KONSEP WIHDATUL WUJUD SYAIKH SITI JENAR

Usaha manusia untuk berada sedekat-dekatnya, bahkan manunggalng dengan Tuhan adalah merupakan cermin kerinduan nurani manusia terhadap Tuhan-Nya. Usaha semacam ini merupakan gejala universal dan konstan, tidak terbatas oleh ruang dan waktu, terjadi di Barat maupun di Timur dari zaman dahulu sampai sekarang dan yang akan datang[1].

Perjalanan batin atau perjalanan nurani manusia dalam mencapai kesempurnaan hidup yakni berada sedekat-dekatnya dengan Tuhan itu disebut mistik. Dan oleh karena mistik ini senantiasa berkaitan dengan pengalaman keagamaan, maka mistik ada pada setiap agama, bahkan ada pada aliran-aliran pseudo-agama, yakni ajaran atau paham yang menyerupai agama. Pada agama-agama besar dunia terdapat mistik-mistik Hindu, Budha, Kristen, dan Islam. Sedangkan pada aliran yang menyeruai agama, kita mengenal mistik kebatinan. Mistik Islam dikenal dengan sbutan khas yakni tasawuf atau sufisme sebagiamana disebut oleh orientalis Barat, sedangkan mistik kebatinan karena bersumberkan dari budaya spiritual oaring Jawa, disebut sebagai mistik kejawen[2].

Kebatinan adalah persaksian bahwa manusia itu berasal dari Tuhan Yang Maha Esa. Kebatinan memberikan kesaksian bahwa “Tuhan Yang Maha Esa dengan Kawula itu tunggal (tidak berpisah) karena segala mubah musik kawula itu tak lain adalah mubah musik (kehendak, kekuatan Tuhan[3].”

Antara manusia dengan Tuhan ibarat gula dengan manisnya. Wujud gula adalah ibarat wujud Tuhan yang ada pada badan manusia, dan rasa manis ibarat rasa Tuhan, Zat Tuhan yang ada pada rasa atau batin manusia. Antar keduanya tidak dapat dipisahkan walaupun antara yang satu dengan lainnya berbeda namanya. Tidak ada gula tanpa rasa manis, begitu sebaliknya tidak ada rasa manis tanpa adanya gula. Kesatuan antara gula dengan rasa manis atau kesatuan manusia dengan Tuhan disebut “Gusti kawulo-kawulo Gusti[4].”


[1] Drs. H. Ridin Sofwan, Menguak Seluk Beluk Aliran Kebatinan, CV. Aneka Ilmu, Semarang, 1999, p 99

[2] Ibid

[3] Drs. Abd. Mutholib Ilyas dan Drs. Abd. Ghofur Imam, Aliran Kepercayaan dan Kebatinan di Indonesia, CV. Amin, Surabaya, 1988, p 91

[4] Ibid

Dari beberapa keterangan diatas peneliti memperoleh gambaran mengenai perbedaan pandangan tentang konsep wihdatul wujud antara ajaran tasawuf dan syari’ah :

  1. Ajaran wihdatul wujud, yang hal ini dikembangkan oleh Syaikh Siti Jenar sangat dianjurkan kepada semua pengikutnya karena seseorang yang sudah mencapai tingkatan kesufian yang paling puncak maka dia merasa bahwa Allah telah menyatu dengan dirinya, sehingga semua tingkah lakunya menyerupai tingkah laku Allah dan meninggalkan semua kewajiban – kewajiban yang diperintahkan oleh-Nya.
  2. Dalam pandangan syari’ah ajaran wihdatul wujud yang dikembangkan oleh Syaikh Siti Jenar, hal ini sangat dijauhi bahkan harus dimusnahkan karena semua ajaran – ajarannya  dapat merubah kepercayaaan kita kepada Allah serta dapat mencelakakan umat Islam.

Oleh karena itu peneliti ingin membahas tentang bagaimanakah konsep wihdatul wujud Syaikh Siti Jenar dalam pandangan tasawuf dan syari’ah.

1 Komentar

  1. dsss said,

    Desember 29, 2010 pada 2:38 am

    Wahai Wahabi kembalilah ke Sunnah dan Alquran datangilah para Ulama’


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s