah Jibril. Sepanjang perjalanan umrah ia melihat peristiwa-peristiwa yang memberikan keyakinan kepadanya bahwa pendampingnya adalah benar-benar Jibril.

e.   Lia Aminuddin pun juga menjelaskan bahwa ia dapat berkomunikasi dengan Jibrilnya jika ia memerlukan dan Jibril tidak bisa datang semaunya. Tegasnya, kedatangan Jibril tidak bergantung pada Lia Aminuddin, kecuali jika ada amanat yang harus disampaikan kepadanya.

Berpijak dari surat Ir. Andan Nadriasta dan pernyataan serta pengakuan Lia Aminuddin sendiri dihadapan sekretaris Komisi Fatwa MUI tertanggal 4 Nopember 1997 dan dalam sidang Komisi Fatwa pada 11 Nopember 1997 bahwa semua yang terjadi dan dialami Lia Aminuddin adalah benar adanya dan ia tidak menolaknya. Dari pengakuan Lia Aminuddin tersebut Majelis Ulama Indonesia perlu mengambil sebuah tindakan untuk menyelesaikan dan menyelamatkan akidah (aqidah) ajaran Islam yang mempunyai kedudukan sangat penting yang harus di jaga dan  didasarkan pada dalil-dalil qot’iy, supaya aqidah tersebut terjaga dan terlindungi kemurniannya.

MUI sebagai wadah organisasi keagamaan yang dibentuk oleh pemerintah sebagai pengayom dan pelindung hak-hak sipil umat islam didalam menjalankan ajaran aqidahnya jangan sampai ternodai oleh ajaran-ajaran sesat yang dalam dekade akhir-akhir ini sering muncul dan marak menyita perhatian umat islam secara keseluruhan, disini Majelis Ulama Indonesia punya peranan penting untuk menjaga kemurnian aqidah umat Islam.

Dari langakah yang diambil Majelis Ulama Indonesia tersebut tentunya akan bisa mengurangi keresahan umat islam yang selama ini merasa terusik oleh ulah Lia Aminuddin didalam melakukan pengajian dan ajaran barunya yang lebih dikenal dengan ajaran salamullahnya tersebut. Jika Majelis Ulama Indonesia yang selama ini mempunyai wewenang untuk menyelesaikan sengketa aqidah yang dianut sebagian besar umat islam di Indonesia tidak cepat mengambil sikap dan tindakan maka sangat mungkin sekali akan muncul konflik internal aqidah umat yang tentunya akan menimbulkan rasa permusuhan, penyalahgunaan, penodaan atau penyesatan  suatu agama yang dianut oleh mayoritas umat Islam yang ada di Indonesia.

Dalam deskripsi diatas tersebut sangat jelas bahwa persoalan tentang ajaran agama  baru yang dibawa oleh Lia Aminuddin yang bernama Salamullah/ agama perenialisme yang menghimpun seluruh agama, serta Lia Aminuddin mengaku menjadi juru bicara Jibril Alaihi Salam, dan mengaku sebagai Nabi dan Rasul, mengaku mendapat wahyu dan mukjizat dari Jibril, mengaku sebagai Imam Mahdi, Ahmad Mukti (puteranya) dianggap sebagai Nabi Isa  Alaihi Salam, merupakan bentuk-bentuk pelecehan agama yang dapat menimbulkan perpecahan antar umat bahkan kesatuan Republik Indonesia. Karena kasus tersebut bersentuhan langsung dengan akar konflik horizontal yaitu konflik yang berkaitan dengan aqidah dan kepercayaan mayoritas umat beragama Islam.

Dari latar belakang uraian tersebut maka Majelis Ulama Indonsia sebagai wadah organisasi keagamaan yang ada di Indonesia mempunyai hak untuk memberikan Fatwa dan berhak menyelamatkan dan menjaga kemurnian akidah umat agama Islam.

Dengan ini Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia mengadakan sidang komisi dan mengeluarkan Surat Keputusan Fatwa Nomor. Kep-768/MUI/XII/1997 tentang PENDAMPINGAN MALAK JIBRIL TERHADAP MANUSIA. Pertimbangan dari Surat Keputusan Fatwa Majelis Ulama Indonesia tersebut adalah sebagai berikut:[3]

  1. Akidah (aqidah) dalam ajaran Islam mempunyai kedudukan sangat penting dan harus didasarkan pada dalil-dalil qat’iy, karena akidah tersebut harus dijaga dan dilindungi kemurniannya.
  2. Masalah Jibril merupakan masalah penting yang menyangkut akidah Islam; oleh karena itu, akidah atau keimanan (kepercayaan) kepada Jibril harus berdasarkan dan tunduk pada dalil-dalil qat’iy.
  3. Bahwa menurut akidah Islam, Jibril hanya turun kepada para nabi untuk menyampaikan wahyu Allah, dan mengingat Nabi Muhammad Saw adalah nabi terakhir maka Jibril tidak lagi turun menemui manusia untuk menyampaikan wahyu.
  4. Bahwa pengakuan seseorang, dalam hal ini Lia Aminuddin, didampingi dan mendapat ajaran dari Jibril harus segera ditanggapi dan diluruskan oleh Majelis Ulama Indonesia.

Adapun isi dari Surat Keputusan Fatwa Nomor. Kep-768/MUI/XII/1997 tentang PENDAMPINGAN MALAK JIBRIL TERHADAP MANUSIA tersebut adalah sebagai berikut: [4]

  1. Keyakinan atau akidah tentang malaikat, termasuk malak Jibril, baik mengenai sifat maupun tugasnya harus didasarkan pada keterangan atau penjelasan dari wahyu (al-Qur’an dan hadist ).
  2. Tidak ada satu pun ayat maupunhadist yang menyatakan bahwa malak Jibril masih diberi tugas oleh Allah untuk menurunkan ajaran kepada umat manusia, baik ajaran baru maupun ajaran yang bersifat penjelasan terhadap ajaran agama yang telah ada. Hal ini karena ajaran Allah telah sempurna.
  3. Pengakuan seseorang bahwa dirinya didampingi dan mendapat ajaran keagamaan dari malak Jibril bertentangan dengan al-Qur’an. Oleh karena itu, pengakuan tersebut dipandang sesat dan menyesatkan.
  4. Pertimbangan Hukum Fatwa Majelis Ulama Indonesia.

Berdasarkan Surat Keputusan Fatwa No: Kep-768/MUI/XII/1997 Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia terhadap pelarangan Ajaran Salamullah Lia Eden yang di Fatwa sesat dan menyesatkan ini didasarkan pada pertimbangan hukum yang bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah (hadist) yang telah disepakati oleh para ulama (jumhur al ulama’) diantara pertimbangan sumber hukum tersebut adalah: [5]

  1. Sumber al- Qur’an
    1. Dalam al-Qur’an diterangkan bahwa salah satu rukun Iman dalam sistem akidah Islam yang wajib diyakini dan menjadi akidah setiap muslim adalah iman kepada malikat. Cukup banyak ayat al-Qur’an menjelaskan hal ini: antara lain firman Allah yang berbunyi:

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَالْمَلائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ…….

Artinya: “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan; akan tetapi, sesungguhnya kebajikan itu adalah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi…” (QS. Al-Baqarah.[2]: 177)[6]

…..وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالا بَعِيدًا

Artinya: “Barang siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya” (QS. An-Nisa [4]:136)[7]

  1. Menurut ajaran Islam (al-Qur’an), malaikat adalah mahluk gaib dan termasuk ke dalam hal (alam) yang gaib. Mengenai hal yang gaib, Allah berfirman:

َعلِمُ الْغَيْبِ فَلا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا إِلا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا

Artinya: “(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahuiyang gaib: maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu, kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya; maka sesungguh-Nya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya” (QS.Al jin [72]: 26-27)[8]

  1. Atas dasar itu, dalam melaksanakan keimanan kepada malaikat yang gaib itu, setiap muslim yang yakin (beriman) bahwa sumber akidah dalam Islam mengenai persoalan gaib hanyalah al-Qur’an semata, harus tunduk dan mengikuti, serta terbatas pada keterangan yang dijelaskan oleh al-Qur’an, baik menyangkut materi mereka, sifat, tugas, maupun dalam hal melihat mereka. Malaikat,dalam akidah muslim, adalah makhluk (alam) gaib yang tidak dapat diketahui oleh manusia melalui idrak basyari (intelek manusia). Mereka hanya dapat diketahui melalui pemberitaan valid (al-khbar as-sadiq) dari Allah SWT., yaitu keterangan yang terdapat dalam al-qur’an. (perhatikan Mahmud Syaltut, al-Islam Aqidah wa Syariah, t.t.: Dar al-Qalam, 1966, h.32). dengan kata lain, pengetahuan tentang malaikat haruslah berdasarkan wahyu.
  2. Al-Qur’an pun menjelaskan tentang sifat-sifat malaikat; diantaranya adalah:
    1. Malaikat suci dari sifat-sifat manusia (a’ rad al-basyariah). Hal ini ditujukan oleh Allah, melalui dalalah iltizam, dalam firman-Nya:

يُسَبِّحُونَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لا يَفْتُرُونَ

Artinya: “Mereka (malaikat) selalu bertasbih (beribadah kepada Allah)      pada waktu malam dan siang hari tiada henti-hentinya” (QS al-Anbiya [21]: 20)[9]

  1. Malaikat selalu takut (al-khauf) dan taat kepada Allah, sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya:

يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Artinya: “Mereka (malaikat) takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka)” (QS. An-Nahl[16]:50)[10]

  1. Bahwa malaikat selalu taat kepada Allah, tidak durhaka (melakukan maksiat) kepada-Nya. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Anbiya [21]: 26-28.

(#qä9$s%ur x‹sƒªB$# ß`»oH÷q§9$# #V$s!ur 3 ¼çmoY»ysö7ߙ 4 ö@t/ ׊$t6Ï㠚cqãBtõ3•B ﴿26﴾  Ÿw ¼çmtRqà)Î7ó¡o„ ÉAöqs)ø9$$Î/ Nèdur ¾Ín̍øBr’Î/ šcqè=yJ÷ètƒ ﴿27﴾  ãNn=÷ètƒ $tB tû÷üt/ öNÍk‰É‰÷ƒr& $tBur öNßgxÿù=yz Ÿwur šcqãèxÿô±o„ žwÎ) Ç`yJÏ9 4Ó|Ós?ö‘$# Nèdur ô`ÏiB ¾ÏmÏGuŠô±yz tbqà)Ïÿô±ãB ﴿28﴾

Artinya: ”Dan mereka berkata: ”Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak’. Maha Suci Allah. Sebenarnya (malaikat-malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan, mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya. Allah mengetahui segala apa yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang dibelakang mereka, dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah,dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya”(QS.Al-Anbiya [21]: 26-28)[11]

لا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Artinya: “… mereka (malaikat) tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan ” (QS. At-Tahrim [66]:6).[12]

Bahwa malaikat itu selalu taat kepada Allah, tidak durhaka (melakukan maksiat) kepada Allah. Jadi durhaka kepada Allah adalah berbohong. Dengan demikian, tidak mungkin ada malaikat berbohong, seperti hari ini mengaku Jibril dan esok harinya atau kenmarin mengakui selain Jibril.

  1. Malak Jibril, sebagai salah satu malaikat yang menurut al-Qur’an mempunyai nama lain seperti ar-ruh, ar-ruh al-qudus, dan ar-ruh al-amin, tertentu memiliki sifat-sifat malaikat sifat lain dan tugas tertentu, antara lain sebagaimana dijelaskan dalam:
    1. Firman Allah:

إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ.ذِي قُوَّةٍ عِنْدَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ.مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِين.وَمَا صَاحِبُكُمْ بِمَجْنُونٍ.وَلَقَدْ رَآهُ بِالأفُقِ الْمُبِينِ.

Artinya: “sesungguhnya al-Qur’an itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah Yang mempunyai Arasy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya. Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah sekali-kali orang yang gila; dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang” (QS. At-Takwir [8]: 19-23).[13]

Ayat di atas tidak hanya menjelaskan sifat malaikat Jibril, tetapi juga menjelaskan tugasnya, yaitu menjadi perantara (delegasi) antara Allah dengan para rasul-Nya; ia menurunkan (membawa) wahyu (al-Qur’an) kepada Nabi Muhammad SAW.

  1. Firman Allah;

وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِين.نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الأمِينُ.عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ

Artinya: “Dan sesungguhnya al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril),ke dalam hatimu (Muhammad) agar menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan”(QS. Asy-Syu’ara [26] 192-194)[14].

Ayat asy-Syu’ara di atas menegaskan bahwa malak Jibril mempunyai tugas sebagai berikut:

  1. Menyampaikan/menurunkan pesan dan ajaran dariAllah
  2. Pesan dan ajaran yang dibawa turun oleh malak Jibril adalah kalam  (wahyu dari) Allah, dalam hal ini al-Qur’an
  3. Wahyu tersebut dibawa turun oleh malak Jibril kedalam hati (kalbu)  Nabi Muhammad SAW, dan
  4. Bahwa tujuan penurunan wahyu kepada Nabi Muhammad ialah agar ia menjadi nabi (munzir). Atas dasar ini, maka:

1)          Tidak dapat benarkan jika Jibril membawa turun selain wahyu, misalnya pendapat atau penjelasan dari Jibril sendiri, baik kepada Nabi Muhammad maupun orang lain,

2)          Sesudah Nabi Muhammad wafat Jibril tidak akan lagi menurunkan wahyu maupun ajaran kepada siapapun, karena Nabi Muhammad adalah nabi terakhir dan ajaran Allah untuk umat manusia telah dinyatakan sempurna.

Dua hal disebut terakhir ini, yakni bahwa Nabi Muhammad adalah nabi terakhir dan bahwa ajaran Allah untuk umat manusia telah sempurna dijelaskan dalam firman Allah:

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

Artinya: ”Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi ia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS. Al-Ahzab [33]:40).[15]

…الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا

Artinya: “… pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu jadi agama bagimu…”(QS. Al-Mai’idah [5]:3).[16]

  1. Jibril, sebagaimana dijelaskan di atas, hanyalah bertugas menyampaikan wahyu dari Allah dan ia tidak diberi wewenang oleh Allah untuk menjelaskan kandungan (isi dan maksud)-nya. Dalam hal al-Qur’an, tugas menjelaskannya dibebankan Nabi, sebagaimana dikemukakan dalam firman Allah :

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ.

Artinya: “… Dan Kami turunkan kepadamu (Muhammad) al-Qur’an, agar kamu menerangkan kapada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan” (QS. An-Nahl[16]:44)[17]

Selain Nabi Muhammad, tugas menjelaskan al-Qur’an juga menjadi tanggung jawab para ulama.

  1. Sebagaimana malaikat pada umumnya yang tidak akan pernah melakukan maksiat,
  2. Malak Jibril hanya turun dan datang kepada Nabi Muhammad atas izin dan perintah Allah. Tanpa izin dan perintah Allah ia tidak akan turun, betapa pun Nabi Muhammad sangat menginginkan dan mengharapkan. Cukup banyak peristiwa yang memerlukan segera mendapat jawaban dan penjelasan wahyu,tetapi Jibril tidak kunjung datang membawa wahyu.
  3. Menurut al-Qur’an, manusia dapat melihat, ditemui, atau bahkan dibantu oleh malaikat, dan itu termasuk karomah. Mengingat hal tersebut sebagai karomah, tentu sahib al-karamah (orang-orang yang mempunyai karomah) diharuskan memenuhi suatu persyaratan, yaitu amal perbuatannya harus sesuai dengan dan berdasarkan Kitab (al-Qur’an) dan sunnah: atau menurut Abu Yazid al-Bustami ia harus memahami dan mengamalkan awamir dan nawahi (perintah dan larangan agama).
    1. Sumber Hadist 

Dalam hadist pun juga diterangkan sebagi orang yang beriman harus wajib mengimani rukun iman yang semuanya ada lima, salah satu rukun Iman dalam sistem akidah Islam yang wajib diyakini dan menjadi dasar setiap muslim adalah iman kepada malikat. Cukup banyak hadist-hadist yang menjelaskan tentang sifat-sifat malaikat, antara lain adalah:

  1. Bahwa sifat malaikat adalah mempunyai sifat malu. Hal imi sebagaimana di jelaskan oleh Nabi :[18]

الااستحى من رجل تستحى منه الملا ئكة (رواه مسلم)

Artinya: ”Bagaimana aku tidak malu terhadap seorang lak-laki yang malaikat pun malu terhadapnya ” (HR. Muslim)

  1. Bahwa malaikat itu merasa sakit (tidak suka, terganggu) dengan hal-hal yang tidak disenangi (makruh), misalnya bau tidak sedap;demikian juga anjing dan patung, sebagaimana halnya manusia. Nabi menjelaskan:[19]

من اكل من الثوم والبصل والكراث فلايقربن مسجدنا فاء ن الملائكة تتاذى مما يتاذى منه بنوادم (راوه مسلم)   

Artinya: ”Barang siapa makan bawang putih, bawang merah, dan bawang bakung janganlah mendekati masjid kami, karena malaikat merasa sakit (terganggu) dengan hal-hal yang membuat manusia pun merasa sakit”(HR. Muslim).

  1. Sebagaimana malaikat pada umumnya yang tidak akan pernah melakukan maksiat, misalnya melihat aurat, Malaikat Jibril tidak mau masuk ke dalam suatu rumah yang didalamnya ada aurat terbuka. Ini dapat diketahui dari hadist berikut:

ﹶقدْوَردَأن السيدة خديجة رضي الله عنها كانت تمتحن نزول الوحي على الرسول باءماطةالخمارعن رأسها،فاءذا كشفت شعرها هدأت حالةالرسول،واذاغطت شعرها عادت إليه الحالة،لعلمهابان الملك جبريل لايدخل بينا فيه امرأة مكشوفة الرأس.ولذلك قالت له:لماحسرت عن رأسها:هل تراه؟قال:لا،قالت:ياابن عم اثبت وابشرفوالله لملك،وماهذابشيطان. (عقيدةإسلامية ص268)

Artinya: ”Terdapat keterangan (hadist) bahwa Khadijah r.a. pernah mencoba (menguji) turunnya wahyu kepada Rasul dengan melepaskan kerudung dari kepalanya. Jika ia membuka rambutnya, tenanglah keadaanRasul; dan jika ia menutup rambutnya, keadaan Rasul kembali seperti semula. Hal itu ia lakukan karena ia mengetahui bahwa malaikat Jibril tidak akan masuk ke dalam rumah yang di dalamnya ada seorang perempuan yang terbuka kepalanya. Oleh karena itu, ketika membuka kepalanya ia (Khadijah) bertanya kepada Rasul:’Apakah engkau melihatnya (Jibril)?’Rasul menjawab :’Tidak!’ Khadijah berkata:’Wahai putra paman! Tabah dan bergembiralah! Demi Allah! (Yang datang kepada engkau) itu adalah malaikat, dan bukan syaitan’. ”[20]

  1. Malaikat Jibril hanya turun dan datang kepada Nabi Muhammad atas izin dan perintah Allah. Tanpa izin dan perintah Allah ia tidak akan turun, betapa pun Nabi Muhammad sabgat menginginkan dan mengharapkan. Cukup banyak peristiwa yang memerlukan segera mendapat jawaban dan penjelasan wahyu, tetapi Jibril tidak kunjung datang membawa wahyu. Contoh penantian Nabi yang paling mendesak. Di samping itu , Nabi pernah meminta kepada Jibril agar lebih sering datang mengunjungi Nabi, tetapi Jibril menjawab bahwa kunjungannya harus atas izin Allah. Hal ini dijelaskan dalam hadist berikut: [21]

روى البخاري واحمد عن ابن عباس رضي الله عنه أن رسو ل الله ص م. قال لجبر يل : ما يمنعك أن تزورنا أكثرمماتزرونا؟ فنرلت الاية :وما نتزل إلابأمرك الاية : له ما بين أيدبنا وما خلفنا وما بين ذلك :وماكان ربك نسيا (مربم 64)

Artinya: ”Imam Bukhari dan Ahmad meriwayatkan dari Ibn Abbas bahwa Rasulullah berkata keapad Jibril: ’Apa yang menghalangimu untuk berkunjung kepada kami lebih sering dari kunjunganmu selama ini?’ Nabi berkata. Lalu turunlah ayat : ’Dan tidaklah kami (Jibril) turun kecuali dengan perintah Tuhanmu. Kepunyaan-Nya-lah apa-apa yang ada di hadapan kita, apa-apa yang ada di belakang kita, dan apa-apa yang ada di antara keduanya, dan tidaklah Tuhanmu lupa’.”(HR. Bukhari, Ahmad,dari Ibnu Abbas).

C. Kesimpulan

Dalam deskripsi di atas sangat jelas bahwa persoalan tentang ajaran agama  baru yang dibawa oleh Lia Aminuddin yang bernama Salamullah/ agama perenialisme yang menghimpun seluruh agama, serta Lia Aminuddin mengaku menjadi juru bicara Jibril Alaihi Salam, dan mengaku sebagai Nabi dan Rasul, mengaku mendapat wahyu dan mukjizat dari Jibril, mengaku sebagai Imam Mahdi, Ahmad Mukti (puteranya) dianggap sebagai Nabi Isa  Alaihi Salam, merupakan bentuk-bentuk pelecehan agama yang dapat menimbulkan perpecahan antar umat bahkan kesatuan Republik Indonesia. Karena kasus tersebut bersentuhan langsung dengan akar konflik horizontal yaitu konflik yang berkaitan dengan aqidah dan kepercayaan mayoritas umat Islam.

Dari pengakuan Lia Aminuddin tersebut Majelis Ulama Indonesia perlu mengambil sebuah tindakan untuk menyelesaikan dan menyelamatkan akidah (aqidah) ajaran Islam yang mempunyai kedudukan sangat penting yang harus di jaga dan  didasarkan pada dalil-dalil qot’iy, supaya aqidah tersebut terjaga dan terlindungi kemurniannya.

Demi menjaga kemurnian aqidah agama sudah seyogyanya Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengajak semua pihak merujuk kembali kepada kaidah ushul fiqh (dasar hukum Islam) yang berbunyi ”dar’ul mafasid muqaddamun ala jalbil mashalih” (mencegah kejahatan lebih diutamakan dari mengambil manfaat atau kemaslahatan). ”itu artinya menindak aliran sesat misalnya, (aliran jamaah salamullah Li Eden) untuk menyelamatkan akidah umat lebih utama dari pada mempertimbangkan keselamatan atau kemaslahatan segelintir orang.” kemaslahatan disini adalah merupakan urgen inti pokok ”maqashid al-syari’ah”. Diantara maqashid nya adalah:

  1. Maqashid al-dharuriyat, maqashid untuk memelihara lima unsur pokok dalam kehidupan manusia yang meliputi memelihara agama, jiwa, akal, keturunan dan harta.
  2. Maqashid al-hajiyyat, ialah maqashid untuk menghilangkan kesulitan terhadap lima unsur pokok.
  3. Maqashid al-tahsiniyyat ialah maqashid yang dimaksudkan agar manusia melakukan yang terbaik untuk menempurnakan terhadap lima unsur pokok tersebut.

Menanggapi perdebatan dan silang pendapat yang muncul belakangan ini, Fatwa Munas VII Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan maklumat penetapan 10 kriteria aliran sesat yang di dalamnya membahas sebelas fatwa yang dilarang oleh MUI karena berbau menyimpang dan  sesat menyesatkan diantara fatwa tersebut diantaranya adalah : ”Fatwa tentang sesatnya aliran jamaah salamullah” (kaum Eden) yang mana dalam fatwa tersebut untuk menegaskan kembali keputusan Fatwa MUI  No.768/MUI/XII/1997. Supaya bisa kembali dan mendalami ajaran Islam, terutama dalam bidang aqidah, dengan memahami dan mempelajari al-Qur’an dan hadis kepada ulama, dan menurut kaidah-kaidah yang telah dirumuskan dan diakui kebenarannya oleh para ulama sebagai pedoman dalam mempelajari al-Qur’an dan hadis. Adapun maklumat Fatwa sesat tersebut adalah sebagai berikut:[1]

  1. mengingkari salah satu rukun Iman dan rukun Islam atau mengikuti aqidah  yang tidak sesuai dengan dalil syar’i, yaitu al-Qur’an dan as-sunnah,
  2. Meyakini turunnya wahyu setelah al-Qur’an
  3. Mengingkari otentisitas atau kebenaran isi ajaran al-Qur’an
  4. Melakukan penafsiran al-Qur’an yang tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir
  5. mengingkari kedudukan hadis Nabi sebagai sumber Islam
  6. Menghina, melecehkan, dan atau merendahkan para nabi dan rasul
  7. Mengingkari Nabi Muhammad saw.sebagai nabi dan rasul terakhir
  8. Mengubah, menambah, dan atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan oleh syari’at, seperti haji tik ke Baitullah
  9. Shalat fardhu tidak ima waktu, dan

10.  Mengkafirkan sesama muslim tanpa dalil syar’i, seperti mengkafirkan muslim hanya karena bukan kelompoknya.

Dari langakah yang diambil Majelis Ulama Indonesia tersebut tentunya akan bisa mengurangi keresahan umat islam yang selama ini merasa terusik oleh ulah Lia Aminuddin didalam melakukan pengajian dan ajaran barunya yang lebih dikenal dengan ajaran salamullahnya tersebut. Jika Majelis Ulama Indonesia yang selama ini mempunyai wewenang untuk menyelesaikan sengketa aqidah yang dianut sebagian besar umat islam di Indonesia tidak cepat mengambil sikap dan tindakan maka sangat mungkin sekali akan muncul konflik internal aqidah umat yang tentunya akan menimbulkan rasa permusuhan, penyalahgunaan, penodaan atau penyesatan  suatu agama yang dianut oleh mayoritas umat Islam secara umumnya dan lebih-lebih umat Islam yang ada di Indonesia secara khususnya.

D. Penutup

Demikianlah makalah yang dapat saya susun mudah-mudahan bisa bermanfaat dan bisa manambah khazanah keilmuan Islam secara umum dan bagi keilmuan syariah dan ushuluddin pada khususnya. Penulis tidak bisa menyajikan secara komplit dan sempurna karena kami adalah sebagai insan yang jauh dari kesempurnaan dan lebih dekat pada manusia yang dloif, maka dari itu bagi para pembaca kami harapkan masukan saran dan review demi perbaikan tugas saya ini.

Tidak lupa puja dan puji syukur kehadlirat Allah SWT yang telah melimpahkan taufik,hidayah serta inayah-Nya sehingga penyusunan tugas ini bisa terselesaikan dengan baik walaupun masih banyak kekurangan disana- sini, untuk itu saya mohon maaf atas segala khilaf dalam penyusunan tugas ini.


[1] A. Yogaswara, Maulana Ahmad Jalidu, Aliran-Sesat dan Nabi-nabi Palsu, jakarta: Narasi, 2008, hlm. 106

 


[1] Keputusan Fatwa MUI No. 768/MUI/XII/1997 tentang penyimpangan agama oleh ajaran Salamullah Lia Eden, hlm.114

 

[2] Ibid, hlm. 115

[3] Ibid, hlm. 115-116

[4] Ibid, hlm. 126

[5] Ibid, hlm. 116

[6] KH. Arwani Amin. AH, Hisyam, KH. Hisyam, KH. Sya’roni Ahmadi, Al-Qur’an dan Terjemahannya, Kudus: Menara, 1974, hlm. 28

[7] Yayasan penyelenggara penterjemah/ pentafsir Al-Qur’an, Al-Qur’an dan Terjemahannya juz 1-30, Surabaya: Mekar Surabaya, 2002, hlm. 131

[8] IKAPI Lajnah pentashih  mushaf Al-Qur’an Departemen Agama RI Al-aliyy, Al-Qur’an dan Terjemahan, Bandung: Diponegoro, 2000, hlm. 458

[9] Ibid, hlm. 258

[10] DEPAG, Al-Qur’an dan Terjemahannya, Jakarta: hlm.409

[11] IKAPI Lajnah pentashih  mushaf Al-Qur’an Departemen Agama RI Al-aliyy, Al-Qur’an dan Terjemahan, Op-Cit, hlm. 495

[12] Ibid, hlm. 951

[13] DEPAG, Al-Qur’an dan Terjemahannya, Op-Cit, hlm. 1028

[14] Ibid, hlm. 587

[15] Ibid, hlm, 674

[16] Ibid, hlm, 157

[17] Ibid, hlm. 408

[18] Keputusan Fatwa MUI No. 768/MUI/XII/1997, Ibid, hlm.119

[19] Keputusan Fatwa MUI No. 768/MUI/XII/1997, Ibid,

[20] Sayyid Sabiq, Aqidah Islamiyah, hlm. 268

[21] Keputusan Fatwa MUI No. 768/MUI/XII/1997,Ibid, hlm.125


[1].M. Yuanda Zara, dkk, Aliran-aliran Sesat di Indonesia, Yogyakarta: Banyu Media, 2007, Cet. Ke-1, hlm.1

 

[2].Haidar Nashir, Agama dan Krisis Kemanusiaan Modern, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998, hlm. 87

[3].Ahmad Warson Munawir, Al-Munawir: Kamus Arab-Indonesia, Surabaya: Pustaka Progressif, Cetakan ke-7, 1997, hlm. 827

[4]M. Yuanda Zara, dkk, Aliran-aliran Sesat di Indonesia, 0p.Cit, hlm.2

[5]HR. Abu Dawud pada hadist no.4596, HR. At-Tirmidzi dalam bab Iman, pada hadist no.2642, dia berkata bahwa hadisr ini berderajat hasan shahih. HR. Ibnu Maajah dalam bab Al- Fitan secara singkat, pada hadist no.3991. juga Ibnu Hibban sebagai yang ada dalam AL-Mawardi pada hadist no. 1834; HR. AL-Hakim, Dia menyatakan bahwa hadist ini shahih sesuai dengan syarat Muslim.

[6] M. Yuanda Zara, dkk, Aliran-aliran Sesat di Indonesia, 0p.Cit, hlm.3

[7] Ibid

[8] Ibid

[9] Ibid, hlm.4

[10] Ibid

[11] Ibid

[12] Ibid, hlm.5

[13] Ibid

[14]Harmoni, Jurnal Multikultural dan Multireligius,Jakarta: Puslitbang Kehidupan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama RI,2006, Volume V,hlm.9

[15]M. Yuanda Zara, dkk, Aliran-aliran Sesat di Indonesia,Op. Cit , hlm.6

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: