LAPORAN Pe-Pe-El

BAB I

PENDAHULUAN

Sebagian besar yang tinggal di panti asuhan Ar-Rodiyah adalah anak-nk yatim piatu dan kaum dhu’afa. Menurut sejarawan asal Mesir, Farij Wajdi mengartikan anak yatim adalah anak yang bapaknya sudah meninggal. Pendpat yang senada juga disampaikan oleh Sayyid Alwi bin Sayyid Abas. Hanya saja Sayyid Alwi menambah batasan yaitu ”masih belum batas balegh”.

Dalam konteks Indonesia, kata yatim identik dengan anak yang bapaknya meninggal, sedangkan bila bapak dan ibunya meninggal maka dikatakan yatim piatu. Otomatis perhatian (baca santunan) lebih dicurahkan pada yatim piatu dari pada yang yatim saja.[1]

Sedangkan kaum dhu’afa adalah mereka yang hidup dalam kefakiran, kemiskinan dan penderitaan. Dalam islam sebagai bagian mutlak dari keislamannya, seseorang harus memiliki rasa kepedulian yang tinggi, menghilangkan sefat kikir dan rakus, menumbuhkan ketenangan hidup sekaligus mengembangkan serta mensucikan harta yang dimiliki.[2]

Anak yang jauh dari orang tua biasanya kurang memiliki kasih sayang, perhatian dari keluarga yang khusus hingga hal seperti ini menjadikan sebuah karakter terjadinya kepribadian ke-Aku-an.[3]

Yang terpenting dalam kebahagiaan adalah penerimaan dan kasih sayang, baik penerimaan diri sndiri ataupun penerimaan sosial, agar merasa puas dengan kehidupan sehingga merasa dirinya bahagia. Anak tidak hanya menyukai dan menerima diri sendiri akan tetapi juga merasa bahwa dirinya diterima orang lain. Semakin menyukai dirinya sendiri maka ia akan semakin bahagia, demikian apabila banyak orang yang menyukai dirinya maka ia akan semakin bahagia dan merasa puas dengan setatus sosial yang ia miliki dalam kelompok sosialnya. Demikian pula semakin kuat keprihatinannya akan dukungan sosial pada dirinya maka ia akan semakin khawatir akan penampilan dirinya.[4]

Sedangkan Siti Solekah adalah anak yang pandai bergaul dalam lingkungan sosialnya, akan tetapi dibalik itu semua ada satu permasalahan yang membuat keadaan fobik itu muncul padanya, diwaktu ia ingat kejadian yang pernah menimpa dirinya, yaitu pernah disakiti oleh seniornya, maka efek yang timbul adalah perasaan takut, cemas gelisah dan rasa benci terhadap orang yang pernah menyakitinya.

BAB II

IDENTIFIKASI MASALAH

  1. A. Identitas Subyek
Nama : Siti Solekah
Lahir : Semarang 24 Desember 1995
Alamat : Jl. Bader Raya Rt 01/Rw VII Kel. Bandaharjo
Hobi : Membaca apa aja
Cita-cita : Guru
  1. B. Identifikasi Masalah
    1. 1. Menurut Pengelola
      1. Subyek adalah anak yang baik, sopan, cool, ramah, dalam kesehariannya subyek tidak menyukai hidup boros, tidak suka jajan, subyek selalu berpenampilan sederhana. Disamping itu subyek tergolong anak yang cerdas juga anak yang berprestasi, kepribadiannya yang baik sehingga subyek disukai oleh teman-temannya.[5]

b.  Subyek adalah anak yang baik, mempunyai latar belakang dari keluarga yang baik sehingga mempunyai kepribadian yang baik pula. Empat bulan yang lalu subyek pernah kena kasus bersama lima temannya, ketika itu mereka mengerumpi pada malm hari, begadang semalaman sampai-sampai tidak tidur, akhirnya pada pagi hari mereka tidak bisa bangun pagi dan mereka sakit semua. Karena kesalahannya sehingga subyek dan teman-temannya kena sanksi hukuman. Kepribadiannya baik sehingga banyak yang menyukai dan subyek mempunyai kedewasaan yang lebih dibanding teman-temannya.[6]

  1. 2. Menurut Subyek

Disini pengambilan data yang dilakukan oleh penulis dengan cara meminta kepada subyek untuk mendiskripsikan pengalaman atau suatu yang menghambat dirinya baik di sekolah, dilingkungan skitarnya dengan menulis pada lembaran buku untuk curhat pada penulis dan wawancara langsung. Berikut akan kami lampirkan.

Menurut subyek ia sangat kesulitan dalam beberapa mata pelajaran yaitu Bahasa Inggris dan Fisika, dalam bidang agama subyek merasa kesulitan dalam mata pelajaran Bahasa Arab, ia juga mengaku merasa kesulitan dalam masalah hapalan berikut penuturannya “Kak Puri kenapa ya… saya itu kalau hapalan sulit sekali tidak bisa masuk-masuk padahal sudah hampir satu jam saya menghapal, terus kalau sudah hapal cepet hilang? Kak kasih solusi dong biar cepet dan mudah hapalan”. Subyek juga menuturkan “Kak Puri kata ustadz kalau pengen cepet hapalan itu pada waktu pagi setelah bangun tidur dan stelah sholat maghrib apa betul kak?”.

Dilingkungan sekolah subyek tergolong anak yang rajin, disiplin dan anak yang taat terhadap peraturan bahkan dari kelas satu sampai sekarang subyek selalu mendapat peringkat tiga besar. Subyek adalah anak yang berprestasi.

Kemudian dilingkungan keluarga subyek mengaku ketika ingat bapaknya yang masih sakit, subyek menjadi sedih dan merasa bersalah tidak bisa merawat bapaknya. Subyek juga merasa kasihan ketika bapaknya sakit parah dan muntah darah, kata ibunya sakit yang diderita bapaknya akibat diguna-guna oleh bosnya sejak ia bekerja di hotel. Sejak saat itu subyek selalu teringat oleh bapaknya dan sedikitpun tidak bisa melupakannya.

Dilingkungan panti subyek pernah mengaku kalau dia pernah disakiti oleh teman seniornya berikut penuturannya “ Kak Puri saya itu tidak tau salah saya itu apa tiba-tiba saya diomelin dan dikatain yang tidak-tidak, bahkan kata-kata yang jorok yang kotor yang tak pantas untuk dikatakan… saya dituduh merampas pacarnya, dikatain cewek ganjen, cewek gatelan dan sampai-sampai dia bawa-bawa orang tua saya segala saya malu kak, didepan teman-teman. Itulah yang membuat hati saya sakit sampai saat ini dan saya belum bisa melupakan kejadian itu dan tiap kali saya ingat saya selalu menangis. Demikian apa yang dikatakan subyek dengan problema yang ia rasakan.[7]

  1. 3. Menurut Teman
    1. Subyek adalah anak yang baik peduli terhadap sesama, setia kawan, jujur, dan tidak sombong. Subyek memang agak pendiam tapi ia baik, ia suka menolong temannya disaat temannya dalam kesulitan. Di sekolah ia selalu dapat ranking tiga besar, ia anak yang berprestasi.[8]

b.  Subyek anak yang baik, disipin, memang selama sebulan penuh subyek selalu aktf di dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh tim PPL. Disamping itu kepribadian subyek yang baik sehingga banyak disukai oleh teman-temannya, meskipun agak pendiam subyek adalah anak yang rajin dan pintar.[9]

  1. Subyek adalah anak yang baik, di sekolahan dia tidak pernah kena kasus, meskipun dia kelihatan pendiam tapi kalau di sekolahan dia bisa-biasa saja, subyek mudah bergaul dengan teman-temannya, pandai menghargai waktu, ini terlihat ketika jam kosong atau tidak ada kegiatan subyek selalu datang keperpustakaan.[10]
  1. 4. Hasil Observasi

Penulis telah mengamati subyek (Siti Solekah) selama kurang lebih satu bulan penuh, dalam bergaul dan berinteraksi dengan teman-temannya. Penulis melihat dia adalah anak yang cerdas, berprestasi dan penuh bakat, rajin dan disiplin. Di sekolahan subyek adalah anak yang cerdas dan berprestasi ini terlihat pada nilai raportnya yang selalu mendapatkan ranking tiga besar.

Subyek adalah anak yang mempunyai semangat yang tinggi, rasa keingintahuannya terhadap hal-hal baru begitu besar, bahkan subyek tidak malu-malu untuk bertanya kepada siapa pun, termasu kepada tim PPL. Meskipun dia agak pendiam, tapi sebenarnya dia humoris, menurut pengamatan penulis subyek tidak akan bicara kalau kita tidak ada yang memolainya dulu, ibarat kata ”tidak akan mukul kalau tidak diukul duluan”.

Dia adalah anak yang sopan, kepada yang lebih tua dia andap ashor meskipun sebenarnya anak yang pemalu tapi dia pandai menghargai orang lain, pandai menghargai waktu, sehingga tak heran jika dia berprestasi di sekolahanya dan pandai.

Seperti yang tertulis dalam surat yang pernah diberikan kepada penulis sebenarnya subyek ingin curhat terhadap masalah-masalah yang ada pada dirinya, tapi malu disamping itu tidak adanya keberanian. Sehingga masalah-masalah yang dia hadapi dipendam dan menumpuk. Dan ini sangat bahaya sekali karna kalau masalah yang sedikit demi sedikit yang menumpuk dan tidak dicarikan jalan keluar maka lambat laun akan menjadi bom waktu yang suatu saat bisa meledak dan berujung pada gangguan mental depresi dan sebagainya.

  1. C. Diagnosa
    1. 1. Landasan Teori

Puber adalah masa dimana tubuh mulai berkembang dan berubah, yang menandai adanya masa peralihan dari masa anak-anak menjadi dewasa. Puber memang merupakan saat yang ditunggu-tunggu oleh kaum remaja.

Masa remaja usia 12 sampai 21 tahun dikenal dengan masa storm and stress. Pada masa ini terjadi pergolakan emosi yang diiringi dengan pertumbuhan fisik yang pesat dan pertumbuhan secara psikis.[11]

Bahaya pada masa puber pada umumnya gawat, terutama kerena berakibat jangka panjang. Bahaya ini bertentangan dengan tahap perkembangan yang terdahulu, dimana bahayanya sendiri yang lebih penting dibandingkan dengan akibat jangka panjangnya. Seperti halnya pada akhir masa kanak-kanak, bahaya psikologis lebih banyak dan akibatnya lebih luas dari pada bahaya fisik, hanya sedikit anak puber yang terpengaruh bahaya fisik sedangkan semua anak puber terpengeruh oleh bahaya psikologis meskipun dalam tingkat yang berbeda-beda.[12]

Yang terpenting dalam kebahagiaan adalah penerimaan dan kasih sayang, baik penerimaan diri sendiri ataupun penerimaan sosial agar merasa puas dengan kehidupan sehingga merasa dirinya bahagia. Anak puber tidak hanya menyukai dan menerima diri sendiri akan tetapi juga merasa bahwa dirinya diterima orang lain. Semakin menyukai dirinya sendiri maka ia akan semakin bahagia dan merasa puas dengan status sosial yang ia miliki dalam kelompok sosialnya. Demikian pula semakin kuat keprihatinannya akan dukungan sosial pada dirinya paka ia akan semakin khawatir akan penampilan dirinya.[13]

Selain faktor keluarga masih ada beberapa faktor lain yang ikut menentukan pembentukan kepribadian, yaitu pengalaman awal masa kanak-kanak, kebudayaan masyarakat, kondisi fisik, emosi, kegagalan, dan keberhasilan, penerimaan sosial, dan simbol status.[14]

Determinan-determinan dalam perkembangan kepribadian ada tiga yaitu pertama, hereditas kedua, lingkungan dan interaksi antara hereditas dan ketiga lingkungan. Lingkungan dapat berupa lingkungan fisik yaitu keadaan rumah, udara, gizi. Lingkungan soaial budaya yaitu orang tua, sekolah, kelompok lain. Lingkungan sosial dapat membentuk prilaku dan sikap yang diharapkan dalam suatu lingkungan budaya. Individu belajar tentang peran sosial dari interaksinya dengan kelompok sosial budaya yang berkaitan. Interaksi antara hereditas dan lingkungan terjadi secara terus menerus sehingga lambat laun menumbuhkan perasaan adanya ”Aku”. Seseorang terbentuk apabila ia telah dapat membedakan apa yang merupakan dirinya, keinginannya dengan apa yang merupakan kenyataan yang ada diluar dirinya.[15]

Interaksi kepribadian atau ”Aku” individu dengan lingkungan dapat menimbulkan setres yang dapat diatasi dengan baik dan yang tidak dapat diatasi dengan baik, untuk menjelaskan terjadinya tingkah laku abnormal maka harus melihat tingkah laku tersebut dalam kaitannya dengan frustasi dan sebagai usaha mengatasinya.[16] Gangguan mental merupakan bentuk penyimpangan dari pola pikir, emosi, prilaku, persepsi, yang menyimpang dari suatu norma sosial dan menimbulkan kelemahan sosial.[17]

Dalam diri manusia terkandung makna atau nilai personal yang tidak bisa dikwantifikasi dan tidak bisa dijelaskan secara biologis sehingga tidak bisa disubordinasikan atau direduksikan pada angka-angka (statistik) dan pengukuran fisik mekanistik (biologis). Oleh karena itu, untuk mengungkap individunya secara utuh dan menyeluruh diperlukan pendekatan yang bersifat intersubjektif. Metode atau pendekatan yang tepat untuk mengungkap eksistensi manusia tersebut adalah analisis eksistensial. Dalam ilmu psikologi pendekatan ini termasuk dalam pendekatan humanistik atau psikologi humanistik. Pada umumnnya terapi eksistensial bertujuan agar klien memperluas kesadaran diri klien akan keberadaanya dan kebermaknaannya serta bagaimana ia dapat mengoptimalkan seluruh potensi-potensi yang dimilikinya.

Tentunya hal yang tak kalah pentingnya adalah pada pendekatan eksistensial ini, manusia harus dapat bertanggung jawab terhadap segala keputusan dan pemikirannya. Hal ini bukan sesuatu yang mudah dimana manusia harus bertanggung jawab terhadap menjadi apa dia sekarang dan menjadi apa dia selanjutnya. Sebab dalam prosesnya tidak ada sesuatu pun yang dapat menjamin bahwa keputusan-keputusan yang diambilnya itu merupakan keputusan yang baik. Disinilah molai akan muncul kecemasan eksistensial.

Sehubungan dengan kecemasan eksistensial itulah konselor bertujuan membantu klien agar mampu menghadapi kecemasan ketika mengambil tindakan, mengambil keputusan untuk dirinya dan menerima kenyataan terhadap hal-hal yang terjadi diluar dirinya sebagai kekuatan-kekuatan deterministik semata.[18]

Pendekatan eksistensial meletakkan kebebasan, determinasi diri, keinginan dan putusan pada pusat keberadaan manusia. Jika kesadran dan kebebasan dihapus dari manusia maka dia tidak lagi hadir sebagai manusia, sebab kesanggupan-kesanggupan itulah yang memberinya kemanusiaan. Pandangan eksistensial adalah bahwa individu dengan putusan-putusannya membentuk nasib dan mengukir keberadaan sendiri, seseorang menjadi apa yang diputuskannya, dan dia harus bertanggung jawab atas jalan hidup yang ditempuhnya.[19]

  1. 2. Kesimpulan Diagnosa

Dari data-data yang penulis peroleh, subyek mengalami gangguan traumatik fobia sosial dikarenakan shock, kesedihan yang berlarut-larut, setres yang berkepanjangan sehingga membuat korban mengalami penderitaan. Sebab-sebab itulah yang dialami subyek, seperti kesedihannya ketika teringat keadaan ayahnya yang sakit parah dan subyek tidak bisa berbuat apa-apa. Kemudian ketika lingkungannya tidak menerima subyek apa adanya subyek menjadi schock hingga berujung pada depresi tingkat sedang. Adapun diagnosa yang penulis peroleh menurut buku panduan PPDGJ=III adalah sebagai berikut:

Diagnosis multiaksial pada subyek adalah AKSIS IV masalah psikososial dan lingkungan. Pedoman diagnosisi semua kriteria dibawah ini harus dipenuhi untuk diagnosis pasti.

  1. Gejala psikologi, prilaku atau otonomik yang timbul harus merupakan manifestasi primer dari anxietasnya dan bukan sekedar dari gejala-gejala lain seperti waham atau pikiran obsesif.
  2. Anxietasnya harus mendominasi atau terbatas pada situasi sosial tertentu.
  3. Memutuskan hubungan persahabatan dan juga menghindari situasi fobik sudah merupakan gejala yang menonjol.[20]

BAB III

PEMBAHASAN

  1. A. Treatment/Perkiraan Treatment

Dari apa yang telah disampaikan, penulis akan memperkirakan treatment untuk subyek dari trauma fobia sosial yang telah dialaminya. Pertama penyebab dari taruma adalah sesuatu “yang lain” dari taruma itu sendiri. Kedua trauma mempunyai kecenderungan untuk mengalami peningkatan intensitas. Selama sebab dari trauma itu masih ada, selama itu pula intensitas trauma akan terus meningkat. Ketiga trauma akan terus ada walaupun sebabnya sudah tidak ada, trauma tidak langsung lenyap ketika sebabnya sudah tidak ada ”selama korban dan keturunannya masih hidup”. Dan keempat taruma akan berlangsung selama-lamanya. Bahkan jika orang yang mengalami dan keturunannya sudah tidak ada, trauma akan terus ada dan menjadi semacam legenda tragis dari masa lalu.[21]

Dari treatment yang diberikan kepada subyek diharapkan akan membantu subyek untuk memahami bagaimana ia dibentuk dengan pengalaman-pengalaman masa–lalunya, dia akan mampu mengendalikan fungsi dirinya sendiri sekarang, ketakutan-ketakutan yang irasional serta pemikiran-pemikiran yang negatif akan menjadi disadari dan kemudian energi -ketakutannya tidak akan tetap terpaku mempertahankan dirinya dari perasaa-perasaan yang tak ia sadari.[22]

  1. B. Prognosa

Hambatan dan dukungan yang akan dialami subyek dalam mengaktualisasikan treatment adalah:

  1. Apabila ketika subyek sedang berusaha mengalahkan rasa sedih, takut dan sebagainya akan tetapi ada orang lain yang menyakitinya lagi maka trauma itupun akan semakin menguat pada pikiran dan alam bawah sadarnya.
  2. Teman-teman yang kondusif akan membuat subyek merasa lebih aman.
  3. Lingkungan yang mendukung subyek untuk memunculkan sebuah kepercayaan bahwa orang-orang yang ada disekitar subyek adalah baik.
  4. Apabila hubungan fundamental antara subyek dan kedua orang tuanya/ pengasuhnya tidak tercipta maka subyek akan selalu merasa hidup sendiri dalamketakutan dan kegelisahan.
  1. C. Hasil Sukses/Tidak Treatment

Dari treatment yang sudah diberikan kepada subyek, penulis mengamati adanya perubahan pada tingkah laku yang selama ini subyek khawatirkan dan membuat subyek cemas, schoch, kesedihan dan setres terhadap seseorang yang pernah menyakitinya, dan terhadap lingkungannya yang belum bisa menerima subyek apa adanya, karena subyek khawatir terhadap trauma yang pernah dialaminya.

Kemudian untuk memerangi hal-hal semacam itu subyek berusaha menghindari orang-orang yang pernah menyakitinya dengan memutuskan tali persahabatan. Dan subyek lebih menyukai sendirian kadang juga menghabiskan waktunya untuk aktifitas tau mencari kegiatan ketika gejala-gajala tersebut mulai muncul dan merasuki pikirannya.

  1. D. Hambatan dan Dukungan

Hambatan yang dialami penulis adalah tempat yang kurang kondusif untuk pencarian data, ketika subyek ingin mengutarakan apa yang ia anggap masalah akan tetapi teman-teman subyek datang ikut mendengarkan sehingga subyek merasa kurang nyaman, merasa enggan dan malu. Disamping itu ketika penulis dalam proses pencarian data banyak dari tim PPL yang ikut bergabung sehingga penulis merasa terganggu dan tdak bisa fokus terhadap subyek, jadwal kegiatan panti yang begitu padat sehingga penulis mengalami kesulitan untuk melakukan wawancara dan mencari informasi tetang subyek.

Sedangkan dukungan yang diperoleh enulis dalah subyek mau terbuka dan antusias pada penulis karena merasa akrab dan diperhatikan. Pengasuh serta teman-teman yang mudah untuk dimintai keterangan dan informasi sehingga mempermudah proses pencarian data. Cara berpikir subyek yang mendukung penulis untuk memberikan tratmen.

BAB VI

PENUTUP

  1. A. Kesimpulan

Subyek adalah Siti Solekah mengalami trauma fobia sosial dikarenakan subyek pernah disakiti oleh seseorang, subyek pernah dicaci maki didepan umum dihina dan difitnah oleh orang tersebut. Shingga adanya perubahan tingkah laku yang selama ini subyek khawatirkan dan membuat subyek cemas, shock, kesedihan dan setres terhadap seseorang yang pernah menyakitinya. Untuk hal tersebut subyek mencoba menghindari orang-orang yang pernah menyakitinya dengan cara memutuskan tali persahabatan dengan mereka. Disatu sisi ketika subyek mengalami kesedihan yang mendalam saat ingat keadaan bapaknya sedang sakit dan muntah darah, subyek mencoba mencari kesibukan untuk menghilangkan rasa kesedihan itu.

Dari data-data yang penulis peroleh, subyek mengalami gangguan traumatik fobia sosial dikarenakan dirinya pernah disakiti oleh teman seniornya, juga subyek merasa sedih ketika teringat bapaknya yang sedang sakit, dan yang lebih parahnya lagi keadaan subyek belum bisa diterima oleh lingkungan sekitarnya. Sehingga subyek menjadi kurang percaya diri. Diagnosis multiaksial pada subyek adalah AKSIS IV masalah psikososial dan lingkungan.

Analisa yang didapatkan penulis dari kasus diatas ada beberapa treatment yang digunakan penulis sebagai terapi eksistensial-humanistik untuk menyembuhkan terauma psikis yang dialami oleh subyek. Dari treatmen yang diberikan kepada subyek diharapkan akan membantu subyek untuk memahami bagaimana ia dibentuk dengan pengalaman-pengalaman masa lalunya, dia akan mampu mengendalikan fungsi dirinya sendiri sekarang, ketakutan-ketakutan yang irasional dan pemikiran-pemikiran yang negatif akan menjadi disadari dan kemudian energi ketakutannya tidak akan tetap terpaku mempertahankan dirinya dari perasaan-perasaan yang tak ia sadari.

  1. B. Saran

Dunia anak-anak adalah dunia yang mengasyikkan, disinilah masa-masa kebahagiaan bagi mereka, untuk berkembang dan mencari-tahu serta mengenal lingkungan sekitarnya karena setiap masa bagi anak-anak mempunyai fungsi tersendiri. Tak seharusnya kekerasan itu sebagai jalan untuk mengatasi masalah bagi anak, karena mereka butuh kasih sayang dan yang tidak kalah pentingnya adalah sebuah perhatian dan pengertian bukan kekerasan.

Dinegeri ini masih banyak anak-anak yang tidak mendapat perhatian dari orang tuanya, serta lingkunmgan sekitarnya, terabaikan hak-haknya, kasih sayangnya hingga mendapatkan perlakuan yang tidak wajar. Sebenarnya mereka adalah sumber inspirasi bagi kita dan sekaligus sebagai amanat yang senantiasa harus kita jaga sampai benar-benar mereka menjadi orang yang mandiri.

Menurut penulis masa lalu bukanlah segala-galanya untuk menentukan hidup seseorang, akan tetapi masa lalu adalah sesuatu yang harus kita pikirkan untuk diambil sebuah kemanfaatannya. Setiap orang mempunyai masa lalu, baik masa lalu yang menyenangkan ataupun masa lalu yang menyedihkan. Akan tetapi masa lalu yang buruk tidak selamanya membuat masa depan seseorang menjadi buruk pula, keburukan akan seseorang didapatkan bukan karena masa lalunya tapi masa sekarang yang tidak dimaksimalkan sebaik-baiknya.

Dari itu penulis menyarankan khususnya untuk diri penulis sendiri dan umumnya untuk semua pembaca, bahwa hidup seseorang untuk seseorang itu sendiri, bukan untuk orang lain. Keputusan seseorang untuk seseorang itu sendiri dan bukan untuk orang lain. Ketika seseorang mengambil keputusan yang salah dan persepsi yang salah pula dan yang ia anggap benar, maka langkah untuk menuju masa depan yang sempit akan didapatkan, langkahnya terbatas, pikirannya dangkal dan hanya pemikiran emotif yang akan ia dapatkan. Dari hal itu penulis sarankan berkumpullah dengan orang-orang pandai dan bijak, bukan bijaksana saja juga bijaksini, yang mengetahui apa-apa yang belum kita ketahuai.

Dengan tulisan yang penulis sajikan ini, penulis berharap para pembaca tidak puas dengan berhenti sampai disini, tapi kami berharap ada saran masukan kritik dan lain-lain. Yang nantinya akan dapat mengacu pada penelitian yang lebih baik lagi, dan apabila dalam penulisan ini terdapat kesalahan dalam penulisan ataupun kata-kata yang kurang berkenan dihati para pembaca penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya dan yang seikhlas-ikhlasnya. Oleh karena itu hanya kepada Allah-lah kami memohon agar segala usaha ini ada manfaatnya bagi pembaca maupun bagi penulis sendiri. Semoga bermanfaat di dunia dan di akherat. Amien.

LAMPIRAN DATA ASLI

IDENTIFIKASI MASALAH SUBYEK

  • Menurut Saudara Ahmad Muzamil 20 tahun (orang kepercayaan Bapak Ahmad Suhari)

Menurut saya dia anak yang sopan, cool, ramah, yang jelas dia anak yang baik tidak suka jajan, penampilannya sederhana tapi juga oke………???

Anaknya jujur, pandai menghargai waktu, rajin belajar juga cerdas………???

Oh ya… hampir aku lupa dia anaknya pendiam.[23]

  • Menurut Bapak Ahmad Suhari 47 tahun (Pengasuh Panti Asuhan Ar-Radiyah)

Siti Solekah berasal dari keluarga yang miskin, ibunya adalah seorang PRT (Pembantu Rumah Tangga) sedangkan bapaknya adalah seorang ofice boy. Penghasilan orang tuanya untuk mencukupi kebutuhan keluarganya pun pas-pasan, apalagi untuk membiayai sekolah kedua anaknya. Makanya Siti Solekah dititipkan disini.

Disamping itu keharmonisan antara kedua orang tuanya pun tidak terjaga, keduanya sering cekcok mulut. Terkadang ayahnya sampai beberapa bulan tidak pulang. Orang tuanya berangkat kerja pagi hari pulangnya malam, kadang juga tidak pasti. Kalau orang tuanya bekerja dia ikut sama Simbahnya.

Pertama kali dia tinggal disini ya…? sama kaya anak-anak yang lain. Satu dua hari kelihatannya murung sedih ya…? mungkin itu proses adaptasi karna mungkin anak itu masih teringat sama kampung halamannya, sama keluarganya. Tapi setelah seminggu dua minggu dia sudah bisa adaptasi dengan lingkungan disini, dengan teman-temannya, dan sudah berani bergaul sama teman-temannya.

Selama disini sepengetahuan saya dia anak yang baik, sopan, pandai menghormati yang tua, andhap ashor, tawahdu. Dia anak yang penurut dan cerdas meskipun dia sedikit pendiam.

Kurang lebih empat bulan yang lalu dia pernah kena kasus bersama lima temannya. Ketika itu mereka pada ngerumpi pada waktu malam hari sampai tidak tidur, akhirnya pada pagi harinya mereka tidak bisa bangun pagi dan mereka sakit semua mungkin masuk angin atau apalah saya tidak tahu pasti………

Lha iya………yang dingerumpiin itu apa lha wong wadon begadang ko’ semaleman kan tidak pantas………

Kemudian saya memarahi mereka semua hingga membentaknya dan saya mengatakan kalau sampai kalian mengulangi kedua kalinya maka kalian akan saya beri hukuman yang lebih berat. Saya meyakinkan kepada mereka supaya mereka tidak mengulanginya lagi.

Meskipun dia anaknya pendiam tapi dia anak yang ”sregepan” juga cekatan dibanding anak-anak yang lainnya. Terkadang anak-anak yang lain saya suruh ro’an mereka pada ngumpet, kadang juga pekerjaan belum selesai tapi yang tersisa tinggal satu dan dua anak saja. Beda dengan Siti kalau melakukan pekerjaan kalau semuanya belum beres dia tidak akan istirahat.[24]

  • Menurut Subyek Siti Solekah 13 tahun

Assalamu’alaikum Wr, Wb.

Pada suatu hari ibuku menawari tinggal di Panti Ar-Rodiyah ini, waktu itu aku tidak bisa menjawab karena dalam hatiku masih ada dua perasaan antara mau dan tidak. Mau karena aku kasihan sama orang tuaku, mereka bekerja berangkat pagi pulang malam untuk membiayai sekolahku dan kakakku. Aku pun waktu itu berpikir kalau aku disana pasti aku bisa sekolah kejenjang yang lebih tinggi dan pasti mempunyai pengalaman yang banyak. Tidak maunya nih kak??? Yaitu belum siap berpisah dengan keluarga, karena kalau aku di rumah mempunyai masalah sekecil apapun pasti ada yang mbantuin tapi kalu disana bagaimana??? itu yang menjadi aku bingung? Dan siapa yang mau mbantuin. Akhirnya setelah beberapa hari berpikir saya menjawab ya dan mau.

Setelah disana setiap pulang sekolah atau mau tidur pasti aku ingin nangis, apalagi kalu punya masalah banyak, tidak ada tempat curhat untuk aku.

Pada suatu hari aku disukai oleh seseorang karena aku tidak suka sama dia, aku jengkel sama dia, aku kesal sama dia, karena dia selalu memperhatikan tingkah lakuku. Aku ngaji disana dia mengikutiku aku bingung akhirnya aku menangis waktu itu karna aku belum pernah mengalami hal seperti ini.

Pada waktu lebaran aku berada di masjid lantai dua terus dia nyuruh-nyuruh anak-anak untuk turun supaya dia bisa minta ma’af sama aku. Mungkin dia malu kak ya sama anak-anak??? terus aku marah saat itu kak, kenapa mau minta maaf saja anak-anak disuruh turun kan aku jadinya takut dingapa-ngapain sama dia. Akhirnya saya memarahinya dan tidak bisa memaafkan. Diapun menangis aku pikir kenapa anak ini cengeng padahal kan cowok masa di begitukan kok nangis. Dan akhirnya aku menemukan seorang sahabat tapi kedekatanku sama dia tidak disukai teman-teman setelah lama aku bersahabat dengannya. Kemudian saudranya datang akhirnya aku ”dicuwekkin” perhatiannya tidak seperti dulu lagi sama aku. Perhatiannya ke aku berkurang, dia sifatnya sudah berubah tidak seperti dulu. Setelah itu aku berteman dengan teman yang dulu pernah aku benci ternyata aku sama dia bisa nyambung, tidak seperti sahabatku yang itu. Tapi ketika jauh dengannya aku merasa sudah tidak ada yang memerhatikan aku lagi. Walaupun aku saat ini cukup bahagia.

Teman-teman pada bilang kalau aku tidak berteman dengan sahabatku yang pertama, maka aku jadi lebih baik tidak ada masalah denganku karena waktu berteman dengannya masalah silih berganti seperti aku pernah dituduh pacaran dengan seseorang, padahal aku sama dia hanya berteman saja. Sampai-sampai aku diintrograsi kok kaya penjahat saja ya kak………??? ya mungkin teman-teman khawatir dan takut kalau kejadian sahabatku dulu akan menimpa aku. Yaitu sahabatku dulu pernah pacaran sampai-sampai kelewat batas akhirnya dihukum sama bapak.

Kak puri kenapa ya………??? aku ngersa sulit banget kalau pas pelajaran Bahasa Inggris dan Fisika. Dalam hal agama seperti Al-qur’an Hadits, Fiqih, Aqidah Akhlah aku lumayan bisa tapi pas baktu Bahasa Arab aku tidak bisa apa-apa, terus dalam hal hapalan kak kenapa ya aku itu kalau hapalan sulit sekali, tidak bisa masuk-masuk padahal sudah hampir satu jam aku mencoba menghapal. Terus gini kak kalau sudah hapal cepet hilang. Kak kasih solusi dong biar cepet dan mudah hapalan??? Kenapa kak ya………??? Ada apa dengan diriku apa aku memang sudah ditakdirkan seperti ini.

Kalau di kampung kan ada pak Kyai, ada juga pak Ustadz kebetulan saya punya Ustadz kak, katanya kalau pengen cepet hapalannya masuk dan bisa menguasai, hapalannya setelah bangun tidur dan setelah sholat maghrib apa betul kak………???

Kak Puri kalau aku ingat sama bapak, aku jadi sedih aku pengin menangis karena ketika itu bapak sedang sakit Ibu tidak punya uang untuk biaya berobat kedokter akhirnya bapak dirawat dirumah seadanya dirumah. Ketika itu bapak sakit dan muntah darah dan aku melihatnya sendiri. Sejak saat itu, kalau aku ingat bapak aku jadi kasihan,  sedih dan penginnya nangis aku merasa sebagai anak yang tidak berguna.

Ka Puri, di panti ini aku juga pernah disakiti sama teman, aku itu nggak tau kak? salah aku itu apa? tiba-tiba aku dikatain yang nggak-nggak bahkan kata-kata yang jorok, kata-kata kotor yang tidak pantas untuk dikatakan. Aku dituduh merampas pacarnyalah………, dikatain cewek ganjen, cewek gatelan dan sampai-sampai dia bawa-bawa orang tuaku segala, itulah yang membuat hatiku sakit kak, sampai saat ini aku sangat sakit aku nggak bisa melupakan kejadian itu setiap kali aku ingat aku selalu menangis.

Karena dengan kejadian itu aku tidak percaya lagi dengan adanya sahabat ternyata benar kata pepatah ”sahabat baru datang, sahabat lama dilupakan” yang aku inginkan adalah perhatian dari seorang teman dan yang masih membuat aku bingung adalah kenapa teman-teman tidak bisa menerima segala kekuranganku. Tetapi disini aku bertekad untuk bersungguh-sungguh mencari ilmu supaya bisa sukses dan membahagiakan orang tuaku.

Ini yang bisa aku sampaikan sama kak Puri………??? kalau ada kata-kata yang salah aku minta maaf karna itu datangnya dari diriku dan jika ada kebenaran itu datangnya dari Allah SWT.

Udah dulu ya kak……… bay???

Wasalamu’alaikum Wr. Wb

Dari

Siti Solekah

Dari hasil wawancara dengan obyek penelitian ini ditemukan beberapa data yang penting, berikut akan penulis sampaikan.

Penulis memberikan pertanyaan ”pengalaman apa yang kamu anggap pernah disakiti oleh orang lain” subyek menjawab di panti ini saya pernah disakiti sama teman, saya itu tidak tau salah saya itu apa tiba-tiba saya dikatain yang tidak-tidak bahkan kata-kata yang jorok, kata-kata yang kotor yang tidak pantas diucapkan. Bahkan saya dituduh merampas pacarnya, cewek ganjen, cewek gatelan dan sampai-sampai dia bawa-bawa orang tuaku segala. Itulah yang membuat hatiku sakit sampai saat ini aku masih sakit, aku belum bisa melupakan kejadian itu. Setiap kali aku ingat kejadian itu aku selalu menangis.[25]

Penulis melanjutkan pertanyaan lain dalam sebuah pertanyaan yang penulis ajukan yaitu ”bagaimana cara kamu menjadi teman yang baik” teman yang baik adalah teman yang bisa diajak susah, tidak sombong. Terus teman yang baik tidak bisa disamakan dengan banyang-banyang, meskipun bayang-bayang itu selalu ada dan mengikuti sebuah benda. Akan tetapi adanya bayang-bayang itu karena sebab adanya cahaya, jadi teman yang baik adalah seperti cahaya, yang selalu memberi penerangan disaat kita dalam kegelapan, selalu menolong disaat kita susah dan selalu ada disaat kita membutuhkan.

Penulis melanjutkan ”apakah ada masalah sampai saat ini yang membuatnya sedih” subyek mengatakan, dulu ketika subyek masih tinggal bersama kedua orang tuanya, saat itu bapak subyek sedang menderita sakit, dan kata keluarganya sakit yang diderita bapaknya adalah akibat diguna-guna oleh bosnya. Ketika sakitnya parah subyek melihat bapaknya muntah darah, sejak saat itu subyek merasa kasihan sama bapaknya dan setiap kali ingat kejadian itu subyek menjadi sedih sampai-sampai menangis, subyek merasa berdosa dan merasa dirinya tidak berguna.[26]

  • Menurut Isnaini 13 tahun (teman satu kampung)

Setahu saya dia anak yang baik kak………dia tidak pernah bermusuhan sama saya………peduli terhadap sesama, setia kawan lagi………meskipun anaknya agak pendiam tapi sebenarnya dia suka menolong temen, disaat temennya membutuhkan.

Gini kak dulu ketika saya lagi tidak punya uang, saya coba cari pinjaman keteman-teman, tapi mereka lagi tidak punya uang, akhirnya saya meminjam sama Siti eS………akhirnya saya dikasih pinjaman. Dia itu baik kak dia sering main kerumahku padahal rumahku agak jauh…???

Em…em…eeeh ini kak dia itu orangnya agak pendiam tapi pinter selalu dapat ranking tiga besar, kalau tidak dapat ranking dua ya………dapetnya ranking tiga. Karna setahu saya dia tidak pernah dapat ranking satu.[27]

  • Menurut Aziz Kurniawan 13 tahun

Saya kan baru setengah tahun di panti ini kak dan saya termasuk anak yang paling baru disini, jadi saya belum tau banyak tentang kepribadian Siti eS………yang saya tau dia anaknya baik, disiplin rajin belajar dan mudah bergaul, meskipun dia itu agak pendiam………

Cuman itu kak??? Kalau bisa pendiamnya itu dikurangin terus kalau bisa mulutnya dibuka lebar-lebar dan selalu senyum tidak cemberut terus………biar kelihatan cantik.[28]

  • Menurut Siti Maisarah 14 tahun (teman satu sekolahan)

Meskipun saya dan Siti eS tidak satu kelas tapi saya tau betul bagimana Siti di sekolahan kak??? setahu saya dia di sekolahan anaknya baik, tidak pernah kena kasus. Meskipun dia kelihatan pendiam tapi kalau di sekolahan dia kelihatan biasa-biasa saja, bergaul sama teman-temannya, ya…pokoknya seperti itulah kak???

Dia anaknya tidak suka jajan, paling-paling jajannya sekedarnya saja. Kalau lagi tidak punya uang ya paling-paling di kelas baca-baca buku kadang juga keperpustakaan…dia pandai menghargai waktu kak? disiplin dan rajin belajar tidak seperti aku belajar kalau pas lagi kumat………

Oh ya………Siti eS itu cerdas, pandai dan slalu dapet ranking tiga besar, udah dulu ya kak, udah malem besuk takut tidak bisa bangun pagi.[29]

  • Instrumen Treatment

Analisa yang didapat penulis dari kasus diatas, ada beberapa treatment yang digunakan penulis sebagai terapi eksistensial humanistik untuk penyembuhan trauma psikis yang dialami oleh subyek. Adapun treatment tersebut sebagai berikut:

  1. Apa yang akan kamu lakukan ketika kamu disakiti oleh teman kamu?
  2. Jika suatu hari teman yang pernah menyakiti kamu meminta ma’af apakah kamu mau memaafkannya?
  3. Jika suatu hari teman yang pernah menykiti kamu ingin bersahabat lagi denganmu apakah kamu mau menerimanya kembali?
  4. Pernahkah kamu berpikir untuk berbuat baik kepada teman yang pernah menyakitimu?
  5. Seberapa besar rasa bencimu terhadap teman yang pernah menyakitimu?
  6. Perlakuan apa yang kamu inginkan dari teman yang pernah menyakitimu sekarang?

[1] Untuk http://sidogiri.com/modules.php?name=News&file=print&sid=553.

[2] Untuk http://sidoarjokab.go.id/?content=08-lemb-non-pem/baz/berita_terkini.htm&menu=menus/menu-baz-1.htm&top=08-lem-non-pem/baz/top.htm.

[3] Suprapti Slamet dan Sumarmo Markam, Pengantar Psikologi Klinis, UI-Press, Cet ke-3, Jakarta 2006, hal 38-39.

[4] Elisabeth B. Horlock, Psikologi Perkembangan, Perc Erlangga, Cet. Ke-5, Jakarta 2005, hal 196

[5] Wawancara dengan Saudara Ahmad Muzamil tanggal 25 Nopember 2008 jam 15:30 WIB di Asrama Putra P.A Ar-Radiyah

[6] Wawancara Bapak Ahmad Suhari tanggal 27 Nopember 2008 jam 19:30 WIB di kantor Panti Asuhan Ar-Rodiyah

[7] Wawancara dengan Saudari Siti Solekah tanggal 23 Nopember 2008 jam 19:30 WIB di depan kantor Panti Asuhan Ar-Rodiyah

[8] Wawancara dengan Saudari Isnaini tanggal 5 Desember 2008 jam 19:30 WIB di depan Aula Panti Asuhan Ar-Rodiyah

[9] Wawancara dengan Saudara Aziz Kurniawan tanggal 2 Desember 2008 jam 21:30 WIB di depan Aula Panti Asuhan Ar-Rodiyah

[10] Wawancara dengan Saudari Siti Maisaroh tanggal 1 Desember 2008 jam 20:30 WIB di depan Aula Panti Asuhan Ar-Rodiyah

[11] Untuk http://info-sehat.com/inside-levwl 1.asp?intid=4&secid=45

[12] Op. Cit Elisabeth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan

[13] Ibid, hal 201

[14] Drs. M.S. Hadi Subrata M.A, Pengembangan Kepribadian Anak Balita, PT. BPK Gunung Mulia, Cet. Ke-3, Jakarta 1997

[15] Op. Cit, Suprapti Slamet dan Sumarmo Markam, Pengantar Psikologi Klinis, UI-Pres, Cet ke-3, Jakarta 2006, hal 39-39

[16] Ibid. Hal 40

[17] Ibid. Hal 57

[18] Untuk http://siar.endonesa.net/utty/2008/10/15/laporan-verbotim-dengan-pendekatan-eksistensialisme-sebuah-contoh.

[19] Gerald Corey, Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi, Penerbit PT. Refika, cet ketiga, bandung 1997 hal 297

[20] Rusdi Muslim, PPDGJ=III, hal 73

[21] Op. Cit, untuk http://siarendonesa.net

[22] Op. Cit, Gerald Corey, Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi, hal 297

[23] Wawancara dengan Saudara Ahmad Muzamil tanggal 25 Nopember 2008 jam 15:30 WIB di Asrama Putra  Panti Asuhan Ar-Radiyah

[24] Wawancara Bapak Ahmad Suhari tanggal 27 Nopember 2008 jam 19:30 WIB di kantor Panti Asuhan Ar-Rodiyah

[25] Wawancara dengan Saudari Siti Solekah tanggal 23 Nopember 2008 jam 19:30 WIB di depan kantor Panti Asuhan Ar-Rodiyah

[26] Wawancara dengan Saudari Siti Solekah tanggal 25 Nopember 2008 jam 19:30 WIB di depan Aula Panti Asuhan Ar-Rodiyah

[27] Wawancara dengan Saudari Isnaini tanggal 5 Desember 2008 jam 19:30 WIB di depan Aula Panti Asuhan Ar-Rodiyah

[28] Wawancara dengan Saudara Aziz Kurniawan tanggal 2 Desember 2008 jam 21:30 WIB di depan Aula Panti Asuhan Ar-Rodiyah

[29] Wawancara dengan Saudari Siti Maisaroh tanggal 1 Desember 2008 jam 20:30 WIB di depan Aula Panti Asuhan Ar-Rodiyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: