<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Asfuriahmad&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://asfuriahmad.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://asfuriahmad.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Thu, 01 Dec 2011 13:08:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='asfuriahmad.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/2661343b494529b256961a6d54425506?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Asfuriahmad&#039;s Blog</title>
		<link>http://asfuriahmad.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://asfuriahmad.wordpress.com/osd.xml" title="Asfuriahmad&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://asfuriahmad.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Pemikiran Hasyim Asy’ari tentang Etika Murid terhadap Guru dalam Pembentukan Akhlak al-Karimah</title>
		<link>http://asfuriahmad.wordpress.com/2011/10/10/pemikiran-hasyim-asy%e2%80%99ari-tentang-etika-murid-terhadap-guru-dalam-pembentukan-akhlak-al-karimah/</link>
		<comments>http://asfuriahmad.wordpress.com/2011/10/10/pemikiran-hasyim-asy%e2%80%99ari-tentang-etika-murid-terhadap-guru-dalam-pembentukan-akhlak-al-karimah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Oct 2011 09:22:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>asfuriahmad</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://asfuriahmad.wordpress.com/?p=126</guid>
		<description><![CDATA[A.     Implementasi Pemikiran Hasyim Asy’ari tentang Etika Murid terhadap Guru dalam Pembentukan Akhlak al-Karimah Telah dipaparkan pada bab-bab sebelumnya, bahwa Hasyim Asy’ari merupakan tokoh pendidikan yang banyak mencurahkan gagasan mengenai etika murid terhadap guru yang melandasi ajarannya dengan penekanan religious ethic. Etika religius ini, di dasarkan atas keimanan sehingga proses pencarian ilmu itu merupakan bagian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asfuriahmad.wordpress.com&amp;blog=8304576&amp;post=126&amp;subd=asfuriahmad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<ol>
<li><strong>A.     </strong><strong>Implementasi Pemikiran Hasyim Asy’ari tentang Etika Murid terhadap Guru dalam Pembentukan Akhlak al-Karimah</strong></li>
</ol>
<p>Telah dipaparkan pada bab-bab sebelumnya, bahwa Hasyim Asy’ari merupakan tokoh pendidikan yang banyak mencurahkan gagasan mengenai etika murid terhadap guru yang melandasi ajarannya dengan penekanan <em>religious ethic. </em>Etika religius ini, di dasarkan atas keimanan sehingga proses pencarian ilmu itu merupakan bagian dari realisasi iman dan sekaligus untuk menjaganya dalam rangka mencari ridha Allah. Dalam kerangka praksisnya, mencari ilmu senantiasa harus mengacu pada etika dan memperhatikan kemanfaatan (<em>al-ilmu al-naf</em>).</p>
<p>Menurut baliau hal ini, hanya dapat dihasilkan apabila etika murid terhadap guru dilaksanakan secara baik sesuai dengan aturan dalam kegiatan belajar mengajar yang berdasarkan kepada akhlak. Mengapa demikian, karena menurut beliau  adanya etika religius  itu merupakan komponen yang menjadi indikator dan prasyarat keberhasilan dalam pendidikan. Sehingga dalam kontek ke kinian dengan adanya penekanan etika religius ini sangat sesuai dengan tujuan pendidikan nasional sebagaimana dalam UU No. 20 Tahun 2003 Bab II Pasal 3. Yaitu:</p>
<p>“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.<a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Pasal tersebut, menunjukkan bahwa pendidikan nasional mempunyai tujuan membentuk:</p>
<ol start="1">
<li>Pribadi yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa.</li>
<li>Manusia sebagai pribadi yang berakhlak mulia, sehat, kreatif dan mandiri</li>
<li>Warga Indonesia yang demokratis dan bertanggungjawab.</li>
</ol>
<p>Sebagai landasan moral bangsa Indonesia, rumusan tujuan pendidikan nasional, sangat tepat kalau dikembangkan dijalur pendidikan. Hal ini, karena tujuan pendidikan nasional tidak hanya menyangkut aspek domain kognitif, afektif dan psikomotorik, akan tetapi rumusan itu juga menyentuh pada aspek iman dan takwa. Dengan demikian, relevansi pemikiran beliau tersebut terletak pada aspek pembentukan akhlak mulia. Sebagaimana tercantum dalam UU No. 20 Tahun 2003 Pasal: 3. Aspek akhlak mulia ini, merupakan aspek kejiwaan yang lebih abstrak, berupa filsafat hidup dan kepercayaan (iman dan takwa). Dan aspek ini juga, mengarahkan serta memberi corak kepada seluruh kehidupan individu yang di sebut dengan hati yang berpusat pada <em>personality.</em></p>
<p>Jadi, apa yang menjadi tujuan pendidikan nasional itu pada dasarnya sudah ditekankan oleh Hasyim Asy’ari. Dengan demikian, dalam kontek ke kinian, pemikiran beliau patut direspon dan ditumbuhkembangkan dalam rangka mencapai fungsi dan tujuan pendidikan nasional, yakni mengembangkan kemampuan dan membentuk akhlak serta peradaban bangsa yang bermanfaat dalam rangka mencerdaskan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berilmu, serta menjadi negara yang demokratis dan bertanggungjawab. Hal ini juga dipertegas oleh Abidin Ibnu Rusn, bahwa potensi-potensi manusia akan bermafaat hanya jika digali melalui pendidikan.<a title="" href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Sangat jelas sekali, bahwa proses pembelajaran tidak hanya sekedar di arahkan pada penguasaan ilmu pengetahuan. Lebih dari itu, ia mampu membentuk akhlak yang sempurna dan mengoptimalisasikan akhlak dan religiusitas dalam setiap unsur pendidikan. Hal ini akan mudah terjalin keharmonisan dalam proses pembelajaran. Karena di dalamnya terdapat nilai-nilai demokratis, keterbukaan, kemanusiaan, eksistensi murid diakui dan diperlakukan dengan manusiawi diberikan hak untuk mengemukakan pendapatnya, bertanya, mengkritik dan diperlakukan sesuai dengan bakat dan potensi.<a title="" href="#_ftn3">[3]</a>  Jadi hal ini, tidak akan membunuh kreatifitas murid, juga mendorong terciptanya akhlak yang mulia dalam pendidikan, sebagaimana itu menjadi cita-cita dan tujuan pendidikan Islam</p>
<p>Karena dengan hal itu, kita akan merasa mudah mencari format pendidikan Islam yang benuansa akhlak al-karimah. Mengingat keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan banyak ditentukan oleh adanya etika dan religius dalam setiap proses pembelajaran. Dalam hal ini, dipertegas oleh Athiyah al-Abrozy  bahwa pendidikan budi pekerti atau akhlak merupakan jiwa dari pendidikan Islam, dan Islam menyimpulkan bahwa pendidikan budi pekerti adalah jiwa pendidikan Islam. Mencapai suatu akhlak sempurna merupakan tujuan sebenarnya dari pendidikan Islam.<a title="" href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Berbeda dengan pendidikan Barat yang hanya mengutamakan pengajaran pengetahuan <em>an-sich, </em>yang menitikberatkan pada segi empirik, tidak mengalami eksistensi jiwa dan tidak mempunyai arah yang jelas serta jauh dari landasan spiritual. Dalam kontek lebih khusus lagi, hal ini, merupakan realitas bahwa pendidikan Barat tidak mengarahkan perhatiannya pada masalah moral dan etika. Kalaupun ada pendidikan nilai, maka nilai target tersebut adalah humanistik semata dam bersifat <em>antroposentris.</em> Paradigma seperti ini, akan berakibat hilangnya nilai-nilai etika dan <em>transendental</em> dalam pendidikan yang akhirnya justru menimbulkan dehumanisasi, bukan lagi <em>humanizing of human being.</em><a title="" href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Kondisi seperti di atas, disadari atau tidak telah mengalami pergeseran nilai dan orientasi pendidikan Islam yang awalnya bertujuan membentuk karekter anak didik dan membentuk etika relegius, ternyata secara metodologis justru lebih banyak terjebak dalam pola pendidikan satu arah bersifat pengajaran semata. Kondisi seperti ini pada akhirnya akan kembali menimbulkan krisis moral dan kegamaan.</p>
<p>Melihat kondisi seperti itu, maka kontribusi yang akan diberikan oleh beliau adalah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Orentasi tujuan pendidikan yang mempunyai arah jelas ke ukhrawi.</li>
</ol>
<p>Dalam hal ini, akan terjadi keseimbangan antara jasmani dan rohani. Keseimbangan ini akan menjadi dasar untuk mencapai kebahagiaan  yang sempurna. Dengan adanya tujuan ke arah ukhrawi, maka perkembangan pendidikan tidak hanya terfokus pada <em>transfer of knowledge</em> dengan pengajaran semata.</p>
<ol>
<li><em>2.         </em>Penyertaan religius dalam setiap unsur proses belajar mengajar</li>
</ol>
<p>Adapun yang dimaksud adalah berusaha membuat suasana keagamaan dalam proses pendidikan. Dan ini, mempunyai peran besar  dalam menumbuh kembangkan moral dan spiritual peserta didik. Karena suasana religius dan membiasakan akhlak dalam setiap kegiatan belajar mengajar merupakan langkah maju menuju cita-cita keseimbangan  dunia dan akhirat.</p>
<ol>
<li><em>3.         </em>Optimalisasi  religius terhadap guru dan murid.</li>
</ol>
<p>Tentang optimalisasi religius terhadap guru dan murid merupakn konsep untuk pengamalan secara maksimal terhadap ajaran-ajaran Islam. Dalam kontek ini, ajaran  agama tidak boleh hanya dikuasai sebagai pengetahuan, melainkan pengamalan yang mengkristal dalam diri kita. Optimalisasi religius ini menitikberatkan pada individu guru dan murid. Kalau dilihat secara seksama, pemikiran Hasyim Asy’ari berusaha membuat dasar bangunan masyarakat moral religius melalui pembinaan moral.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h2>B.     Kelebihan dan Kelemahan Pemikiran Hasyim Asy’ari</h2>
<p>Pada bab III telah disebutkan secara sistematis dan rinci mengenai pemikiran Hasyim Asy’ari tentang hubungan guru dan murid. Maka pada bab IV ini akan penulis jelaskan tentang kelebihan dan kelemahan:</p>
<ol>
<li><strong>1.   </strong><strong>Kelebihan</strong></li>
</ol>
<p>Beberapa kelebihan pemikiran Hasyim Asy’ari dapat dilihat dari beberap hal. <em>Pertama</em>, bahwa pemikiran Hasyim Asy’ari sangatlah humanis dan religius, sehingga apa yang menjadi ajarannya menjadi bahan acuan yang sangat penting dalam mengembangkan komunitas pendidikan yang <em>respec</em> terhadap nilai-nilai  kemanusiaan dan religiusitas. Berbeda dengan pendidikan di Barat yang hanya menekankan pada aspek humanis saja dan melupakan aspek religius. Sehingga pendidikan tersebut hanya bersumber pada ilmu pengetahuan  atau <em>transfer of knowledge </em>saja.</p>
<p><em>Kedua</em>, adanya profesionalisme guru harus benar-benar qualified, baik secara keilmuan yang menjadi spesifikasi maupun keilmuan pendukung lainnya. Bagi Imam Ghazali profesionalisme guru tidak begitu diprioritaskan, ini bisa dibuktikan dengan pemaknaan beliau terhadap makna <em>Uztas</em> yang mempunyai pengertian suri tauladan. Padahal makna dari kalimat <em>uztas </em>mempunyai sebuah pengertian profesor yang  bermakna mempunyai spesifikasi dalam bidang keilmuan. Jadi bisa disimpulkan bahwa pemikiran Hasyim Asy’ari sangatlah cemerlang dan tanggap terhadap perubahan yang muncul. <em>  </em></p>
<p><em>Ketiga</em>, bahwa pemikiran Hasyim Asy’ari dalam kitab <em>”Adab al-Alim wa al-Muta’allim”</em> lebih terfokus pada terjadinya keseimbangan dalam berhubungan, baik dalam etika belajar atau di luar belajar. Dengan kata lain, bahwa guru dan murid mempunyai etika masing-masing dalam berhubungan (balance). Hal ini, bisa dilihat dalam <em>muqoddimah </em>kitab <em>Adab al-Alim wa al-Muta’allim.</em></p>
<p><em>Keempat</em>, Hasyim Asy’ari menganggap bahwa ilmu bukan hanya didapat dari pengamatan dan penalaran, tetapi juga kebersihan hati. Sementara alran progressivisme menganggap bahwa ilmu adalah suatu bersumber dari realitas inderawi dan tidak ada hubungannya dengan kebersihan hati.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>2.      </strong><strong>Kelemahan</strong></li>
</ol>
<p>Beberapa kelemahan pemikiran Hasyim Asy’ari dapat dilihat dari beberapa hal: <em>Pertama</em>, pemikiran Hasyim Asy’ari lebih dekat dengan konsepsi kaum sufi, dimana murid harus menghormati guru, yang dalam batas-batas tertentu terkesan berlebihan. Sehingga kondisi seperti ini, siswa tidak mempunyai kebebasan dalam mengungkapkan ide-ide pikirannya.</p>
<p><em>Kedua</em>, pemikiran Hasyim Asy’ari tentang  proses pembelajaran lebih berpusat kepada guru (<em>center teacher</em>). Dalam hal ini, hubungan dalam batas-batas tertentu menekankan penghormatan yang terkesan berlebihan tersebut dengan sendirinya penempatan guru pada posisi sangat dominan dalam proses pembelajaran.  Sementara dalam dunia pendidikan saat ini, perlu adanya konsep <em>cilderen center </em>karena dalam proses pendidikan anak didik di samping sebagai  obyek juga sebagai subyek dari pendidikan. Mengapa demikian, karena anak didik perlu mendapatkan kesempatan yang cukup untuk bebas dan sebanyak mungkin mengambil bagian dalam kejadian-kejadian yang berlangsung di sekitarnya.</p>
<p><em>Ketiga</em>, menurut Hasyim Asy’ari  tujuan pendidikan adalah untuk membentuk manusia individu dan masyarakat yang baik. Namun ukuran baik manusia menurut Hasyim Asy’ari adalah berstandar pada agama. Jadi seakan-akan Hasyim Asy’ari mengabaikan aspek sosiologis dalam masyarakat.</p>
<div></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Undang-Undang Tahun 2003, <em>Tentang Pendidikan Nasional dan Penjelasannya,</em> (Jakarta: Eko Jaya, 2003), hlm. 4</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Abidin Ibnu Rusn, <em>Pemikiran Al-Ghazali Tentang Pendidikan,</em> (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998), 138</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> Abudin Nata,<em> Perspektif Islam Tentang Hubungan Guru-Murid: Studi Pemikiran Tasawuf Al-Ghazali,</em> (Jakarta: Raja Grafindo, 2001), hlm. 1114</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> Athiyah al-Abrozi,<em> Dasar-Dasar Pokok Pendidikan</em>, (Jakarta: Bulan Bintang, 1974), hlm. 15.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> Ismail, SM, Paradigma Pendidikan Islam Syekh Naquib al-Attas, dalam Ruswan Thoyyib dan Darmu’in, <em>Pemikiran Pendidikan Islam Kajian Klasik dan Kontemporer,</em> (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997), hlm. 295</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asfuriahmad.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asfuriahmad.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asfuriahmad.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asfuriahmad.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/asfuriahmad.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/asfuriahmad.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/asfuriahmad.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/asfuriahmad.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asfuriahmad.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asfuriahmad.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asfuriahmad.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asfuriahmad.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asfuriahmad.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asfuriahmad.wordpress.com/126/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asfuriahmad.wordpress.com&amp;blog=8304576&amp;post=126&amp;subd=asfuriahmad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asfuriahmad.wordpress.com/2011/10/10/pemikiran-hasyim-asy%e2%80%99ari-tentang-etika-murid-terhadap-guru-dalam-pembentukan-akhlak-al-karimah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c978a72734be85dc6f9b3d6cb47d6db4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">asfuriahmad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menepis Gagasan Ide Pluralisme</title>
		<link>http://asfuriahmad.wordpress.com/2011/04/01/menepis-gagasan-ide-pluralisme/</link>
		<comments>http://asfuriahmad.wordpress.com/2011/04/01/menepis-gagasan-ide-pluralisme/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Apr 2011 02:27:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>asfuriahmad</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://asfuriahmad.wordpress.com/?p=122</guid>
		<description><![CDATA[Tujuan artikel ini mencoba mempertanyakan kembali pentingnya memahami dasar epistemologi pluralisme, sebagai sebuah paradigma kesatuan agama-agama yang sekarang ini sedang diusung oleh pelbagai kalangan. Alasannya, mereka beranggapan bahwa persoalan-persoalan pelbagai konflik, termasuk konflik agama ditenggarai oleh cara pandang ekslusivisme dalam beragama, sehingga agama hanya “seonggok” doktrin dan kepercayaan yang tidak dapat mengantisipasi dan memberikan solutif [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asfuriahmad.wordpress.com&amp;blog=8304576&amp;post=122&amp;subd=asfuriahmad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Tujuan artikel ini mencoba mempertanyakan kembali pentingnya memahami dasar epistemologi pluralisme, sebagai sebuah paradigma kesatuan agama-agama yang sekarang ini sedang diusung oleh pelbagai kalangan. Alasannya, mereka beranggapan bahwa persoalan-persoalan pelbagai konflik, termasuk konflik agama ditenggarai oleh cara pandang ekslusivisme dalam beragama, sehingga agama hanya “seonggok” doktrin dan kepercayaan yang tidak dapat mengantisipasi dan memberikan solutif terbaik krisis bagi kemanusiaan dan kemoderrenan ini. Inilah <em>raison d’etre</em>nya, kenapa mereka mengusung dan mempromosikan teologi inklusif (baca: pluralisme).</p>
<p style="text-align:justify;">Bagi mereka (baca: kaum pluralis), g<em>emirincing</em> pemikiran pluralisme agama menemukan momen yang significan di penghujung abad 21, dibuktikan dengan maraknya membuka jendela dialog antaragama, toleransi, inklusivisme, dan pluralisme. Banyak faktor terkait yang melahirkan wacana, konflik agama salah satunya, seperti yang disinyalir oleh pelbagai kalangan, karena ekses sampingan dari penyebaran agama yang dilakukan secara ekspansif oleh masing-masing pemeluk agama, ataupun karena ada sebuah mainstream doktrin ekslusifisme agama-agama tersebut. Contoh klasik, seperti peristiwa <em>fitnah al-kubra</em> dan <em>mihnah</em> ataupun kontemporer seperti pembajakan pesawat terbang komersial, perang saraf antara Bush dan Saddam Hussein, atau peristiwa aksi-aksi terorisme yang semuanya sama mengatasnamakan agama.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam argumentasi kaum pluralis, fakta-fakta ini dianggap sebagai bentuk pembajakan terhadap ajaran agama yang justru doktrinnya tidak mentolerir kekerasan. Tentu saja, kesalahannya terletak pada paradigma keliru, yaitu teologi ekslusivisme atau teologi perang yang dibangun untuk mengklaim Tuhan dan kebenaran di pihaknya,  atau untuk melegitimasi tindakan aksinya dalam melakukan kekerasan atas nama Tuhan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan demikian, wacana pluralisme mau tak mau, suka tidak suka, mempunyai prospek membentuk sikap dan mental untuk menjunjung nilai-nilai kemanusiaan dan sikap menghargai perbedaan diantara para agamawan. Tidak hanya mengandalkan bentuk, melainkan esensi atau dengan bahasa lain, tidak sekedar mengatur kehidupan beragama, tetapi memberikan ruang sosial dan politik secara terbuka bagi segala hal yang berkait dengannya. Katanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Apakah Benar Demikian? Dalam konteks peranan agama, Nur Solihin (Pikiran Rakyat,<strong> 30/11/2002) dan Musa Asy&#8217;arie (Kompas,</strong> 07/02/ 2003) merumuskan bahwa pluralisme agama bukan berarti suatu sikap basa-basi pergaulan sosial, tetapi harus berangkat dari ajaran agama dan paradigma baru. Tulisnya, bahkan lebih dari itu, teologi baru ini akan memberi tempat bagi keabsahan agama lain. Sebab, teologi ini menolak <em>episteme</em> pikiran dan persepsi tentang tuhan (baca:agama) yang dipakai untuk menilai pikiran dan persepsi orang lain tentang tuhan, kemudian menghakimi sesat kebenaran tuhan yang ada pada pikiran dan persepsi tuhan orang lain, maka teologi seperti ini akan berujung pada konflik paham ketuhanan (baca: agama). Karena masing-masing memutlakkan kebenarannya sendiri dan memaksakannya pada orang lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi, dengan meyakini bahwa di luar agama yang kita yakini mempunyai kebenaran yang sama walaupun masing-masing agama tersebut mempunyai jalan atau tata cara yang berbeda. Misalnya dalam Islam menyebutnya, perbedaan itu hanyalah dari segi <em>syariah dan minhaj</em> saja, tetapi semuanya jalan-jalan tersebut mengacu kepada Tuhan yang satu. Dengan demikian, menurutnya, menempuh sikap pluralis adalah jalan yang paling tepat untuk membina hubungan antaragama saat ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Masalahnya apakah benar demikian, tudingan bahwa segala dan berbagi konflik, khususnya konflik agama, disebabkan karena masyarakat menganut cara pandang dan berpikir teologi yang demikian, yaitu eksklusifisme? Sayang sekali, semua argumentasi, yang diatas tersebut tidak mendasar, sebab alasan-alasannya yang dikemukakan hanya berdasarkan asumsi yang keliru dan kekuatiran yang berlebihan.</p>
<p style="text-align:justify;">Fakta ini tidak terbantahkan, sebab semua kasus yang terjadi baik itu peperangan ataupun kasus pemaksaan tidak berdasarkan motif pandangan eksklusif terhadap agamanya, tetapi lebih merupakan benturan-benturan pelbagai kepentingan-kepentingan yang berhubungan dengan kekuasaan dan politik.</p>
<p style="text-align:justify;">Buku standar karangan Harun Nasution, Pengantar Teologi Islam, menyebutkan peperangan-peperangan seperti finatul kubra atau perang Jamal, awalnya merupakan kasus politik dan pertarungan untuk merebutkan kekuasaan. Kemudian meluas menjadi “arena pertandingan kebenaran” dengan mencari justifikasinya dari agama. Kemudian muncullah aliran-aliran atau madhab dalam Islam. Persoalannya apakah kasus ini dapat dijadikan sebagai alasan untuk mengatakan ini dilatarbelakangi oleh motif dari ekslusifisme agama?</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu apakah benar dugaan aksi-aksi kontemporer seperti pembajakan pesawat terbang dan pemboman terhadap kaum sipil atau perang Poso di Maluku diduga karena bermotifkan agama?</p>
<p style="text-align:justify;">Namun, sampai hari ini belum ada penelitian yang valid yang menjelaskan bahwa awal tindakan mereka ini didasari oleh kesadaran keimanan agamanya. Orang jarang melihat apa yang mereka lakukan itu sebagai upaya pembelaan diri, tapi secara umum dan <em>gampangan</em> disebutkan bermotifkan pada cara pemahaman dan penghayatan ekslusifisme pada agamanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sayang memang, tudingan ini keburu <em>diblow up</em> secara besar-besaran dan dengan cara tidak fair, kemudian direduksi citra aksi mereka menjadi image yang jelek. Reduksi ini tidak hanya mem-<em>blow up</em> terma-terma saja tapi tujuan dan tindakannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Tulisan Rumadi (Media Indonesia, 15/11/2002), mengaitkan aksi dan tindakan perilaku umat beragama dengan doktrin agama itu sendiri. Dalam komentarnya menyatakan agak sulit untuk menerima pemahaman sebuah realistas sejumlah para pelaku yang melakukan aksi-aksi vandalisme dan bernuansa konflik agama yang sarat dengan simbol dan spirit agama, dengan realitas lain yang cenderung enggan mengakui ada sejumlah doktrin agama yang bisa dijadikan legitimasi dan pembenar untuk melakukan aksi-aksi yang menjurus pada konflik itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagi Rumadi, justru pada tingkat doktrin bisa digunakan untuk memotret keterkaitan antara agama dan vandalism, sebab agama atau sistem kepercayaan lainnya mempunyai potensi untuk memunculkan kelompok “fundamentalis” atau eksklusifisme. Realitas tersebut dapat dibuktikan berbagai bentuk gerakan-gerakan ekstrem yang senantiasa terdapat dalam semua agama. Seperti dalam Islam, terdapat doktrin &#8216;jihad&#8217; yang sering ditafsirkan dengan “seenaknya” untuk melakukan bentuk-bentuk “vandalism”.</p>
<p style="text-align:justify;">Tentu saja ini pernyataan ini sangat menyesatkan, karena menjustifikasi bahwa aksi-aksi itu merupakan bukti penghayatan dan pembacaan atas doktrin agama yang bersifat eksklusif, padahal eklusifisme umat beragama tidak ada kaitannya dengan keterlibatan pelbagai aksi-aksi yang menjurus pada konflik-konflik itu. Menduga ada kaitannya jelas sekali sebagai sikap  yang <em>objektif inparsial</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Justru eksklusifisme agama merupakan sebuah keharusan. Ia sudah menjadi “cetak biru&#8221; Tuhan untuk membangun keimanan pada-Nya agar ia dapat mengetahui mana yang benar dan mana yang <em>bathil</em> (salah) tanpa ragu-ragu. Apalagi bagi umat Islam doktrin ini begitu penting. Ia menjadi landasan untuk memahami yang lainnya. Kenapa demikian? Tentu saja ini sangat berhubungan dengan konsep <em>syahadah</em> (tauhid).</p>
<p style="text-align:justify;">Tauhid dan Eksklusifisme Agama</p>
<p style="text-align:justify;">Konsep tauhid adalah sebuah pengakuan –patuh, tunduk, atau siap terikat pada aturan-aturan-Nya&#8211; seseorang kepada Allah dengan menegasikan segala bentuk kepatuhan atau ketundukan kepada yang lain atau <em>embel-embel</em> disekelilingnya, dan siap menjunjung atau menjaga dari bentuk pengrusakan kepada alam atau melakukan bentuk-bentuk vandalism yang menjurus pada konflik sosial.</p>
<p style="text-align:justify;">Konsep <em>syahadah</em> atau tauhid mempunyai dua dimensi; vertikal dan horizontal. Bentuk dimensi <em>syahadah</em> vertikal adalah bentuk kepatuhan dan ketundukan kepada Allah dengan menegasikan dari pelbagai kepatuhan dan ketundukan kepada bentuk-bentuk lain, yang menjurus pada bentuk penyekutuan terhadap Allah sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Syahadah</em> vertikal ini sangat berhubungan dengan segala bentuk prilaku yang tidak menjaga dan menjunjung nilai-nilai suci Agama itu sendiri, maka kalau orang melakukannya, seperti mengakui kebenaran agama atau sistem kepercayaan selain agama Islam, saat itu juga ia telah berbuat <em>syirik </em>(penyekutuan).</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun, bentuk dimensi <em>syahadah</em> horizontal adalah sebuah kepatuhan dan ketundukan menerima tugas dari Allah untuk menjaga dan memelihara dari pelbagai bentuk perusakan laut, hutan dll. (30:41), (28:77), (02:205). Dan sebuah kepatuhan untuk siap menerima tugas menjunjung nilai-nilai suci, menegakkan keadilan, membangun interaksi sosial yang harmonis, dll. (02:30), (10:14), (10:73), (07:69), (27:62).</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu, kalau kemudian, ia melakukan sesuatu yang menyimpang dari tugas ini, seperti melakukan penggundulan hutan, yang mengakibatkan erosi, akhirnya merusak keseimbangan alam, maka ia telah melakukan bentuk <em>syirik</em> horizontal. Sama seperti ketika ia tidak mempunyai kepedulian pada rakyat yang di/teraniaya, sebenarnya ia telah melakukan <em>syirik</em> horizontal. Karena dalam perspektif ini, semua tersebut ada hubungannya dengan kepatuhan kepada Allah yang termanefestasikan pada seluruh muka alam, yang konsekuensi logisnya harus dijaga, dipelihara, kalau perlu ditegakkan tentunya dengan keadilan.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu, kalau ada pertanyaan kita sebagai Muslim mengklaim hanya Islam satu-satunya agama yang benar dan selamat, kemudian pada saat yang sama haruskah keberatan dengan klaim serupa yang dimiliki agama lain? Sebab dalam perspektif pluralisme agama, jika semua agama mengklaim paling benar, maka berarti ada banyak kebenaran, berarti bertentangan dengan paham bahwa kebenaran itu hanya satu, yaitu Allah. Bagi kaum pluralis ini tidak bertentangan. Sebab, Agama itu terdiri dari bentuk dan substansi. Bentuknya bisa berbeda-beda, karena diturunkan pada zaman yang berbeda-beda, dibawa oleh nabi yang berbeda, untuk umat manusia yang berbeda pula. Tetapi substansi semua itu satu, karena datang dari kebenaran yang satu, yaitu Allah.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi dalam perspektif <em>syahadah</em>, pernyataan ini jelas keliru dan menjurus pada bentuk <em>syirik</em> vertikal (penyekutuan) terhadap Allah, sebab pernyataan ini secara fundamental masih menyisakan pengakuan dan ketundukan pada dzat yang lain, yaitu mengakui kebenaran terhadap agama atau sistem kepercayaan selain Islam. Pengakuan atau ketundukan Ini jelas tidak bisa ditolelir oleh umat Islam, apalagi isu yang menyangkut aqidah (sebuah pengakuan terhadap Allah).</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan demikian, jelas bagi umat Islam sangat keberatan kalau perlu ide semacam ini harus ditolak. Nah, kalau kemudian kaum pluralis merasa keberatan dengan sikap Muslim tersebut yang menyatakan hanya Islamlah yang paling benar dan selamat. <em>It is not our business</em>. Sikap ini ditegaskan dalam al-Qur’an, surat al-Kafirun, ayat terakhir, <em>it is not our business,</em> begitu terjemahan bebasnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu, apakah Islam juga menolak sebuah gagasan berdialog antar agama. Dengan tegas Islam tidak menolak. Namun isunya bukan persoalan seperti ini. Karena secara epistemologi sudah berbeda apalagi sangat kentara perbedaan <em>platform</em> antar Islam dengan agama-agama atau sistem kepercayaan lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kalau begitu, isu apa yang perlu didialogkan? Tentunya isu-isu seperti, masalah lingkungan hidup, kemiskinan struktural dan kultural, dampak penggunaan teknologi nuklir, peperangan, dan pelecehan hak-hak asasi manusia (HAM). Isu tersebut, tidak hanya menjadi agenda agama tertentu saja (baca: Islam), tapi isu tersebut harus menjadi agenda semua agama, semua umat manusia.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika tidak menjadi <em>concern </em>umat Islam<em>,</em> maka kita sebagai umat Islam telah melakukan syirik horizontal, sebuah penyekutuan terhadap Allah, karena kita tidak melakukan sebuah ketundukan dan pengakuan terhadap-Nya untuk melakukan sebuah kebajikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan demikian, dalam rangka dialog antar agama, setiap pemeluk agama dapat bergerak lebih leluasa tanpa sekat-sekat formalisme untuk menjadikan isu tersebut sebagai keprihatinan bersama. Dalam arti keprihatinan yang diderita oleh pemeluk lain dapat dihayati sebagai keprihatinannya sendiri. Itulah arti dari konsep <em>syahadah</em>, sebuah pengakuan dan ketundukan kita terhadap Allah.</p>
<p style="text-align:justify;">Demikianlah arti tauhid dan eksklusifisme agama. Tentunya penghayatan, pemahaman dan pembacaan terhadap tauhid yang benar, tidak akan mengakibatkan pelbagai konflik apapun, termasuk konflik agama. Karena sangat jelas eksklusifisme dalam agama Islam justru menjadikan pemeluknya menjadi kaum beragama yang beradab. Membentuk militansi dan fundamentalisme dalam memahami agamanya. Tidak sekedar mengimani adanya Tuhan, tetapi melaksanakannya secara teguh apa yang yang tersurat dalam Al-Qur’an. Tapi juga, ia punya komitment yang jelas, sebagai pengakuan dan ketundukannya pada Allah, untuk bersama-sama menciptakan dunia yang harmonis dan membentuk sikap dan mental yang toleran, sehingga ia dapat menepis anggapan Malaikat bahwa manusia diciptakan hanya untuk berbunuh-bunuh dan berkonflik. <em>Wallahu alam bi ash-shawab.</em></p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asfuriahmad.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asfuriahmad.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asfuriahmad.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asfuriahmad.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/asfuriahmad.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/asfuriahmad.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/asfuriahmad.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/asfuriahmad.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asfuriahmad.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asfuriahmad.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asfuriahmad.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asfuriahmad.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asfuriahmad.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asfuriahmad.wordpress.com/122/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asfuriahmad.wordpress.com&amp;blog=8304576&amp;post=122&amp;subd=asfuriahmad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asfuriahmad.wordpress.com/2011/04/01/menepis-gagasan-ide-pluralisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c978a72734be85dc6f9b3d6cb47d6db4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">asfuriahmad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BUNGA RAMPAI INCEST (PERZINAHAN)</title>
		<link>http://asfuriahmad.wordpress.com/2011/03/31/bunga-rampai-incest-perzinahan/</link>
		<comments>http://asfuriahmad.wordpress.com/2011/03/31/bunga-rampai-incest-perzinahan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Mar 2011 12:30:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>asfuriahmad</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://asfuriahmad.wordpress.com/?p=117</guid>
		<description><![CDATA[Pada umumnya pembaca akan kaget mendapatkan judul seperti itu di dalam sebuah kitab yang diatributkan kepada Tuhan. Anda harus membacanya sendiri agar dapat percaya. Pembaca dengan cepat mengacu ke halaman 13 untuk merasakan lebih dahulu bagian yang paling senonoh dari &#8220;Combat Kit&#8220;. Di awal halaman terdapat definisi dari Kamus New Collins (New Collins Dictionary). INCEST: [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asfuriahmad.wordpress.com&amp;blog=8304576&amp;post=117&amp;subd=asfuriahmad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Pada umumnya pembaca akan kaget mendapatkan judul seperti itu di dalam sebuah kitab yang diatributkan kepada Tuhan. Anda harus membacanya sendiri agar dapat percaya. Pembaca dengan cepat mengacu ke halaman 13 untuk merasakan lebih dahulu bagian yang paling senonoh dari &#8220;<em>Combat Kit</em>&#8220;. Di awal halaman terdapat definisi dari Kamus New Collins (New Collins Dictionary).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>INCEST</strong>: &#8220;Hubungan seksual antara 2 orang yang mempunyai hubungan yang sangat dekat.&#8221; Kamus Oxford menam-bahkan kalimat &#8211; &#8220;Untuk menikah.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Pada hari Minggu pagi, ketika sedang meneliti hal ini, saya dikunjungi oleh dua orang penginjil keliling. Mereka datang untuk memberi saya solusi dalam mengatasi masalah dunia dari Injil yang &#8220;<em>Suci</em>&#8220;. Saya mengalihkan pembicaraan, dan memberitahukan mereka bahwa saya hampir menyele-saikan tulisan tentang bunga rampai &#8220;Incest&#8221;. Saya bertanya, &#8220;Apakah mereka merigetahui arti kata tersebut?&#8221; Mereka mengatakan bahwa mereka mengetahui. Saya menjelaskan arti kata tersebut kepada mereka. Yaitu tentang hubungan seksual antara &#8230;. Ayah dan anak perempuannya, antara anak laki-laki dan ibunya, antara ayah dan menantu perempuan-nya, antara kakak dan adik.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya menanyakan apa yang akan mereka katakan jika setelah esai tentang masalah tersebut selesai, saya memberi-kannya kepada adik atau anak perempuan mereka yang masih muda untuk membacanya. Mereka berdua bereaksi dengan mengatakan akan menahan saya!</p>
<p style="text-align:justify;">Saya bertanya mengapa? Mereka mengatakan bahwa perbuatan saya memberikan buku yang mesum, kotor dan tidak bermoral kepada orang yang mereka cintai adalah sebuah serangan terhadap kesucian mereka. Saya mengatakan tidak akan menyalahkan mereka atas reaksi keras tersebut. Tetapi bagaimana jika ajaran mesum dan perzinahan yang tidak bermoral tersebut diambil dari yang dinamakan &#8220;<em>Kitab Tuhan</em>&#8220;, kitab suci Injil. &#8220;Tidak mungkin&#8221;, mereka berseru dengan marah. Injil tidak berisi pornografi seperti itu! Buktikan! Mereka meminta!&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Saya bertanya, &#8220;Buku yang berada di tangan Anda, apakah itu Injil?&#8221; (Para penginjil selalu membawa sebuah Injil) &#8220;Ya!&#8221;jawabnya. &#8220;Bolehkah saya melihatnya?&#8221; Injil tersebut diberikan kepada saya. Saya membuka Kejadian pasal 19 dan menunjukkan ayat 30, saya meminta salah seorang dari mereka membacanya. Penginjil tersebut melihat ayat itu lalu &#8220;Tersenyum Menyeringai&#8221;. Dia ingin mengalihkan permasalahan. Saya bertanya, &#8220;Ada apa, apakah itu bukan Fir-man Tuhan?&#8221;, &#8220;Ya,&#8221; jawab mereka tanpa berfikir lagi &#8220;tetapi &#8230; tetapi &#8230;. &#8221; Namun ketika didesak, apa yang dibaca orang Kristen tersebut? Lihatlah salinan aktual dari kitab suci tersebut pada bagian bawah bab ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Kedua salinan tersebut berasal dari Versi King James (KJV). Anda akan melihat adanya sedikit variasi antara kedua salinan tersebut. Pada ayat 32 versi pertama dibicarakan anak-anak perempuan Lot (Nabi Luth) yang ingin &#8220;mempertahankan benih ayah kita,&#8221; sementara pada versi kedua ditulis dengan &#8220;mempertahankan keturunan ayah kita,&#8221; tetapi terjemahan Injil yang lebih modern berbicara terus terang. Mereka berbicara secara jujur dan terus terang: &#8220;Pada malam itu mereka (kedua anak perempuan Lot) memberi ayah mereka (Lot) minum anggur, lalu anak perempuan yang lebih tua berhubungan seksual dengannya &#8230;. &#8221; Keesokan harinya berkatalah sang kakak kepada adiknya: &#8220;Tadi malam aku telah tidur dengan ayah; Sebaik-nya malam ini kita beri dia minum anggur lagi; masuk1ah engkau untuk tidur dengan dia, sehingga masing-masing kita akan mempunyai anak dari ayah kita. Demikianlah pada malam itu juga mereka memberi ayah rnereka minum anggur, lalu anak perempuan yang lebih muda berhubungan seksual juga dengan ayahnya; &#8230;.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan cara ini mengandung kedua anak Lotitu dari ayah mereka. &#8221; (Injil &#8211; Kejadian 19: 33-36*) (Dari Good News Bible in Today&#8217;s English)</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai hasil dari hubungan haram dan perzinahan ini, kedua anak Lot masing-masing mendapatkan seorang anak yang terkenal dalam Injil sebagai nenek moyang Amon dan Moab, komunitas yang dijaga dan dilindungi secara khusus dalam &#8220;Kitab Tuhan&#8221;. Bangsa Yahudi harus memusnahkan orang-orang Palestina tanpa kecuali, tetapi bagi keturunan Lot dari hasil perbuatan zinah, Tuhan mempunyai perlakuan khusus yang lunak:</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Tuhan berkata kepadaku (Musa). Pada hari ini engkau (bangsa Israel) akan berjalan melintasi perbatasan Moab, yakni Ar, maka engkau sampai ke dekat bani Amon. Janganlah melawan mereka dan janganlah menyerang mereka, sebab Aku tidak akan memberikan kepadamu apa pun dari negeri Bani Amon itu menjadi milikmu, karena Aku telah memberikannya kepada Bani Lot menjadi miliknya.&#8221; (Injil &#8211; Ulangan 2: 18-19).</p>
<p style="text-align:justify;">Bangsa Amon dan Moab tidaklah lebih baik dari sepupu Palestina mereka. Dalam pandangan Injil mereka hanyalah benih dari Lot, seorang keturunan zinah! Tanyakan kepada para penginjil, &#8220;Apa kandungan moral, pelajaran yang bisa dipelajari dari cerita mesum yang vulgar ini?&#8221; Jika tidak ada kandungan moral dan memang tidak ada lalu me-ngapa Tuhan tidak mencela Lot atau mendatangkan syphillis, gonorrhoe atau AIDS kepadanya? Bahkan sebaliknya, keturunannya adalah bangsa yang diberkahi dalam pandangan Tuhan. Nilai moral bagaimana yang bisa Anda dapatkan?</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Penegasan Seorang Psikolog</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong></strong>Dr. Vernon Jones, seorang psikolog Amerika yang ter-nama, melakukan eksperimen pada sekelompok anak seko-lah yang usia dan status pendidikannya sama. Cerita tertentu dengan bias khusus diceritakan ke anak-anak tersebut. Ke-simpulannya adalah, cerita-cerita ini membuat &#8220;perubahan kecil tetapi permanen pada karakter anak-anak ini, meski di dalam situasi kelas yang terbatas.&#8221; Yang agak mengheran-kan, seorang penginjil Evangelist yang berpengaruh, Jimmy Swaggart, dalam bukunya tentang &#8220;Incest&#8221; (perzinahan) meratapi adanya perzinahan antara para ayah dan anak perempuannya yang telah mencapai proporsi yang endemik di USA. Ada sebuah hukum yang berlaku: secara fisik Anda adalah apa yang Anda makan dan secara moral dan mental Anda adalah apa yang Anda baca!</p>
<p style="text-align:justify;">Sebelum melangkah lebih lanjut, bukalah Injil Anda pada Kejadian bab 19 ayat 30-36, dan beri bingkai ayat-ayat ini seperti Anda lihat pada bagian bawah bab ini, dan tulis pada bagian atas halaman tersebut dengan tulisan yang besar, dicetak tebal dan diberi garis bawah: &#8220;Perzinahan antara ayah dan anak perempuannya&#8221;. Di bagian bawah halaman tersebut terdapat referensi berikutnya dalam topik: &#8220;Perzinahan antara ibu dan anak laki-lakinya Hal. &#8230;?&#8221; dengan tipe ketebalan huruf yang sama.</p>
<p style="text-align:justify;">Dapatkan referensi berikutnya dalam Injil Anda &#8211; Ke-jadian 35: 32, dan isikan dalam nomor halaman (seperti yang Anda lihat telah dilakukan) pada bagian bawah bab ini. Perhatikanlah nomor halaman yang berbeda&#8211;beda dalam Injil yang berbeda. Jadi yakinkan nomor ha-laman tersebut sebelum memberi nomor dalam Injil Anda.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan Kejadian 35 dalam keadaan terbuka, beri bing-kai ayat 22 seperti terlihat pada halaman 264 dan 265, dan tulis judul dalam huruf tebal: &#8220;Perzinahan antara anak laki-laki dan ibunya, &#8221; dan garis bawahi. Pada bagian bawah halaman tersebut, tulis: &#8220;Perzinahan antara mertua dan menantu perempuannya Hal. &#8230;?&#8221; Lihat Kejadian 38 ayat 15-18 dan ulangi latihan memberikan nomor halaman dan membingkai ayat tersebut seperti yang telah Anda lakukan dalam 2 contoh sebelumnya. Kemudian kembali ke &#8220;Combat Kit&#8221; halaman 13 dan 14, dan selesaikan latihan menandai Injil Anda untuk menghadapi setiap &#8220;Penginjil Kristen&#8221; yang mengetuk pintu Anda. Semakin baik persiapan Anda, maka penginjil tersebut akan menjadikan layang-layang sebagai pesawatnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Secara sekilas lihat kembali 2 halaman dibelakang (264 dan 265), danjudulnya: &#8220;Perzinahan antara Anak Laki-laki dan Ibunya.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Baca ayat 22 di sana. Kedua salinan tersebut berasal dari versi King James (KJV yang paling terkenal. Tipe yang lebih besar berasal dari KJV dalam &#8220;Revisi Utama Keli-ma&#8221;nya. Sesudah merevisi kitab tersebut lima kali, orang&#8211;orang Kristen masih menyebutnya versi King James (!). Ban-dingkan kedua salinan tersebut. Mereka mulai -&#8221;Dan terjadi-lah,&#8221; dan &#8220;Dan maka terjadilah.&#8221; Umat Kristen belum mem-bebaskan diri mereka dari sindrom &#8220;Pada mulanya&#8221;. Lihat The Choice jilid I, tentang penyakit abadi ini.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Terjemahan Modern Lebih Eksplisit</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong></strong>Kedua kutipan tersebut membicarakan- &#8220;Ruben per-gi dan berbaring dengan Bilhah.&#8221; Injil Katholik Roma versi Douay menggunakan pilihan kata yang berbeda, yaitu &#8220;Ru-ben pergi dan tidur dengan Bala,&#8221; (maksudnya Bilhah). Tulis-an yang berlainan ini tidak mengatakan kepada kita berapa usia Ruben. Tidak ada seorang pun yang heran mendengar seorang anak berusia 5 atau 10 tahun tidur dengan ibunya atau ibu tiririya, untuk menghangatkan diri. Versi &#8220;The New Century&#8221; dalam Injil Anak-anak Internasional (diterbitkan oleh &#8220;Word Bibles&#8221; Word (ITK) Ltd, Milton Keynes, Inggris) tidak menghendaki anak-anak Kristen menerka-nerka arti kata &#8220;berbaring&#8221; atau &#8220;tidur&#8221;. Mereka bahkan mengeluarkan para penginjil dari kesulitan menerangkan kata-kata sederha-na yang mereka sendiri ragu atas interpretasinya. Terjemah-annya adalah -&#8221;Ruben melakukan hubungan seksual de-ngan seorang budak wanita Israel yang bernama Bilhah.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Dapatkah mereka menyatakannya dalam bentuk yang lebih sederhana bagi &#8220;para penganut kelahiran kembali&#8221; yang tidak pernah menjadi dewasa? Dari 12 anak Yakob, Ruben adalah &#8220;anak pertama&#8221;, putra tertua, yang dalam usianya yang sebaik-baiknya, mem-perkosa ibunya! Meski disebut &#8220;budak wanita&#8221; atau &#8220;gun-dik&#8221;, dia adalah istri ayahnya, (dan istri ayah Anda adalah seorang ibu dalam definisi apa pun). &#8221;Istri&#8221; dan &#8220;gundik&#8221; adalah istilah yang sinonim dalam Injil. Periksa dalam Injil Anda di rumah:</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>(a) Ibrahim mengambil pula seorang istri, namanya Ketura. (Injil &#8211; Kejadian 25: 1)</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong></strong>Kitab Kejadian dikenal sebagai kitab pertama Musa Alaihis salam. Tuhan Yang Maha Kuasalah yang dianggap telah mendiktekan kelima kitab Taurat Yahudi yang sekarang diterima oleh semua umat Kristen sebagai Firman Tuhan. Pada kitab pertama dari lima kitab ini, Tuhan Yang Maha Kuasa mengatakan kepada Musa Alaihis-salam bahwa &#8220;istri&#8221; ketiga dari temannya, Ibrahim Alaihis-salam adalah Keturah, dua yang sebelumnya adalah Sarah dan Hajar. Jika Tuhan Musa Alaihis salam sendiri mengetahui bahwa Ketu-rah sebagai &#8220;istri&#8221; Ibrahim, lalu siapa yang mempunyai keberanian menentang-Nya dan mencemarkan nama Keturah? Tetapi &#8220;beberapa penulis yang &#8220;tidak diketahui&#8221; dari kitab 1 Tawarikh, bab satu, ayat 32, berani mengubah kata-kata yang didiktekan Tuhan kepada Musa Alalhis-salam dari &#8220;Istri&#8221; menjadi &#8220;Gundik&#8221;, kecuali jika yang dimaksud sama. Sebaliknya, penginjil seharusnya mengetahui bahwa masih terdapat kontradiksi yang lain di dalam Injil. Lihat pada in-deks &#8220;Combat Kit&#8221; dalam kontradiksi dalam injil dan tam-bahkan point ini dalam daftar Anda.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Perzinahan antara Ayah Dengan Anak Perempuannya</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>LOT</strong><strong> DAN KEDUA ANAKNYA </strong></p>
<p style="text-align:justify;">[30] Pergilah Lot dari Zoar dan ia menetap bersama-sama dengan kedua anaknya perempuan di pegunungan, sebab ia tidak berani tinggal di Zoar, maka diamlah ia dalam suatu gua beserta kedua anaknya. [31] Kata kakak-nya kepada adiknya: &#8220;Ayah kita telah tua, dan tidak ada laki-laki di negeri ini yang dapat menghampiri kita, seperti kebiasaan seluruh bumi. [32] Marilah kita beri ayah kita minum anggur, lalu kita tidur dengan dia, supaya kita menyambung keturunan dari ayah kita. [33] Pada malam itu mereka memberi ayah mereka minum anggur, lalu masuklah yang lebih tua untuk tidur dengan ayah-nya; dan ayahnya itu tidak mengetahui ketika anaknya itu tidur dan ketika ia bangun. [34] Keesokan harinya berkatalah kakaknya kepada adiknya: &#8220;Tadi malam aku telah tidur dengan ayah; baiklah malam ini juga kita beri dia minum anggur; masuklah engkau untuk tidur dengan dia, supaya kita menyambung keturunan dari ayah kita.&#8221; [35] Demikianlah juga pada malam itu mereka memberi ayah mereka minum anggur; lalu bangunlah yang lebih muda untuk tidur dengan ayahnya; dan ayah-nya itu tidak mengetahui ketika anaknya itu tidur dan / ketika ia bangun. [36] Lalu mengandunglah kedua anak Lot itu dari ayah mereka.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Perzinahan Antara Anak Laki-laki Denbgan Ibunya </strong></p>
<p style="text-align:justify;">[22.a] Ketika Israel diam di negeri ini, terjadilah bahwa Ruben sampai tidur dengan Bilha, gundik ayahnya, dan kedengaranlah hal ini kepada Israel.</p>
<p style="text-align:justify;">[1 Tawarikh 1:32] Keturunan Ketura, gundik Abraham: perempuan itu melahirkan Zimran, Yokasan, Medan, Midian, Isybak dan Suah. Anak-anak Yoksan ialah Syeba dan Dedan.</p>
<p style="text-align:justify;">[Kejadian 25:1] Abraham mengambil pula seorang istri, namanya Ketura.</p>
<p style="text-align:justify;">Gundik: Lihat, istri dan gundik adalah istilah yang sinonim dalam Injil. Jika tidak, itu sebuah kontradiksi.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asfuriahmad.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asfuriahmad.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asfuriahmad.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asfuriahmad.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/asfuriahmad.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/asfuriahmad.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/asfuriahmad.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/asfuriahmad.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asfuriahmad.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asfuriahmad.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asfuriahmad.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asfuriahmad.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asfuriahmad.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asfuriahmad.wordpress.com/117/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asfuriahmad.wordpress.com&amp;blog=8304576&amp;post=117&amp;subd=asfuriahmad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asfuriahmad.wordpress.com/2011/03/31/bunga-rampai-incest-perzinahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c978a72734be85dc6f9b3d6cb47d6db4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">asfuriahmad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SEKILAS LDII LEMBAGA DA’WAH ISLAM INDONESIA</title>
		<link>http://asfuriahmad.wordpress.com/2011/03/31/sekilas-ldii-lembaga-da%e2%80%99wah-islam-indonesia/</link>
		<comments>http://asfuriahmad.wordpress.com/2011/03/31/sekilas-ldii-lembaga-da%e2%80%99wah-islam-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Mar 2011 12:15:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>asfuriahmad</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://asfuriahmad.wordpress.com/?p=115</guid>
		<description><![CDATA[Dikalangan umat beragama terdapat aliran-aliran agama yang diantaranya dianggap menyimpang. Salah satu aliran agama yang tumbuh dikalangan umat Islam Indonesia adalah Lembaga Da’wah Islam Indonesia (LDII). Paham keagamaan yang dikembangkan oleh LDII meresahkan masyarakat di berbagai daerah, karena dinilai masih mengajarkan faham Darul Hadits/Islam Jamaah yang telah dilarang oleh jaksa agung Republik Indonesia. Keberadaan LDII [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asfuriahmad.wordpress.com&amp;blog=8304576&amp;post=115&amp;subd=asfuriahmad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 style="text-align:justify;"><span style="font-size:13px;font-weight:normal;">Dikalangan umat beragama terdapat aliran-aliran agama yang diantaranya dianggap menyimpang. Salah satu aliran agama yang tumbuh dikalangan umat Islam Indonesia adalah Lembaga Da’wah Islam Indonesia (LDII).</span></h2>
<p style="text-align:justify;">Paham keagamaan yang dikembangkan oleh LDII meresahkan masyarakat di berbagai daerah, karena dinilai masih mengajarkan faham Darul Hadits/Islam Jamaah yang telah dilarang oleh jaksa agung Republik Indonesia. Keberadaan LDII mempunyai akar kesejarahan dengan Darul Hadits/ Islam Jam’ah yang didirikan oleh H. Nurhasan Al Ubaidah Lubis pada tahun 1951. Setelah aliran tersebut dilarang tahun 1971, kemudian bergantian nama dengan Lembaga Karyawan Islam (Lemkari) pada tahun 1972, selanjutnya Lemkari tahun 1972 tersebut berganti nama lagi dengan Lembaga Karyawan Da’wah Islam pada tahun 1981 yang disingkat juga, yaitu Lemkari 1981. Dan kemudian berganti nama lagi dengan Lembaga Da’wah Islam Indonesia (LDII) pada tahun 1990 sampai sekarang. Pergantian nama tersebut dikaitkan dengan upaya pembinaan eks Darul Hadits/ Islam Jama’ah agar mereka meninggalkan ajaran Darul Hadits/ Islam Jama’ah yang telah dilarang tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Diantara pokok ajaran Darul Hadits/ Islam Jama’ah yang menyimpang dari kemurnian ajaran Islam terutama yang dianut kaum muslimin Indonesia sebagaimana telah diformulasikan oleh Majlis Ulama Indonesia meliputi aspek imamah, baiat, taat dan Islam manqul. Islam jama’ah terutama pad paham yang menyatakan bahwa tidak sah beragama kalau tidak berbai’at kepada Al Amir aygn dipilih oleh Allah sebagai seorang pemimpin rohaniah/ agama yaitu H. Nurhasan Al Ubaidah, dan umat Islam yang tidak berbaiat kepada Amir akan mati dengan cara jahiliyah atau tidak sah Islamnya dan atau dengan kata lain disebut kafir. Islam hanya dapat dipelajari melalui Al Amir atau wakil-wakilnya secara lisan (manqul).</p>
<p style="text-align:justify;">Lemkari didirikan tanggal 13 Januari 1972 dengan maksud untuk menampung eks anggota Darul Hadits/Islam Jama’ah yang dilarang oleh Jaksa Agung pada tanggal 29 Oktober 1971. Pengikut aliran tersebut dalam  Pemilu 1971 mendukung Golongan Karya (Golkar), dan kemudian Lemkari berafiliasi ke Golkar. Namun dengan adanya Undang-Undang No. 08 tahun 1985, Lemkari sebagai singkatan Lembaga Karyawan Islam sesuai Mubes 11 tahun 1981 ganti nama dengan Lembaga Karyawan Da’wah Islam (LEMKARI).</p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa praktek keagamaan yang berkembang di lingkungan LEMKARI, antara lain : khutbah Jum’at menggunakan bahasa arab,dalam sholat tidak boleh makmum kepada orang yagn tidak sealiran, tidak boleh berjabat tangan laki-laki dengan perempuan yang bukan muhrim dan wanita baligh harus berjilbab.</p>
<p style="text-align:justify;">Eks anggota Darul Hadits/Islam Jama’ah yang menjadi anggota LEMKARI masih meneruskan ajaran-ajaran yang telah dilarang karena mubaligh/da’I LEMKARI umumnya eks Darul Hadits/Islam Jama’ah dan mereka yang pernah belajar di Pondok Pesantren Darul Hadits/Islam Jama’ah Burengan, Kediri Jawa Timur. Selain, itu aliran tersebut tampak eksklusif terhadap umat Islam sekitarnya,dan bahkan terjadi beberapa kasus putusnya hubungan dalam suatu keluarga karena tidak sealiran. Faham keagamaan yang dikembangkan oleh LEMKARI tersebut menimbulkan keresahan masyarakat diberbagai daerah.</p>
<p style="text-align:justify;">Lembaga Da’wah Islam Indonesia (LDII) merupakan nama baru dari LEMKARI sesuai keputusan Kongres Muktamar LEMKARI tahun1990. Perubahan nama tersebut dengan maksud menghilangkan citra lama LEMKARI yang masih meneruskan paham Darul Hadits/Islam Jama’ah. Di samping itu dengan alasan agar tidak jumbuh dengan istilah LEMKARI yang merupakan singkatan dari Lembaga Karatedo Indonesia. Dengan demikian berarti di bidang organisasi tela berhasil ganti nama dari LEMKARI ke LDII. Sedangkan dalam susunan kepengurusan belum seperti yang diharapkan. Sementara itu laporan dari berbagai daerah menyatakan masyarakat resah terhadap paham LDII, karena dinilai masih mengembangkan ajaran Darul Hadits/Islam Jama’ah yang telah dilarang.</p>
<p style="text-align:justify;">Kegiatan dan penyebaran paham LDII masih dinilai mengembangkan paham Darul Hadits/Islam Jama’ah, gerakan pengajian LDII bersifat eksklusif dan tertutup. Dalam belajar Al Qur’an diwajibkan bersambung paham dari murid ke guru hingga sampai kepada amir agar ilmunya tidak batil dan ibadah tidak rusak. Bai’at kepada guru merupakan jaminan masuk syurga, orang yang diluar kelompok dianggap kafir dan najis, zakat anggotanya ditangani sendiri.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asfuriahmad.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asfuriahmad.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asfuriahmad.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asfuriahmad.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/asfuriahmad.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/asfuriahmad.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/asfuriahmad.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/asfuriahmad.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asfuriahmad.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asfuriahmad.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asfuriahmad.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asfuriahmad.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asfuriahmad.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asfuriahmad.wordpress.com/115/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asfuriahmad.wordpress.com&amp;blog=8304576&amp;post=115&amp;subd=asfuriahmad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asfuriahmad.wordpress.com/2011/03/31/sekilas-ldii-lembaga-da%e2%80%99wah-islam-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c978a72734be85dc6f9b3d6cb47d6db4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">asfuriahmad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ANTARA RASIONALITAS &amp; SPIRITUALITAS: MENGGAGAS MODERNITAS RELIGIUS</title>
		<link>http://asfuriahmad.wordpress.com/2011/03/27/antara-rasionalitas-spiritualitas-menggagas-modernitas-religius/</link>
		<comments>http://asfuriahmad.wordpress.com/2011/03/27/antara-rasionalitas-spiritualitas-menggagas-modernitas-religius/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Mar 2011 05:15:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>asfuriahmad</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://asfuriahmad.wordpress.com/?p=106</guid>
		<description><![CDATA[Tema ini ialah upaya perpaduan prinsip rasionalitas dan spiritualitas Islam bagi kehidupan modern. Pandangan ini diajukan karena terjadi dikhotomi tajam antara rasionalitas di satu sisi dan spiritualitas di sisi lain. Masyarakat Islam dipertimbangkan hanya berpegang secara ekstrim pada salah satu di antara keduanya; bertumpu hanya pada spiritualitas serta meninggalkan dunia rasionalitas. Hasilnya, Islam menjadi keok, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asfuriahmad.wordpress.com&amp;blog=8304576&amp;post=106&amp;subd=asfuriahmad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Tema ini ialah upaya perpaduan prinsip rasionalitas dan spiritualitas Islam bagi kehidupan modern. Pandangan ini diajukan karena terjadi dikhotomi tajam antara rasionalitas di satu sisi dan spiritualitas di sisi lain. Masyarakat Islam dipertimbangkan hanya berpegang secara ekstrim pada salah satu di antara keduanya; bertumpu hanya pada spiritualitas serta meninggalkan dunia rasionalitas. Hasilnya, Islam menjadi <em>keok,</em> terseok-seok dari sisi sains dan ilmu-ilmu positif, namun pada sisi lain, yakni kehidupan agama marak seperti tampak pada setiap perayaan hari-hari besar Islam, masjid dan mushalla sarat jama‘ah, majlis-majlis dzikr dipenuhi para <em>sâlik</em> (pencari Tuhan), lembaga-lembaga tasauf dan tarekat tiada pernah <em>kehabisan</em> peminat dan peserta dan sebagainya dan seterusnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Berbeda dari Islam, di seberang sana muncul Barat dalam ekstrimitas yang lain, kutub tersendiri, dengan lebih mendewakan rasionalitas, yang akhirnya mendorong kemajuan sains dan ilmu-ilmu positif lainnya serta kesejahteraan kehidupan masyarakatnya. Dengan cara seperti itu nyaris dapat dikatakan kemiskinan hilang di dalam komunitas Barat. Tak seperti negara-negara mayoritas Muslim, kesejahteraan dalam kehidupan masyarakat Barat dilakukan melalui konsepsi <em>welfare state</em> (negara sejahtera) berkat pencapaian rasionalitas, tapi dengan ongkos kemanusiaan besar pada sisi lain, yakni kehidupan beragama padam. Sekalipun gereja-gereja cuma dipenuhi <em>nini-nini</em> dan <em>aki-aki</em>, itu pun dalam jumlah terhitung, namun perlindungan terhadap warganegara-tak-berdaya demikian memesona lewat program <em>enemployment benefit</em> (dana untuk para pengangguran), <em>family allowance</em> (tanggungan keluarga), <em>income supplements for the poorly aid</em> (bantuan gaji bagi berpenghasilan rendah), <em>old age pensions</em> (pensiunan hari tua), <em>medical care</em> (asuransi kesehatan), <em>free education </em>(bebas bea pendidikan), <em>public housing</em> (perumahan umum).<a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn1"> Pendek kata, fenomena Barat memperk</a>uat imaji: kian meninggalkan agama kian menyejahterakan masyarakat, dan semakin religius semakin terpuruk. Hal ini pula yang menimbulkan sinisme bahwa kehidupan spiritualisme menjadi biang keladi kemunduran masyarakat Islam, terbenam dalam khurafat, klenik, perdukunan, dan alam magis lainnya.<a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn2"></a></p>
<p style="text-align:justify;">Hemat kami, sesungguhnya banyak kekeliruan untuk mengerti persoalan spiritualitas dan rasionalitas dalam perspektif di atas, terlebih membuat keduanya berhadap-hadapan secara konfliktual. Tulisan ini akan mengulas persoalan-persoalan tersebut dengan tesis bahwa konflik itu muncul karena keliru pengertian. Tulisan ini pun akan tampak tradisional, di luar bayangan para ilmuwan, namun bagi kami justru di situlah kekuatan sebenarnya dari pesan Islam yang kini tersingkir jauh.</p>
<p style="text-align:justify;">Pendekatan Sains vs. Mistisisme</p>
<p style="text-align:justify;">Persoalan pertama sering mengecoh adalah pemahaman terhadap hukum-hukum pengetahuan (khususnya sains dan teknologi) di satu sisi dan hukum mistisisme pada sisi lain. Sains dan teknologi termasuk dalam kategori ilmu-ilmu positif, memunyai hukum tersendiri sehingga tak bisa didekati dengan mistisisme. Kekeliruan demi kekeliruan terus terjadi pada masyarakat Muslim disebabkan ketiadaan pengertian mengenai dua hal tersebut, sekalipun sejatinya Islam masa awal tidak pernah mengalami penderitaan seperti itu; yang mengalami justru Kristen lewat kasus Galilei Galileo dalam pertentangan mengenai doktrin geosentrisme (bumi menjadi pusat, dan matahari mengelilingi bumi) dan heliosentrisme (matahari menjadi pusat, dan bumi mengelilingi matahari). Tetapi realitas sekarang terbalik, Islam menjadi seperti Kristen masa lalu, dan Kristen berubah diri menjadi seperti Islam masa lalu.</p>
<p style="text-align:justify;">Ilmu-ilmu positif merupakan ilmu lebih bertumpu pada pengukuran, lewat ujian-ujian (eksperimen) secara fisik. Pendekatannya disebut induktif, yaitu meneliti langsung bendanya, mengamatinya dan menentukan kesimpulannya. Pendekatan induktif ini awalnya dilakukan oleh masyarakat Muslim, sebab sebelum Islam datang masyarakat masa itu—khususnya Yunani—mendekati alam-alam benda secara deduktif. Di samping itu masyarakat Yunani juga tidak appresiasi terhadap benda bahkan menyebutnya sesuatu yang hina, nista, rendah, karena menghalangi manusia mencapai kebahagiaan. Konsepsi Islam mengubah imaji benda dari barang hina menjadi netral sebab ayat-ayat al-Qur’ân penuh dengan anjuran untuk melihat alam dan benda-benda di alam ini. Sayang sekali ruh ini menjadi hilang di kebanyakan masyarakat Muslim, maka muncullah hal-hal aneh.</p>
<p style="text-align:justify;">Peristiwa-peristiwa aneh tersebut terlihat pada usaha mengeramatkan benda-benda mati. Sebagai contoh, sering kita dapatkan di suatu masyarakat tertentu yang mengadakan upacara ketika hendak memulai pertanian (menanam padi di sawah) dan mengakhirinya (setelah musim panen) dengan upacara juga sambil memberikan sajian-sajian mewah dan mahal, disebut sesajen. Manakala persawahan diserang hama, atau kualitas padi yang ditanam berkualitas rendah, yang diperbanyak adalah sesajennya (mungkin dalam alam modern termasuk menyajikan pizza-hut dan burger McDonald). Alih-alih menguasai pupuk atau obat anti hama, ia terbenam dalam tata-cara tidak sesuai dengan natur benda. Pendekatan tersebut adalah deduktif, juga keliru besar. Contoh seperti ini banyak sekali kita temui, seperti terdapat sebagian orang yang ingin ahli astronomi lalu yang dilakukan adalah mengumpulkan lembaran-lembaran Qur’ân lapuk kemudian dibakar, dan abunya dicampur kopi atau teh (kadang pakai susu) diaduk larut lalu diminum, ditambah baca-baca wirid dan doa supaya bisa mengetahui alam perbintangan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan demikian, kesadaran bahwa ilmu positif memiliki rasionalitasnya sendiri kurang banyak dipahami. Faktor ini pula menyebabkan konflik antara keimanan di satu sisi dengan pengembangan sains-teknologi pada sisi lain dalam kebanyakan masyarakat Muslim.</p>
<p style="text-align:justify;">Spiritualitas bukan mistisisme</p>
<p style="text-align:justify;">Persoalan selanjutnya adalah memaknai term spiritualitas. Selama ini kata tersebut diidentikkan dengan mistisisme (<em>mysticism</em>) maupun tasauf (<em>tashawwuf</em>), bahkan tarekat (<em>tharîqah</em>). Sebenarnya ketiga macam istilah dan gerakan tersebut merupakan bagian dan cara pendekatan dari spiritualitas, tetapi bukan spiritualitas itu sendiri. Malah terbukti—sebagaimana akan kita bicarakan kemudian—tasauf dan tarekat populer justru tidak spiritual, bukan sunnah Nabi, dan sama berbahayanya dengan kecenderungan Barat yang cuma memerhatikan aspek rasionalitas saja.</p>
<p style="text-align:justify;">Spiritualitas ialah gerakan konsepsional dan operasional berorientasi ketuhanan, fokus pada Tuhan, sebuah sikap merasakan kehadiran Tuhan, bahwa Tuhan ada di mana-mana (<em>omnipresent) </em>dalam kehidupan kita. Spiritualitas yaitu berpikir dan berprilaku baik dengan tujuan meraih ridla Tuhan. Oleh karenanya spiritualitas tidak melulu berada dalam tasauf-tasauf populer yang menjamur seperti sekarang, melainkan mesti berada dalam hidup keseharian kita. Justru lembaga-lembaga tasauf cuma terbenam dalam dzikr, asyik di masjid ataupun majlis tertentu, dalam <em><span style="text-decoration:underline;">h</span>alaqah-<span style="text-decoration:underline;">h</span>alaqah</em>, demi menikmati ruang batiniah, dan menyisakan sedikit waktu saja untuk dunia sosial, semua itu bukan spiritualitas Islam. Kecenderungan mistik Nabi pun jauh sekali berbeda dari tasauf-tasauf populer yang marak di masa modern ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari segi doktrin adalah jelas, bahwa Islam menekankan kehidupan ukhrawî tapi tanpa melupakan dunia, sebagaimana termaktub dalam Q.s. al-Qashash/28: 7,</p>
<p style="text-align:justify;">Kejarlah segala yang Tuhan berikan untuk alam akherat, tapi jangan lupakan nasibmu di dunia. Berbuatlah baik sebagaimana Tuhan telah berbuat baik padamu. Dan jangan berbuat kerusakan di dunia, sungguh Tuhan tak mencintai para perusak.</p>
<p style="text-align:justify;">Ayat di atas patut diperhatikan, bahwa mengejar akherat adalah langkah pertama, dan kedua mengejar dunia. Dengan demikian ia dapat ditafsirkan justru alam akherat menjadi pedoman dan sarana bagi alam dunia. Lantaran alam akherat diletakkan di nomor pertama maka alam akherat tetap menjadi tujuan, sementara dunia bukan tujuan (maka menjadi alat saja), adapun tujuannya ialah alam akherat, yakni Tuhan itu sendiri. Dengan demikian ayat di atas seharusnya sama sekali tidak memunculkan paradigma untuk berlebihan pada alam akherat, dalam makna melupakan dunia.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekalipun terdapat di sana dukungan ayat guna memerhatikan serta mengutamakan alam akherat sebagaimana dikemukakan Q.s. adl-Dlu<span style="text-decoration:underline;">h</span>â’/93: 4, “<em>Wa la-’l-âkhirat<sup>u</sup> khayr<sup>un</sup> laka min<sup>a</sup> ’l-ûlâ</em>” (sungguh alam akherat lebih baik bagimu daripada dunia ini), akan tetapi kelanjutan ayat ini justru menghubungkan konteks keduniaan: agar tetap berjuang dan Tuhan memberi petunjuk (ayat 5), agar mengasihi orang-yatim (ayat 9), dan hirau terhadap orang yang dalam kesulitan/peminta-minta (ayat 10).</p>
<p style="text-align:justify;">Barangkali kita tidak puas dengan sekedar memunyai ajaran-ajaran doktrinal tersebut, sebatas dogma-dogma normatif dan pandangan-pandangan dogmatis, sehingga perlu diuji pernahkah masyarakat Muslim membuktikan kebenaran ayat tersebut dalam realitas? Tak pelak lagi kelaziman umat Islam ialah menghadirkan kehidupan Rasulullah dan masa-masa Sahabat sebagai contoh <em>par excellence. </em>Masa mereka—disebut masa <em>Salaf</em> (klasik)—senantiasa menjadi rujukan untuk pembuktian ayat-ayat normatif. Di dalam prilaku mereka pula seluruh cerminan dogma al-Qur’ân diejawantahkan. Tulisan ini akan memaparkan spiritualitas Nabi dan salah seorang Sahabatnya yang sukses, ‘Umar b. al-Khaththâb. Dari keduanya dapat dipetik konsepsi spiritualitas Islami.</p>
<p style="text-align:justify;">Isrâ’-Mi‘râj Spiritualitas Rasulullah</p>
<p style="text-align:justify;">Peristiwa Isrâ’-Mi‘râj merupakan salah satu bukti ditunjukkan Nabi ihwal spiritualitas Islami, namun hal ini luput dari perhatian <em>nussâk</em> (para pejalan di jalan Tuhan) dan <em>zuhhâd</em> (para mistikus) kontemporer. Isrâ’-Mi‘râj merupakan ekspresi mistisisme Islam yang jenuin, orisinal, berbeda dari cara-cara Yahudi maupun Kristiani. Untuk memudahkan pemahaman kita terhadap peristiwa tersebut, kami kutipkan bait-bait puisi ‘Abd<sup>u</sup> ’l-Quddûs Ganggoh, yang dengan seksama bait ini menawarkan konsepsi mistisisme Rasulullah dalam pengertian berbeda dari yang dijalankan sufi populer. Dan dalam makna seperti inilah sejatinya maksud spiritualitas Islam. Bunyi bait tersebut,</p>
<p style="text-align:justify;">Mu<span style="text-decoration:underline;">h</span>ammad telah naik ke langit tertinggi</p>
<p style="text-align:justify;">lalu kembali lagi</p>
<p style="text-align:justify;">Demi Allah aku bersumpah</p>
<p style="text-align:justify;">kalaulah aku yang mencapai tempat itu</p>
<p style="text-align:justify;">tak sudi aku pulang kembali<a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn3"></a></p>
<p style="text-align:justify;">Puisi di atas menjelaskan perbedaan antara seorang sufi dan Nabi. ‘Abd<sup>u</sup> ’l-Quddûs adalah seorang sufi, dan bagi seorang sufi—seperti para sufi lainnya—persatuan dengan Tuhan (<em>wa<span style="text-decoration:underline;">h</span>dat<sup>u</sup> ’l-wujûd, wa<span style="text-decoration:underline;">h</span>dat<sup>u</sup> ’sy-syuhûd</em>) adalah tujuan terakhir. Jeritan ‘Abd<sup>u</sup> ’l-Quddûs di atas adalah juga jeritan seluruh sufi di dunia ini. Maka tak heran bila telah bersatu dengan Tuhan, seorang sufi (tercermin dari sumpah ‘Abd<sup>u</sup> ’l-Quddûs tersebut) akan tetap bersama Tuhan dan tidak akan kembali pulang memijak bumi. Berbeda dari sufi, Nabi memraktikkan sikap berseberangan, yakni pertemuannya dengan Tuhan justru menjadi tenaga untuk menyebarkan pesan nubuwwah pada umat manusia dan hidup di aras kemanusiaan, untuk itulah beliau memilih turun kembali ke bumi. Sufi itu mabuk Tuhan, pemabuk pada Tuhan—mungkin juga lebih dari itu, yakni narkobis Tuhan—tapi mabuk di situ ternyata bukan sunnah Nabi. Biarpun sudah bertatap-tatapan dengan Tuhan, saling menatap, dan malah mengatasi kelebihan Nabi Mûsâ karena sudah pingsan baru terkena sinarNya, selaras ungkapan penyair Indo-Persia akhir abad 15, Jamâl Kanboh,</p>
<p style="text-align:justify;">Moses went out of his mind by a single revelation of the Attributes—</p>
<p style="text-align:justify;">You see the Essence of the Essence, and still smile<a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn4"></a></p>
<p style="text-align:justify;">(Mûsâ pingsan karena permukaan cahaya Realitas belaka</p>
<p style="text-align:justify;">namun tuan tersenyum melihat dasarNya yang terdalam)<a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn5"></a></p>
<p style="text-align:justify;">walaupun malah tersenyum kala melihat EsensiNya, namun Rasulullah tidaklah memilih untuk bertahan bersamaNya, melainkan kembali ke alam fana untuk mengajak umat manusia bersama-sama menuju keselamatan dan kedamaian. Fazlur Rahman, dalam sebuah karyanya, melukiskan Rasulullah sama sekali tidak terbenam dalam spekulasi mistik ataupun misteri-misteri ketuhanan sebagaimana digarap habis oleh sufi dan tarekat populer, lantaran yang diutamakan beliau ialah penciptaan ideal moral-keagamaan masyarakat. Pengembaraan spiritual bukanlah untuk spiritualitas itu sendiri tetapi supaya bermakna untuk aksi dalam sejarah.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Muhammad’s Prophetic consciousness, which issued in his mission, was founded upon very definite, vivid and powerful mystic experiences briefly described or alluded to in the Qur’ân (XVII, 1; LIII, 1-12 and 13-18; 19-25). It is interesting that all these descriptions of experiences and visions belong to the Meccan period; in the Medina era we have a progressive unfolding of the religio-moral ideal, and the foundation of the social order for the newly instituted community but hardly any allusions to inner experiences. This is in consonance with the orientation of the Prophetic concsiousness for which the spiritual experience is not dwelt on and enjoyed for its own sake but is primarily meaningful for action in history. (From this point of view, the claims of later <span style="text-decoration:underline;">S</span>ûfîs, that in practising mysticism they are only following the spiritual legacy of the Prophet, is not altogether fanciful even if it may be questioned on historical grounds). Indeed, even the allusions in the Meccan period are not made by the Qur’ân for the sake of pure description but to support the truth of the Prophet’s mission…&#8230;.<a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn6"></a></p>
<p style="text-align:justify;">(Kesadaran kenabian, yang dibebankan dalam misinya, dibangun di atas landasan pengalaman-pengalaman mistik sangat tegas, kuat dan kukuh, yang secara ringkas digambarkan atau disinggung dalam al-Qur’ân (al-Isrâ’/17: 1, an-Najm/53: 1-12, dan 13-18; at-Takwîr/81: 19-25). Menarik bahwa seluruh gambaran pengalaman dan visi tersebut terjadi dalam periode Makkah; dalam periode Madînah kita temui kejelasan progresif dari ideal moral-keagamaan, dan pembangunan tatanan sosial untuk masyarakat yang baru dibentuk, tapi kecil sekali perhatian tersirat terhadap pengalaman batin. Ini sesuai dengan orientasi kesadaran nubuwwah sebab pengembaraan spiritual bukanlah diperuntukkan atau dinikmati untuk kepentingan spiritualitas itu sendiri, melainkan terutama agar bermakna bagi aksi dalam sejarah. (Dari sudut pandang ini, klaim-klaim para sufi belakangan, bahwa dalam memraktikkan mistisisme mereka cuma mengikuti ketentuan spiritual Nabi, bukanlah khayalan atau dibuat-buat sekalipun mungkin dasar-dasarnya masih patut dipertanyakan). Sungguh, bahkan ayat-ayat masa Makkah tadi tidak dimaksudkan al-Qur’ân semata-mata untuk penjelasan mistisisme tapi untuk mendukung misi Nabi…..)</p>
<p style="text-align:justify;">Dan begitulah lalu sejarah Nabi pun dijalani selama 23 tahun (13 tahun di Makkah dan 10 tahun Madînah) buat membangun sebuah generasi, dengan fokus pada pembentukan tatanan sosial yang sejahtera, damai dan kuat. Masing-masing kita sudah amat akrab dengan sejarah Nabi ini, dus tidak perlu diurai. Satu hal ditekankan di sini bahwa kehidupan Rasul adalah kehidupan penuh kesederhanaan, kebersahajaan, walaupun keuntungan materi sebenarnya melingkunginya. Kemudian <em>uswah</em> beliau ini dicontoh oleh pelanjutnya. Hingga di masa ini pun, senada dengan langkah-langkah Nabi, para Sahabat tidak terpanggil oleh seruan-seruan misteri sufistik.</p>
<p style="text-align:justify;">…..Nor did the majority of the Companions ask many questions about the nature of these spiritual experiences. For one thing, they were being trained for a moral purpose on a religious basis and their activism probably made them disinclined towards an inquiry into the metaphysical secrets of spiritualism. They were interested in divine commands, not in the <span style="text-decoration:underline;">S</span>ûfic mysteries. Besides, they must have thought that these spiritual flights were characteristic of the Divine Messenger and that their duty lay in believing and in carrying out what they believed (which itself was, as history knows so well, a formidable task) with an intensity of faith and a deep sense of purpose.<a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn7"></a></p>
<p style="text-align:justify;">(…..Mayoritas para Sahabat juga tidak banyak bertanya mengenai pengalaman spiritual ini. Satu hal penting, mereka sedang dilatih untuk memerhatikan tujuan moral berlandaskan asas-asas agama, dan kegiatan mereka boleh jadi membuat mereka tak cenderung pada pencarian rahasia-rahasia metafisik spiritualisme. Mereka tertarik pada perintah-perintah Tuhan, bukan misteri-misteri sufistik. Selain itu, dalam benak mereka pasti bernah terpikir bahwa pengembaraan spiritual tersebut merupakan karakteristik Rasulullah, dalam mana kewajiban mereka ialah mempercayai dan melaksanakan yang dipercayai (yang hal itu memang merupakan, sebagaimana ditunjukkan sejarah, tugas berat) dengan kesungguhan keimanan dan perasaan mendalam).</p>
<p style="text-align:justify;">Kini semakin tegas bahwa spiritualitas masyarakat Islam klasik lebih tertumpu pada pembangunan tatanan moral ideal sesuai ajaran-ajaran al-Qur’ân, bukan pada spekulasi rahasia-rahasia sufistik dan petualangan mistisisme. Perjalanan hidup ‘Umar b. Khaththâb malah lebih melukiskan spiritualitas itu diraih dalam kehidupan kesehariannya bukan dengan menyepi (<em>i‘tizâl</em>) dari kerumunan. Perlu disampaikan di sini, Rasulullah memang sering melakukan <em>ta<span style="text-decoration:underline;">h</span>annuts </em>(meditasi) di gua <span style="text-decoration:underline;">H</span>irâ’, tapi jangan lupa bahwa tindakan beliau tersebut dalam rangka mencari konsepsi yang benar. Bersamaan ketika mana diangkat menjadi seorang utusan Tuhan, serentak itu pula beliau berhenti mengasingkan diri untuk kemudian diganti dengan terlibat penuh dalam dunia kemasyarakatan, menyampaikan wahyu-wahyu Tuhan, serta mengajak bangsa Arab Makkah mendengar dan mengikuti seruan Tuhan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan lain kata, sejak Mu<span style="text-decoration:underline;">h</span>ammad dinobatkan nabi, detik itu pula beliau memperoleh konsepsi dan meninggalkan meditasi, untuk selanjutnya hanya menjalankan konsepsi tersebut, yang merupakan perintah Tuhan. Itu pula yang dilakukan ‘Umar, yakni menjalankan seluruh yang diajarkan Nabi.</p>
<p style="text-align:justify;">Spiritualitas ‘Umar b. Khaththâb</p>
<p style="text-align:justify;">‘Umar b. Khaththâb dikenal dengan julukan <em>al-fârûq</em> (sang pembeda, mampu membedakan antara yang haqq dan batil). Perangainya keras dan kasar, tetapi lurus dan tulus. Sekalipun kata-katanya kasar, tapi mengandung kebenaran, sehingga Nabi sendiri pernah bersabda, “Allah telah menempatkan kebenaran di lidah dan hati ‘Umar”, atau dalam versi lain, “Allah telah menentukan kebenaran di lidah ‘Umar untuk semua ucapan yang dikatakannya”. Kekerasan hatinya mendorongnya untuk selalu konsekuen, sesuai antara kata dan laku. Ia menjadi pemimpin, khalifah kedua, menggantikan Abû Bakr (dijuluki ash-Shiddîq) lewat penunjukan Abû Bakr sendiri dan disetujui bersama.<a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn8"></a></p>
<p style="text-align:justify;">Islam di masa ‘Umar inilah merupakan puncak pertama ajaran Islam menyebar ke pelbagai daerah karena pembebasan (<em>fat<span style="text-decoration:underline;">h</span></em>) bukan penaklukan, dan dalam periodenya pula lahir banyak produk ijtihad—demi meresponsi persoalan-persoalan baru seiring dengan perluasan daerah yang memiliki tradisi dan perdaban berbeda. Kekuasaan Islam di tangannya terbentang dari perbatasan Cina di timur, sampai ke seberang Cyrenaica di barat, dari Laut Kaspia di utara, hingga Nubia di selatan, termasuk Persia, Irak, Syam (berikut Bayt<sup>u</sup> ’l-Maqdis Yerusalem) dan Mesir. Ia adalah contoh kepala negara dan pemimpin (<em>amîr<sup>u</sup> ’l-mu’minîn</em>) paling sukses di era Sahabat. Di masanya pula dua kota terkenal didirikan: Kûfah dan Bashrah. Kelak dari kedua kota ini lahir sarjana-sarjana Muslim terkemuka. Dengan kemenangan dan kejayaan tersebut, ditunjang prestasi-prestasi mengagumkan, sudah tentu ‘Umar akan menikmati kehidupan layak, dengan pendapatan dan penghasilan lebih banyak di atas rata-rata, terutama dari <em>ghanîmah </em>(pampasan perang dari daerah yang ditaklukkan lewat peperangan), <em>fay’</em> (pampasan perang diperoleh tanpa perang), <em>jizyah </em>(pajak masyarakat dzimmî)<em>,</em> <em>kharaj</em> (pajak dari hasil pertanian di daerah taklukan), dengan jumlah 1/5 sesuai ketentuan al-Qur’ân (dalam hal jumlah ini ‘Umar meniru Rasulullah), belum lagi insentif atau bonus-bonus lainnya.<a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn9"></a></p>
<p style="text-align:justify;">Sejarah ternyata berbicara lain, ‘Umar justru sangat berhati-hati terhadap kekayaan materi bahkan keras sekali, disiplin terhadap dirinya lebih keras daripada terhadap rakyatnya. Karena kedisiplinan itulah rakyatnya selalu menerima keputusan dan kebijakannya, sebab mereka tahu dan yakin bahwa ‘Umar tidak akan berbuat curang, kata-katanya penuh kebenaran sekalipun kasar. Beberapa riwayat berikut mengisahkan tingkah-laku dan kepribadiannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah umat Islam membebaskan kota Madâ’in (ibukota Persia) seperlima pampasan perang ditambah barang-barang berharga, mahal dan bernilai tinggi, dikirim kepada ‘Umar. Di antara barang tersebut terdapat pakaian kebesaran Kisra, beberapa pedang dan baju besi. Melihat hal itu ‘Alî b. Abû Thâlib menyarankan ‘Umar untuk menerima dan memakai, “Anda hidup sangat sederhana dengan menahan diri dari segala yang anda rasa tidak baik, sehingga rakyat anda juga begitu. Kalau saja anda mau menyenangkan diri tentu mereka juga akan begitu”. Jawaban ‘Umar, “Allâhumma ya Allah, Engkau telah menghindarkan semua ini dari RasulMu dan NabiMu, padahal dia lebih Kau cintai daripada aku, lebih Kau muliakan daripadaku, juga Engkau telah menghindarkannya dari Abû Bakr, yang lebih Kau cintai daripadaku, lebih Kau muliakan daripadaku. Maka jika semua ini akan Kau berikan padaku, aku berlindung kepadaMu, ya Allah, juga jangan sampai Kau berikan padaku untuk memuliakanku”. ‘Umar khawatir kekayaan Kisra tersebut adalah ujian Tuhan, dan akan menimbulkan contoh bagi rakyatnya, ia pun menangis sehingga orang-orang tersentuh dan iba melihatnya. Akhirnya ia meminta Abd<sup>u</sup> ’r-Ra<span style="text-decoration:underline;">h</span>mân b. ‘Awf menjual barang-barang tadi, dan uangnya dibagi-bagikan kepada penduduk Madînah. Padahal ‘Umar dahulu merupakan bagian orang-orang Arab Quraysy yang menjelajahi bumi berbulan-bulan, kadang tahun, sekedar untuk sesuap nasi. Aneh, hatta pun saatnya tiba untuk menikmati, dengan kedudukannya sebagai kepala negara kini, ia tetap tinggalkan juga semua itu.<a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn10"></a></p>
<p style="text-align:justify;">Riwayat lain menggambarkan, selama menjadi kepala pemerintahan gaji ‘Umar hanya dari Bayt<sup>u</sup> ’l-Mâl, sekedar cukup untuk dirinya dan keluarganya. Baginya memerlakukan harta Allah adalah seperti harta anak yatim, bilamana kurang ia penuhi secukupnya, jikalau sudah cukup ia tak minta lebih. Tetapi hal ini pun ternyata ia langgar karena disiplin diri yang ketat. Suatu hari ‘Umar mendapat kiriman kain <em>burd, </em>lalu ia bagikan pada setiap orang dengan mendapat satu helai. Saat ia naik mimbar dengan pakaian tersebut rakyatnya interupsi bahwa ia tak akan lagi menaati ‘Umar karena bajunya tersebut tidak mungkin dapat dibuat dari sehelai kain <em>burd, </em>paling sedikit dua helai. Lalu ‘Umar menyuruh anaknya, ‘Abd<sup>u</sup> ’l-Lâh, menjelaskan. Dijelaskan bahwa <em>burd </em>anaknya diberikan pada ayahnya agar cukup menjadi kemeja. Sang interuptor pun diam, sekaligus puas dengan penjelasan tersebut, dan kembali siap taat pada pemimpinnya. <a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn11"></a></p>
<p style="text-align:justify;">Selain itu, ‘Umar berkantor di masjid seperti Rasulullah, padahal para gubernurnya tinggal di bekas-bekas gedung para kaisar. Andaikan ‘Umar mau, ia dapat memerintahkan gubernurnya membuatkan tempat layak di Madînah, dan niscaya rakyat menyetujui demi mempertinggi harkat serta kehormatan seorang kepala negara. Tetapi yang dipikirkan ‘Umar ialah tidak menginginkan meninggalkan contoh seperti itu agar nanti tak dijadikan alasan bagi penerusnya untuk bermegah-megah, sebab ia sadar bahwa prilakunya menjadi <em>uswah musta<span style="text-decoration:underline;">h</span>abbah</em> (contoh yang akan diikuti dan disenangi). Di masjid inilah ‘Umar berdiam tanpa pengawal, tanpa pengiring, hinga menimbulkan teperanjat dan terpengarah dari para penguasa yang sempat datang menemuinya.<a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn12"> </a><a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn13"></a></p>
<p style="text-align:justify;">Pada suatu masa semenanjung Arab termasuk Madînah terserang wabah kelaparan akibat tak ada hujan selama sembilan bulan. Tanah menjadi hitam, gersang dan penuh abu, dan tahun ini disebut Tahun Abu (‘Âm<sup>u</sup> ’r-Ramâdah). Peternakan dan segala usaha pertanian pun hancur. Masyarakat sekitar Madînah berbondong-bondong pindah ke Madînah mohon bantuan ‘Umar, sehingga kota ini sesak, tertekan, penuh keluh kesah. Mengingat Madînah masih dapat bertahan karena keberadaan Bayt<sup>u</sup> ’l-Mâl, maka penduduk asli masih dapat menikmati makanan layak. Namun peristiwa terjadi, suatu hari ‘Umar bersama seorang Badui makan roti yang diremukkan dengan samin. Si Badui selalu menyuap dengan lemak yang terdapat di sisi luarnya, sehingga ‘Umar melihatnya seperti orang tak kenal makanan lezat. “Tampak anda tak pernah mengenyam lemak?”, tanya ‘Umar. “Ya,” jawabnya, “Saya tak pernah makan samin atau minyak zaitun, juga tak melihat ada orang memakannya sejak sekian lama hingga sekarang”. Mendengar ucapannya ‘Umar tersekat dan bersumpah sejak itu tidak akan lagi memakan daging atau samin kecuali keadaan kembali normal. Sejak itu pula ia hanya menyantap minyak zaitun, dan lebih sering kelaparan, sehingga banyak orang bilang, “Jika saja Allah tidak menolong kami dari Tahun Abu ini, kami kira ‘Umar pasti akan mati dalam kesedihan memikirkan nasib kaum Muslimin”. Kelaparan tersebut dapat diatasi setelah ‘Umar mengirim surat mohon bantuan kepada para gubernurnya di Syam dan Irak, kemudian dikirim bantuan dalam jumlah besar, dan melakukan shalat istisqâ’ di mana ‘Umar memohon kepada Allah agar kemarau segera berakhir lalu berdoa dengan memegang ‘Abbâs b. ‘Abd<sup>u</sup> ’l-Muththalib dengan tangis bercucuran, “Allâhumma ya Allah, kami memohon pertolonganMu dengan mengajak (syafa‘at) paman RasulMu”. Allah mengabulkan doa mereka dan menurunkan hujan. Beberapa kebijakan ‘Umar selama Tahun Abu dan tahun kelaparan ialah tidak memungut zakat dari rakyat, dan hidup seperti rakyat, sebagaimana ia katakan “Bagaimana saya akan dapat memerhatikan keadaan rakyat jika saya tidak ikut merasakan yang mereka rasakan”. Tindakan ini membawa efek dua hal. Pertama, merasakan penderitaan orang lain. Kedua, menentramkan hati rakyat bahwa kepala negara bersama mereka dalam suka dan duka. Sehingga hati mereka tidak <em>pegel</em> lantaran pimpinan mereka hidup sepenanggungan. <a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn14"></a></p>
<p style="text-align:justify;">Demikianlah sikap ‘Umar di masa resesi dan krisis; tidak kurang-kurang ia tunjukkan <em>sense of crisis</em> pada rakyatnya. Hal ini tak lain supaya ‘Umar memberi contoh untuk diikuti, seperti kata-kata yang kerap ia ucapkan, “Rakyat masih akan tetap jujur selama pemimpin-pemimpin dan panutan mereka jujur. Rakyat akan memenuhi kewajiban pada pemimpin sejauh pemimpin memenuhi kewajibannya kepada Allah. Kalau para pemimpin hidup bermewah-mewah dan serakah, rakyat juga akan mengikuti mereka”.  <a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn15"></a></p>
<p style="text-align:justify;">Di samping karakteristik telah dijelaskan di muka, ‘Umar mengikuti pula tradisi Nabi dalam memerlakukan rakyat dan negeri yang dibebaskan. Misalnya, ketika pembebasan Yerusalem membutuhkan peraturan-peraturan segera dalam bentuk perjanjian antara pemenang dan yang kalah, perjanjian segera dibuat dengan pihak gereja di Bayt<sup>u</sup> ’l-Maqdis Yerusalem berbunyi,</p>
<p style="text-align:justify;">Bismillâh<sup>i</sup> ’r-Ra<span style="text-decoration:underline;">h</span>mn<sup>i</sup> ’r-Ra<span style="text-decoration:underline;">h</span>îm. Inilah jaminan telah diberikan oleh hamba Allah ‘Umar <em>amîr<sup>u</sup> ’l-mu’minîn</em> kepada pihak Aelia: Jaminan keselamatan untuk jiwa dan harta mereka, untuk gereja-gereja dan salib-salib mereka , bagi yang sakit dan sehat, dan bagi kelompok agama lain. Gereja-gereja mereka tak boleh ditempati atau dirobohkan, tak boleh ada yang dikurangi apapun dari dalam mereka atau yang berada di lingkungan mereka, baik salib maupun harta benda milik mereka. Mereka tidak boleh dipaksa dalam hal agama atau diganggu. Tak diperbolehkan ada orang Yahudi tinggal bersama mereka di Aelia. Penduduk Aelia harus membayar jizyah seperti dilakukan penduduk Madâ’in. Mereka harus mengeluarkan orang-orang Romawi dan para pencuri. Mereka yang keluar akan dijamin jiwa dan harta hingga sampai ke tempat tujuan mereka yang aman. Barang siapa ada yang tinggal di antara mereka, keamanan mereka tetap dijamin dan kewajiban mereka membayar jizyah sama dengan kewajiban penduduk Aelia. Siapa pun penduduk Aelia ingin pergi atas tanggungan sendiri dan hartanya sendiri bersama pihak Romawi dan meninggalkan rumah-rumah ibadah serta salib-salib mereka maka mereka bertanggung-jawab atas diri mereka, rumah-rumah ibadah dan salib-salib mereka untuk sampai ke tujuan yang aman. Bagi penduduk yang ada di tempat itu, barang siapa ingin tetap tinggal, maka mereka berkewajiban membayar jizyah seperti penduduk Aelia. Barang siapa hendak pergi bersama pihak Romawi bolehlah pergi, dan yang mau kembali kepada keluarga kembalilah. Tak boleh diambil dari mereka sebelum mereka selesai memetik hasil panennya.</p>
<p style="text-align:justify;">Segala yang ada dalam surat perjanjian ini merupakan janji dengan Allah dengan jaminan RasulNya, para khalifah dan jaminan orang-orang beriman, jika mereka sudah membayar jizyah yang menjadi kewajiban mereka. (‘Umar menutup surat perjanjian dengan tanda tangannya disaksikan Khalîd b. Walîd, Amr b. ‘Âsh, ‘Abd<sup>u</sup> ’r-Rahmân b. ‘Awf, dan Mu‘âwiyah b. Abû Sufyân). <a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn16"></a></p>
<p style="text-align:justify;">Perjanjian di atas membuktikan ‘Umar sebagai kepala negara yang mengerti dunia politik dan ketatanegaraan, tapi tetap dengan kehidupan sederhana dan <em>zuhd.</em> Landasan zuhd tidak menghalangi seseorang untuk piawai mengatur tatanan-sosial. Seorang zâhid tidak mesti berkubang dalam ritualitas <em>tahlîl</em> dan <em>ta<span style="text-decoration:underline;">h</span>mîd</em> saja, atau kosong dan apriori pada perkara-perkara keduniaan. Sebaliknya, dengan penguasaan ilmu-ilmu akheratlah urusan dunia diurus, sebagaimana Nabi mengurus Makkah dan Madînah setelah Isrâ’-Mi‘râj, sebagaimana ‘Umar membebaskan negeri-negeri jahiliyah setelah mengerti prinsip nubuwwah dan hidup dalam masa kenabian Rasulullah.</p>
<p style="text-align:justify;">Spiritualitas Modern</p>
<p style="text-align:justify;">Dari gambaran prilaku Nabi dan ‘Umar di atas, tidakkah kini jelas perihal makna spiritualitas? Kepribadian mereka itulah yang saya maksud sebagai spiritualitas Islam. Spiritualitas dengan demikian tidak dicari di masjid-masjid, atau <span style="text-decoration:underline;">h</span>alaqah-<span style="text-decoration:underline;">h</span>alaqah, apalagi gua-gua, tapi di dalam keseharian kita. Mampukah kita tak tergoda oleh kemewahan yang mengelilingi, seperti kemampuan Nabi dan ‘Umar dalam mengambil jarak, bahkan meninggalkan harta yang berlimpah, padahal keduanya penguasa? Ujian spiritualitas bukan pada saat miskin, atau dalam kemiskinan, tetapi justru dalam kelimpahan. Seorang tak memiliki apa-apa diuji dengan kemiskinan bukanlah ujian spiritualitas namanya, melainkan “sudah menjadi tradisi”. Tetapi kesuksesan spiritualitas bukan pula dalam kemampuan menjauhkan godaan, melainkan pada kemampuan mengelolanya untuk tujuan-tujuan lebih mulia. ‘Umar menolak harta untuk dirinya, namun pada sisi lain ia mengelolanya demi kesejahteraan rakyatnya secara keseluruhan. Inilah yang dimaksud spiritualitas Islam itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan sifat-sifat spiritualitas tersebut adalah modern, karena sesuai untuk setiap masa juga menjadi impian semua orang. Dikatakan modern karena modernitas merupakan <em>amr<sup>un</sup> shâli<span style="text-decoration:underline;">h</span><sup>un</sup> wa sâlim<sup>un</sup> fî kull<sup>i</sup> zamân<sup>in</sup> wa makân<sup>in</sup></em> (sesuatu yang cocok, tepat dan selamat di setiap zaman dan tempat). Jadi unsur-unsur modern mengandung keabadian, perennial, yakni perkara yang selalu menjadi dambaan manusia sepanjang masa. Prilaku ditunjukkan oleh Nabi dan ‘Umar di atas merupakan prilaku ideal, didamba oleh setiap manusia di mana pun dan kapan pun, oleh karenanya abadi. Spiritualitas ini pula yang membedakannya dari spiritualitas sufi populer yang lebih menciptakan manusia menjadi pasif. Spiritualitas tasauf populer bukanlah spiritualitas menurut tradisi Nabi dan masyarakat Salaf, sebab membuat manusia berkubang dalam kejumudan.</p>
<p style="text-align:justify;">Bila sudah sampai pengertian kita pada spiritualitas seperti dipraktikkan Muslim klasik, lewat ketokohan Nabi dan ‘Umar, maka dengan sendirinya tidak ada lagi dikhotomi antara rasionalitas dan spiritualitas—sebagaimana kerap dipahami secara keliru selama ini. Melalui spiritualitas itulah Nabi dan ‘Umar membuat masyarakat Muslim cerdas secara keilmuan. Andaikan saja Nabi tidak mengajarkan spiritualitas seperti itu, maka tak ada ‘Umar membebaskan daerah Persia dan Romawi; andaikata ‘Umar tidak membebaskan negeri-negeri tersebut, tentu tak ada ijtihad, tak ada kemajuan umat Muslim dalam sains dan teknologi. Sejarah menunjukkan sains dan teknologi Islam merupakan pengambilan dari peradaban lain, bukan milik Islam sendiri. Namun kemudian ilmu pengetahuan tersebut dapat dikuasai. Ini mengindikasikan ilmu pengetahuan lebih kemudian daripada spiritualitas. Sebaliknya sejarah juga mencatat, negeri-negeri raksasa seperti Persia dan Romawi saat itu dapat dikalahkan, padahal keduanya adalah negeri penuh ilmu, padahal yang mengalahkan adalah pasukan ‘Umar yang belum mengetahui kemajuan dan ketinggian ilmu: faktor apakah yang menyebabkan hal ini terjadi?</p>
<p style="text-align:justify;">Kejatuhan maupun kemajuan sebuah masyarakat ternyata tidak tergantung pada sebesar atau setinggi apa ilmu yang dimiliki, melainkan tergantung pada spiritualitas yang dijalankan. Konsep ini oleh Nabi disebut akhlaq, “<em>Innamâ bu‘itst<sup>u</sup> li’utammim<sup>a</sup> makârim<sup>a</sup> ’l-akhlâq</em> (sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan prilaku). Pepatah Arab sering mengingatkan lewat ucapan “<em>innamâ ’l-umam<sup>u</sup> ’l-akhlâq<sup>u</sup> mâ baqiyat fa’in humû dzahabat dzahabû</em>” (sungguh masyarakat tergantung pada akhlaqnya, bila akhlaq tersebut hancur maka hancurlah masyarakat tersebut).</p>
<p style="text-align:justify;">Penutup</p>
<p style="text-align:justify;">‘Ibâda ’l-Lâh<sup>a</sup> inna ’l-Lâh<sup>a</sup> ya’muru bi ’l-‘adl<sup>i</sup> wa ’l-ihsân<sup>i</sup> wa îtâ’idzî ’l-qurbâ wa yanhâ ‘an<sup>i</sup> ’l-fakhsyâ’<sup>i</sup> wa ’l-munkar<sup>i</sup> wa ’l-baghy<sup>i</sup> la‘allakum tattaqûn<sup>a</sup>.</p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa Point Diskusi Epistemologi IIIT dengan tema</p>
<p style="text-align:justify;">“Antara Rasionalitas dan Spiritualitas: Menggagas Modernitas Religius”</p>
<p style="text-align:justify;">Nanang Tahqiq:</p>
<p style="text-align:justify;">Berangkat dari sebuah keyakinan bahwa rasionalitas dalam Islam bukanlah hal yang patut dipertentangkan dan dianggap baru, Mas Nanang berpandangan, merupakan sebuah kekeliruan besar bila kita mengatakan bahwa rasionalitas merupakan produk asli Barat. Berdiri di antara dua titik ekstrim ini (rasionalitas dan spiritualitas) merupakan sikap salah yang patut dihindari. Terlalu rasional tanpa nilai-nilai spirtual, hasilnya adalah gaya hidup yang kering, sementara terlalu spiritual juga hanya menghasilkan manusia yang terlalu menjauhi dunia. Karenanya untuk menyikapi dua titik ekstrim ini, Mas Nanang memberikan sebuah tawaran tentang spitualitas Umar ibn Khattab yang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan spritualitas Nabi.</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut Mas Nanang, spiritualitas yang pernah dilakukan oleh Umar adalah sebuah spitualitas yang sangat berbeda dengan spitualitas yang berkembang dalam dunia Islam belakangan yang lebih tepat disebut mistisisme. Perbedaan dasar dari spiritualitas Nabi, Umar dengan mistisisme yang dikembang oleh para mistikus Islam adalah kemauan untuk turun kembali bersama masyarakat awam bukan malah asik hidup bersama Tuhan di atas sana dan tidak lagi bersentuhan dengan dunia riil. Inilah perbedaan fundamental dari spitualitas yang dilakukan oleh Nabi, Umar dengan para mistikus Islam. Biasanya para mistikus ini asik mengejar <em>Wahdat al-Syuhud </em>atau <em>Wahdat al-Wujud </em>dan setelah mencapai maqom itu mereka tak mau turun untuk hidup bersama masyarakat. Nabi Muhammad dan Umar, menurut Nanang, setelah menemukan spitualitas tertinggi, keduanya turun kembali, hidup bersama masyarakat. Prinsip bahwa sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia menjadi paradigma yang melatarbelakangi keduanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Berbicara tentang pengetahuan dalam Islam, papar Mas Nanang, adalah pengetahuan yang betul-betul ada manfaatnya bagi manusia bukan hanya sekedar untuk berspekulasi belaka seperti pengetahuan tentang metafisis. Pengetahuan yang bersifat metafisis tidak banyak dikembangkan oleh para filsuf Islam kecuali hanya untuk kepentingan menagkis gugatan-gugatan yang datang dari pihak luar. Point penting lain yang dipaparkan oleh Mas Nanang adalah bahwa kemajuan yang ada dalam dunia Islam lebih banyak didorong oleh ekspansi kekuasaan daulah Islam bukan karena peran dominan para ilmuan dan para filsuf. Dalam hal ini, orang seperti Umar bin Khattab adalah orang yang paling berjasa bagi kemajuan Islam bila dibandingkan dengan filsuf-filsuf yang ada dalam dunia seperti al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Rushd dan lain sebagainya.</p>
<p style="text-align:justify;">Setidaknya kesimpulan terakhir inilah yang agak sedikit memancing beberapa audiens untuk  angkat bicara dengan membantah kesinpulan itu. Seperti yang disampaikan oleh Mas Gaus (Penerbitan Paramadina) bahwa menurutnya peran pengetahuan bagi peradaban Islam tidaklah kecil. Filsuf-filsuf seperti Ibnu Rushd, al-Kindi, al-farabi adalah para filsuf yang banyak memainkan peran bagi peradaban Islam klasik. Untuk itu adalah sebuah keharusan bila Islam ingin maju, mereka harus belajar keilmuan Barat. Ia menangkap bahwa Mas Nanang menganjurkan untuk tidak perlu belajar ke Barat dalam hal pengetahuan karena dalam dunia Islam kekayaan itu sudah ada.</p>
<p style="text-align:justify;">Analisa yang lain datang dari Ismail Fahmi (RedPel Journal IIIT On Line), menurutnya problem kemunduran Islam tidak hanya disebabkan oleh karena Islam terlalu cenderung pada mistisisme namun ada faktor yang lain yakni faktor politik-ekonomi. Ketika Vasco da Gama membuka jalur ekonomi antara Eropa dengan dunia Asia dan Afrika, ia tidak melibatkan dunia Arab dan Timur Tengah yang nota bene adalah wilayah basis Islam. Sehingga dengan ketidakterlibatan dunia Arab atau Timur Tengah dalam jalur perdagangan itu, dunia Arab semakin tertinggal oleh Barat.</p>
<p style="text-align:justify;">Tanggapan yang lain datang dari Mas Budhi (Direktur Pusat Kajian Keagamaan Paramadina), menurutnya, kesimpulan bahwa Barat terlalu rasional serta mengabaikan dimensi spiritual merupakan simplikasi masalah bila diberlakukan pada Barat masa kini. Karena bandul kebudayaan Barat pada saat ini semakin bergeser menuju dimensi-dimensi yang tidak dapat lagi disebut rasional. Penemuan dan perkembangan kosmologi saat ini menunjukkan hal itu. Penolakan peran dunia mistik dalam Islam juga sebuah kesimpulan yang sangat keliru, karena tanpa peran kaum sufi yang juga sering disebut kaum mistik Islam, perkembangan Islam di Indonesia tidak akan secepat yang pernah terjadi. Sebagian besar  Srilanka dan Indonesia atau wilayah nusantara yang beragama Budha dan Hindu segera terislamkan karena peran kaum sufi yang datang ke wilayah nusantara.</p>
<p style="text-align:justify;">Demikian beberapa point Diskusi yang dapat disampaikan dalam Diskusi Epistemologi. Saya mengharapkan adanya beberapa pemikiran atau masukan untuk diskusi ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Wassalam,</p>
<p style="text-align:justify;">Dept. of Epistemology</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<div style="text-align:justify;">
<hr size="1" />
</div>
<p style="text-align:justify;">Dipresentasikan dalam seminar  bulanan IIIT “Epistemologi Islam”, di Yayasan Wakaf Paramadina, Plaza III Pondok Indah Blok F5-7, Jl. TB Simatupang, Rabu 19 Pebruari 2003, pkl. 14<sup>00</sup>-16<sup>00</sup>.<a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn17"></a></p>
<p style="text-align:justify;">Istilah ­<em>aki-nini,</em> ganti dari term kakek-nenek, untuk menunjukkan sangat tua dan ringkih.<a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn18"></a></p>
<p style="text-align:justify;">M. Dawam Rahardjo, “Peranan Pekerja dalam Pembangunan Ekonomi”, artikel disajikan pada Orasi Ilmiah “Peranan Kaum Pekerja dalam Pembangunan Ekonomi” diselenggarakan kerjasama Lembaga Studi dan Pengembangan Etika Usaha (Lspeu) Indonesia dan PT. Jamsostek (Persero), di Birawa Assembly Hall, Menara Bidakara-Jakarta, Kamis 6 Pebruari 2003, 7.<a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn19"></a></p>
<p style="text-align:justify;">Muhammad Iqbal, <em>Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam,</em> terj. Ali Audah, Taufiq Ismail dan Goenawan Mohammad (Jakarta: Tintamas, 1966), 123. <a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn20"></a></p>
<p style="text-align:justify;">Annemarie Schimmel, <em>And Muhammad is His Messanger</em> (Chapel Hill and London: The University of North Carolina Press, 1985), 163 <a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn21"></a></p>
<p style="text-align:justify;">Lirik terj. dikutip dari Muhammad Iqbal, <em>Membangun Kembali,</em> 117. <a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn22"></a></p>
<p style="text-align:justify;">Fazlur Rahman, <em>Islam</em> (Chicago and London: University of Chicago Press, 1979), 128. <a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn23"></a></p>
<p style="text-align:justify;">Ibid. <a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn24"></a></p>
<p style="text-align:justify;">Muhammad Husain Haekal, <em>Umar bin Khattab: Sebuah Telaah Mendalam tentang Pertumbuhan Islam dan Kedaulatannya di Masa itu,</em> terj. Ali Audah (Bogor: Litera AntarNusa, 2002), 60. Seluruh rujukan tentang ‘Umar dikutip dari buku ini.    <a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn25"></a></p>
<p style="text-align:justify;">Ibid., 811.<a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn26"></a></p>
<p style="text-align:justify;">Ibid., 240-2. <a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn27"></a></p>
<p style="text-align:justify;">Ibid., 654-5. <a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn28"></a></p>
<p style="text-align:justify;">Ibid., 651-52. <a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn29"></a></p>
<p style="text-align:justify;">Ibid., 399-404. <a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn30"></a></p>
<p style="text-align:justify;">Ibid., 356-64. <a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn31"></a></p>
<p style="text-align:justify;">Ibid. <a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn32"></a></p>
<p style="text-align:justify;">Ibid., 312-3. <a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn33"></a></p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<div style="text-align:justify;">
<hr size="1" />
<div>
<p><a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftnref1"></a></p>
</div>
<div>
<p><a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftnref2"></a></p>
</div>
<div>
<p><a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftnref3"></a></p>
</div>
<div>
<p><a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftnref4"></a></p>
</div>
<div>
<p><a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftnref5"></a></p>
</div>
<div>
<p><a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftnref6"></a></p>
</div>
<div>
<p><a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftnref7"></a></p>
</div>
<div>
<p><a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftnref8"></a></p>
</div>
<div>
<p><a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftnref9"></a></p>
</div>
<div>
<p><a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftnref10"></a></p>
</div>
<div>
<p><a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftnref11"></a></p>
</div>
<div>
<p><a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftnref12"></a></p>
</div>
<div>
<p><a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftnref13"></a></p>
</div>
<div>
<p><a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftnref14"></a></p>
</div>
<div>
<p><a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftnref15"></a></p>
</div>
<div>
<p><a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftnref16"></a></p>
</div>
<div>
<p><a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftnref17"></a></p>
</div>
<div>
<p><a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftnref18"></a></p>
</div>
<div>
<p><a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftnref19"></a></p>
</div>
<div>
<p><a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftnref20"></a></p>
</div>
<div>
<p><a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftnref21"></a></p>
</div>
<div>
<p><a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftnref22"></a></p>
</div>
<div>
<p><a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftnref23"></a></p>
</div>
<div>
<p><a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftnref24"></a></p>
</div>
<div>
<p><a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftnref25"></a></p>
</div>
<div>
<p><a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftnref26"></a></p>
</div>
<div>
<p><a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftnref27"></a></p>
</div>
<div>
<p><a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftnref28"></a></p>
</div>
<div>
<p><a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftnref29"></a></p>
</div>
<div>
<p><a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftnref30"></a></p>
</div>
<div>
<p><a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftnref31"></a></p>
</div>
<div>
<p><a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftnref32"></a></p>
</div>
<div>
<p><a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftnref33"></a></p>
</div>
</div>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asfuriahmad.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asfuriahmad.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asfuriahmad.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asfuriahmad.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/asfuriahmad.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/asfuriahmad.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/asfuriahmad.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/asfuriahmad.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asfuriahmad.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asfuriahmad.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asfuriahmad.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asfuriahmad.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asfuriahmad.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asfuriahmad.wordpress.com/106/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asfuriahmad.wordpress.com&amp;blog=8304576&amp;post=106&amp;subd=asfuriahmad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asfuriahmad.wordpress.com/2011/03/27/antara-rasionalitas-spiritualitas-menggagas-modernitas-religius/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c978a72734be85dc6f9b3d6cb47d6db4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">asfuriahmad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ANTARA RASIONALITAS &amp; SPIRITUALITAS:MENGGAGAS MODERNITAS RELIGIUS</title>
		<link>http://asfuriahmad.wordpress.com/2011/03/25/antara-rasionalitas-spiritualitasmenggagas-modernitas-religius/</link>
		<comments>http://asfuriahmad.wordpress.com/2011/03/25/antara-rasionalitas-spiritualitasmenggagas-modernitas-religius/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Mar 2011 04:08:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>asfuriahmad</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://asfuriahmad.wordpress.com/?p=107</guid>
		<description><![CDATA[Tema ini ialah upaya perpaduan prinsip rasionalitas dan spiritualitas Islam bagi kehidupan modern. Pandangan ini diajukan karena terjadi dikhotomi tajam antara rasionalitas di satu sisi dan spiritualitas di sisi lain. Masyarakat Islam dipertimbangkan hanya berpegang secara ekstrim pada salah satu di antara keduanya; bertumpu hanya pada spiritualitas serta meninggalkan dunia rasionalitas. Hasilnya, Islam menjadi keok, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asfuriahmad.wordpress.com&amp;blog=8304576&amp;post=107&amp;subd=asfuriahmad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Tema ini ialah upaya perpaduan prinsip rasionalitas dan spiritualitas Islam bagi kehidupan modern. Pandangan ini diajukan karena terjadi dikhotomi tajam antara rasionalitas di satu sisi dan spiritualitas di sisi lain. Masyarakat Islam dipertimbangkan hanya berpegang secara ekstrim pada salah satu di antara keduanya; bertumpu hanya pada spiritualitas serta meninggalkan dunia rasionalitas. Hasilnya, Islam menjadi <em>keok,</em> terseok-seok dari sisi sains dan ilmu-ilmu positif, namun pada sisi lain, yakni kehidupan agama marak seperti tampak pada setiap perayaan hari-hari besar Islam, masjid dan mushalla sarat jama‘ah, majlis-majlis dzikr dipenuhi para <em>sâlik</em> (pencari Tuhan), lembaga-lembaga tasauf dan tarekat tiada pernah <em>kehabisan</em> peminat dan peserta dan sebagainya dan seterusnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Berbeda dari Islam, di seberang sana muncul Barat dalam ekstrimitas yang lain, kutub tersendiri, dengan lebih mendewakan rasionalitas, yang akhirnya mendorong kemajuan sains dan ilmu-ilmu positif lainnya serta kesejahteraan kehidupan masyarakatnya. Dengan cara seperti itu nyaris dapat dikatakan kemiskinan hilang di dalam komunitas Barat. Tak seperti negara-negara mayoritas Muslim, kesejahteraan dalam kehidupan masyarakat Barat dilakukan melalui konsepsi <em>welfare state</em> (negara sejahtera) berkat pencapaian rasionalitas, tapi dengan ongkos kemanusiaan besar pada sisi lain, yakni kehidupan beragama padam. Sekalipun gereja-gereja cuma dipenuhi <em>nini-nini</em> dan <em>aki-aki</em>, itu pun dalam jumlah terhitung, namun perlindungan terhadap warganegara-tak-berdaya demikian memesona lewat program <em>enemployment benefit</em> (dana untuk para pengangguran), <em>family allowance</em> (tanggungan keluarga), <em>income supplements for the poorly aid</em> (bantuan gaji bagi berpenghasilan rendah), <em>old age pensions</em> (pensiunan hari tua), <em>medical care</em> (asuransi kesehatan), <em>free education </em>(bebas bea pendidikan), <em>public housing</em> (perumahan umum).<a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn1"> Pendek kata, fenomena Barat memperk</a>uat imaji: kian meninggalkan agama kian menyejahterakan masyarakat, dan semakin religius semakin terpuruk. Hal ini pula yang menimbulkan sinisme bahwa kehidupan spiritualisme menjadi biang keladi kemunduran masyarakat Islam, terbenam dalam khurafat, klenik, perdukunan, dan alam magis lainnya.<a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn2"></a></p>
<p style="text-align:justify;">Hemat kami, sesungguhnya banyak kekeliruan untuk mengerti persoalan spiritualitas dan rasionalitas dalam perspektif di atas, terlebih membuat keduanya berhadap-hadapan secara konfliktual. Tulisan ini akan mengulas persoalan-persoalan tersebut dengan tesis bahwa konflik itu muncul karena keliru pengertian. Tulisan ini pun akan tampak tradisional, di luar bayangan para ilmuwan, namun bagi kami justru di situlah kekuatan sebenarnya dari pesan Islam yang kini tersingkir jauh.</p>
<p style="text-align:justify;">Pendekatan Sains vs. Mistisisme</p>
<p style="text-align:justify;">Persoalan pertama sering mengecoh adalah pemahaman terhadap hukum-hukum pengetahuan (khususnya sains dan teknologi) di satu sisi dan hukum mistisisme pada sisi lain. Sains dan teknologi termasuk dalam kategori ilmu-ilmu positif, memunyai hukum tersendiri sehingga tak bisa didekati dengan mistisisme. Kekeliruan demi kekeliruan terus terjadi pada masyarakat Muslim disebabkan ketiadaan pengertian mengenai dua hal tersebut, sekalipun sejatinya Islam masa awal tidak pernah mengalami penderitaan seperti itu; yang mengalami justru Kristen lewat kasus Galilei Galileo dalam pertentangan mengenai doktrin geosentrisme (bumi menjadi pusat, dan matahari mengelilingi bumi) dan heliosentrisme (matahari menjadi pusat, dan bumi mengelilingi matahari). Tetapi realitas sekarang terbalik, Islam menjadi seperti Kristen masa lalu, dan Kristen berubah diri menjadi seperti Islam masa lalu.</p>
<p style="text-align:justify;">Ilmu-ilmu positif merupakan ilmu lebih bertumpu pada pengukuran, lewat ujian-ujian (eksperimen) secara fisik. Pendekatannya disebut induktif, yaitu meneliti langsung bendanya, mengamatinya dan menentukan kesimpulannya. Pendekatan induktif ini awalnya dilakukan oleh masyarakat Muslim, sebab sebelum Islam datang masyarakat masa itu—khususnya Yunani—mendekati alam-alam benda secara deduktif. Di samping itu masyarakat Yunani juga tidak appresiasi terhadap benda bahkan menyebutnya sesuatu yang hina, nista, rendah, karena menghalangi manusia mencapai kebahagiaan. Konsepsi Islam mengubah imaji benda dari barang hina menjadi netral sebab ayat-ayat al-Qur’ân penuh dengan anjuran untuk melihat alam dan benda-benda di alam ini. Sayang sekali ruh ini menjadi hilang di kebanyakan masyarakat Muslim, maka muncullah hal-hal aneh.</p>
<p style="text-align:justify;">Peristiwa-peristiwa aneh tersebut terlihat pada usaha mengeramatkan benda-benda mati. Sebagai contoh, sering kita dapatkan di suatu masyarakat tertentu yang mengadakan upacara ketika hendak memulai pertanian (menanam padi di sawah) dan mengakhirinya (setelah musim panen) dengan upacara juga sambil memberikan sajian-sajian mewah dan mahal, disebut sesajen. Manakala persawahan diserang hama, atau kualitas padi yang ditanam berkualitas rendah, yang diperbanyak adalah sesajennya (mungkin dalam alam modern termasuk menyajikan pizza-hut dan burger McDonald). Alih-alih menguasai pupuk atau obat anti hama, ia terbenam dalam tata-cara tidak sesuai dengan natur benda. Pendekatan tersebut adalah deduktif, juga keliru besar. Contoh seperti ini banyak sekali kita temui, seperti terdapat sebagian orang yang ingin ahli astronomi lalu yang dilakukan adalah mengumpulkan lembaran-lembaran Qur’ân lapuk kemudian dibakar, dan abunya dicampur kopi atau teh (kadang pakai susu) diaduk larut lalu diminum, ditambah baca-baca wirid dan doa supaya bisa mengetahui alam perbintangan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan demikian, kesadaran bahwa ilmu positif memiliki rasionalitasnya sendiri kurang banyak dipahami. Faktor ini pula menyebabkan konflik antara keimanan di satu sisi dengan pengembangan sains-teknologi pada sisi lain dalam kebanyakan masyarakat Muslim.</p>
<p style="text-align:justify;">Spiritualitas bukan mistisisme</p>
<p style="text-align:justify;">Persoalan selanjutnya adalah memaknai term spiritualitas. Selama ini kata tersebut diidentikkan dengan mistisisme (<em>mysticism</em>) maupun tasauf (<em>tashawwuf</em>), bahkan tarekat (<em>tharîqah</em>). Sebenarnya ketiga macam istilah dan gerakan tersebut merupakan bagian dan cara pendekatan dari spiritualitas, tetapi bukan spiritualitas itu sendiri. Malah terbukti—sebagaimana akan kita bicarakan kemudian—tasauf dan tarekat populer justru tidak spiritual, bukan sunnah Nabi, dan sama berbahayanya dengan kecenderungan Barat yang cuma memerhatikan aspek rasionalitas saja.</p>
<p style="text-align:justify;">Spiritualitas ialah gerakan konsepsional dan operasional berorientasi ketuhanan, fokus pada Tuhan, sebuah sikap merasakan kehadiran Tuhan, bahwa Tuhan ada di mana-mana (<em>omnipresent) </em>dalam kehidupan kita. Spiritualitas yaitu berpikir dan berprilaku baik dengan tujuan meraih ridla Tuhan. Oleh karenanya spiritualitas tidak melulu berada dalam tasauf-tasauf populer yang menjamur seperti sekarang, melainkan mesti berada dalam hidup keseharian kita. Justru lembaga-lembaga tasauf cuma terbenam dalam dzikr, asyik di masjid ataupun majlis tertentu, dalam <em><span style="text-decoration:underline;">h</span>alaqah-<span style="text-decoration:underline;">h</span>alaqah</em>, demi menikmati ruang batiniah, dan menyisakan sedikit waktu saja untuk dunia sosial, semua itu bukan spiritualitas Islam. Kecenderungan mistik Nabi pun jauh sekali berbeda dari tasauf-tasauf populer yang marak di masa modern ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari segi doktrin adalah jelas, bahwa Islam menekankan kehidupan ukhrawî tapi tanpa melupakan dunia, sebagaimana termaktub dalam Q.s. al-Qashash/28: 7,</p>
<p style="text-align:justify;">Kejarlah segala yang Tuhan berikan untuk alam akherat, tapi jangan lupakan nasibmu di dunia. Berbuatlah baik sebagaimana Tuhan telah berbuat baik padamu. Dan jangan berbuat kerusakan di dunia, sungguh Tuhan tak mencintai para perusak.</p>
<p style="text-align:justify;">Ayat di atas patut diperhatikan, bahwa mengejar akherat adalah langkah pertama, dan kedua mengejar dunia. Dengan demikian ia dapat ditafsirkan justru alam akherat menjadi pedoman dan sarana bagi alam dunia. Lantaran alam akherat diletakkan di nomor pertama maka alam akherat tetap menjadi tujuan, sementara dunia bukan tujuan (maka menjadi alat saja), adapun tujuannya ialah alam akherat, yakni Tuhan itu sendiri. Dengan demikian ayat di atas seharusnya sama sekali tidak memunculkan paradigma untuk berlebihan pada alam akherat, dalam makna melupakan dunia.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekalipun terdapat di sana dukungan ayat guna memerhatikan serta mengutamakan alam akherat sebagaimana dikemukakan Q.s. adl-Dlu<span style="text-decoration:underline;">h</span>â’/93: 4, “<em>Wa la-’l-âkhirat<sup>u</sup> khayr<sup>un</sup> laka min<sup>a</sup> ’l-ûlâ</em>” (sungguh alam akherat lebih baik bagimu daripada dunia ini), akan tetapi kelanjutan ayat ini justru menghubungkan konteks keduniaan: agar tetap berjuang dan Tuhan memberi petunjuk (ayat 5), agar mengasihi orang-yatim (ayat 9), dan hirau terhadap orang yang dalam kesulitan/peminta-minta (ayat 10).</p>
<p style="text-align:justify;">Barangkali kita tidak puas dengan sekedar memunyai ajaran-ajaran doktrinal tersebut, sebatas dogma-dogma normatif dan pandangan-pandangan dogmatis, sehingga perlu diuji pernahkah masyarakat Muslim membuktikan kebenaran ayat tersebut dalam realitas? Tak pelak lagi kelaziman umat Islam ialah menghadirkan kehidupan Rasulullah dan masa-masa Sahabat sebagai contoh <em>par excellence. </em>Masa mereka—disebut masa <em>Salaf</em> (klasik)—senantiasa menjadi rujukan untuk pembuktian ayat-ayat normatif. Di dalam prilaku mereka pula seluruh cerminan dogma al-Qur’ân diejawantahkan. Tulisan ini akan memaparkan spiritualitas Nabi dan salah seorang Sahabatnya yang sukses, ‘Umar b. al-Khaththâb. Dari keduanya dapat dipetik konsepsi spiritualitas Islami.</p>
<p style="text-align:justify;">Isrâ’-Mi‘râj Spiritualitas Rasulullah</p>
<p style="text-align:justify;">Peristiwa Isrâ’-Mi‘râj merupakan salah satu bukti ditunjukkan Nabi ihwal spiritualitas Islami, namun hal ini luput dari perhatian <em>nussâk</em> (para pejalan di jalan Tuhan) dan <em>zuhhâd</em> (para mistikus) kontemporer. Isrâ’-Mi‘râj merupakan ekspresi mistisisme Islam yang jenuin, orisinal, berbeda dari cara-cara Yahudi maupun Kristiani. Untuk memudahkan pemahaman kita terhadap peristiwa tersebut, kami kutipkan bait-bait puisi ‘Abd<sup>u</sup> ’l-Quddûs Ganggoh, yang dengan seksama bait ini menawarkan konsepsi mistisisme Rasulullah dalam pengertian berbeda dari yang dijalankan sufi populer. Dan dalam makna seperti inilah sejatinya maksud spiritualitas Islam. Bunyi bait tersebut,</p>
<p style="text-align:justify;">Mu<span style="text-decoration:underline;">h</span>ammad telah naik ke langit tertinggi</p>
<p style="text-align:justify;">lalu kembali lagi</p>
<p style="text-align:justify;">Demi Allah aku bersumpah</p>
<p style="text-align:justify;">kalaulah aku yang mencapai tempat itu</p>
<p style="text-align:justify;">tak sudi aku pulang kembali<a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn3"></a></p>
<p style="text-align:justify;">Puisi di atas menjelaskan perbedaan antara seorang sufi dan Nabi. ‘Abd<sup>u</sup> ’l-Quddûs adalah seorang sufi, dan bagi seorang sufi—seperti para sufi lainnya—persatuan dengan Tuhan (<em>wa<span style="text-decoration:underline;">h</span>dat<sup>u</sup> ’l-wujûd, wa<span style="text-decoration:underline;">h</span>dat<sup>u</sup> ’sy-syuhûd</em>) adalah tujuan terakhir. Jeritan ‘Abd<sup>u</sup> ’l-Quddûs di atas adalah juga jeritan seluruh sufi di dunia ini. Maka tak heran bila telah bersatu dengan Tuhan, seorang sufi (tercermin dari sumpah ‘Abd<sup>u</sup> ’l-Quddûs tersebut) akan tetap bersama Tuhan dan tidak akan kembali pulang memijak bumi. Berbeda dari sufi, Nabi memraktikkan sikap berseberangan, yakni pertemuannya dengan Tuhan justru menjadi tenaga untuk menyebarkan pesan nubuwwah pada umat manusia dan hidup di aras kemanusiaan, untuk itulah beliau memilih turun kembali ke bumi. Sufi itu mabuk Tuhan, pemabuk pada Tuhan—mungkin juga lebih dari itu, yakni narkobis Tuhan—tapi mabuk di situ ternyata bukan sunnah Nabi. Biarpun sudah bertatap-tatapan dengan Tuhan, saling menatap, dan malah mengatasi kelebihan Nabi Mûsâ karena sudah pingsan baru terkena sinarNya, selaras ungkapan penyair Indo-Persia akhir abad 15, Jamâl Kanboh,</p>
<p style="text-align:justify;">Moses went out of his mind by a single revelation of the Attributes—</p>
<p style="text-align:justify;">You see the Essence of the Essence, and still smile<a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn4"></a></p>
<p style="text-align:justify;">(Mûsâ pingsan karena permukaan cahaya Realitas belaka</p>
<p style="text-align:justify;">namun tuan tersenyum melihat dasarNya yang terdalam)<a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn5"></a></p>
<p style="text-align:justify;">walaupun malah tersenyum kala melihat EsensiNya, namun Rasulullah tidaklah memilih untuk bertahan bersamaNya, melainkan kembali ke alam fana untuk mengajak umat manusia bersama-sama menuju keselamatan dan kedamaian. Fazlur Rahman, dalam sebuah karyanya, melukiskan Rasulullah sama sekali tidak terbenam dalam spekulasi mistik ataupun misteri-misteri ketuhanan sebagaimana digarap habis oleh sufi dan tarekat populer, lantaran yang diutamakan beliau ialah penciptaan ideal moral-keagamaan masyarakat. Pengembaraan spiritual bukanlah untuk spiritualitas itu sendiri tetapi supaya bermakna untuk aksi dalam sejarah.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Muhammad’s Prophetic consciousness, which issued in his mission, was founded upon very definite, vivid and powerful mystic experiences briefly described or alluded to in the Qur’ân (XVII, 1; LIII, 1-12 and 13-18; 19-25). It is interesting that all these descriptions of experiences and visions belong to the Meccan period; in the Medina era we have a progressive unfolding of the religio-moral ideal, and the foundation of the social order for the newly instituted community but hardly any allusions to inner experiences. This is in consonance with the orientation of the Prophetic concsiousness for which the spiritual experience is not dwelt on and enjoyed for its own sake but is primarily meaningful for action in history. (From this point of view, the claims of later <span style="text-decoration:underline;">S</span>ûfîs, that in practising mysticism they are only following the spiritual legacy of the Prophet, is not altogether fanciful even if it may be questioned on historical grounds). Indeed, even the allusions in the Meccan period are not made by the Qur’ân for the sake of pure description but to support the truth of the Prophet’s mission…&#8230;.<a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn6"></a></p>
<p style="text-align:justify;">(Kesadaran kenabian, yang dibebankan dalam misinya, dibangun di atas landasan pengalaman-pengalaman mistik sangat tegas, kuat dan kukuh, yang secara ringkas digambarkan atau disinggung dalam al-Qur’ân (al-Isrâ’/17: 1, an-Najm/53: 1-12, dan 13-18; at-Takwîr/81: 19-25). Menarik bahwa seluruh gambaran pengalaman dan visi tersebut terjadi dalam periode Makkah; dalam periode Madînah kita temui kejelasan progresif dari ideal moral-keagamaan, dan pembangunan tatanan sosial untuk masyarakat yang baru dibentuk, tapi kecil sekali perhatian tersirat terhadap pengalaman batin. Ini sesuai dengan orientasi kesadaran nubuwwah sebab pengembaraan spiritual bukanlah diperuntukkan atau dinikmati untuk kepentingan spiritualitas itu sendiri, melainkan terutama agar bermakna bagi aksi dalam sejarah. (Dari sudut pandang ini, klaim-klaim para sufi belakangan, bahwa dalam memraktikkan mistisisme mereka cuma mengikuti ketentuan spiritual Nabi, bukanlah khayalan atau dibuat-buat sekalipun mungkin dasar-dasarnya masih patut dipertanyakan). Sungguh, bahkan ayat-ayat masa Makkah tadi tidak dimaksudkan al-Qur’ân semata-mata untuk penjelasan mistisisme tapi untuk mendukung misi Nabi…..)</p>
<p style="text-align:justify;">Dan begitulah lalu sejarah Nabi pun dijalani selama 23 tahun (13 tahun di Makkah dan 10 tahun Madînah) buat membangun sebuah generasi, dengan fokus pada pembentukan tatanan sosial yang sejahtera, damai dan kuat. Masing-masing kita sudah amat akrab dengan sejarah Nabi ini, dus tidak perlu diurai. Satu hal ditekankan di sini bahwa kehidupan Rasul adalah kehidupan penuh kesederhanaan, kebersahajaan, walaupun keuntungan materi sebenarnya melingkunginya. Kemudian <em>uswah</em> beliau ini dicontoh oleh pelanjutnya. Hingga di masa ini pun, senada dengan langkah-langkah Nabi, para Sahabat tidak terpanggil oleh seruan-seruan misteri sufistik.</p>
<p style="text-align:justify;">…..Nor did the majority of the Companions ask many questions about the nature of these spiritual experiences. For one thing, they were being trained for a moral purpose on a religious basis and their activism probably made them disinclined towards an inquiry into the metaphysical secrets of spiritualism. They were interested in divine commands, not in the <span style="text-decoration:underline;">S</span>ûfic mysteries. Besides, they must have thought that these spiritual flights were characteristic of the Divine Messenger and that their duty lay in believing and in carrying out what they believed (which itself was, as history knows so well, a formidable task) with an intensity of faith and a deep sense of purpose.<a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn7"></a></p>
<p style="text-align:justify;">(…..Mayoritas para Sahabat juga tidak banyak bertanya mengenai pengalaman spiritual ini. Satu hal penting, mereka sedang dilatih untuk memerhatikan tujuan moral berlandaskan asas-asas agama, dan kegiatan mereka boleh jadi membuat mereka tak cenderung pada pencarian rahasia-rahasia metafisik spiritualisme. Mereka tertarik pada perintah-perintah Tuhan, bukan misteri-misteri sufistik. Selain itu, dalam benak mereka pasti bernah terpikir bahwa pengembaraan spiritual tersebut merupakan karakteristik Rasulullah, dalam mana kewajiban mereka ialah mempercayai dan melaksanakan yang dipercayai (yang hal itu memang merupakan, sebagaimana ditunjukkan sejarah, tugas berat) dengan kesungguhan keimanan dan perasaan mendalam).</p>
<p style="text-align:justify;">Kini semakin tegas bahwa spiritualitas masyarakat Islam klasik lebih tertumpu pada pembangunan tatanan moral ideal sesuai ajaran-ajaran al-Qur’ân, bukan pada spekulasi rahasia-rahasia sufistik dan petualangan mistisisme. Perjalanan hidup ‘Umar b. Khaththâb malah lebih melukiskan spiritualitas itu diraih dalam kehidupan kesehariannya bukan dengan menyepi (<em>i‘tizâl</em>) dari kerumunan. Perlu disampaikan di sini, Rasulullah memang sering melakukan <em>ta<span style="text-decoration:underline;">h</span>annuts </em>(meditasi) di gua <span style="text-decoration:underline;">H</span>irâ’, tapi jangan lupa bahwa tindakan beliau tersebut dalam rangka mencari konsepsi yang benar. Bersamaan ketika mana diangkat menjadi seorang utusan Tuhan, serentak itu pula beliau berhenti mengasingkan diri untuk kemudian diganti dengan terlibat penuh dalam dunia kemasyarakatan, menyampaikan wahyu-wahyu Tuhan, serta mengajak bangsa Arab Makkah mendengar dan mengikuti seruan Tuhan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan lain kata, sejak Mu<span style="text-decoration:underline;">h</span>ammad dinobatkan nabi, detik itu pula beliau memperoleh konsepsi dan meninggalkan meditasi, untuk selanjutnya hanya menjalankan konsepsi tersebut, yang merupakan perintah Tuhan. Itu pula yang dilakukan ‘Umar, yakni menjalankan seluruh yang diajarkan Nabi.</p>
<p style="text-align:justify;">Spiritualitas ‘Umar b. Khaththâb</p>
<p style="text-align:justify;">‘Umar b. Khaththâb dikenal dengan julukan <em>al-fârûq</em> (sang pembeda, mampu membedakan antara yang haqq dan batil). Perangainya keras dan kasar, tetapi lurus dan tulus. Sekalipun kata-katanya kasar, tapi mengandung kebenaran, sehingga Nabi sendiri pernah bersabda, “Allah telah menempatkan kebenaran di lidah dan hati ‘Umar”, atau dalam versi lain, “Allah telah menentukan kebenaran di lidah ‘Umar untuk semua ucapan yang dikatakannya”. Kekerasan hatinya mendorongnya untuk selalu konsekuen, sesuai antara kata dan laku. Ia menjadi pemimpin, khalifah kedua, menggantikan Abû Bakr (dijuluki ash-Shiddîq) lewat penunjukan Abû Bakr sendiri dan disetujui bersama.<a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn8"></a></p>
<p style="text-align:justify;">Islam di masa ‘Umar inilah merupakan puncak pertama ajaran Islam menyebar ke pelbagai daerah karena pembebasan (<em>fat<span style="text-decoration:underline;">h</span></em>) bukan penaklukan, dan dalam periodenya pula lahir banyak produk ijtihad—demi meresponsi persoalan-persoalan baru seiring dengan perluasan daerah yang memiliki tradisi dan perdaban berbeda. Kekuasaan Islam di tangannya terbentang dari perbatasan Cina di timur, sampai ke seberang Cyrenaica di barat, dari Laut Kaspia di utara, hingga Nubia di selatan, termasuk Persia, Irak, Syam (berikut Bayt<sup>u</sup> ’l-Maqdis Yerusalem) dan Mesir. Ia adalah contoh kepala negara dan pemimpin (<em>amîr<sup>u</sup> ’l-mu’minîn</em>) paling sukses di era Sahabat. Di masanya pula dua kota terkenal didirikan: Kûfah dan Bashrah. Kelak dari kedua kota ini lahir sarjana-sarjana Muslim terkemuka. Dengan kemenangan dan kejayaan tersebut, ditunjang prestasi-prestasi mengagumkan, sudah tentu ‘Umar akan menikmati kehidupan layak, dengan pendapatan dan penghasilan lebih banyak di atas rata-rata, terutama dari <em>ghanîmah </em>(pampasan perang dari daerah yang ditaklukkan lewat peperangan), <em>fay’</em> (pampasan perang diperoleh tanpa perang), <em>jizyah </em>(pajak masyarakat dzimmî)<em>,</em> <em>kharaj</em> (pajak dari hasil pertanian di daerah taklukan), dengan jumlah 1/5 sesuai ketentuan al-Qur’ân (dalam hal jumlah ini ‘Umar meniru Rasulullah), belum lagi insentif atau bonus-bonus lainnya.<a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn9"></a></p>
<p style="text-align:justify;">Sejarah ternyata berbicara lain, ‘Umar justru sangat berhati-hati terhadap kekayaan materi bahkan keras sekali, disiplin terhadap dirinya lebih keras daripada terhadap rakyatnya. Karena kedisiplinan itulah rakyatnya selalu menerima keputusan dan kebijakannya, sebab mereka tahu dan yakin bahwa ‘Umar tidak akan berbuat curang, kata-katanya penuh kebenaran sekalipun kasar. Beberapa riwayat berikut mengisahkan tingkah-laku dan kepribadiannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah umat Islam membebaskan kota Madâ’in (ibukota Persia) seperlima pampasan perang ditambah barang-barang berharga, mahal dan bernilai tinggi, dikirim kepada ‘Umar. Di antara barang tersebut terdapat pakaian kebesaran Kisra, beberapa pedang dan baju besi. Melihat hal itu ‘Alî b. Abû Thâlib menyarankan ‘Umar untuk menerima dan memakai, “Anda hidup sangat sederhana dengan menahan diri dari segala yang anda rasa tidak baik, sehingga rakyat anda juga begitu. Kalau saja anda mau menyenangkan diri tentu mereka juga akan begitu”. Jawaban ‘Umar, “Allâhumma ya Allah, Engkau telah menghindarkan semua ini dari RasulMu dan NabiMu, padahal dia lebih Kau cintai daripada aku, lebih Kau muliakan daripadaku, juga Engkau telah menghindarkannya dari Abû Bakr, yang lebih Kau cintai daripadaku, lebih Kau muliakan daripadaku. Maka jika semua ini akan Kau berikan padaku, aku berlindung kepadaMu, ya Allah, juga jangan sampai Kau berikan padaku untuk memuliakanku”. ‘Umar khawatir kekayaan Kisra tersebut adalah ujian Tuhan, dan akan menimbulkan contoh bagi rakyatnya, ia pun menangis sehingga orang-orang tersentuh dan iba melihatnya. Akhirnya ia meminta Abd<sup>u</sup> ’r-Ra<span style="text-decoration:underline;">h</span>mân b. ‘Awf menjual barang-barang tadi, dan uangnya dibagi-bagikan kepada penduduk Madînah. Padahal ‘Umar dahulu merupakan bagian orang-orang Arab Quraysy yang menjelajahi bumi berbulan-bulan, kadang tahun, sekedar untuk sesuap nasi. Aneh, hatta pun saatnya tiba untuk menikmati, dengan kedudukannya sebagai kepala negara kini, ia tetap tinggalkan juga semua itu.<a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn10"></a></p>
<p style="text-align:justify;">Riwayat lain menggambarkan, selama menjadi kepala pemerintahan gaji ‘Umar hanya dari Bayt<sup>u</sup> ’l-Mâl, sekedar cukup untuk dirinya dan keluarganya. Baginya memerlakukan harta Allah adalah seperti harta anak yatim, bilamana kurang ia penuhi secukupnya, jikalau sudah cukup ia tak minta lebih. Tetapi hal ini pun ternyata ia langgar karena disiplin diri yang ketat. Suatu hari ‘Umar mendapat kiriman kain <em>burd, </em>lalu ia bagikan pada setiap orang dengan mendapat satu helai. Saat ia naik mimbar dengan pakaian tersebut rakyatnya interupsi bahwa ia tak akan lagi menaati ‘Umar karena bajunya tersebut tidak mungkin dapat dibuat dari sehelai kain <em>burd, </em>paling sedikit dua helai. Lalu ‘Umar menyuruh anaknya, ‘Abd<sup>u</sup> ’l-Lâh, menjelaskan. Dijelaskan bahwa <em>burd </em>anaknya diberikan pada ayahnya agar cukup menjadi kemeja. Sang interuptor pun diam, sekaligus puas dengan penjelasan tersebut, dan kembali siap taat pada pemimpinnya. <a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn11"></a></p>
<p style="text-align:justify;">Selain itu, ‘Umar berkantor di masjid seperti Rasulullah, padahal para gubernurnya tinggal di bekas-bekas gedung para kaisar. Andaikan ‘Umar mau, ia dapat memerintahkan gubernurnya membuatkan tempat layak di Madînah, dan niscaya rakyat menyetujui demi mempertinggi harkat serta kehormatan seorang kepala negara. Tetapi yang dipikirkan ‘Umar ialah tidak menginginkan meninggalkan contoh seperti itu agar nanti tak dijadikan alasan bagi penerusnya untuk bermegah-megah, sebab ia sadar bahwa prilakunya menjadi <em>uswah musta<span style="text-decoration:underline;">h</span>abbah</em> (contoh yang akan diikuti dan disenangi). Di masjid inilah ‘Umar berdiam tanpa pengawal, tanpa pengiring, hinga menimbulkan teperanjat dan terpengarah dari para penguasa yang sempat datang menemuinya.<a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn12"> </a><a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn13"></a></p>
<p style="text-align:justify;">Pada suatu masa semenanjung Arab termasuk Madînah terserang wabah kelaparan akibat tak ada hujan selama sembilan bulan. Tanah menjadi hitam, gersang dan penuh abu, dan tahun ini disebut Tahun Abu (‘Âm<sup>u</sup> ’r-Ramâdah). Peternakan dan segala usaha pertanian pun hancur. Masyarakat sekitar Madînah berbondong-bondong pindah ke Madînah mohon bantuan ‘Umar, sehingga kota ini sesak, tertekan, penuh keluh kesah. Mengingat Madînah masih dapat bertahan karena keberadaan Bayt<sup>u</sup> ’l-Mâl, maka penduduk asli masih dapat menikmati makanan layak. Namun peristiwa terjadi, suatu hari ‘Umar bersama seorang Badui makan roti yang diremukkan dengan samin. Si Badui selalu menyuap dengan lemak yang terdapat di sisi luarnya, sehingga ‘Umar melihatnya seperti orang tak kenal makanan lezat. “Tampak anda tak pernah mengenyam lemak?”, tanya ‘Umar. “Ya,” jawabnya, “Saya tak pernah makan samin atau minyak zaitun, juga tak melihat ada orang memakannya sejak sekian lama hingga sekarang”. Mendengar ucapannya ‘Umar tersekat dan bersumpah sejak itu tidak akan lagi memakan daging atau samin kecuali keadaan kembali normal. Sejak itu pula ia hanya menyantap minyak zaitun, dan lebih sering kelaparan, sehingga banyak orang bilang, “Jika saja Allah tidak menolong kami dari Tahun Abu ini, kami kira ‘Umar pasti akan mati dalam kesedihan memikirkan nasib kaum Muslimin”. Kelaparan tersebut dapat diatasi setelah ‘Umar mengirim surat mohon bantuan kepada para gubernurnya di Syam dan Irak, kemudian dikirim bantuan dalam jumlah besar, dan melakukan shalat istisqâ’ di mana ‘Umar memohon kepada Allah agar kemarau segera berakhir lalu berdoa dengan memegang ‘Abbâs b. ‘Abd<sup>u</sup> ’l-Muththalib dengan tangis bercucuran, “Allâhumma ya Allah, kami memohon pertolonganMu dengan mengajak (syafa‘at) paman RasulMu”. Allah mengabulkan doa mereka dan menurunkan hujan. Beberapa kebijakan ‘Umar selama Tahun Abu dan tahun kelaparan ialah tidak memungut zakat dari rakyat, dan hidup seperti rakyat, sebagaimana ia katakan “Bagaimana saya akan dapat memerhatikan keadaan rakyat jika saya tidak ikut merasakan yang mereka rasakan”. Tindakan ini membawa efek dua hal. Pertama, merasakan penderitaan orang lain. Kedua, menentramkan hati rakyat bahwa kepala negara bersama mereka dalam suka dan duka. Sehingga hati mereka tidak <em>pegel</em> lantaran pimpinan mereka hidup sepenanggungan. <a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn14"></a></p>
<p style="text-align:justify;">Demikianlah sikap ‘Umar di masa resesi dan krisis; tidak kurang-kurang ia tunjukkan <em>sense of crisis</em> pada rakyatnya. Hal ini tak lain supaya ‘Umar memberi contoh untuk diikuti, seperti kata-kata yang kerap ia ucapkan, “Rakyat masih akan tetap jujur selama pemimpin-pemimpin dan panutan mereka jujur. Rakyat akan memenuhi kewajiban pada pemimpin sejauh pemimpin memenuhi kewajibannya kepada Allah. Kalau para pemimpin hidup bermewah-mewah dan serakah, rakyat juga akan mengikuti mereka”.  <a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn15"></a></p>
<p style="text-align:justify;">Di samping karakteristik telah dijelaskan di muka, ‘Umar mengikuti pula tradisi Nabi dalam memerlakukan rakyat dan negeri yang dibebaskan. Misalnya, ketika pembebasan Yerusalem membutuhkan peraturan-peraturan segera dalam bentuk perjanjian antara pemenang dan yang kalah, perjanjian segera dibuat dengan pihak gereja di Bayt<sup>u</sup> ’l-Maqdis Yerusalem berbunyi,</p>
<p style="text-align:justify;">Bismillâh<sup>i</sup> ’r-Ra<span style="text-decoration:underline;">h</span>mn<sup>i</sup> ’r-Ra<span style="text-decoration:underline;">h</span>îm. Inilah jaminan telah diberikan oleh hamba Allah ‘Umar <em>amîr<sup>u</sup> ’l-mu’minîn</em> kepada pihak Aelia: Jaminan keselamatan untuk jiwa dan harta mereka, untuk gereja-gereja dan salib-salib mereka , bagi yang sakit dan sehat, dan bagi kelompok agama lain. Gereja-gereja mereka tak boleh ditempati atau dirobohkan, tak boleh ada yang dikurangi apapun dari dalam mereka atau yang berada di lingkungan mereka, baik salib maupun harta benda milik mereka. Mereka tidak boleh dipaksa dalam hal agama atau diganggu. Tak diperbolehkan ada orang Yahudi tinggal bersama mereka di Aelia. Penduduk Aelia harus membayar jizyah seperti dilakukan penduduk Madâ’in. Mereka harus mengeluarkan orang-orang Romawi dan para pencuri. Mereka yang keluar akan dijamin jiwa dan harta hingga sampai ke tempat tujuan mereka yang aman. Barang siapa ada yang tinggal di antara mereka, keamanan mereka tetap dijamin dan kewajiban mereka membayar jizyah sama dengan kewajiban penduduk Aelia. Siapa pun penduduk Aelia ingin pergi atas tanggungan sendiri dan hartanya sendiri bersama pihak Romawi dan meninggalkan rumah-rumah ibadah serta salib-salib mereka maka mereka bertanggung-jawab atas diri mereka, rumah-rumah ibadah dan salib-salib mereka untuk sampai ke tujuan yang aman. Bagi penduduk yang ada di tempat itu, barang siapa ingin tetap tinggal, maka mereka berkewajiban membayar jizyah seperti penduduk Aelia. Barang siapa hendak pergi bersama pihak Romawi bolehlah pergi, dan yang mau kembali kepada keluarga kembalilah. Tak boleh diambil dari mereka sebelum mereka selesai memetik hasil panennya.</p>
<p style="text-align:justify;">Segala yang ada dalam surat perjanjian ini merupakan janji dengan Allah dengan jaminan RasulNya, para khalifah dan jaminan orang-orang beriman, jika mereka sudah membayar jizyah yang menjadi kewajiban mereka. (‘Umar menutup surat perjanjian dengan tanda tangannya disaksikan Khalîd b. Walîd, Amr b. ‘Âsh, ‘Abd<sup>u</sup> ’r-Rahmân b. ‘Awf, dan Mu‘âwiyah b. Abû Sufyân). <a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn16"></a></p>
<p style="text-align:justify;">Perjanjian di atas membuktikan ‘Umar sebagai kepala negara yang mengerti dunia politik dan ketatanegaraan, tapi tetap dengan kehidupan sederhana dan <em>zuhd.</em> Landasan zuhd tidak menghalangi seseorang untuk piawai mengatur tatanan-sosial. Seorang zâhid tidak mesti berkubang dalam ritualitas <em>tahlîl</em> dan <em>ta<span style="text-decoration:underline;">h</span>mîd</em> saja, atau kosong dan apriori pada perkara-perkara keduniaan. Sebaliknya, dengan penguasaan ilmu-ilmu akheratlah urusan dunia diurus, sebagaimana Nabi mengurus Makkah dan Madînah setelah Isrâ’-Mi‘râj, sebagaimana ‘Umar membebaskan negeri-negeri jahiliyah setelah mengerti prinsip nubuwwah dan hidup dalam masa kenabian Rasulullah.</p>
<p style="text-align:justify;">Spiritualitas Modern</p>
<p style="text-align:justify;">Dari gambaran prilaku Nabi dan ‘Umar di atas, tidakkah kini jelas perihal makna spiritualitas? Kepribadian mereka itulah yang saya maksud sebagai spiritualitas Islam. Spiritualitas dengan demikian tidak dicari di masjid-masjid, atau <span style="text-decoration:underline;">h</span>alaqah-<span style="text-decoration:underline;">h</span>alaqah, apalagi gua-gua, tapi di dalam keseharian kita. Mampukah kita tak tergoda oleh kemewahan yang mengelilingi, seperti kemampuan Nabi dan ‘Umar dalam mengambil jarak, bahkan meninggalkan harta yang berlimpah, padahal keduanya penguasa? Ujian spiritualitas bukan pada saat miskin, atau dalam kemiskinan, tetapi justru dalam kelimpahan. Seorang tak memiliki apa-apa diuji dengan kemiskinan bukanlah ujian spiritualitas namanya, melainkan “sudah menjadi tradisi”. Tetapi kesuksesan spiritualitas bukan pula dalam kemampuan menjauhkan godaan, melainkan pada kemampuan mengelolanya untuk tujuan-tujuan lebih mulia. ‘Umar menolak harta untuk dirinya, namun pada sisi lain ia mengelolanya demi kesejahteraan rakyatnya secara keseluruhan. Inilah yang dimaksud spiritualitas Islam itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan sifat-sifat spiritualitas tersebut adalah modern, karena sesuai untuk setiap masa juga menjadi impian semua orang. Dikatakan modern karena modernitas merupakan <em>amr<sup>un</sup> shâli<span style="text-decoration:underline;">h</span><sup>un</sup> wa sâlim<sup>un</sup> fî kull<sup>i</sup> zamân<sup>in</sup> wa makân<sup>in</sup></em> (sesuatu yang cocok, tepat dan selamat di setiap zaman dan tempat). Jadi unsur-unsur modern mengandung keabadian, perennial, yakni perkara yang selalu menjadi dambaan manusia sepanjang masa. Prilaku ditunjukkan oleh Nabi dan ‘Umar di atas merupakan prilaku ideal, didamba oleh setiap manusia di mana pun dan kapan pun, oleh karenanya abadi. Spiritualitas ini pula yang membedakannya dari spiritualitas sufi populer yang lebih menciptakan manusia menjadi pasif. Spiritualitas tasauf populer bukanlah spiritualitas menurut tradisi Nabi dan masyarakat Salaf, sebab membuat manusia berkubang dalam kejumudan.</p>
<p style="text-align:justify;">Bila sudah sampai pengertian kita pada spiritualitas seperti dipraktikkan Muslim klasik, lewat ketokohan Nabi dan ‘Umar, maka dengan sendirinya tidak ada lagi dikhotomi antara rasionalitas dan spiritualitas—sebagaimana kerap dipahami secara keliru selama ini. Melalui spiritualitas itulah Nabi dan ‘Umar membuat masyarakat Muslim cerdas secara keilmuan. Andaikan saja Nabi tidak mengajarkan spiritualitas seperti itu, maka tak ada ‘Umar membebaskan daerah Persia dan Romawi; andaikata ‘Umar tidak membebaskan negeri-negeri tersebut, tentu tak ada ijtihad, tak ada kemajuan umat Muslim dalam sains dan teknologi. Sejarah menunjukkan sains dan teknologi Islam merupakan pengambilan dari peradaban lain, bukan milik Islam sendiri. Namun kemudian ilmu pengetahuan tersebut dapat dikuasai. Ini mengindikasikan ilmu pengetahuan lebih kemudian daripada spiritualitas. Sebaliknya sejarah juga mencatat, negeri-negeri raksasa seperti Persia dan Romawi saat itu dapat dikalahkan, padahal keduanya adalah negeri penuh ilmu, padahal yang mengalahkan adalah pasukan ‘Umar yang belum mengetahui kemajuan dan ketinggian ilmu: faktor apakah yang menyebabkan hal ini terjadi?</p>
<p style="text-align:justify;">Kejatuhan maupun kemajuan sebuah masyarakat ternyata tidak tergantung pada sebesar atau setinggi apa ilmu yang dimiliki, melainkan tergantung pada spiritualitas yang dijalankan. Konsep ini oleh Nabi disebut akhlaq, “<em>Innamâ bu‘itst<sup>u</sup> li’utammim<sup>a</sup> makârim<sup>a</sup> ’l-akhlâq</em> (sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan prilaku). Pepatah Arab sering mengingatkan lewat ucapan “<em>innamâ ’l-umam<sup>u</sup> ’l-akhlâq<sup>u</sup> mâ baqiyat fa’in humû dzahabat dzahabû</em>” (sungguh masyarakat tergantung pada akhlaqnya, bila akhlaq tersebut hancur maka hancurlah masyarakat tersebut).</p>
<p style="text-align:justify;">Penutup</p>
<p style="text-align:justify;">‘Ibâda ’l-Lâh<sup>a</sup> inna ’l-Lâh<sup>a</sup> ya’muru bi ’l-‘adl<sup>i</sup> wa ’l-ihsân<sup>i</sup> wa îtâ’idzî ’l-qurbâ wa yanhâ ‘an<sup>i</sup> ’l-fakhsyâ’<sup>i</sup> wa ’l-munkar<sup>i</sup> wa ’l-baghy<sup>i</sup> la‘allakum tattaqûn<sup>a</sup>.</p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa Point Diskusi Epistemologi IIIT dengan tema</p>
<p style="text-align:justify;">“Antara Rasionalitas dan Spiritualitas: Menggagas Modernitas Religius”</p>
<p style="text-align:justify;">Nanang Tahqiq:</p>
<p style="text-align:justify;">Berangkat dari sebuah keyakinan bahwa rasionalitas dalam Islam bukanlah hal yang patut dipertentangkan dan dianggap baru, Mas Nanang berpandangan, merupakan sebuah kekeliruan besar bila kita mengatakan bahwa rasionalitas merupakan produk asli Barat. Berdiri di antara dua titik ekstrim ini (rasionalitas dan spiritualitas) merupakan sikap salah yang patut dihindari. Terlalu rasional tanpa nilai-nilai spirtual, hasilnya adalah gaya hidup yang kering, sementara terlalu spiritual juga hanya menghasilkan manusia yang terlalu menjauhi dunia. Karenanya untuk menyikapi dua titik ekstrim ini, Mas Nanang memberikan sebuah tawaran tentang spitualitas Umar ibn Khattab yang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan spritualitas Nabi.</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut Mas Nanang, spiritualitas yang pernah dilakukan oleh Umar adalah sebuah spitualitas yang sangat berbeda dengan spitualitas yang berkembang dalam dunia Islam belakangan yang lebih tepat disebut mistisisme. Perbedaan dasar dari spiritualitas Nabi, Umar dengan mistisisme yang dikembang oleh para mistikus Islam adalah kemauan untuk turun kembali bersama masyarakat awam bukan malah asik hidup bersama Tuhan di atas sana dan tidak lagi bersentuhan dengan dunia riil. Inilah perbedaan fundamental dari spitualitas yang dilakukan oleh Nabi, Umar dengan para mistikus Islam. Biasanya para mistikus ini asik mengejar <em>Wahdat al-Syuhud </em>atau <em>Wahdat al-Wujud </em>dan setelah mencapai maqom itu mereka tak mau turun untuk hidup bersama masyarakat. Nabi Muhammad dan Umar, menurut Nanang, setelah menemukan spitualitas tertinggi, keduanya turun kembali, hidup bersama masyarakat. Prinsip bahwa sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia menjadi paradigma yang melatarbelakangi keduanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Berbicara tentang pengetahuan dalam Islam, papar Mas Nanang, adalah pengetahuan yang betul-betul ada manfaatnya bagi manusia bukan hanya sekedar untuk berspekulasi belaka seperti pengetahuan tentang metafisis. Pengetahuan yang bersifat metafisis tidak banyak dikembangkan oleh para filsuf Islam kecuali hanya untuk kepentingan menagkis gugatan-gugatan yang datang dari pihak luar. Point penting lain yang dipaparkan oleh Mas Nanang adalah bahwa kemajuan yang ada dalam dunia Islam lebih banyak didorong oleh ekspansi kekuasaan daulah Islam bukan karena peran dominan para ilmuan dan para filsuf. Dalam hal ini, orang seperti Umar bin Khattab adalah orang yang paling berjasa bagi kemajuan Islam bila dibandingkan dengan filsuf-filsuf yang ada dalam dunia seperti al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Rushd dan lain sebagainya.</p>
<p style="text-align:justify;">Setidaknya kesimpulan terakhir inilah yang agak sedikit memancing beberapa audiens untuk  angkat bicara dengan membantah kesinpulan itu. Seperti yang disampaikan oleh Mas Gaus (Penerbitan Paramadina) bahwa menurutnya peran pengetahuan bagi peradaban Islam tidaklah kecil. Filsuf-filsuf seperti Ibnu Rushd, al-Kindi, al-farabi adalah para filsuf yang banyak memainkan peran bagi peradaban Islam klasik. Untuk itu adalah sebuah keharusan bila Islam ingin maju, mereka harus belajar keilmuan Barat. Ia menangkap bahwa Mas Nanang menganjurkan untuk tidak perlu belajar ke Barat dalam hal pengetahuan karena dalam dunia Islam kekayaan itu sudah ada.</p>
<p style="text-align:justify;">Analisa yang lain datang dari Ismail Fahmi (RedPel Journal IIIT On Line), menurutnya problem kemunduran Islam tidak hanya disebabkan oleh karena Islam terlalu cenderung pada mistisisme namun ada faktor yang lain yakni faktor politik-ekonomi. Ketika Vasco da Gama membuka jalur ekonomi antara Eropa dengan dunia Asia dan Afrika, ia tidak melibatkan dunia Arab dan Timur Tengah yang nota bene adalah wilayah basis Islam. Sehingga dengan ketidakterlibatan dunia Arab atau Timur Tengah dalam jalur perdagangan itu, dunia Arab semakin tertinggal oleh Barat.</p>
<p style="text-align:justify;">Tanggapan yang lain datang dari Mas Budhi (Direktur Pusat Kajian Keagamaan Paramadina), menurutnya, kesimpulan bahwa Barat terlalu rasional serta mengabaikan dimensi spiritual merupakan simplikasi masalah bila diberlakukan pada Barat masa kini. Karena bandul kebudayaan Barat pada saat ini semakin bergeser menuju dimensi-dimensi yang tidak dapat lagi disebut rasional. Penemuan dan perkembangan kosmologi saat ini menunjukkan hal itu. Penolakan peran dunia mistik dalam Islam juga sebuah kesimpulan yang sangat keliru, karena tanpa peran kaum sufi yang juga sering disebut kaum mistik Islam, perkembangan Islam di Indonesia tidak akan secepat yang pernah terjadi. Sebagian besar  Srilanka dan Indonesia atau wilayah nusantara yang beragama Budha dan Hindu segera terislamkan karena peran kaum sufi yang datang ke wilayah nusantara.</p>
<p style="text-align:justify;">Demikian beberapa point Diskusi yang dapat disampaikan dalam Diskusi Epistemologi. Saya mengharapkan adanya beberapa pemikiran atau masukan untuk diskusi ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Wassalam,</p>
<p style="text-align:justify;">Dept. of Epistemology</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<div style="text-align:justify;">
<hr size="1" />
</div>
<p style="text-align:justify;">Dipresentasikan dalam seminar  bulanan IIIT “Epistemologi Islam”, di Yayasan Wakaf Paramadina, Plaza III Pondok Indah Blok F5-7, Jl. TB Simatupang, Rabu 19 Pebruari 2003, pkl. 14<sup>00</sup>-16<sup>00</sup>.<a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn17"></a></p>
<p style="text-align:justify;">Istilah ­<em>aki-nini,</em> ganti dari term kakek-nenek, untuk menunjukkan sangat tua dan ringkih.<a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn18"></a></p>
<p style="text-align:justify;">M. Dawam Rahardjo, “Peranan Pekerja dalam Pembangunan Ekonomi”, artikel disajikan pada Orasi Ilmiah “Peranan Kaum Pekerja dalam Pembangunan Ekonomi” diselenggarakan kerjasama Lembaga Studi dan Pengembangan Etika Usaha (Lspeu) Indonesia dan PT. Jamsostek (Persero), di Birawa Assembly Hall, Menara Bidakara-Jakarta, Kamis 6 Pebruari 2003, 7.<a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn19"></a></p>
<p style="text-align:justify;">Muhammad Iqbal, <em>Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam,</em> terj. Ali Audah, Taufiq Ismail dan Goenawan Mohammad (Jakarta: Tintamas, 1966), 123. <a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn20"></a></p>
<p style="text-align:justify;">Annemarie Schimmel, <em>And Muhammad is His Messanger</em> (Chapel Hill and London: The University of North Carolina Press, 1985), 163 <a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn21"></a></p>
<p style="text-align:justify;">Lirik terj. dikutip dari Muhammad Iqbal, <em>Membangun Kembali,</em> 117. <a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn22"></a></p>
<p style="text-align:justify;">Fazlur Rahman, <em>Islam</em> (Chicago and London: University of Chicago Press, 1979), 128. <a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn23"></a></p>
<p style="text-align:justify;">Ibid. <a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn24"></a></p>
<p style="text-align:justify;">Muhammad Husain Haekal, <em>Umar bin Khattab: Sebuah Telaah Mendalam tentang Pertumbuhan Islam dan Kedaulatannya di Masa itu,</em> terj. Ali Audah (Bogor: Litera AntarNusa, 2002), 60. Seluruh rujukan tentang ‘Umar dikutip dari buku ini.    <a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn25"></a></p>
<p style="text-align:justify;">Ibid., 811.<a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn26"></a></p>
<p style="text-align:justify;">Ibid., 240-2. <a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn27"></a></p>
<p style="text-align:justify;">Ibid., 654-5. <a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn28"></a></p>
<p style="text-align:justify;">Ibid., 651-52. <a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn29"></a></p>
<p style="text-align:justify;">Ibid., 399-404. <a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn30"></a></p>
<p style="text-align:justify;">Ibid., 356-64. <a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn31"></a></p>
<p style="text-align:justify;">Ibid. <a href="/DATA/KUMPULAN%20PEMIKIRAN/epistemologi/ANTARA%20RASIONALITAS.doc#_ftn32"></a></p>
<p style="text-align:justify;">Ibid., 312-3.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asfuriahmad.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asfuriahmad.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asfuriahmad.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asfuriahmad.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/asfuriahmad.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/asfuriahmad.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/asfuriahmad.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/asfuriahmad.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asfuriahmad.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asfuriahmad.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asfuriahmad.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asfuriahmad.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asfuriahmad.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asfuriahmad.wordpress.com/107/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asfuriahmad.wordpress.com&amp;blog=8304576&amp;post=107&amp;subd=asfuriahmad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asfuriahmad.wordpress.com/2011/03/25/antara-rasionalitas-spiritualitasmenggagas-modernitas-religius/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c978a72734be85dc6f9b3d6cb47d6db4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">asfuriahmad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HERMENEUTIKA KRITIS JÜRGEN HABERMAS</title>
		<link>http://asfuriahmad.wordpress.com/2011/03/14/hermeneutika-kritis-jurgen-habermas/</link>
		<comments>http://asfuriahmad.wordpress.com/2011/03/14/hermeneutika-kritis-jurgen-habermas/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Mar 2011 07:49:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>asfuriahmad</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://asfuriahmad.wordpress.com/?p=95</guid>
		<description><![CDATA[Kalau kita berbicara tentang hermeneutika kritis Habermas, kita berbicara tentang suatu bangunan teoritikal yang sangat kaya. Karena ternyata didalamnya selain ada hermeneutika juga ada metodologi, atau sosiologi , filsafat bahasa, kritik ideologi, yang merupakan capaian prestasi teoritis besar oleh Habermas. Apalagi diketahui bahwa Habermas merupakan tokoh yang sangat terkenal mengagungkan multi-disipliner.  Jadi, tidak bisa dikatakan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asfuriahmad.wordpress.com&amp;blog=8304576&amp;post=95&amp;subd=asfuriahmad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Kalau kita berbicara tentang hermeneutika kritis Habermas, kita berbicara tentang suatu bangunan teoritikal yang sangat kaya. Karena ternyata didalamnya selain ada hermeneutika juga ada metodologi, atau sosiologi , filsafat bahasa, kritik ideologi, yang merupakan capaian prestasi teoritis besar oleh Habermas. Apalagi diketahui bahwa Habermas merupakan tokoh yang sangat terkenal mengagungkan multi-disipliner.  Jadi, tidak bisa dikatakan bahwa pemikirannya murni hanya filsafat atau sosiologi, tetapi merupakan kombinasi dari beberapa disiplin sekaligus. Karena itu, kita tidak bisa memahami masalah ini (hermeneutika kritis), kalau sebelumnya kita tidak paham teori verstehen-nya Max Weber, filsafat bahasanya Wittgenstein, pendekatan hermeneutika Gadamer, dan sebagainya. Jadi, Habermas kira-kira boleh disebut tukang ramu teori. </span><br />
<span style="color:#000000;">Berbicara mengenai Habermas, biasanya kita membicarakan teori kritis. Orang mengatakan bahwa dia merupakan generasi kedua dalam tradisi ini. Nah, apa itu teori kiritis?</span><br />
<span style="color:#000000;">Was das Krietiek Theorie?</span><br />
<span style="color:#000000;">Teori kritis merupakan kemunculan kembali filsafat yang berdimensi praxis, teori yang berdimensi praxsis, atau teori yang berdimensi emansipatoris yang sebenarnya hal ini telah dikembangkan sebelumnya oleh Socrates. Filsafat Socrates merupakan filsafat yang berupaya mengkritisi permainan kuasa yang mengurung rasionalitas manusia, jadi disini filsafat membuka belenggu mitos dan bentuk kultural lain yang menafikan kebebasan. Kira-kira semangat inilah yang ingin dibangun oleh teori kritis dengan menggabungkan berbagai pendekatan, mulai dari psikoanalisa, hermeneutika, sosiologi, dan lain sebagainya. </span><br />
<span style="color:#000000;">Habermas sering disebut sebagai orang yang paling sukses dalam merekontruksi kembali teori kritis. Sebab, ditangan orang-orang sebelumnya seperti Horkheimer, Adorno, dan teman-temannya, hal ini sempat mandeg. Sebabnya ialah, fakta historis yang terjadi dikalangan para mahasiswa, yang mengadopsi teori kritis sekitar tahun 68-an, gagal total dalam gerakan moral dan politiknya. Ternyata apa yang disebut class councieness, emansipasi buruh, dan sebagainya, tidak terjadi saat itu. Karena ada gap antara gerakan mahasiswa (agen perubahan) dan objek yang ingin dibebaskan, yaitu buruh. </span><br />
<span style="color:#000000;">Berbekal khazanah yang cukup banyak dari berbagai disiplin, terkemudian Habermas merumuskan teori hermeneutika kritis. Membahas ini, kita harus bertolak dari perbincangan tentang metode dalam sosiologi. Habermas merupakan orang yang sangat mengagung-agungkan atau berpijak pada pendekatan Max Weber. Weber merupakan salah satu sosiolog pengusung ontologi yang sifatnya memberikan perilaku sosial yang memuat makna, bukan sekadar regularitas tetapi ia disarati makna. Metode sosiologi bukan sekadar ukuran kuantitatif tetapi ditarik pada tingkat yang lebih interpretatif. Mulai Weber lah, terjadinya pemilahan keilmuan antara ilmu kealaman dan ilmu sosial (humaniora). Ilmu sosial ini mengidap perasaan minder digadapan ilmua alam. Karena itu untuk menutupi kelemahan dalam akurasi analisanya, ilmu sosial meminjam  metodologi ilmu alam agar dapat diakui sebagai setara dengan ilmu alam. Namun, berkat Weber lah, ilmu sosial mempunyai metodologi sendiri, pada kasus Weber yaitu metode verstehen yang artinya menafsirkan, yang berbeda dengan sifat ilmu alam yang erklaren, yang artinya menjelaskan. “menjelaskan” dipakai oleh ilmu-ilmu alam, sedang “menafsirkan”  atau “memahami” sipakai oleh ilmu-ilmu sosial. </span><br />
<span style="color:#000000;">Theodore Abel mengatakan bahwa kita bisa memahami keterhubungan sesuatu yang kita amati, jika kita mengetahui pararerelismenya dalam instropeksi diri atau observasi diri. Tujuan verstehen ialah memahami tindakan berdasarkan makna subjektif yang  tertawan didalamnya, entah itu motif, keyakinan, nilai atau emosi. Sedang karakter kedua, langkah-langkah metodologi bergantung pada kapasitas-kapasitas introspektif , yaitu internalisasi stimulus, respon dan maxim perilaku. Ketiganya bersandar pada penerapan pengalaman personal pada perilaku yang teramati. Ilustrasinya sebagai berikut: misalkan seorang tetangga yang membelah kayu dan membuat api unggun, berarti sedang terjadinya penurunan temperatur. Verstehen memungkinkan kita menghubungkan antara tempetratur rendah dengan suhu dingin, dari perilaku yang diamati dalam menghangatkan tubuh. Perilaku membuat api unggun disebabkan oleh udara yang lebih dingin dari biasanya.</span><br />
<span style="color:#000000;">Pendekatan verstehen menjadi diskusi hangat dikalangan sosiolog pasca positivisme, pasca kuantitatifisme, yang menyoal bahwa apakah makna yang tertanam dalam perilaku pribadi itu sesungguhnya betul-betul subjektif. Sebagian sosiolog bertolak dari konsep Heidegger yang mengatakan bahwa manusia tidak selalu murni subjektif dalam bertindak dalam. Karena menurut Heidegger, manusia tertanam dalam dunia intersubjektif, jadi manusia berada dalam dunia bersama, dimana nilai, motif, makna, didefinisikan secara bersama, tidak secara individual. Juga hal tersebut bisa diwariskan, mulai dari norma, pandangan dunia, nilai, peranan. Sehingga para sosiolog akhirnya merekomendasikan bahwa verstehen harus menyertakan analisis kultural dan institusional yang memaknai suatu yang “tertentu”. Artinya, observasi terhadap perilaku kultural tertentu maknanya bisa berbeda dengan hal yang sama ditempat lain. Yang penting bukan lagi semata-mata makna subjektif, tetapi latar sosial yang sifatnya intersubjektif yang menjadi pendasaran bagi semua perilaku sosial, juga mendefinisikannya. Pendekatan verstehen dikritisi oleh banyak behavioris dalam sosiologi yang mengatakan,” lho, kalau  makna itu subjektif, atau realitas sosial itu tergantung pengertian maknawiyah, bagaimana mengukur makna itu?”. Kaum ini sangat menekankan akan perlunya kuantifikasi. Hangat misalnya, bagi kaum behavioris tidak bisa diambil pengertian maknawinya, ia harus dikuantifikasi kedalam 28 derajat. Mereka juga menanyakan, bagaimana kita mengukur maxim suatu sistem sosial dari pendasaran yang subjektif itu? Jawaban behavioris terhadap pengukuran-pengukuran itu adalah, perlunya abstraksi perilaku sosial dalam suatu konsep umum. Boleh saja perilaku sosial itu dianggap mengandung makna, namun makna itu kemudian diabstraksi menjadi konsep umum. Konsep umum ini oleh kalangan behavioris disebut sebagai teori pilihan rasional (rational choice theory), dan hal ini sudah sangat terkenal sekali dikalangan ekonom dan politikus neo-klasik. Sumbangan ini oleh kaum behavioris diajukan untuk kesan verstehen yang sangat subjektif dan tidak bisa diukur. Konsep ini mengandaikan bahwa manusia merupakan makhluk rasional, yang tindak-tanduknya didasarkan pada alasan-alasan rasional. Meskipun menurut Habermas, rasionalitasnya hanya merupakan rasionalitas instrumental. Rasionalitas yang hanya sekadar menentukan sarana-sarana paling efisien dalam menentukan dan mencapai tujuan, bukan tujuannya yang direfleksikan. Sehingga hanya sebatas sarana tujuan itu sendiri. Dan Habermas banyak mengkritik konsep ini. </span><br />
<span style="color:#000000;">Abstraksi teoritis perilaku manusia dengan payungnya teori rasional banyak ditentang. Sehingga akhirnya filsafat masuk pula dalam sosiologi, yaitu dalam bentuk fenomenologi sosial. Dengan tokohnya yang cukup banyak seperti Garfunkel, Schultz, dan banyak lagi. Namun yang ingin saya katakan disini ialah Albert Schultz, yang mengatakan bahwa abstraksi perilaku sosial dalam bentuk konsep-konsep umum mengabaikan dunia kehidupan alam perilaku sosial. Yang penting ialah bukan mengabstasikan sesuatu pada konsep yang umum, tetapi justru kita harus menghayati dunia kehidupan para pelaku dari suatu komunitas tertentu. Tidak bisa dikatakan bahwa pilihan rasional merupakan suatu konsep yang melatari semua perilaku sosial. Kita harus mengukur perilaku sosial sesuai hati para pelakunya. Misalkan saja kalau diadakan analisis terhadap perilaku sosial komunitas agama tertentu dengan  mengambil konsep-konsep atau merumuskannya dari disiplin ilmu sosiologi yang kita pegang, kita harus mempertimbangkan kosep-konsep yang dianut oleh komunitas tersebut. Perilaku beragama yang diteliti secara intens oleh Durkheim misalnya, yang analisisnya diambil dari disiplin sosiologi, ditentang oleh Alfred Schultz dan kawan-kawan. Menurutnya kalau kita ingin menganalisis perilaku sosial suatu komunitas, kita harus memakai konsep-konsep yang dipakai oleh para pelaku sosial komunitas yang bersangkutan, jangan diambil dari sosiologi sendiri. </span><br />
<span style="color:#000000;">Nah, persoalan pada Schultz, ia kembali pada subjektivisme yang pada awal tadi saya bicarakan. Dimana Schultz mengatakan, setiap upaya penjelasan ilmiah suatu realitas sosial itu mesti merefleksikan makna subjektif darimana realitas sosial berasal. Jadi, struktur sosial harus didudukan pada persepsi atau penafsiran orientasi perilaku individual. Misal peran domestik istri sebagai pelayan dalam relasi antara suami-istri, nilai yang tertanam dalam peran sosial itu harus dikembalikan  pada tafisr subjektif masing-masing perilaku. Jadi, subjektivisme lagi. Bisa saja istri A memaknai peran itu sebagai kewjiban kompensatoris atas nafkah yang diberikan, tapi istri B memahaminya berbeda, yaitu sebagai (mungkin) manifestasi dari local wisdom bahwa seperti apa yang terdapat dalam istilah Jawa__istri suargo manut neroko katut. Intinya selalu didudukan pada penafsiran subjektif. Tidak bisa diabstraksikan bahwa peran domestik digeneralisir atau diabstrasikan sebagai peran kompensatoris saja. </span><br />
<span style="color:#000000;">Habermas mengatakan bahwa pendekatan fenomenologis terhadap realitas sosial merupakan revolusi tersendiri, karena selama ini pendekatan sosiologi sangat objektivis, sangat cenderung untuk melihat realitas sosial sebagai sesuatu yang sudah ready-made (sudah jadi). Padahal realitas sosial merupakan realitas yang ditafsirkan, realiatas yang terus-menerus dalam proses penafsiran internalisasi, objektivasi, dan seterusnya. Sehingga menurut Habermas, ini (fenomenologi?) cukup berarti bagi pengembangan metodologi dalam sosiologi. Habermas juga menaruh keberatan terhadap Schultz yang menurutnya gagal menjembatani antara yang subjektif dan sosial. Habermas melihat bahwa norma, institusi, nilai bukanlah produk kesadaran subjektif, berbeda pendapat Schultz yang sebaliknya. Habermas mengatakan bahwa itu semua merupakan hasil dari yang dinamakannya sebagai komunikasi intersubjektif. Dalam kehidupan, norma, nilai, merupakan hasil dari komunikasi intersubjektif. Segala sesuatu merupakan hal yang dibagi bersama dalam lingkungan sosial tertentu, bukan sesuatu yang pribadi melainkan dibangun secara sosial melaui sarana komunikasi. Apa yang kita lakukan semata-mata merupakan internalisasi dari apa yang telah dibangun secara sosial. </span></p>
<p><span style="color:#000000;">Prioritas pada fenomenologi sosial, persoalan yang privat oleh Habermas digeser menjadi prioritas pada relasi komunikatif. Ketika inilah bahasa masuk perannya. Bahasa menjadi penting dalam analisa perilaku sosial juga analisa sosial. Bahasa menjadi penting&#8211; jawabannya dapat diambil dari filsafat bahasanya Wittgenstein, terutama dalam pemikiran bahasanya tahap II (sebagaimana diketahui bahwa Wittgenstein memiliki dua fase pemikiran: pertama, keragaman bahasa ternyata memiliki suatu logika yang definite, suatu logika yang mendasari hal yang mungkin pada semua gramatika bahasa.  Kedua, Wittgenstein mengatakan bahwa bahasa tidak dapat dirangkai dalam logika. Masing-masing komunitas bahasa mempunyai apa yang disebut dia sebagai languange game-nya masing-masing. Contohnya saja, kalau kita mendengar kata &#8220;gergaji&#8221; dari seorang tukang batu kepada rekannya, kita akan gagal memahami makna “gergaji”, kalau kita tidak menghayati permainan bahasa yang dihayati oleh permainan bahasa tukang batu yang ada dalam suatu komunitas tertentu. Waktu, tempat, institusi menentukan permainan bahasa. Atau misalkan seorang akuntan yang tiba-tiba maju kedepan berbicara di mimbar Jum’at, dan dia berceramah panjang lebar namun tidak didengarkan. Sebabnya karena ia tidak mengikuti aturan permainan bahasa yang dihayati oleh komunitas itu. </span><br />
<span style="color:#000000;">Sepertinya, bahasa adalah suatu permainan, suatu aturan. Namun ternyata, bukan sekadar aturan gramatikal (antara subjek-objek), tetapi sebuah aturan sosial yang memperhatikan siapa yang bisa berbicara, apa yang dibicarakan, dimana dibicarakan. Saya sekarang ini terlibat dalam sebuah permainan bahasa, artinya sekarang ini saya sebagai seorang yang diberikan otoritas untuk bicara. Kalaulah saya bicara tentang tafsir al-Qur’an yang tidak saya kuasai, pasti tidak ada yang mendengar. Aturan bahasa adalah aturan sosial.</span><br />
<span style="color:#000000;">Orang pertama yang menjadikan bahasa sebagai aturan sosial ialah Peter Weanch (?). Dia mengatakan bahwa kebermaknaan perilaku sosial, itu diproses pada struktur  pemaknaan dunia kehidupan. Dia mengatakan bahwa sesuatu yang bermakna diatur oleh pola-pola struktural, namun hukum yang mengatur perilaku tersebut bukan sesuatu yang tetap, melainkan hukum yang diatur oleh perilaku yang bersangkutan dan hanya berkaitan dengan perilaku yang melahirkannya. Jadi, seorang sosiolog tidak sampai pada pemahaman reflektif suatu realitas sosial tertentu tanpa pertama-tama memahami pemahan non-reflektif para pelaku perilaku sosial. Sosiolog tidak dapat berefleksi tentang apa sebenarnya yang melandasi suatu perilaku sosial tertentu tanpa memahami terlebih dahulu pemahan non-reflektif. Mudahnya, kalau kita misalnya masuk dalam suatu perilaku sosial sebuah sekte keagamaan atau kepercayaan tertentu, kita tidak bisa sampai pada pemahaman reflektif  apa yang mereka lakukan sebelum kita menghayati pada pemahaman mereka yang sifatnya non-reflektif. Mereka melakukan hal demikian (yang kita amati) secara non-reflktif, tidak memikirkannya dahulu, mereka melakukannya secara serta-merta. Kalau kita tidak tahu apa yangf mereka hayati pada apa yang mereka lakukan secara serta-merta itu, kita tidak akan sampai pada pemahaman perilaku mereka yang reflektif.  Ini yang ingin digaris bawahi oleh Peter  Weanch. Contohnya ialah: jika seorang sosiolog hendak menentukan apakah dua ajaran penutur asli merupakan bagian dari aktivitas-aktivitas religius tertentu, kriteria yang diambil harus berdasarkan pada agama yang bersangkutan. Karena itu merupakan penghayatan non-reflektif dari pelaku komunitas tersebut. </span><br />
<span style="color:#000000;">Metodologi untuk hal diatas, karenanya metodologi partisipatoris. Tidak lagi mengambil sikap teoritis berjarak, tapi melebur dalam objek kajiannya dan bahasa yang dimainkan. Artinya, kita bisa memahami perilaku sosial kultural komunitas dan religius tertentu, kalau kita mengerti permainan bahasa dari komunitas tersebut. Seorang etnolog-linguis yang mengamati bahasa dari penutur asli suku tertentu, yang bila suku tersebut menemui kelinci lewat, penutur asli suku tersebut berucap “gavagay”, ento-linguis tersebut yang bermain dengan bahasanya sendiri dengan serta-merta mengatakan, “gavagay” berarti kelinci. Selanjutnya, kalau kata “gavagay” seiring dengan perilaku penutur asli yang mengejar kelinci, menurut enolog tersebut berarti: kelinci yang menjadi objek buruan untuk dijadikan santapan malam. Kalau etnolog-linguis tersebut tidak memahami pemahaman non-reflektif suku tersebut, maka setnolog tersebut telah gagal memahami maksud si penutur asli. Karena ternyata kata “gavagay” itu, berarti hewan dewa yang apabila disentuh mampu memberikan kekuatan magis, sebab itulah kelinci tersebut dikejar-kejar. Karena itu seorang sosiolog gagal total ketika ia tidak masuk memahami pemahaman non-reklektif suatu komunitas yang bersangkutan, karena bicara dengan bahasa sosiologi yang ia anut bukan disesuaikan dengan komunitas itu. Weach ingin mengatakan bahwa dimungkinkan bahkan lebih dari itu, artinya mesti bagi seorang sosiolog melepaskan diri permainan bahasa dan aturan-aturan bahasa yang melingkupinya, kemudian melebur dan menjadi satu dengan permainan bahasa yang dihayati oleh objek kajiannya. Permainan bahasa yang kita punyai,  kita lepaskan, kurung dan tunda dahulu, baru kemudian kita masuk pada permainan bahasa komunitas yang bersangkutan. Menurut Weanch hal ini dimungkinkan.</span><br />
<span style="color:#000000;">Namun Habermas meragukan hal ini. Menurutnya, apakah bisa seseorang dengan mudah begitu saja berpindah dari permainan bahasa yang satu kepada yang lainnya. Habermas juga meragukan bahwa suatu permainan bahasa yang satu dapat diterjemahkan secara sempurna kedalam permainan bahasa lainnya. Persoalnnya ialah keterjemahan (translatability), bisa tidak diterjemahan secara toatal, atau jangan-jangan malah mendistorsi apa yang kita amati. Metodologi Weanch memuat konservatisme tersembunyi, karena eksplorasi permainan bahasa yang diwariskan secara historis pada realitas sosial tertentu menafikan refleksi yang sifatnya kritik ideologi.  Seolah-olah tugas seorang sosiolog hanya mendeskripsikan perilaku sosial suatu komunitas tertentu. Tetapi Habermas punya misi lain, yaitu yang bukan hanya mendeskripsikan, namun juga membuat refleksi kritis terhadap anasir-anasir ideologis yang termuat dalam realitas yang bersangkutan. Bukan sekadar deskriptif, tapi juga emansipatoris. </span><br />
<span style="color:#000000;">Dari keberatan Habermas kita ketahui bahwa kesulitan verstehen mulai dari Weber, Abel, samapai Weanch adalah orientasinya yang masih objektivis, orientasi makna pada apa yang terkandung pada objek yang diamati. Orientasi ini sangat mengabaikan lingkaran permainan bahasa sang pengamat dalam sebuah realitas sosial, padahal ia mempunyai permainan bahasa sendiri. Namun, orang seperti Weanch menginginkan kita (pengamat/sosiolog) melepaskan baju permainan bahasa kita dan masuk kedalam permainan bahasa yang kita teliti, dan Habermas menolak ini. Kita tidak bisa, meskipun menarik dan memunculkan pertanyaan: Lalu apa pendekatan yang memungkinkan kita menganalisis komunitas tertentu tanpa kita melepaskan baju permainan bahasa yang kita hayati.</span><br />
<span style="color:#000000;">Hermeneutiek</span><br />
<span style="color:#000000;">Hermeneutika dalam tradisi Kristiani  bertolak dari penafsiran teks suci. Orang yang pertamakali menguasai bidang ini adalah para teolog, rohaniawan. Sedang di Islam sebaliknya. </span><br />
<span style="color:#000000;">Pada perkembangannya, hermeneutika memperlebar sayapnya yang tidak hanya terbatas pada teks suci, tapi juga teks-teks non-skriptural, seperti karya sastra, filsafat, dan sebagainya. Persoalannya, perkembangan hermeneutika selanjutnya membawa juga tradisi hermeneutika teks suci. Yaitu adanya asumsi hermeneutika teologis dalam hermeneutika filosofis yang dikembangkan para hermeneut dikemudian hari. Asumsi itu ialah yang disebut normatif-dogmatis, yaitu orientasi hermeneutika yang selalu mencari makna azali, apa makna  hakiki dari kitab suci. Tradisi penafsiran kitab suci berada pada posisi agung yang tidak dapat diinfiltrasi oleh penafsiran-penafsiran apapun yang tujuannya bukan pada otoritas tafsir sendiri. Hermeneutika selanjutnya pun terbawa, berorientasi pada otoritas teks dan mencari makna normatifnya bagi masa kini. Inilah kecenderungan hermeneutika yang masih mengadopsi tradisi penafsiran kitab suci. Tujuannya semata-mata transmisi keyakinan dan norma tradisional untuk diterapkan pada persoalan kekinian. Mengambil dari masa lalu, ditarik ke masa sekarang, lalu diterapkan untuk menyelesaikan apa yang ada di masa sekarang. </span><br />
<span style="color:#000000;">Tokoh seperti Dhiltey, juga masih merumuskan hermeneutika filosofis yang mengandung asumsi-asumsi hermeneutika teologis. Pendekatan hermeneutika Dhiltey misalnya yang disebut sangat psikologistik, dimana hermeneut hanya bertugas menyelami konteks biografis sang pengarang, guna menyingkap maksud sesungguhnya dari teks. Pengarang, dalam bahasa Inggris ialah “Author”, yaitu orang yang memegang “The Ultimate Authority of The Meaning of Text”. Kenapa “Author”? karena berarti ia adalah pemegang otoritas. Seolah-olah author mengatakan, “Makna teks itu berada di pihak saya”, karena itu saya harus dikejar untuk mendapatkan makna teks tersebut. Meskipun dalam kitab suci sulit menentukan siapa “saya” di situ. Karena pengarang dalam kitab suci ialah Tuhan, ditambah lagi klaim orang yang merasa paling tahu maksud Tuhan, namun siapa yang tahu? Berbeda kalau pengarang itu manusia, tinggal saja menanyakan, apa maksudnya? Inilah persoalan tersisa dari tradisi hermeneutika teologis. </span><br />
<span style="color:#000000;">Agus Syafi’i: Berarti Tuhan tidak bertanggung jawab? </span><br />
<span style="color:#000000;">Pembicara: apa? </span><br />
<span style="color:#000000;">Agus Syafi’i: Tuhan tidak bertanggung jawab… </span><br />
<span style="color:#000000;">Pembicara:</span><br />
<span style="color:#000000;">Justru bertanggung jawab, karena Tuhan sangat menghormati rasionalitas manusia. Memang akhirnya banyak penafsiran. Kritik tajam terhadap hermeneutika yang masih sangat psikologistik seperti pada Dilthey atau hermeneutika yang masih membawa asumsi-asumsi hermeneutika teologis, datang dari Heidegger. Ia mengatakan bahwa bahasa tidak selalu sama pada setiap perkembangan sejarah. Bahasa pada masa abad pertengahan, renaisssance, aufklarung, modern berbeda-beda.</span><br />
<span style="color:#000000;">Achmad Chojim: Itu meski kata-katanya tetap?…Hanya maknanya yang beda? </span><br />
<span style="color:#000000;">Pembicara: Meski kata-katanya tetap. Dan bukan sekadar penyempitan atau perluasan makna. Kalau kita mungkin hanya mengenal penyempitan atau perluasan, tapi ini lebih dari itu, maknanya berubah total, menyimpang.  Jadi, ada suatu retakan-retakan yang tidak bisa dijelaskan kenapa makna kata sesuatu pada masa tertentu berbeda. Hal ini menurut Heidegger, karena bahasa terikat dalam kesejarahannya. Jadi, dalam masa-masa tertentu bahasa punya logikanya sendiri, makna sendiri, komunitasnya sendiri. </span><br />
<span style="color:#000000;">Manusia akan selalu menemukan dirinya dalam dunia yang sudah bermakna. Ketika saya lahir di Indonesia, tahun 1974, dalam lingkungan tertentu berarti saya sudah tercemplung dalam suatu dunia yang bermakna. Hal itu diwarisi secara historis dalam periode tertentu. Heidegger hendak berkata bahwa mereproduksi secara akurat bahasa dari masa lalu adalah omong kosong. Tidak bisa kita mereproduksi secara total makna dari masa lalu seperti yang dihayati betul oleh penutur masa itu. Ini pandangan Dilthey. Scheleimacher masih percaya betul bahwa dalam menafsir sesuatu, kita seolah-olah mereproduksi secara akurat bahasa yang dihayati oleh penutur pada jaman yang kita teliti.</span><br />
<span style="color:#000000;">Tradisi filosofis ini dilanjutkan oleh seorang bernama Hans G. Gadamer. Ia mengajukan sanggahan terhadap apa yang dinamakan monadologi bahasa (Heidegger?), yaitu pengandaian akan kesadaran, karena kita tertanam dalam permainan bahasa sedang epos sejarah punya permainan bahasa masing-masing, maka seolah-olah kita menjadi relativis, tidak bisa memahami bahasa dari permainan bahasa yang berbeda, terisolasi dalam monad-monad bahasa yang kita tertinggal di dalamnya. Gadamer memulai menggugat relativisme bahasa, karena ia menaruh kepercayaan pada universalitas rasio. Menurutnya kita dapat memahami komunitas bahasa dengan bahasa berbeda, kita tidak terkungkung total pada permainan suatu komunitas bahasa tertentu. Penafsir menurut Gadamer tidak menghadapi objek tafsirannya dalam keadaannya bebas nilai (dan ini yang menjadi menarik atau suatu terobosan hermeneutika filosofis). Gadamer mengatakan penafsiran selalu membawa horizon ekspektasi, keyakinan, praktek, konsep, serta norma-norma yang berasal dari dunia kehidupannya. Penafsir tidak bisa…(kalau Weanch di awal tadi kan berusaha mengharuskan seseorang melepaskan praanggapan didirinya, sedang Gadamer malah tidak). Penafsir selalu melihat objek tafsirannya dari perspektif yang dibuka  oleh horizon tradisi yang meliputinya atau horizon penafsiran yang melingkupinya. Misal: terhadap satu ayat suci, tafsirnya bisa berbeda bila dihadapkan kepada dua orang yang berbeda ideologinya (jelas!), hal ini menggambarkan bahwa kita tidak bisa lepas dari horizon ekspektasi, nilai, norma, konsep, yang meliputi kita. Ada orang misalnya yang menafsirkan ayat dari perspektif feminis, namun bagi pihak kyai ortodok ini dianggap tidak boleh, bagi mereka tafsirnya harus sesuai tradisi. </span><br />
<span style="color:#000000;">Menurut Gadamer proses pertemuan kita dengan teks yang hendak ditafsirkan merupakan sesuatu yang melingkar, sebab itu hermeneutikanya sering disebut sebagai hermeneutika melingkar. Kita bermula dari teks, lalu teks dibawa kepada horizon ekspektasi kita, yang sudah diinfiltrasi oleh keyakinan, konsep, norma, dan ideologi yang kita anut. Kemudian kita harus kembali kepada teks lagi, tidak bisa kita serta-merta memberangus teks yang hendak kita tafsirkan dengan konsep-konsep yang kita miliki. Karena teks itu juga merupakan sedimentasi penafsiran-penafsiran sebelumnya. Dengan kata lain Gadamer ingin mengatakan bahwa kita tidak dapat melepaskan diri dari tradisi penafsiran teks yang sudah ada sebelumnya. Pertemuan antara kurungan pemaknaan yang mengitari saya (kita) dengan teks itu sendiri disebut Gadamer sebagai fusi horizon. Antara horizon teks dan kita sebagai penafsir, kalau itu bertemu akan menghasilkan satu yang tidak mendominasi lainnya, bukan peneliti melepaskan baju (horizon) untuk mendapatkan makana orisinal teks. Bukan juga kita menyelimuti teks tersebut dengan baju yang kita pakai, yang berarti penjajahan teks dengan konsep-konsep yang kita miliki. Fusi horizon ini juga berarti bahwa adanya kesadaran terhadap objek yang tidak bebas nilai dan menyadari bahwa objek tidak dapat diberangus, ditafsirkan tuntas oleh kita sebagai penafsir. Teks selalu menyimpan keasingan, sebab teks selalu berasal dari masa lalu dan berasal dari penafsiran-penafsiran lain. Fusi horizon ini akan melahirkan makna baru. Bukan makna saya, makna teks, tetapi makna baru. Bukan makna dari horizon saya, bukan makna horizon teks, tetapi makna baru. Artinya hermeneutika bukanlah mengambil makna masa lalu untuk sekarang, bukan juga menutupi masa lalu demi masa kini, tetapi mempertemukan keduanya untuk sesuatu yang baru. Inilah konsep yang diajukan Gadamer. Konsep ini kemudian menjadi tren, doktrin, yang masyhur dalam tradisi hermeneutika di Amerika dan Eropa, sebelum Habermas mengajukan keberatan terhadap metodologi Gadamer. </span><br />
<span style="color:#000000;">Habermas mengkritik dan menilai bahwa pendekatan hermeneutika Gadamer memuat elemen-elemen konservatisme tanpa disadari. Sebab, menganggap penafsiran tidak bisa lepas dari tradisi akan menjadikan penafsiran menjadi semacam preservasi atau pemeliharaan tradisi. Dengan begitu Gadamer hanya sampai pada kesadaran tradisi, tetapi tidak mengajukan metodologi apapun untuk mengkritisinya. Seolah tradisi itu sesuatu yang given, dengan tanpa menaruh kecurigaan bahwa tradisi mengandung sesuatu, salah, atau sarat permainan ideologis. Habermas menganggap bahwa tradisi tidak pernah netral, menolak anggapan Gadamer yang mengatakan bahwa tradisi netral, sesuatu yang harus dijauhi dalam kevakuman dan netralitasnya. Sebaliknya, Habermas melihat bahwa tradisi adalah hasil kontruksi sejarah yang ditopang oleh permainan kuasa dan ideologi. Statement ini menunjukan pula bahwa Habermas merupakan generasi teori kritis yang tidak dapat melepaskan diri dari Marx. </span><br />
<span style="color:#000000;">Gadamer hanya memberikan bagaimana dialog dengan tradisi dimungkinkan, tatapi tidak mengajukan relasi kritis antara penafsir dan tradisi yang melingkupinya, dengan menganggapnya sebagai pihak yang harus diajak dialog. Bagi Habermas hal ini perlu ditinjau kembali, karena jangan-jangan tradisi yang hendak diajak dialog  mengandung ideologi yang perlu dikritisi. Refleksi kritis harus mempertanyakan keabsahan tradisi, refleksi yang menyibak otoritas gramatika bahasa yang dimutlakkan sebagai suatu undang-undang untuk menafsirkan kenyataan dan bertindak sesuai dengannya.  Dengan kata lain, tugas hermenutika secara kritis berusaha membongkar distorsi-distorsi yang melandasi tradisi. Sehingga__kalau menyangkut sosiologi__penelitian sosial tidak semata-mata mengarah pada eksplitasi makna atau pe-manifestasi-an makna dengan bertanya, apa makna? Tapi mengkritisi bagaimana proses ideologi sampai memunculkan makna, apa mekanisme yang berlaku sehingga makna ini yang muncul, bukan yang itu. Pasti ada permainan kuasa yang menopang itu, ini yang lebih ditekankan. Menurut Habermas juga, makna yang tertanam dalam budaya tertentu ditentukan oleh ranah non-linguistik. Bahasa bukan satu-satunya institusi, ia juga dipengaruhi oleh institusi lainnya seperti institusi sosial dan dominasi politik. Contohnya ialah konsep tanah. Pada abad pertengahan konsep tanah yang berporos pada ekonomi feodalistik berarti simbol kehormatan dan status. Kalau saya mempunyai tanah 1000 hektare berarti saya menempati sistem aristokrasi tertentu dalam hirarki kebangsawanan. Pada poros kapitalistis kemudian, tanah tidak lagi merupakan simbol status tapi sebagai kapital. Pergeseran makna ini menandakan adanya pergeseran modus produksi dari feodalistis ke kapitalistis. Makna berubah seiring perubahan proses produksi. Kerangka ini kelihatan pinjaman Habermas dari Marx dengan teori supra dan infrastruktur. Bahasa terletak pada suprastruktur, di kesadaran sosial, yang ditentukan oleh infrastruktur  yaitu relasi dan modus produksi. Sasaran hermeneutika menurut Habermas bukanlah penciptaan makna melainkan melacak distorsi yang memunculkan makna. Bukan pada makna tapi mencari sebab apa yang mendistorsi makna ini. </span><br />
<span style="color:#000000;">Catatan-Catatan</span><br />
<span style="color:#000000;">Saya setuju dengan kritik Habermas terhadap Gadamer, khususnya persoalan universalitas hermeneutika. Kritik-kritik Habermas terhadap Gadamer yang saya setujui yaitu: pertama, baiklah bahwa rasionalitas memang tidak terkungkung dalam suatu permainan bahasa, tapi ia bisa menerobos permainan bahasa untuk mendapatkan makna yang universal terhadapnya. Kedua, Gadamer terlalu yakin terhadap tradisi yang dianggap terlalu otoritatif terhadap suatu penafsiran. Ketiga, bahasa sebagai salah satu institusi. Saya setuju bahwa bahasa bukanlah satu-satunya institusi dalam realitas sosial. </span><br />
<span style="color:#000000;">Namun saya ingin mengatakan, baiklah bahwa Habermas sangat sukses dalam merumuskan hermeneutika kritis dimana penafsiran menjadi bukan lagi sekadar dialog antar tradisi, tapi juga melacak makna yang terdistorsi secara ideologis dalam tradisi tertentu. Tetapi menurut hemat saya, Habermas masih mendudukan dominasi dalam logika komunikasi ekonomi, khususnya kapitalisme lanjut, yang mengalami derpresi besar dekade 1930-an. Gadamer? (Habermas) mengatakan bahwa komunikasi satu arah semata-mata disebabkan oleh rasionalitas ekonomi yang mengesampingkan dunia kehidupan. Ini menunjukan saya, seolah-olah komunikasi tidak memiliki dominasinya sendiri, seolah-olah ia terdistorsi secara komunikatif karena ada dominasi ekonomi dan politik yang meliputi kita. Sepertinya Habermas berkata demikian.</span><br />
<span style="color:#000000;">Padahal para pemikir sosial kontemporer menunjukan hal yang bertolak belakang dengan itu. Saya ambil contoh dua pemikir sosial kontemporer. Pertama Pierre Bourdieu, asal Perancis, dan kedua penasihatnya Tony Blair (PM Inggris), yaitu Anthony Giddens. Bourdieu menunjukkan bahwa dominasi dalam komunikasi tidak semata-mata berdasarkan pada logika ekonomi. Kenapa? Sebab kekuasaan ekonomi bukan satu-satunya yang menentukan dominasi ekonomi. Modal ekonomi bukan satu-satunya sumber dominasi. Bukan karena saya mempunyai satu-satunya sumber ekonomi lalu saya mendominasi kuasa atas orang lain secara komunikatif. Sebab ternyata ada sumber dominasi yang lain__menurut Bourdieu__yaitu yang bukan berupa modal sosial tapi berupa modal kultural (atau modal budaya). Bisa kita terjemahkan begitu. Apa itu modal budaya? Modal budaya bukanlah hasil dari akumulasi kapital yang sifatnya finansial, tapi akumulasi kapital yang sifatnya kultural. Jadi (misalnya), kalau mahasiswa semester I bacaannya Pengantar Filsafat-nya Fuad Hasan, kemudian semester II bacaannya sudah (ber-) bahasa inggris Introduction Philoshopy-nya Bertran Russel, semester III sudah mulai membaca karya asali filsafat tertentu dari Ayer atau Wittgenstein, semester IV sudah bisa mengakses buku-buku yang critical, semua ini adalah modal budaya. semula pada waktu semester I baru menjadi pendengar, modal budayanya sudah banyak ia naik menjadi pembicara. Hal ini juga menunjukan dominasi kekuasaan dalam komunikasi. </span><br />
<span style="color:#000000;">Contoh lain: konon Marx sangat geuting, benci, terhadap musuh diskusinya yaitu Ferdinand Lassal, seorang sosiolog seangkatan, juga yang sebetulnya lebih ngetop dari Marx. Karena Lassal tidak hanya menulis buku tebal yang tidak ketulungan rumitnya, ia juga menulis buku-buku atau publikasi semacam pamflet untuk buruh yang mengajukan bagaimana agenda-agenda dan nasib buruh dibangun. Sehingga ia lebih terkenal dari Marx. Marx kesal karena tidak terkenal dan dianggap akademisi yang tidak mengakar di grass-root, sehingga ia mengatakan, “ah, Lassal itu tahunya apa sih? Dia itu kan belajar sosialis dari orang yang dianggap intelektual kelas dua dalam sosialisme”. Dengan kata lain Marx ingin mengatakan bahwa sayalah tokoh yang belajar sosialisme dari intelektual kelas satu, yang artinya Marx ingin mengatakan bahwa modal budaya saya lebih besar daripada Lasssal. Atau mahasiswa yang berujar, “bacaan saya bukan lagi Fuad Hasan loh, tapi Bertran Russel, jadi kamu harus lebih percaya pada saya”. Kira-kira begini (yang dinamakan modal budaya). Bourdieu melihat ini merupakan dominasi komunikasi yang berasal dari modal budaya, bukan modal ekonomi atau modal finansial.</span><br />
<span style="color:#000000;">Giddens pun mengatakan bahwa relasi sosial komunikasi dengan ekonomi merupakan berbeda sama lain. Komunikasi adalah interaksi sosial yang mengandaikan satu bingkai penafsiran tertentu, sedang ekonomi merupakan interaksi sosial yang berdasar pola dominasi atas barang. Saat kita menarik uang di ATM, kita menjalani pola dominasi atas barang, sedang kalau kita berbicara dengan teman se-kepercayaan, seagama, seiman, maka kita sedang menjalankan pola dominasi komunikasi tertentu, paling tidak kalau disitir satu ayat suci masing-masing saling memahami. Jadi, berbeda pola komunikasi dengan pola ekonomi. Hubungan antara pola komunikasi sebagai interaksi sosial dengan ekonomi bukanlah hubungan satu yang menentukan yang lain. Pada Habermas, dominasi politik dan ekonomi masih menentukan pola komunikasi, namun Giddens melihatnya sejajar. Dominasi ekonomi dan ekonomi sama-sama sejajar hanya ada kesalingan diantaranya. Yang satu tidak bisa dilepaskan dari yang lain. Misalkan saja dalam komunikasi kita sama-sama menyakini satu skemata, atau bingkai penafsiran, bahwa presiden adalah panglima terttinggi angakatan bersenjata. Skemata itu berhubungan dengan dominasi politik bahwa presiden atau otoritas presiden terhadap angkatan bersenjata adalah mengumumkan perang sebagai misal. Jadi, dominasi politik berhubungan dengan dominasi dalam komunikasi. Atau skemata penafsiran yang mengatakan bahwa Bank Indonesia merupakan otoritas moneter tertinggi, ini berhubungan antara dominasi ekonomi. Dominasi pola atas barang bersama dominasi komunikasi, memungkinkan perkataan bahwa Bank Indonesia mempunyai otoritas untuk melakukan intervensi bila terjadi depresiasi. Namun, semua itu hanya hubungan kesalingan bukan dominasi, inilah paparan Giddens yang tidak dilihat Habermas. </span><br />
<span style="color:#000000;">Ekonomisme, Habermas yang begitu menekankan bahwa ekonomi sebagai satu-satunya alat dominasi, menggiring distorsi ekonomi melulu pada konteks rasionalitas instrumental kapitalisme lanjut. Sehingga, Habermas hendak mengatakan bahwa kepentingan-kepentingan yang ingin mengkonstruk makna kebahasaan itu tunggal yaitu ekonomi, padahal tidak tunggal demikian. Dan hal ini ditunjukkan oleh seorang filsuf yang juga sosiolog, yaitu Michael Foucoult yang mengatakan bahwa fenomena bahasa seperti seksualitas, kegilaan, penghukuman, semuanya melibatkan sistem bahasa yang plural, majemuk. Dan melibatkan berbagai ilmu pengetahuan, institusi dan profesi. Misalkan fenomena kegilaan, dimana ia dianggap sebagai fenomena kebahasaan yang dimaknakan sebagai perilaku yang menyimpang dari kewarasan. Makna ini dihasilkan oleh kepentingan yang semata-mata bukan berdasar pada ekonomi, namun kepentingan yang berdasarkan institusi seperti fakultas psikologi, ilmu pengetahuan psikologi, kemudian profesi psikiater. Ada institusi, pengetahuan-pengetahuan dan profesi. Ketiganya bekerjasama dan mengkonstruksi makna kegilaan seperti yang kita pahami sekarang. Padahal pada sejarah semula, orang gila dibebaskan dari karantina bawah tanah yang sangat inhuman, yang perilakunya sangat tidak manusiawi ke sebuah assylum, rumah sakit jiwa__yang menurut orang bayak__akan lebih manusiawi. Tapi pembebasan yang kemudian menggeser makna kegilaan itu __sebelumnya kegilaan dianggap sebagai kutukan Tuhan, sebagai turunnya derajat manusia ke tingkat binatang, sehingga harus disiksa dan diperlakukan apa saja hingga sadar bahwa dirinya adalah manusia__ bergeser pada makna kegilaan sebagai sebuah penyakit jiwa, sebagai mentalis order. Pergeseran ini tidak bertalian dengan kapitalisme, ekonomi, tapi sebuah retakan sejarah yang tidak bisa dijelaskan mengapa tiba-tiba bisa berubah. Kenapa begitu, karena kepentingannya sangat beragam. Lewat tiga tokoh ini terjelaskan bahwa Habermas terlalu miskin jika mendudukan komunikasi dalam struktur ekonomi. Dan ia tidak bisa lepas dari ini, karena toi kitis mata airnya dalah Marxisme. Apapun variannya, pasti ekonomi politik yang dilihat sebagai sumber penyimpangan makna. Terlepas dari itu kita harus memberikan applaus terhadap pendekatannya dalam ilmu-ilmu sosial.</span><br />
<span style="color:#000000;">Ada satu tokoh lagi sebenarnya yang juga menerapkan hermeneutka dalam ilmu sosial, yaitu Paul Ricouer. Padahal hermeneutika sebelumnya berpokok pada teks. Tanpa Habermas, ilmu sosial ilmu-ilmu sosial masih sangat konservatif pada positivisme. Padahal yang beragam itu melanggengkan status-quo.</span><br />
<span style="color:#000000;">Moderator: </span><br />
<span style="color:#000000;">Uraian yang sangat menarik, dan juga sangat bayak. Saya sendiri tidak bisa menyimpulkan, kalaupun disimpulkan belum tentu benar. Menyoal teori kritis paling tidak kita ingat tiga master prejudice. </span><br />
<span style="color:#000000;">Lewat ini, kiranya kita bisa pula memahami bagaimana hermeneutika memahami perilaku Islam literal. Atau perilaku bunuh diri konflik Palestina-Israel. Saya persilahkan bagi teman-teman untuk bertanya…</span><br />
<span style="color:#000000;">Achmad Chojim:</span><br />
<span style="color:#000000;">Yang ingin saya tanyakan, bagaimana aplikasi Habermas ini jika dikaitka dengan dakwah. Dakwah yang dibawa dari Timur-Tengah agar diterima dipaksakan terhadap orang begitu saja. Contohnya: kita kenal kata “makhluk”, yang jelas artinya dalam bahasa Indonesia kata itu merupakan kata serapan. Artinya, dahulu orang Indonesia belum mengerti kalau ada makhluk. Karena, konsep Jawa misalnya yang memandang bahwa yang ada hanya Tuhan dan titahnya. Titah itu artinya cuma firman, dimana semua alam semesta merupakan perwujudan dari Tuhan. Sebab itu, orang Jawa menyebut makhluk itu sebagai “tumita”, bukan yang dijadikan tapi yang diciptakan. Namun lewat sistem Islam, kata itu dipaksakan untuk diakui bahwa ada dualitas, yaitu khalik-makhluk. </span><br />
<span style="color:#000000;">Sutrisno Abdillah:</span><br />
<span style="color:#000000;">Saya mempunyai dua persoalan. Pertama, kritik Bourdieu dan teman-teman terhadap Habermas. Mengapa Habermas melulu bersandar pada ekonomi, saya kira harus dilihat pada konteks ekonomi bukan dalam konteks yang digambarkan dalam teks mas Donny (pembicara) yang merupakan konteks mikro sosiologi (sangat personal) tapi Habermas melihat dalam teori makro sosiologi. Karena itu kalau kritik mas Donny demikian menjadi tidak relevan akhirnya. Menarik pada pokok persoalan ekonomi dalam tingkat makro merupakan hal tak terhindarkan. Saya kira betul habermas melihat dmikian. Kedua, ada penjelasan yang meloncat, yaitu tentang kesulitan verstehen. Dalam paper disebutkan kalimat “adalah orientasi objektivis” mengenai kesulitan verstehen. Ini menurut saya membingungkan. Karena kalimat diatas sebelumnya mengungkapkan bahwa Weber dan kawan-kawannya akan dipolakan sebagai seorang yang strukturalisme, dimana individu tidak berdaya. Kalau itu memang seperti itu, artinya tidak ada persoalan dengan orientasi objektivis, sebab itu khas keilmuan. Penjelasan selanjutnya, “mengabaikan lingkaran permainan bahasa” dalam penelitian sosial, menurut Habermas hanya bisa diatasi bila kita berpaling dalam penelitian yang sifatnya hermeneutis.  Sebetulnya, paragraf ini tidak menyelesaikan, bagaimana hermeneutika Habermas bisa menyelesaikan persoalan-persoalan vertehen-nya Weber. Tapi, kita bisa mengerti bagaimana Weber bisa memahami persoalan mikro yang pribadi lewat rasionalisasi yang diajukannya. Ini yang tidak dipunyai Habermas. Dalam sosiologi orang biasanya menganggap lebih baik menggunakan Weber saja ketimbang Habermas.</span><br />
<span style="color:#000000;">Ismail Fahmi: </span><br />
<span style="color:#000000;">Untuk Wittgenstein, yang pada awal diskusi ini disinggung, ada contoh yang lebih dekat dengan kita sebenarnya. Yaitu, suatu komunitas di hutan yang berteriak “kelinci,” itu berarti tidak hanya menginformasikan kelinci. Languange Game Wittgenstein, dimana ia sadar pada Wittgenstein I, yang mengatakan bahwa setiap bahasa adalah cerminan fakta-fakta. Tapi Ricouer mengatakan bahwa tidak cukup bahasa hanya mencerminkan fakta, karena itu ia (Wittgenstein) telurkan konsep languange Game itu. Saya kira dari teori LG-nya itu, yang kemudian berpengaruh pada teori posmodernisme. Kata “kiri” dalam komunitas yang satu dan lain dimaknai secara berbeda, juga kata “rapet”. Bagi kita yang begitu akrab dengan berkendaraan naik metromini, kata “kiri” berarti berhenti. Dalam cerpen misalnya, kata “kiri” tidak diterjemahkan sebagai left tapi stop, juga kata “rapet”. Kalau kenek bilang “rapet-rapet”, artinya tancap gas. Maksud saya, hal itu berbeda dalam komunitas-komunitas. Mengenai Habermas, bisa tidak mas melihatnya lewat kacamata Hannah Arend. Saya melihat teori komunikasi Habermas sangat berhutang dengan vita activa-nya Hannah Arend, yaitu kerja, karya, tindakan. Dalam tindakan, saya kira kerja itu adalah “labour”, karya merupalan “work”, sedang tindakan adalah “action”. Inti tiga istilah ini menurut Arend, mengandaikan adanya gradasi dalam hubungan manusia. Dalam komunikasi tahapnya sudah action. Yang terakhir dari Arend inilah yang saya kira menginspirasikan Habermas dalam teori komunikasinya. </span><br />
<span style="color:#000000;">Menurut saya, kritik Bourdieu dan Giddens tidak relevan untuk masa kini. Sebab Habermas telah melahirkan teori etika diskursus, juga demokrasi deliberatif. Ternyata Habermas tidak melulu memakai pendekatan pada pokok ekonomi. Etika diskurus juga mngacu pada prinsip universalitas Kant, yaitu tentang maxim yang sejauh mana dapat diterima oleh umum, dengan menanyakan terlebih dahulu pada maxim (mu). Habermas memodernkan prinsip ini kedalam aturan sejauh dapat diterima oleh orang yang mendapat dampak negatif dan positifnya.</span><br />
<span style="color:#000000;">Agus Syafi’i:</span><br />
<span style="color:#000000;">Bukankha justru Habermas mengungkapkan alam bawah sadar pada konteks kata, yang hal tersebut pada ruang masyarakat proletar menurut Marx? Apakah ini terabaikan dari uraian mas Donny?</span><br />
<span style="color:#000000;">Pembicara:</span><br />
<span style="color:#000000;">Habermas memang kritis terhadap Marx, namun perlu digaris bawahi bahwa ia tetap sajamelihat lembaga ekonomi sumber dominasi bagi supra-infra struktur. Kita tidak bisa mengatakan bahwa ia dengan mudah terlepas dari pengaruh Marx. Pasti ada infiltrasi yang tersisa. </span><br />
<span style="color:#000000;">Habermas mengatakan, kalau kita mau membebaskan masyarakat, maka kita harus menyelami alam bawah sadar sebab ketertindasan mereka. Dan mengangkatnya pada kesadaran dengan mengatakan bahwa kesadaran ini palsu. Dibalik kesadaran ada kesadaran yang didistorsi. Kalau dikatakan A namun yang keluar S, berarti ada yang didistorsi. Dalam bahasa Freud, ada yang disebut latent meaning dan manifest meaning. Hal ini memang berhutang sekali terhadap psikoanalisa. </span><br />
<span style="color:#000000;">Bagaimana hermeneutik diterapkan pada dakwah? Hal ini akan berbuah pada hal kontraproduktif sebab banyak sekali tradisi-tradisi yang berbeda. Sebab dari yang bayak itu ada kritik ideologi dengan penelusuran kepentingan-kepentingannya. Jadi, bukan mengafirmasi tradisi, hanya mencari pa yang terdistorsi itu. Harus ada proses dialog. Untuk dakwah, agaknya Gadamer lebih pas. </span><br />
<span style="color:#000000;">Sebenarnya saya tidak memakai kritik Bourdieu dan Giddens dalam mengkritisi Habermas. Saya hanya memakai kerangka teoritis mereka untuk kritik saya sendiri. Karena saya melihat dalam Habermas, economic institution seolah menjadi sumber kekuasaan utama. Kalau ditanyakan apakah ia lebih memilih antara tataran makro atau mikro ekonomi, nampaknya ia memang lebih tepat dikatakan masuk pada tataran mikro. Sebab teori rasional yang Habermas tentang lebih masuk dalam konsep mikro ekonomi bukan makro ekonomi, bukan yang bersifat state, tapi perusahaan. Karenanya Habemas mengatakan interaksi ekonomi bukan hanya salah satu interaksi yang mungkin. Masih juga dipertanyakan masalah nilai dan sebagainya. Memang ia melihat dunia ekonomi itu menjajah aspek lainnya. Makanya, pernah ada gerakan pemuda 1960-an di Jerman, yang melakukan counter terhadap pola ekonomi ini dengan melakukan kerja sukarela. </span><br />
<span style="color:#000000;">Yang saya maksud orientasi objektivis ialah konsentrasinya yang melulu pada objek, tanpa menyadari adanya nilai yang menyusup didalamnya. Pendekatan Weber memang sudah sangat revolusioner. </span><br />
<span style="color:#000000;">Contoh saudara Ismail Fahmi memang sangat bagus. Artinya hal ini meang dapat terjadi pada kehidupan sehari-hari. </span><br />
<span style="color:#000000;">Mengenai Hannah Arend, ia memang melihat bahwa hubungan ideal manusia bukan pada labour, sebatas hubungan memenuhi kebutuhan biologis saja. Namun ia melihat bahwa hal itu harus beranjak pada karya seperti monumen, buku, yang mengandung aktualisasi manusia. Tingkat ketiga hubungan yang lebih pada aksi, dimana masing-masing manusia otonom dan unik, dan tidak saling mengakui. Ini diadopsi Habermas dalam teori komunikasinya. Dan memang Arend mengatakan hubungan ideal manusia adalah pada aksi bukan pada kerja. Dalam dunia politik__kira-kira__ mau dikatakan, kalau mau jadi politikus harus kaya terlebih dahulu. Agar ketika masuk lingkar politik ia tidak melulu mencari materi. (sampai disini diskusi Habermas widering away).</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asfuriahmad.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asfuriahmad.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asfuriahmad.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asfuriahmad.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/asfuriahmad.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/asfuriahmad.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/asfuriahmad.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/asfuriahmad.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asfuriahmad.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asfuriahmad.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asfuriahmad.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asfuriahmad.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asfuriahmad.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asfuriahmad.wordpress.com/95/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asfuriahmad.wordpress.com&amp;blog=8304576&amp;post=95&amp;subd=asfuriahmad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asfuriahmad.wordpress.com/2011/03/14/hermeneutika-kritis-jurgen-habermas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c978a72734be85dc6f9b3d6cb47d6db4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">asfuriahmad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SAINS SUMBER MENGANGKAT PERADABAN UMAT ISLAM</title>
		<link>http://asfuriahmad.wordpress.com/2011/03/14/sains-sumber-mengangkat-peradaban-umat-islamsains-sumber-mengangkat-peradaban-umat-islam/</link>
		<comments>http://asfuriahmad.wordpress.com/2011/03/14/sains-sumber-mengangkat-peradaban-umat-islamsains-sumber-mengangkat-peradaban-umat-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Mar 2011 05:15:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>asfuriahmad</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://asfuriahmad.wordpress.com/?p=92</guid>
		<description><![CDATA[Sains dalam Islam bukan saja mengambil pertimbangan akal untuk mengembangkan ilmu, malah memahami maksud perisyaratan bagi membolehkan manusia melakukan kajian dan penyelidikan mengenai tanda kebesaran Allah. Akhirnya, melakukan tadabbur atau kajian yang apabila berlakunya penemuan membawa kepada penemuan saintifik dan kekaguman serta kesyukuran terhadap kebesaran Allah. Penemuan ini akan mendekatkan lagi manusia kepada Pencipta dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asfuriahmad.wordpress.com&amp;blog=8304576&amp;post=92&amp;subd=asfuriahmad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Sains dalam Islam bukan saja mengambil pertimbangan akal untuk mengembangkan ilmu, malah memahami maksud perisyaratan bagi membolehkan manusia melakukan kajian dan penyelidikan mengenai tanda kebesaran Allah. Akhirnya, melakukan tadabbur atau kajian yang apabila berlakunya penemuan membawa kepada penemuan saintifik dan kekaguman serta kesyukuran terhadap kebesaran Allah.</p>
<p style="text-align:justify;">Penemuan ini akan mendekatkan lagi manusia kepada Pencipta dengan menginsafi bahawa rahsia Pencipta adalah amat hebat dan luas. Itulah ihsan Allah kepada hamba-Nya yang tidak terhitung oleh kita.</p>
<p style="text-align:justify;">Allah mengurniakan akal sebagai alat untuk mengembangkan ilmu dan pemikiran. Allah mengajar nabi terdahulu mengenai sesuatu yang menjadi sumber ilmu.</p>
<p style="text-align:justify;">Allah menganugerahkan Nabi Muhammad wahyu atau al-Quran sebagai petunjuk utama untuk manusia, khususnya untuk orang bertakwa. Rasulullah melalui pengalaman manusiawi dengan titipan Rabbani selama 23 tahun dalam pimpinan dan pedoman langsung daripada Allah.</p>
<p style="text-align:justify;">Tarbiah Rabbani kepada Nabi Muhammad menjadikannya insan sempurna, kamil dan contoh. Peristiwa Israk dan Mikraj memberikan kekuatan kepada Nabi Muhammad untuk melalui proses pembersihan hati dan melihat bukti ghaibiah seperti balasan terhadap orang yang melakukan kebaikan dan keburukan di dunia.</p>
<p style="text-align:justify;">Tanggungjawab menerima amanah solat adalah suatu anugerah besar menghubungkan manusia dengan Allah.</p>
<p style="text-align:justify;">Manusia secara fitrahnya memerlukan contoh dan akhlak adalah sumber contoh terbaik. Daripadanya manusia mendapat pedoman dan sumber ikutan. Kekuatan akal dihubungkan dengan ikhtiar manusia untuk mencari, menemui dan memanfaatkan sesuatu untuk kebaikan hidup di dunia adalah terbatas. Yang ditemui oleh akal dan pancaindera masih tidak memadai bagi manusia memahami hakikat kejadian, alam dan faktor ghaibiah.</p>
<p style="text-align:justify;">Ahli sains membuat kajian dengan menggunakan kekuatan akal menerusi penerokaan dan penyelidikan. Sekiranya kerja itu dilakukan tanpa pertimbangan untuk mendapatkan keredaan Allah, faktor ihsan akan dilupakan. Apabila faktor ihsan tidak menjadi sumber pedoman, manusia boleh menjadi angkuh dan takbur. Sesuatu yang ditemui dan didapatinya, dikatakan hasil kerjanya sendiri yang tidak ada kena-mengena dengan Pencipta.</p>
<p style="text-align:justify;">Islam mendorong manusia melakukan kajian dan penyelidikan yang sentiasa menjadikan al-Quran sebagai pedoman dan apabila lahir sesuatu kejayaan ia selalu dikaitkan dengan Pencipta dan redanya. Keihsanan dan keinsanan memberikan asas kepada terbentuknya kesepaduan ilmu. Ilmu daripada Allah iaitu al-Quran menjadi pedoman utama untuk mengembangkan ilmu alat seperti sains dan teknologi. Ini kerana ilmu daripada Allah memberikan asas nilai, etika dan akhlak kerana penggunaan ilmu alat tanpa nilai, etika dan akhlak menyebabkan manusia lupa diri dan hilang amanah terhadap kebaikan dan manfaat ilmu.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam al-Quran ada petunjuk atau perisyaratan mengenai alam, penciptaan, manusia serta iblis, syaitan dan malaikat. Petunjuk dalam al-Quran menjadi asas kepada tradisi sains dalam Islam. Asas tradisi sains dalam tradisi Barat lebih banyak menumpu kepada asas empirikal atau rasional semata-mata. Tradisi sains dalam Islam menjadikan al-Quran sebagai sumber. Dengan dorongan tadabbur atau kaji selidik, saintis Islam mengkaji objek alam dan manusia berasaskan perisyaratan itu. Hasilnya terbentuk tradisi sains yang tidak menolak faktor ghaibiah seperti kekuasaan Allah, peranan malaikat, kewujudan iblis dan syaitan. Ini kerana faktor dalam diri manusia tidak hanya terkandung kekuatan akal, malah manusia memiliki hati dan rasa yang mudah terdedah dengan pengaruh yang boleh menyelewengkan akal ke arah nilai buruk dan merosakkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Nilai Qurani yang menganjurkan kebaikan dan kemakrufan dalam setiap gerak kerja hidup insan memberi pedoman supaya apa saja asas ilmu yang ingin dikembangkan, mesti memberi manfaat untuk mengekal dan mengukuhkan fitrah insan. Contohnya, isu pengklonan. Jika tidak diasaskan kepada etika dan kemanusiaan tinggi, ia bakal memberi kesan buruk terhadap corak fitrah manusia dan kehidupan itu sendiri. Isu genetik juga menggambarkan penerokaan manusia untuk menyusur galur hal berkaitan keturunan, penyakit dan sebagainya. Ia bakal memberi kesan kepada corak berfikir dan gaya hidup masyarakat jika isu genetik dilihat terpisah dengan rahsia kejadian dan kebesaran Allah.</p>
<p style="text-align:justify;">Begitu juga dengan perkembangan sains dan teknologi robotik tidak harus sampai menjadikan manusia lebih mekanistik sifatnya hingga melupakan nilai adab, kesantunan dan ketertiban.</p>
<p style="text-align:justify;">Islam tidak menolak kepentingan sains dan teknologi. Islam juga tidak menolak ilmu sains sosial yang juga menyumbang untuk memahami manusia, masyarakat dan kehidupan. Tetapi faktor keihsanan akan sentiasa memandu manusia dengan jiwa keinsanan tinggi. Jiwa keihsanan yang tinggi menghubungkan teknologi dan sains sebagai alat dan bukannya matlamat.</p>
<p style="text-align:justify;">Sifat sains dan teknologi akan sentiasa dinamik dan berubah. Islam tidak menolak perubahan bentuk kepada alat, asal saja maksud batini atau asasi kepada utiliti atau nilai guna alat memaparkan kebaikan dan manfaat kepada manusia.</p>
<p style="text-align:justify;">Islam tidak menolak kewujudan alat komunikasi dan telekomunikasi bagi memudahkan kehidupan manusia. Tetapi faktor keihsanan memandu manusia supaya maklumat yang diterima dan komunikasi yang dilakukan berguna dan merapatkan hubungan baik antara seorang manusia dengan manusia lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Islam menolak kecanggihan teknologi dan ilmu alat yang tidak menyumbang membangunkan adab dan tamadun. Peradaban dan ketamadunan menjadi sumber perlindungan yang menawarkan etika dan kemanusiaan tinggi. Ia bukan terhasil untuk mempamerkan kesombongan dan keangkuhan sesuatu kuasa terhadap manusia lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Ada orang berpendapat bahawa ilmu, pengetahuan dan maklumat semuanya datang daripada Allah. Oleh kerana ia datang daripada Allah, maka ilmu, pengetahuan dan maklumat itu sudah Islamik. Kita tidak boleh bersikap ambil mudah dengan kenyataan sedemikian. Benar, ilmu, pengetahuan dan maklumat yang baik dan bermanfaat datang daripada Allah. Tetapi penyelewengan boleh dilakukan oleh manusia atau manusia tidak merujuk langsung sumber ilmu, pengetahuan dan maklumat yang menjadi perisyaratan dan petunjuk Allah.</p>
<p style="text-align:justify;">Alam ini dengan segala isi dan ketakjubannya menggambarkan ayat Allah yang perlu diterjemah dan dibaca mengikut perspektif ihsan. Apabila faktor ihsan disingkirkan penemuan mengenai faktor alamiah hanya bersifat zahiri, tidak mendalam dan tidak menepati maksud fitrah itu sendiri. Akhirnya pemahaman manusia terhadap alam dan kehidupan ternyata dangkal, bersifat zahiri serta tidak mampu membaca hakikat dan faktor batini yang jauh lebih bersandar konsep ihsan yang sifatnya Rabbaniah.</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti wujud kenyataan bahawa semua manusia adalah ciptaan Allah. Kenyataan itu adalah benar. Tetapi tidak semua ciptaan Allah itu kembali kepada Allah. Meskipun mereka lahir dalam keadaan fitrah, persekitaran yang ada baik dari segi keturunan, tradisi dan amalan yang membezakan mereka itu Islam atau sebaliknya.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal sama berkait dengan faktor ilmu alat, ia bergantung kepada dua perkara. Pertama ada ilmu alat seperti ilmu sains sosial memerlukan faktor ihsan bagi mengembangkannya. Kalau tidak ia akan gagal memahami hakikat kejadian, penciptaan dan kemajuan. Ilmu alat yang bersifat teknologi memerlukan pereka dan penggunanya memiliki kualiti ihsan supaya pertimbangan nilai guna ilmu alat itu akan sentiasa menyumbang serta mengukuhkan kebaikan dan kesejahteraan umat manusia.</p>
<p style="text-align:justify;">Komputer sebagai alat, tidak menjadi masalah apabila kita hubungkan dengan kemajuan. Apa yang terkandung dalam komputer sama ada dari segi perisian atau programnya berkaitan dengan perkara sama ada ia mampu mengangkat martabat insan untuk mengembangkan ilmu, pengetahuan, pemikiran dan maklumat atau tidak. Atau sebaliknya ia menjadi sumber yang memberi sumbangan terhadap kerosakan minda generasi muda.</p>
<p style="text-align:justify;">Kesepaduan ilmu mengambil pertimbangan ihsan iaitu talian hubungan manusia dengan Allah dan manfaat hubungan manusia sesama manusia iaitu insan. Dari sudut Islam, ilmu tidak dikatakan benar dan bermanfaat sekiranya tidak datang daripada Allah. Insan boleh menyelewengkan ilmu sekiranya tidak memiliki nilai dan akhlak tinggi. Ini kerana tanpa nilai ihsan, manusia cenderung menimbulkan kerosakan terhadap manusia lain dan alam ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan kekuatan ihsan yang ada pada manusia, ilmu bakal berkembang dengan memberi manfaat kepada manusia. Ini kerana ilmu yang baik adalah amanah daripada Allah dan manusia memiliki taklif atau tanggungjawab menguruskan ilmu untuk kebaikan manusia dan kehidupan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asfuriahmad.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asfuriahmad.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asfuriahmad.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asfuriahmad.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/asfuriahmad.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/asfuriahmad.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/asfuriahmad.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/asfuriahmad.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asfuriahmad.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asfuriahmad.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asfuriahmad.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asfuriahmad.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asfuriahmad.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asfuriahmad.wordpress.com/92/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asfuriahmad.wordpress.com&amp;blog=8304576&amp;post=92&amp;subd=asfuriahmad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asfuriahmad.wordpress.com/2011/03/14/sains-sumber-mengangkat-peradaban-umat-islamsains-sumber-mengangkat-peradaban-umat-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c978a72734be85dc6f9b3d6cb47d6db4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">asfuriahmad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>DASAR-DASAR MEMAHAMI TAUHID</title>
		<link>http://asfuriahmad.wordpress.com/2011/03/14/dasar-dasar-memahami-tauhid/</link>
		<comments>http://asfuriahmad.wordpress.com/2011/03/14/dasar-dasar-memahami-tauhid/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Mar 2011 04:43:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>asfuriahmad</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://asfuriahmad.wordpress.com/?p=87</guid>
		<description><![CDATA[Ketahuilah wahai saudaraku, semoga Allah melimpahkan rahmat kepadamu. Bahwasanya tauhid merupakan hal yang sangat penting, para Rasul diutus untuk mendakwahkan tauhid. Bahkan Allah mengharamkan masuk surga orang yang mati dalam keadaan sebagai musyrik. Allah berfirman [artinya]: &#8220;Sesungguhnya orang yang mempersekutukan [sesuatu dengan] Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asfuriahmad.wordpress.com&amp;blog=8304576&amp;post=87&amp;subd=asfuriahmad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Ketahuilah wahai saudaraku, semoga Allah melimpahkan rahmat kepadamu.<br />
Bahwasanya tauhid merupakan hal yang sangat penting, para Rasul diutus untuk mendakwahkan tauhid. Bahkan Allah mengharamkan masuk surga orang yang mati dalam keadaan sebagai musyrik. Allah berfirman [artinya]: &#8220;Sesungguhnya orang yang mempersekutukan [sesuatu dengan] Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun&#8221;. (Al-Maidah:72).</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu perlu memahami dan mengamalkan tauhid dengan benar, pada kesempatan ini akan dibahas beberapa hal yang sangat penting, sebagai dasar agar bisa memahami tauhid dengan benar.</p>
<p style="text-align:justify;">I. Musyrikin yang diperangi oleh rasulullah, meyakini tauhid rububiyah Ketahuilah wahai saudaraku, semoga Allah melimpahkan rahmat kepadamu. Bahwasanya orang-orang kafir yang diperangi oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, mereka meyakini bahwa Allah sebagai Pencipta, Pemberi rizki, Yang menghidupkan, Yang mematikan, Yang memberi manfaat, Yang memberi madzarat, Yang mengatur segala urusan (tauhid rububiyah). Tetapi semuanya itu tidak menyebabkan mereka sebagai muslim.</p>
<p style="text-align:justify;">Alllah mengisahkan keadaan mereka: &#8220;Katakanlah: Siapa yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapa yang kuasa [menciptakan] pendengaran dan penglihatan, dan siapa yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapa yang mengatur segala urusan? Maka mereka akan menjawab:Allah. Maka katakanlah:Mengapa kamu tidak bertakwa [kepada-Nya].&#8221; (Yunus:31).</p>
<p style="text-align:justify;">Allah juga berfirman [artinya]: &#8220;Katakanlah:Kepunyaan siapa bumi ini dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui? Mereka menjawab: Kepunyaan Allah. Katakanlah: Mengapa kamu tidak ingat? Katakanlah:Siapa yang mempunyai langit yang 7 dan yang mempunyai Arsy yang besar? Mereka menjawab: Kepunyaan Allah. Katakanlah:Mengapa kamu tidak bertakwa? Katakanlah:Siapa yang ditangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari [adzab] Nya, jika kamu mengetahui? Mereka akan menjawab:Kepunyaan Allah. Katakanlah: [Kalau demikian], maka dari jalan mana kamu ditipu?&#8221; (Al-Muminun:84-89).</p>
<p style="text-align:justify;">II. Maksud mereka (musyrikin) agar dekat kepada allah dan mendapatkan syafaat. Ketahuilah wahai saudaraku, semoga Allah melimpahkan rahmat kepadamu.</p>
<p style="text-align:justify;">Bahwasanya mereka (musyrikin) berdoa kepada Nabi dan orang-orang shaleh yang telah mati, agar mereka dapat mendekatkan diri kepada Allah dengan sedekat-dekatnya dan mendapatkan syafaat.</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka (musyrikin) berkata: &#8220;Kami tidak berdoa kepada mereka (Nabi, orang-orang shalih dll) kecuali agar bisa mendekatkan kepada Allah dan mereka nantinya akan memberi syafaat. Maksud kami kepada Allah, bukan kepada mereka.<br />
Dalil tentang mendekatkan diri yaitu firman Allah [artinya]: &#8220;Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah [berkata]: &#8220;Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya&#8221; (Az-Zumar: 3)<br />
Adapun dalil tentang syafaat yaitu firman Allah [artinya]:&#8221;Dan mereka menyembah selain Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak pula kemanfaatan, dan mereka berkata: &#8220;Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah&#8221;.(Yuunus: 18)<br />
Iii. Syirik bukan hanya menyembah berhala saja.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketahuilah wahai saudaraku, semoga Allah melimpahkan rahmat kepadamu. Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam menerangkan kapada manusia tentang macam-macam sistem peribadatan yang dilakukan oleh musyrikin. Diantara mereka ada yang menyembah Nabi, orang-orang shaleh, para wali, para malaikat, pepohonan, bebatuan, matahari dan bulan.</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka semua diperangi oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dalilnya adalah firman Allah [artinya]:&#8221;Dan perangilah mereka sehingga tidak ada lagi fitnah [kemusyrikan], dan dien ini menjadi milik Allah semuanya.&#8221; (Al-Baqarah:193).</p>
<p style="text-align:justify;">III. musyrikin zaman sekarang lebih parah kesyirikannya dari pada musyrikin dahulu. Ketahuilah wahai saudaraku, semoga Allah melimpahkan rahmat kepadamu.</p>
<p style="text-align:justify;">Sesungguhnya kaum musyrik zaman kita labih parah kesyirikannya dibanding musyrikin zaman dahulu, sebab musyrikin zaman dahulu, mereka berdoa secara ikhlas kepada Allah ketika mereka ditimpa bahaya, akan tetapi mereka berbuat syirik ketika mereka dalam keadaan senang.</p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan orang-orang musyrik zaman sekarang, mereka terus menerus melakukan perbuatan syirik, baik dalam bahaya maupun ketika sedang senang.<br />
Hal ini sebagaimana diterangkan Allah dalam Al-Quran [artinya]: &#8220;Maka apabila mereka naik kapal mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka [kembali] mempersekutukan [Allah].&#8221; (Al-Ankabut: 65).</p>
<p style="text-align:justify;">Semoga Allah menjadikan kita sebagai muwahid dan menjauhkan kita dari kesyirikan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asfuriahmad.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asfuriahmad.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asfuriahmad.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asfuriahmad.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/asfuriahmad.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/asfuriahmad.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/asfuriahmad.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/asfuriahmad.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asfuriahmad.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asfuriahmad.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asfuriahmad.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asfuriahmad.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asfuriahmad.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asfuriahmad.wordpress.com/87/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asfuriahmad.wordpress.com&amp;blog=8304576&amp;post=87&amp;subd=asfuriahmad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asfuriahmad.wordpress.com/2011/03/14/dasar-dasar-memahami-tauhid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c978a72734be85dc6f9b3d6cb47d6db4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">asfuriahmad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PERADABAN BARAT DALAM KACAMATA ISLAM</title>
		<link>http://asfuriahmad.wordpress.com/2010/11/30/peradaban-barat-dalam-kacamata-islam/</link>
		<comments>http://asfuriahmad.wordpress.com/2010/11/30/peradaban-barat-dalam-kacamata-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Nov 2010 04:02:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>asfuriahmad</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://asfuriahmad.wordpress.com/?p=82</guid>
		<description><![CDATA[PERADABAN BARAT DALAM KACAMATA ISLAM Pembentukan Agama Kristen tidak bimbang dengan Judaisme, Hinduisme atau Buddhisme, karena semua agama kelompok nasional ini, yang menekankan pengaruh kecil diluar dari lingkaran lokalnya. Oleh yang demikian satu-satunya agama yang mengancam kristen adalah Islam. Karena ia memiliki ideologi yang mereka ketahui, sebagian sebagai sahabat dan sebagian lagi sebagai musuh. Suddeutscher [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asfuriahmad.wordpress.com&amp;blog=8304576&amp;post=82&amp;subd=asfuriahmad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">PERADABAN BARAT DALAM KACAMATA ISLAM</p>
<p style="text-align:justify;">Pembentukan Agama Kristen tidak bimbang dengan Judaisme, Hinduisme atau Buddhisme, karena semua agama kelompok nasional ini, yang menekankan pengaruh kecil diluar dari lingkaran lokalnya. Oleh yang demikian satu-satunya agama yang mengancam kristen adalah Islam. Karena ia memiliki ideologi yang mereka ketahui, sebagian sebagai sahabat dan sebagian lagi sebagai musuh. Suddeutscher Zeitung melaporkan bahawa Paus menyebut dihadapan perhimpunan biskop di Kounsel Vatikan: Islam merupakan ancaman yang lebih serius di Afrika kepada Kristen dari komunis.</p>
<p style="text-align:justify;">Walaupun upaya misionari Islam hampir tidak ada, nafas kebudayaan dan kuasa emosional berjaya menawan hati ramai saudara baru diberbagai tempat, khususnya Afrika, dimana kaum kulit hitam yang tertindas menemui konsep persaudaraan Islam begitu indah, sehingga pihak gereja gagal untuk memperhatikan jumlah atau angka penganut baru Islam.</p>
<p style="text-align:justify;">Institiut Belgia melaporkan bahawa pada permulaan abad ke 20, terdapat 4,000 umat Islam disalah satu propinsi Congo dan pada tahun 1960an jumlah ini telah bertambah menjadi 236,000 di Maniyema, Stanleyville dan Kivu.</p>
<p style="text-align:justify;">Majalah Paris Peru menukil kata-kata dari Marcel Corder, seorang eropa pakar Islam diAfrika sebagai mengatakan: Islam, yang satu ketika pernah menjadi agama kepala daerah dan anak-anak raja, kini menjadi pegangan rakyat, sama seperti banjir yang menuju kearah kehidupan yang lebih baik dan lebih aman. Banjir ini turut membawa realisme dan urgensi penyebaran Islam dari utara afrika ke selatan dengan kelajuan yang tidak dapat dihalangi.</p>
<p style="text-align:justify;">Reveu de Paris, menilai Islam, jahiliyah dan kristen di Afika, mengatakan: Islam sedang mara dengan gerakan yang luarbiasa, memenangi pukul rata setengah juta saudara baru setiap tahun, bukan dikarenakan oleh akar kunonya, tetapi dikarenakan kondisi kehidupan yang baru muncul di abad yang terakhir, sehinggakan estimasi konservatif bisa disebutkan bahawa 50 persen kulit hitam Afrika adalah muslim disatu tahap……Pada tahun 1950, empat orang berkelulusan al Azhar membuka sekolah muslim di Mabaku, dimana ia bergerak cepat sehinggalah pemerintah Perancis masuk dan segera mengambil langkah untuk menutupnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dr.L.V. Vaglieri, Progessor Universitas Naples menulis: Mengapa disebalik kebebasan baik yang diberikan kepada non muslim dalam masyarakat Islam, dan kekurangan total dari sebarang kerja pendakwah Islam hari ini, dan juga kelemahan umum semua agama disemua tempat, Islam tetap mengambil langkahnya yang besar di Asia dan Afrika pada tahun-tahun kebelakangan ini?  Dewasa ini bukan pedang yang menjadi sebab orang menerima Islam. Malah banyak sekali negara yang dulunya kepunyaan pemerintah Islam kini berada dibahawa pemerintahan non muslim yang memaksakan agama mereka ke atas penduduk Muslim, sayangnya mereka tetap gagal dalam mencapai kehendak mereka! Apakah kuasa yang tersembunyi dalam agama ini? Apakah yang tersirat dalam ajaran agama ini sehingga manusia merasakan kepuasannya? Elemen apa yang menyebabkan jiwa manusia tergerak untuk menyambut seruan Islam dengan antusias sekali dan dengan gembira melaungkan: aku disini?</p>
<p style="text-align:justify;">Kristen tidak akan berhenti sama sekali dalam upaya mereka untuk menghancurkan Islam. Profesor Muhammad Qutb menuliskan: Perusahaan perkapalan yang berasal dari Inggeris mengelola perusahaan di Afrika Selatan. Pada satu ketika ia pernah mengambil ramai sekali umat Islam Afrika Selatan untuk bekerja di kapalnya, tetapi sebagai sebuah perusahaan kristen, kemudian dia tidak lagi ingin untuk mengambil orang Islam sebagai pekerjanya. Untuk mencapai matalamatnya, dia membayarkan sebagian dari gaji pekerja dengan arak. Oleh karena arak diharamkan oleh Islam, tidak juga mungkin untuk mereka menjualnya, maka mereka kehilangan gaji dari bagian tersebut. Seorang peguam cara muslim mengetahui perkara tersebut dan menasihatkan mereka untuk menolak dari menerima bayaran seperti itu, yang tidak pernah dilakukan di seluruh dunia, dan membawa pihak perusahaan ke pengadilan jika perusahaan itu menolak permintaan mereka. Perusahaan itu, mengambil langkah untuk menyingkirkan setiap umat Islam yang mereka ambil bekerja.</p>
<p style="text-align:justify;">Pendakwah muslim disambut baik di Afrika. Rakyat dibenua ini sedia untuk memeluk Islam dengan hati dan jiwa mereka jika saja mereka ditunjukkan sebarang semangat dalam menyampaikan ajaran kepada mereka. Lebih-lebih lagi bila rakyat Afrika sememangnya mencari agama yang bisa mengharmonikan spiritual dan materi, mempromosi persamaan sosial dan keadilan dan menyeru manusia kepada keamanan, kedamaian dan kebenaran.</p>
<p style="text-align:justify;">Kristen modern tidak bisa melakukannya karena kekurangan dan kelemahan yang ada pada agama tersebut. Gereja sendiri merupakan faktor pemecahan, mendukung diskriminasi dan tidak membenarkan orang kulit putih dan hitam melakukan ibadah pada Tuhan yang sama di dalam satu bangunan pada masa yang sama! Malah, sikap kristen adalah tidak manusiawi kepada orang kulit hitam.</p>
<p style="text-align:justify;">Sedemikian kuatnya kekuasaan Kristen di Eropa sehingga tidak kurang dari 10 raja dan pemimpin politik Jerman dan Perancis yang telah disingkirkan oleh Paus. Sebagian dari tuan tanah yang kaya turut kehilangan tanah mereka. Sebagian lagi dikenai hukuman massa.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada tahun 1075, Paus Gregory VII telah menyingkirkan Imperatur Jerman, Henry IV, karena ia tidak mempedulikan titah Paus. Dia diminta untuk turun dari tahtanya. Henry dengan segera menyatakan penyesalannya dan pergi ke Mahkamah Paus. Saat itu Paus menangguhkan pertemuan selama tiga hari sebelum menerima kedatangan Sang Raja untuk kemudian memberikan pengampunan.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada tahun 1141, Paus Innocent kedua menyingkirkan Louis VII dari tahta. Tahun 1205, Paus Innocent kedua yang lain menyingkirkan King John of England karena menyerang beberapa orang uskup.</p>
<p style="text-align:justify;">Akhirnya John terpaksa mengirimkan pesan kepada Paus dengan kata-kata sbb;</p>
<p style="text-align:justify;">“Seorang utusan angelik, atas nama Inggris dan Irlandia, mendoakan Yesus dan pengikutnya, penaung kami Paus Innocent, dan dan seluruh penerus katoliknya. Sejak hari ini, kami menjadikan kerajaan ini sebagai penganut setia Paus dan hirarkinya. Kami telah menganggarkan 1.000 pound Inggeris untuk disumbangkan kepada kotak gereja setiap tahunnya.  500 pound diberikan setengah tahun sekali, dalam bentuk uang perak.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika saya atau pengganti saya yang berada di tahta Inggris melanggar perjanjian ini, dengan sendirinya kami akan kehilangan kekuasaan Inggeris.</p>
<p style="text-align:justify;">Surat John ini bisa dibaca pada buku karya Marcel Cache berjudul Social History, jilid dua. Di halaman 123 buku tersebut, tertulis juga bahwa  pada periode ini, 5 juta orang dihukum karena melanggar fikiran orthodox atau menentang titah Paus. Mereka dihukum gantung atau mereka dicampakkan ke dalam penjara yang mirip sumur gelap. Dalam tempo 18 tahun, antara tahun 1481-1499, mahkamah gereja telah membakar hidup-hidup 1.020 orang. 6.860 orang digergaji hingga hancur lebur dan 97.023 disiksa hingga mati.</p>
<p style="text-align:justify;">Victor Hugo menulis dalam buku History of Free Thought, halaman 147 sbb:</p>
<p style="text-align:justify;">“Sejarah gereja yang sebenarnya bukan saja dapat dibaca lewat halaman-halaman buku, tetapi juga di celah-celah baris catatan resmi. Gereja telah menyebabkan Parnili dihukum cambuk sehingga hampir saja menemui ajalnya. Hal itu terjadi lantaran ia menyatakan bahwa bintang tidak jatuh dari jalan yang telah ditentukan. Pihak gereja melemparkan Campland ke dalam penjara sebanyak 27 kali karena dia mengklaim adanya kehidupan selain di bumi. Gereja menyiksa Harvey karena membuktikan bahwa darah beredar lewat urat dan saluran darah di dalam badan.</p>
<p style="text-align:justify;">Gereja juga memenjarakan Galileo karena dia menyatakan bahwa bumi mengitari matahari, sebuah pernyataan ilmiah yang kontradiktif dengan teori yang terdapat dalam perjanjian lama dan baru. Gereja memenjarakan Christopher Columbus yang menemukan benua tanpa memberitahu Saint Paul. Gereja memvonis setiap penemuan hukum alam, evolusi dunia, ataupun benua yang sebelumnya tidak diramalkan oleh kitab suci, sebagai sebuah pelanggaran moral. Gereja menyingkirkan Pascal dan Montey karena dianggap tidak bermoral, dan Muller dengan tuduhan pencabulan”.</p>
<p style="text-align:justify;">Gereja juga menunjukkan kekuasaannya dalam memerangi Islam. Dengan alasan untuk membebaskan Jerusalem, antara tahun 1095 hingga 1270 gereja melancarkan operasi berdarah dan kejam dalam apa yang disebut dengan ‘Perang demi Salib’.</p>
<p style="text-align:justify;">Walaupun sebab utama perang-perang ini adalah kebencian dan kecemburuan Paus dan hirakinya terhadap Islam, tetapi kebencian itu mereka perluas di kalangan orang kebanyakan dengan cara memberikan janji-janji palsu berkaitan dengan pampasan perang. Mereka juga membangkitkan kebencian itu dengan melemparkan fitnahan terhadap orang Islam. Paus Urban II pernah menggelar kongres pendeta dan pemimpin agama untuk memberi fatwa memerangi umat Islam. Saat itu  Paus memerintah semua uskup dan pendeta untuk memerintahkan setiap orang laki-laki untuk pergi berperang. Dia sendiri mengkampanyekannya di Perancis.</p>
<p style="text-align:justify;">Sedemikian besar jumlah pasukan pertama yang pergi ke Jerusalem sehingga digambarkan seolah-olah semua orang Eropa berjalan kaki ke arah Asia. Sebagian mengatakan bahwa satu juta orang mengikuti arak-arakan ini. Dalam perjalanan, mereka merampas, membakar, membunuh dan melukai warga setempat. Mereka membunuh tentara dan rakyat sipil, termasuk anak-anak dan wanita. Ketika mereka akhirnya menguasai Jerusalem pada tahun 1099, yaitu tiga tahun terhitung sejak dimulainya perang, dari jutaan orang yang terlibat perang itu hanya 20.000 orang saja yang selamat. Perang dan wabah yang muncul menyusul peristiwa itu dan menimbulkan korban dalam jumlah banyak di kalangan Kristen dan warga lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Gustave Le Bon dalam bukunya “La Civilisation Islamique er Arabe” hal. 407 mengatakan, “Kekejaman yang dilakukan oleh tentara salib terhadap kawan maupun lawan, tentera maupun rakyat sipil, wanita ataupun anak-anak, orang tua maupun anak muda, membuat mereka menduduki tempat teratas dalam sejarah kekerasan”.</p>
<p style="text-align:justify;">Salah seorang saksi sejarah, Robert The Monk, menulis sbb:</p>
<p style="text-align:justify;">“Tentara kami menyerbu seluruh lorong, medan, serta di atas bumbung-bumbung rumah yang bersambungan seperti singa yang kehilangan anaknya. Kami mencabik-cabik anak-anak dengan kejam. Kami membunuh orang tua dan muda dengan pedang. Untuk mempercepat kerja, kami menggunakan satu tali untuk mengantung leher beberapa orang”.</p>
<p style="text-align:justify;">Tentara merampas dan merampok apa saja yang mereka temukan. Mereka bahkan merobek perut para korban untuk mencari emas dan uang. Apa saja yang ditemukan, mereka rampas. Akhirnya, Bohemond mengumpulkan semua yang selamat, lelaki ataupun perempuan, yang cacat dan tidak berdaya di dalam sebuah istana, dan membunuh mereka semua. Mereka meninggalkan yang muda untuk dijual di pasar budak Antioch. Godfrey Hardouinville melaporkan kepada Paus, “Di Jerusalem, umat Islam yang ditangkap, dibunuh oleh orang-orang kami di halaman kuil Solomon hingga kuil itu dipenuhi dengan darah yang menggenang sampai  ke lutut.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam masa yang sama, konstruksi bangunan juga mengalami kemajuan yang pesat. Pengukuran dapat dilakukan secara tepat. Manusia belajar untuk mendapatkan bijih besi dari batu dengan teknik peleburan dan kemudian mencetaknya serta melembutkannya. Awalnya, mereka menciptakan metal yang lebih lunak seperti timah, tembaga, dan pada akhirnya menggabungkannya menjadi perunggu. Ketika metode yang sama digunakan terhadap besi yang lebih keras, perunggu telah memberi jalan kepada lahirnya era besi. Saat inilah bermulanya zaman moderen.</p>
<p style="text-align:justify;">Empat ribu tahun yang lalu, agama yang benar terlahir lewat kepatuhan Nabi Ibrahim kepada seruan Ilahi di wilayah Babilonia. Tuhan Pencipta Alam memerintah Nabi Ibrahim untuk memimpin masyarakat Babilonia keluar dari kegelapan. Beliau merupakan rasul pertama yang bertindak sebagai jurubicara Tuhan untuk membawa manusia keluar dari kejahilan dan penyimpangan.</p>
<p style="text-align:justify;">Secara alami, dia menghadapi penentangan dari orang-orang  yang memiliki kecenderungan kepada kepalsuan dan kejahatan. Tetapi seruan Nabi Ibrahim pada monoteisme dan tauhid mampu menarik  pengikut yang kekuatannya lebih superior dari barisan persatuan musuhnya, yaitu para penyokong kejahatan dan cikal bakal pemerintahan zalim dalam sejarah umat manusia.</p>
<p style="text-align:justify;">Nabi Ibrahim a.s. mematuhi perintah Tuhan untuk meninggalkan tanah kelahirannya. Setelah melakukan perjalanan ribuan mil, ia menemukan tempat berlindung di Hijaz dan di sanalah ia mendirikan ka’abah bersama putranya, Ismail.</p>
<p style="text-align:justify;">Tujuh dan seperempat abad sebelum Masehi, kerajaan Roma didirikan dan pada abad-abad seterusnya ia melebarkan sayap pemerintahannya. Tidak lama setelah berdirinya Roma, aliran Zoroaster atau Zartosht bangkit di Iran menggantikan kepercayaan magis aliran Magianisme. Aliran Zoroaster ini adalah sebuah kepercayaan yang rasional dan hubungan moral antara manusia dengan Tuhan Kebaikan di dalam peperangan abadi melawan kejahatan.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada abad yang hampir sama, Confucius dan Lao-Tse di China serta Buddha Gautama di India memunculkan asas falsafah yang kemudian  dikembangkan oleh Socrates, Plato dan Aristoteles di Yunani pada abad-abad seterusnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Semua ini mencapai kesempurnaannya dengan kelahiran dan kehidupan Nabi Isa a.s., yang menyerukan reformasi dan perbaikan dalam kehidupan umat manusia. Reformasi ini bertujuan untuk menyelamatkan manusia dari polusi materialisme Judaistik, menghancurkan korupsi, dan membawa  manusia ke arah kebaikan dan pembersihan spiritual. Era ini ditandai dengan pertumbuhan interkomunikasi industri, konstruksi, dan medis.</p>
<p style="text-align:justify;">Periode Mediaeval di Eropa bermula pada tahun 476 Masehi. Gereja menambahkan kekuasaan temporal kepada kepemimpinan spiritualnya dan menjadi pemimpin pemikiran dan cara hidup masyarakat. Pada masa itu, Eropa jatuh ke dalam era kegelapan invasi barbari, pertumpahan darah, pertarungan nasionalistik dan etnis.</p>
<p style="text-align:justify;">Sementara itu di Timur, peradaban Islam memulai pergerakannya. Pada tahun 1453, Sultan Muhammad Fateh menaklukkan Istanbul dan bermulalah era baru. Di Eropa, negara-negara  yang baru merdeka seperti Inggris, Perancis, Jerman, dan Austria saling berlomba untuk memperluas ekspansinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Seiring dengan masa itu, penemuan kompas magnetik menyebabkan kapal laut dapat melintasi Lautan Atlantik dan akhirnya menemukan Amerika. Renaissance atau kelahiran baru pemikiran dan sains melanda Eropa dan menimbulkan hubungan internasional yang lebih tersusun. Kemudian, revolusi Perancis pada tahun 1789 masehi pecah dan mengakhiri masa renaissance ini, dan zaman pun beralih menjadi  Era Industri yang terjadi pada abad ke 19. Era ini pun mengubah wajah Eropa. Penciptaan  diikuti dengan penciptaan. Penemuan disusul dengan penemuan. Sejarah bangsa Eropa memasuki fase terbaru dan modern.</p>
<p style="text-align:justify;">Penyiksaan yang dilakukan pengadilan terhadap kelompok cendekiawan dan pemikir pada zaman itu menimbulkan reaksi yang tidak terduga dari gereja. Saintis yang berfikiran bebas tetap melanjutkan pekerjaan mereka. Tetapi, mereka dihimpit oleh kesempitan pemikiran gereja sehingga terpaksa mengundurkan diri dan meninggalkan kehidupan ilmiahnya. Akhirnya mereka mengambil kesimpulan bahwa semua agama adalah partisan khurafat, kebodohan, dan penindasan sains. Kekejaman pihak gereja dan sikap barbarisme mahkamah gereja menimbulkan rasa benci dan keraguan di kalangan masyarakat terhadap seluruh agama.</p>
<p style="text-align:justify;">Di Rusia, pihak gereja tidak memperdulikan nasib orang miskin dan fakir. Hubungan erat gereja dengan kelompok kaya menimbulkan reaksi yang memperkuat timbulnya gerakan komunisme. Pemimpin komunisme saat itu mengumumkan perang terhadap agama. Agama dianggap sebagai alat kaum kapitalis dan pemeras tenaga kerja. Bagi kaum komunis, hanya dengan mengikis Tuhan dalam fikiran manusia, revolusi kebebasan, persamaan, dan keadilan akan terealisasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Ferdof, dalam bukunya berjudul “Religion in the USSR” halaman 7 menulis sbb, “Dalam Czarist Russia, gereja memiliki harta yang banyak dalam bentuk tanah, bangunan dan harta lainnya berupa jutaan uang emas di bank. Gereja memperoleh pendapatannya dari kehutanan, peternakan, perdagangan, perindustrian dan lainnya. Malah, gereja merupakan pemilik tanah terluas dan pemilik bank terbesar di Russia. Gereja mengeksploitasi para pedagang kecil dan besar tanpa belas kasihan dan tidak berusaha memperbaiki kondisi kerja industri. Sedemikian besarnya kebencian ini timbul pada kelas pekerja dan peniaga sehingga mereka memanggil para pendeta sebagai serigala berpakaian rohaniawan.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada zamannya, Kristen pernah menjadi pemelihara adat dan tradisi lama, serta konservatif dan reaksioner. Hari ini, gereja telah belajar untuk memperkukuhkan fondasinya dan menambah kegemilangan sejarahnya dengan memanfaatkan apa saja yang ditawarkan oleh sains dan kebudayaan kepada jenius modern.</p>
<p style="text-align:justify;">Gereja Katolik saja mempunyai 4.000 badan pendakwah yang bertebaran di seluruh dunia. Anggaran yang dimiliki menyebabkan mereka bisa memperluas usaha untuk menarik orang-orang Kongo, Tibet, dan  Australia primitif menjadi umat kristen</p>
<p style="text-align:justify;">Anggaran tahunan gereja Inggris mencapai lebih dari 1.125.000 dolar Amerika. Dibandingkan dengan apa yang diperoleh oleh Islam, angka tersebut sungguh memilukan hati.</p>
<p style="text-align:justify;">Gospel telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 1.000 bahasa. Pada tahun 1973 sebuah lembaga Amerika; Society for the Publication and Distribution of the Gospel, menerbitkan 24 juta exemplar buku tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Pihak Vatikan menerbitkan surat kabarnya sendiri bernama “L’Osservatore Romano” dengan sirkulasi sebanyak 300.000. Ia menerbitkan kira-kira 50 majalah dengan sirkulasi jutaan perbulan. Vatikan juga mengelola 32.000 sekolah dasar, universitas, dan rumah sakit. Lembaga itu juga memiliki empat agen besar yang  bertugas mengirimkan misionaris kristen ke seluruh benua.</p>
<p style="text-align:justify;">Kristen menggunakan tiga cara dalam propagandanya:</p>
<p style="text-align:justify;">1. Menterjemahkan kitab perjanjian baru.</p>
<p style="text-align:justify;">2. Mendirikan gereja dan tempat beribadah.</p>
<p style="text-align:justify;">3. Mengirim misionaris ke seluruh penjuru dunia.</p>
<p style="text-align:justify;">Aliran Protestan juga menekankan usaha yang membanggakan dalam rangka mengembangkan ajaran mereka. The Reader’s Digest menulis sebagai berikut,</p>
<p style="text-align:justify;">“Fondasi revolusioner Gereja Protestan Amerika adalah revolusi terhadap usaha di Eropa, dalam rangka memperbaharui penekanan ‘tithe’ yang merupakan hak gereja kuno. Tetapi, sejak tahun 1950, gerakan stewardship sedemikian meningkat sehingga banyak perhimpunan menambahkan dua kali lipat atau tiga kali lipat sumbangan mereka. Yang demikian ini memperbesar kemungkinan didirikannya ratusan gereja baru dan memperbanyak lagi pengiriman misionaris ke dalam dan luar negeri. Yang paling penting, perhimpunan dan anggota mereka menyadari bahwa dari kebangkitan kembali adat kuno ini, mereka mendapatkan hasil yang memuaskan dan tidak terduga.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asfuriahmad.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asfuriahmad.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asfuriahmad.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asfuriahmad.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/asfuriahmad.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/asfuriahmad.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/asfuriahmad.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/asfuriahmad.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asfuriahmad.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asfuriahmad.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asfuriahmad.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asfuriahmad.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asfuriahmad.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asfuriahmad.wordpress.com/82/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asfuriahmad.wordpress.com&amp;blog=8304576&amp;post=82&amp;subd=asfuriahmad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asfuriahmad.wordpress.com/2010/11/30/peradaban-barat-dalam-kacamata-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c978a72734be85dc6f9b3d6cb47d6db4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">asfuriahmad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Problem Psikologis Generasi Muda Indonesia</title>
		<link>http://asfuriahmad.wordpress.com/2010/09/21/problem-psikologis-generasi-muda-indonesia/</link>
		<comments>http://asfuriahmad.wordpress.com/2010/09/21/problem-psikologis-generasi-muda-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Sep 2010 04:03:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>asfuriahmad</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://asfuriahmad.wordpress.com/?p=71</guid>
		<description><![CDATA[Problem Psikologis Generasi Muda Indonesia dalam Masa dan Pasca Multikrisis Bangsa Hamdi Muluk Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Sering dipertanyakan kepada saya; “Apakah ada dampak yang serius dari multikrisis yang dialami bangsa Indonesia selama lima tahun terakhir ini terhadap penduduk Indonesia dan khususnya generasi muda Indonesia ?” Jawabannya tentu saja ada, tapi seberapa parah, dan kelompok-kelompok [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asfuriahmad.wordpress.com&amp;blog=8304576&amp;post=71&amp;subd=asfuriahmad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>Problem Psikologis Generasi Muda Indonesia dalam Masa dan Pasca Multikrisis Bangsa</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Hamdi Muluk<br />
Fakultas Psikologi Universitas Indonesia<br />
Sering dipertanyakan kepada saya; “Apakah ada dampak yang serius dari multikrisis yang dialami bangsa Indonesia selama lima tahun terakhir ini terhadap penduduk Indonesia dan khususnya generasi muda Indonesia ?” Jawabannya tentu saja ada, tapi seberapa parah, dan kelompok-kelompok siapa saja yang paling menderita oleh karena krisis tersebut ? Pertanyaan tersebut seharusnya perlu dieksplorasi lebih jauh, misalnya dengan mengadakan serangkain penelitian-penelitian empirik untuk menjawab permasalahan tersebut. Sejauh ini penulis tidak mempunyai penelitian, namun catatan terhadap beberapa pengamatan dapat dikemukakan disini.<br />
Pertanyaan lainnya apakah ada problem-problem generasi muda yang tidak terkait dengan adanya multikrisis bangsa, artinya ada atau tidak adanya krisis, persoalan tersebut tetap saja ada.<br />
Seperti yang telah kita ketahui sejak pertengahan tahun 1997, Indonesia di dera krisis perekenomian – yang sebenarnya adalah akumulasi persoalan di masa lalu – yang memuncak seiring dengan terjadinya krisis regional di hampir semua belahan asia. Krisis ditandai dengan menurunnya secara drastis nilai tukar rupiah tehradap dollar, sehingga membuat kinerja perekonomian Indonesia yang banyak mengandalkan utang dalam dollar, tapi pemasukan dalam rupiah menjadi “collapse”. Kondisi perekonomian yang “sempoyongan” ini merambah kesemua sektor; likuidasi beberapa bank,  penutupan beberapa perusahaan, PHK besar-besaran, harga-harga sembako melonjak. Krisisi ekonomi (Krismon) ini mau tak mau memicu krisis sosial; kriminilitas melonjak, kekerasan kolektif meningkat. Krisis sosial juga memicu krisis politik; Soeharto mulai kehilangan legitimasi politik. Puncak dari segala “kegaduhan sosial” ini berujung dengan peristiwa-perisitiwa kekerasan politik menjelang (peristiwa semanggi I) dan setelah mundurnya Soeharto dari kursi Presiden tangggal 21 Mei 1998 (peristiwa semanggi II), dan beberapa peristiwa kekerasan lainnya yang umumnya terjadi dalam latar belakang perebutan kekuasan politik.<br />
Pasca jatuhnya Soeharto, dan peralihan pemerintahan pada B.J. Habibie sebagai presiden, sempat membuat harapan banyak orang (walaupun sebagian orang tetap mempersoalkan keabsahan pengalihan kekuasan tersebut) menaruh harapan yang berlebih-lebihan. Harapan yang berlebihan – setelah lama terkekang dalam era Soeharto – diekspresikan dengan pelbagai tingkah laku yang tidak lagi terkontrol, makanya munculnya istilah “euphoria reformasi”.  Semua orang sepertinya sudah tidak sabar, semua orang kepingin muncul, semua orang sepertinya ingin memaksakan kehendaknya masing-masing, mungkin dengan dalih “bahwa kehendak kami selama ini tidak pernah teraspirasikan semasa masa rezim Soeharto”. Demonstrasi dan ujuk kekuatan (masa = otot ?) mulai jadi modus yang digemari, bukan lagi argumentasi yang masuk akal. Celakanya, rezim transisi dari Soeharto ke Habibie – yang nota bene sebenarnya masih wajah lama /“status quo” – justru adalah rezim yang “bebal” yang tidak cekatan mengakomodasi aspirasi rakyat yang dilanda deman “euphoria reformasi” itu. Justru yang terjadi adalah serangkaian ‘defense mechanism’ oleh penguasa, yang malah menyulut kemarahan kelompok-kelompok progressif radikal yang sudah tidak sabar melihat perubahan yang lebih radikal.<br />
Banyak orang masih berharap, bahwa era Habibie hanyalah era transisi yang akan mengantar Indonesia ke pemantapan rezim yang dicapai lewat Pemilu yang demokratis, mudahan-mudahan stelah pemerintahan yang demokratis terpilih semua kekacauan sosial-poltik-ekonomi-budaya ini teratasi. Harapan ini ternyata tidak secerah itu, Presiden Habibie lewat kendaraan Golkar – yang sebenarnya lebih baik dibubarkan – ternyata masih memberikan perlawanan. Banyak kekerasan politik terjadi dikarenakan konflik antara yang mau mempertahankan Habibie dan yang ingin Habibie cukup sampai di sini saja. Pemilu 1999 berhasil digelar dan diklaim sebagai pemilu pertama setelah 1955 yang demokratis, luber dan jurdil. Harapan kembali timbul dengan dianggap telah selesainya soal Habibie, namun ternyata belum. Peta hasil perolehan Pemilu 1999 memperlihatkan “anomali” , kekuatan lama (Golkar) ternyata masih memperoleh suara kedua, sementara kekuatan reformasi terpecah antara PDI (perolehan suara pertama), PPP, PKB, PAN, PK, PBB dan beberapa partai kecil lainnya. Konstelasi suara yang seperti ini tidak membuat kekuatan reformasi (sementara kita asumsikan dulu, bahwa diluar Golkar adalah kekuatan reformasi) menjadi solid berhadapan dengan kekuatan lama. Bahkan anomali ini dipersulit dengan mulai adanya “persaingan” justru diantara kekuatan reformasi itu sendiri. Akibatnya hasil pemilu “terpaksa” menghasilkan pola kompromistis dengan kekuatan lama-lama. Abdurrahman Wahid yang partai pendukungnya (PKB hanya memperoleh sekitar 10%), lewat proses-proses lobi-lobi politik yang aneh berhasil menjadi presiden RI, sementara Megawati sebagai pemenang pemilu (PDI 35 % suara) hanya kebagian kursi wakil presiden, semnetara “the king maker” Amien Rais kebagian kursi ketua MPR, sementara kekuatan lama Golkar lewat ketuanya Akbar Tanjung memperoleh jabatan ketua DPR.<br />
Sementara Abdurraman  Wahid tidak punya pilihan lain, selain membentuk kabinet pelangi sebagai konsekuensi dari kompromi politik yang telah menghantar-kan dia menjadi presiden. Awal pemerintahan Aburrahman wahid yang kerap di panggil Gus Dur ini sepertinya mulai menjanjikan arah pemuliah. Rupiah mulai menguat, masyarakat mulai beripikir ke arah perbaikan ekonomi, tidak cawe-cawe lagi dalam euphoria politik. Namun kondisi ini hanya bertahan sebentar. Kepribadian Gus Dur yang sebenarnya dari “sononya” adalah berasal dari kultur ‘dominansi-kharismatik-kultus-otoritarian”, maksudnya ia dilahirkan dalam struktur masyarakat yang mengkultuskan pemimpin yang terlahir secara turun temurun, dan mendapat-kan karismatiknya secara genealogis, dan membuat ia bisa menjadi figur dominan dan bisa otoriter juga. Celakanya, dalam konteks administrasi pemerintahan, Gus Dur seharusnya menempatkan dirinya sebagai manajer atau administrator, bukan pemimpin keagamaan. Lemahnya “administrator leadership” membuat suasana kerja di kabinetnya tidak lagi kondusif, suara ketidakpuasan mulai berjangkit ke partai asal dari mana mentri-mentriya diangkat, termasuk dari wakil presidennya sendiri. Gus Dur lupa bahwa ia bukan presiden yang diangkat langsung oleh rakyat, tapi ia lebih mirip “presiden” dalam pengertian seperti cara parlementer. Ia menjadi presiden setelah diusung ramai-ramai oleh anggota parlemen. Ketika dukungan partai-partai terhadapnya mengendor, pada saat itulah kejatuhannya tidak terhindarkan lagi. Terjadi lagi keributan politik besar-besaran lagi menjelang dan setelah kejatuhan Gus Dur. Keributan politik (juga disertai kekerasan disana-sini) sebenarnya bersumber dari lemanya sistem ketatanegaraan kita yang mengatur bagaimana sistem perpolitikan diatur. Semenjak peralihan dari Sohearto ke Habibie, kita sibuk berdebat soal keabasahan konstitusional dari proses tersebut. Hal tersebut terulang lagi ketika Gus Dur ingin “digusur” dari kursi kepresidenannya. Masyarakat terbelah lagi, lagi-lagi karena ketidakjelasan aturan main.<br />
Syukurlah – kata sebagian orang, Setelah Gus Dur lengser tidak terjadi perang saudara seperti yang sebelumnya sempat dikawatirkan banyak orang. Namun walaupun tidak terjadi banjir darah, paling tidak kita sudah membuang-buang waktu selama kurang lebih 2 tahun hanya untuk “bertikai soal-soal yang itu-itu juga”. Momentum perbaikan perekonomian lewat begitu saja, sementara negara tentangga kita (korea, malaysia, thailand) yang juga ikut terkena krisis ekonomi tahun 1997 sudah mulai pulih. Akhirnya sampai juga kesadaran di antara elit politik kita bahwa pertikaian politik ditengah ketidak-jelasan sistem ketatanegaraan hanya akan membuang-buang waktu. Akhirnya ada semacam “silent agreement” diantara elit politik, bahwa Megawati “dijamin” tidak akan digoyang sampai pemilu 2004, demi menjaga kepercayaan publik terhadap proses demokrasi.<br />
Sepertinya kita sudah mulai berhenti dari “pertengkaran politik” dan mulai sungguh-sungguh membangun basis perekomian yang kuat. Namun kenyataan tidaklah seoptimis yang ktia banyakan. Optimisme tetap optimisme, kenyataan ya tetap kenyataan. Kenyataannya, sebagai buah pertikaian yang tidak perlu, pemulihan perekonomian tertunda selama kurang lebih 4 tahun. Dan apa yang terjadi selama empat tahun tersebut ternyata adalah akumulasi persoalan yang kait-mengakit, tali-temali antara persoalan ekonomi (bangkrutnya hampir sebagain besar penyokong ekonomi, meningkatnya jumlah orang miskin, pengangguran dimana-mana).<br />
Dampak dari persoalan ekonomi ini merembet menjadi persoalan sosial; meningkatnya kejahatan, berkurangnya solidaritas sosial, konflik sosial sebagai akibat kesulitan hidup yang meningkat, kepercayaan antara sesama sudah hilang. Merebaklah konflik sosial di mana-mana antar etnik-agama (Ambon, Poso, Kalimantan) atau antar komunitas (matraman). Sementara itu konflik vertikal antara daerah dengan pemerintahan pusat (Aceh, Papua) juga meningkat. Juga konlik antar elit politik “dibawah permukaan” tampaknya tidaklah mereda. Momentum pemulihan ekonomi, bahkan sampai saat ini tampaknya semakin menjauh seiring dengan runtuhnya kepercayaan internasional terhadap keamanan Indonesia dengan seringnya peristiwa peledakan bom di mana-mana (terakhir di Bali).<br />
Sementara itu penyakit-penyakit sosial yang relatif tidak terkait dengan krisis ekonomi-politik akhir-akhir ini seakan-akan membonceng keadaan ini dengan menunjukkan peningkatan pula, seperti: penyalahgunaan narkoba, perjudian, seks bebas, minuman keras dsb. Namun kalau kita lihat penyakit sosial ini sebenarnya kenaikannya sedikit banyak ada juga sumbangan krisis ekonomi, misalnya banyak orang yang kehilangan pekerjaan tergiur menjadi pengedar narkoba.<br />
Selain itu dampak lanjutan dari krisis multi dimensi ini adalah kemerosotan akhlak dan moral di tingkat Publik (saya mengasumsikan kemerosotan lebih parah di arena publik, sementara di arena Private, misalnya: diri pribadi atau keluarga misalnya masih tidak separah kondisi kehidupan publik). Tingkah laku publik kita menunjukan kemerosotan itu: rasa malu dan bersalah sudah tida ada lagi ketika dengan terangan-terangan seseorang melanggar aturan sosial (KKN, melanggar prosedur, manipulasi, dsb). Atau bisakah kita jumpai kesantunan dalam setting sosial ? Semua saling berebut, saling menindas, mau menang sendiri, tidak ada lagi toleransi satu sama lain ?<br />
Dalam arena kebudayaan kondisinya juga sangat menyedihkan. Lihatlah betapa kita tidak lagi punya orientasi nilai yang jelas, ke barat tidak (dengan meniru etos kerja, prestasi, otonomi individu yang kuat dan berkarakter), ke timur tidak pula (mana etos gorong royong yang kita bangga-banggakan itu ?) Yang ada hanyalah etos memburu kesenangan, budaya instant, konsumtifisme yang meningkat, budaya “kulit-kulit”. Lihatlah betapa semua itu tercermin dengan indahnya dalam sinetron-sintron kita yang setiap malam memborbardir kesadaran anak-anak kita ? Mengutip keluhan salah seorang budayawan kita  “mau dibawa kemana kebudayaan kita ini ?” Apakah ini secara psikologis mencerminkan gejala “pelarian” dari kondisi riil yang tidak mampu kita atasi ?<br />
Dengan latar belakang kondisi Indonesia seperti itu pertanyaan yang tersisa adalah: “Seberapa parahkan kondisi ini membawa pengaruh terhadap generasi muda bangsa Indonesia saat ini ?” Mungkin jawabannya harus kita renungkan jauh menukik kedalam hati kita masing. Marilah kita lihat sekeliling kita, mengingat kita tidak punya data penelitian yang empirik tentang ini. Namun sinyalemen dari forum peristiwa Hari Kesehatan Jiwa sedunia 10 Oktober 2002 kemarin, membuat nada pesismistik lebih menyembul ketimbang optimistik, diperkirakan sedikitnya 20 juta penduduk Indonesia (terbanyak adalah generasi muda) berjiwa kurang sehat (mulai dari yang paling ringan sampai yang berat). Kondisi rapuhnya kesehatan jiwa disebabkan oleh rapuhnya ketahanan mental sebagai akibat meningkatnya stressor psiko-sosial sebagai akibat krisis multi dimensi yang berkepanjangan. Meningkatnya stressor psiko-sosial tidak sebanding dengan tingkat ketahanan mental dan tersedianya coping yang memadai terhadap persoalan tersebut.<br />
Tidak memadainya coping tersebut mengingat sumber persoalan yang merupakan faktor stressor psiko-sosial tersebut lebih banyak bersumber pada variarbel makro-strutural seperti yang telah kita sebutkan sebelumnya; runtuhnya perekonomian, bangunan politik yang rentan instabilitas, ketiadaan Social Capital sebagai jaringan tali temali dengan persoalan ekonomi-politik, kebudayaan sebagai “bangsa yang baru keluar dari tindasan penjajah” tidak memiki basis yang jelas, merupakan sumber stressor psiko-sosial,dan merupakan sumber persoalan sosial yang akut.<br />
Postcript<br />
Sebagai kesimpulan dari pemaparan diatas dapat kita katakan masa depan Indonesia terletak pada generasi muda. Namun generasi muda Indonesia saat ini harus berhadapan dengan persoalan-persoalan sosial yang akut sebagai akibat dari krisis multi dimensi yang berkepanjangan. Bagaimanapun masa depan harus diselamatkan, namun persoalan pelik harus kita hadapi, dan terutama dari perspektif psikologi. Dari mana kita harus mulai membenahi persoalan ini, karena sumbernya dari persoalan-persoalan sosial-ekonomi-politik. Bisakah psikologi yang nota bene ilmu yang bergerak pada tataran perilaku individu berespons dan menjawab tantangan yang berada pada wilayah makro-struktural ? (sumber stressor psiko-sosial berada pada wilayah ini) . Mari kita diskusikan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asfuriahmad.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asfuriahmad.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asfuriahmad.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asfuriahmad.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/asfuriahmad.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/asfuriahmad.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/asfuriahmad.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/asfuriahmad.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asfuriahmad.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asfuriahmad.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asfuriahmad.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asfuriahmad.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asfuriahmad.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asfuriahmad.wordpress.com/71/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asfuriahmad.wordpress.com&amp;blog=8304576&amp;post=71&amp;subd=asfuriahmad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asfuriahmad.wordpress.com/2010/09/21/problem-psikologis-generasi-muda-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c978a72734be85dc6f9b3d6cb47d6db4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">asfuriahmad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PENYIMPANGAN ATAU PENYESATAN AGAMA OLEH AJARAN SALAMULLAH LIA EDEN</title>
		<link>http://asfuriahmad.wordpress.com/2009/11/02/penyimpangan-atau-penyesatan-agama-oleh-ajaran-salamullah-lia-eden/</link>
		<comments>http://asfuriahmad.wordpress.com/2009/11/02/penyimpangan-atau-penyesatan-agama-oleh-ajaran-salamullah-lia-eden/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 07:00:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>asfuriahmad</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://asfuriahmad.wordpress.com/?p=66</guid>
		<description><![CDATA[A. Latar Belakang Sejak Islam diturunkan kepada manusia, maka sejak saat itulah Islam tidak monolitik lagi. Islam, dengan demikian, dibaca, ditafsirkan, dan diamalkan sesuai dengan perspektif penganutnya. Pada tahap ini Islam telah kukuh menjadi bagian dari realitas historis dan realitas sosiologis, yang berkembang sesuai dengan arus zaman. Proses pemaknaan akan Islam melahirkan paling tidak dua [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asfuriahmad.wordpress.com&amp;blog=8304576&amp;post=66&amp;subd=asfuriahmad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p><strong>A. Latar Belakang<br />
</strong></p>
<p>Sejak Islam diturunkan kepada manusia, maka sejak saat itulah Islam tidak monolitik lagi. Islam, dengan demikian, dibaca, ditafsirkan, dan diamalkan sesuai dengan perspektif penganutnya. Pada tahap ini Islam telah kukuh menjadi bagian dari realitas historis dan realitas sosiologis, yang berkembang sesuai dengan arus zaman.</p>
<p>Proses pemaknaan akan Islam melahirkan paling tidak dua pihak penting yaitu: pihak utama (ortodoksi/mainstream) dan pihak pinggiran (sempalan/splinter/subltern). Pihak utama mengacu kepada paham keagamaan yang dianut oleh mayoritas umat, sedangkan pihak pinggiran identik dengan ajaran yang keluar dari arus utama sehingga dianggap sesat dan menyesatkan.<a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Dari sudut pandang agama, di Indonesia berkembang berbagai agama yang keberadaannya beragam. Agama-agama mayoritas mendapat pengakuan Negara, yang secara otomatis pemeluknya diakui oleh negara. Sementara agama-agama dengan jumlah minoritas (sempalan/splinter/ subaltern) keberadaannya resah dan dilematis karena identik dengan ajaran yang keluar dari syariat Islam yang diklaim sebagai aliran sesat dan menyesatkan.<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Dalam bahasa Arab, <em>sesat</em> disebut dhalal, ضلل yang dapat diartikan sebagai setiap yang menyimpang dari jalan yang dituju (yang benar).<a href="#_ftn3">[3]</a> Siapa yang dipandang sesat dan tidak sesat dalam Islam? Nabi Muhammad sudah pernah menjawabnya lewat hadis tentang 73 (tujuh puluh tiga)  golongan umat manusia. Ada satu di antaranya yang akan selamat.<a href="#_ftn4">[4]</a> Hadist Rasulullah tersebut berbunyi sebagai berikut:</p>
<p dir="rtl">ا فترقت اليهود على احد ى  وسبعين فر قة‚ وا فترقت النصارى على اثنتين وسبعين فرقة ‚ وستفترق ا متي على ثلا ث و سبعين فر قة‚ كلها في النارالآوا حدة‚ قيل ماهي يارس ل ا لله: هي ا لجما عة ﴿را وه ا بو دا ود‚ا لتر مذ ي‚ا بن ما جه﴾</p>
<p>Artinya: <em>”Yahudi terpecah menjadi 71 kelompok, Nasrani terpecah menjadi 72 kelompok, dan umatku akan terpecah menjadi 73 kelompok. Semuanya berada dalam neraka kecuali satu, kemudian ada yang bertanya,  siapakah kelompok itu, wahai yaa Rasulullah? Beliau menjawab, yaitu yang berada dalam jama’ah’ (”orang-orang yang menempuh jalan seperti yang aku dan sahabatku tempuh”).</em><a href="#_ftn5"><em><strong>[5]</strong></em></a><em> (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Maajah)</em></p>
<p>Dalam memaknai hadis tersebut, umat Islam Indonesia yang cenderung pada pemahaman  Ahlussunah wal Jamaah, dewasa ini melihat ada sejumlah kelompok dalam Islam yang telah keluar dari tuntunan Nabi. Golongan-golongan itu antara lain : Negara Islam Indonesia komandemen wilayah IX (NII KW IX), Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), Inkar sunnah, Ahmadiyah, Salamullah, Isa Bugis, Baha’i, pluralisme agama (diwakili oleh Jaringan Islam Liberal (JIL), dan Lembaga kerasulan. Di antara kelompok tersebut, ada yang telah bertahan selama puluhan tahun (misalnya Ahmadiyah), dan ada juga yang baru berdiri beberapa tahun, seperti JIL (Jaringan Islam Liberal).<a href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Menurut Martin Van Bruinessen (Ulumul Qur’an Vol. III NO 1,1992), untuk memahami eksistensi gerakan-gerakan sempalan di Indonesia bisa dipakai klasifikasi sekte yang pernah dikemukakan oleh sosiolog Inggris, Bryan Wilson. Tipologi yang disusun berdasarkan sikap sekte-sekte terhadap dunia sekitar ini dibagi menjadi tujuh. Namun masing-masing tidak terlalu ketat dalam definisi.<a href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Tipe pertama ialah sekte conversionaist, perhatian utama adalah kepada perbaikan moral individu. Harapannya agar dunia akan dapat diperbaiki bila moral indivdu-individu diperbaiki. Kegiatan utama sekte ini adalah usaha untuk meng-convert atau meng-tobat-kan orang luar. Contoh tipikal di dunia Islam ialah gerakan dakwah seperti Tablighi jamaat.<a href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p>Tipe kedua adalah sekte revolusioner. Mereka mengharapkan perubahan masyarakat secara radikal, sehingga manusianya menjadi baik, Contoh tipikalnya antara lain gerakan mesianistik (yang menunggu atau mempersiapkan kedatangan seorang Mesias, Mahdi, Ratu Adil) dan millenarian (yang mengharapkan meletusnya zaman emas) yang pernah aktif di Indonesia pada masa kolonial.</p>
<p>Gerakan mesianistik atau millenarian ini berkemungkinan tidak lagi bekerja untuk transformasi dunia sekitar tetapi hanya memusatkan diri kepada kelompoknya sendiri atau keselamatan ruhani penganutnya sendiri (semacam uzlah kolektif). Oleh Wilson gerakan tipe ini disebut introversionis .Kelompok Samin merupakan contohnya.<a href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p>Tipe keempat dinamakan Wilson manipulationist atau gnostic (”ber-ma’rifat”). Meskipun mirip dengan introversionis, namun mereka mereka memiliki ilmu khusus, yang biasanya dirahasiakan dari orang luar. Untuk menjadi anggota aliran seperti ini, orang harus melewati proses inisiasi (tapabrata) dan baiat yang panjang dan bertahap. Sejumlah aliran kebatinan dan tarekat bisa dimasukkan kesini.<a href="#_ftn10">[10]</a></p>
<p>Tipe lainnya adalah sekte-sekte thaumaturgical. Tipe ini berdasarkan sistem pengobatan, pengembangan tenaga dalam atau penguasaan atas alam gaib. Di Indonesia, unsur-unsur thaumaturgical terlihat dalam berbagai aliran kebatinan dan sekte Islam, misalnya Muslim-Muslimat (di Jawa Barat).</p>
<p>Tipe keenam adalah sekte reformis. Gerakan ini melihat usaha reformasi sosial dan/atau amal baik (karitatif) sebagai kewajiban esensial agama. Aqidah dan ibadah tanpa pekerjaan sosial dianggap tidak cukup.<a href="#_ftn11">[11]</a></p>
<p>Tipe terakhir adalah gerakan utopian, yang berusaha menciptakan suatu komunitas ideal di samping, dan sebagai teladan untuk, masyarakat luas. Mereka menolak tatanan masyarakat yang ada dan menawarkan suatu alternatif, tetapi tidak mempunyai aspirasi mentransformasi seluruh masyarakat melalui proses revolusi. Di Indonesia, salah satu contohnya adalah kelompok Isa Bugis (dulu di Sukabumi, sekarang di Lampung).<a href="#_ftn12">[12]</a></p>
<p>Pemahaman di atas memberikan perspektif yang pas untuk menilai Aliran-aliran sempalan yang ada di Indonesia. Keberadaan kentara yang mereka buat memperlihatkan posisi mereka yang tidak sama bahkan berseberangan dengan mayoritas umat. Dalam kondisi ini, perpecahan umat bayang-bayang yang paling dekat. Dan, sebelum bayang-bayang itu menyatu dengan badan, datanglah Majelis Ulama Indonesia (MUI) memberikan batasan untuk memisahkan antara ”Kita”dan”mereka”.<a href="#_ftn13">[13]</a></p>
<p>Terlepas dari pro dan kontra apakah sekelompok ulama dalam MUI berhak atau tidak untuk memvonis satu kelompok sesat atau tidak, yang jelas fatwa, rekomendasi, atau nasehat yang di keluarkan MUI merupakan sebuah langkah yang tepat dalam menjawab keresahan dan kebingungan yang tengah melanda masyarakat. Sampai di sini, tradisi dialog antara ulama dan umat sesungguhnya berhasil dipertahankan dengan sempurna.<a href="#_ftn14">[14]</a></p>
<p>Penelitian ini akan mendiskripsikan aliran jamaah Salamullah yang difatwa ”sesat dan menyesatkan” oleh MUI untuk mengetahui aliran itu lebih dalam, dilakukan penekanan pada latar belakang lahirnya kelompok tersebut, ide-ide yang mereka usung, serta aksi-aksi mereka. Di dalamnya terkandung gagasan-gagasan utopis, egoisme kelompok, kekeras kepalaan, perlawanan, dan konspirasi yang tak terdeteksi. Ikut dilampirkan pula fatwa-fatwa MUI, yang mana juga berisi pertimbangan MUI untuk memutuskan Aliran Salamullah Lia Eden sesat atau tidak.</p>
<p>Dalam deskripsi di atas sangat jelas bahwa persoalan tentang penyesatan atau penyimpangan agama yang terjadi akhir-akhir di  Indonesia ini banyak menimbulkan perpecahan antar umat bahkan kesatuan Republik Indonesia. Kasus penyesatan agama atau penyimpangan agama yang terjadi merupakan kasus yang sempat menyita perhatian publik nasional karena hal tersebut bersentuhan langsung dengan akar konflik horizontal yaitu konflik yang berkaitan dengan aqidah dan kepercayaan mayoritas umat beragama Islam.<a href="#_ftn15">[15]</a></p>
<p><strong>B. Pembahasan</strong><strong> </strong></p>
<ol>
<li><strong> </strong>Latar Belakang Munculnya Keputusan Fatwa MUI  No.768/MUI/XII/1997</li>
</ol>
<p>Berawal dari surat Ir. Andan Nadriasta tanggal 4 Oktober 1997 yang bertanya dan mengharapkan ada penjelasan dari Majelis Ulama Indonesia tentang ajaran kelompok pengajian yang dipimpin oleh Ibu Lia Aminuddin, Jl. Mahoni 30 Jakarta Pusat 10460 Telp. 4207420-4247218. Dalam surat tersebut dinyatakan, antara lain, bahwa Ibu Lia Aminuddin ditemani (didampingi) oleh Malaikat Jibril. Pengajian atau ajaran yang disampaikan Ibu Lia itu pada hakikatnya adalah ajaran yang dibawa Malaikat Jibril melalui Ibu Lia. Hal demikian, menurut pengirim surat, jelas dapat meresahkan umat karena bertentangan dengan akidah Islam.<a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Pada hari selasa, 4 Nopember 1997, Lia Aminuddin memberikan penjelasan kepada Sekretaris Komisi Fatwa MUI bahwa, Lia Aminuddin membenarkan kalau ia didampingi dan mendapat ajaran dari Malaikat Jibril. Pada waktu yang berbeda Lia Aminuddin juga menjelaskan dalam Sidang Komisi Fatwa pada tanggal 11 Nopember 1997, yang antara lain juga mengatakan :<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<ol>
<li>Setelah merasa dikecewakan oleh sikap Anton Medan dan dua kiai (Nur Muhammad Iskandar SQ dan Zainuddin MZ) mengenai masalah Yayasan At-Ta’ibin, Lia setiap malam menangis dan mengadu kepada Allah tentang ketidakadilan dan kebenaran yang dirasakannya tidak ada. Lia yang mengaku sangat awam dalam bidang agama Islam pada suatu malam mengalami suatu peristiwa: seluruh badan bergetar, keringat bercucuran, tetapi ia merasa kedinginan. Esok harinya tiba-tiba bisa melihat segala sesuatu (misalnya ia dapat mengetahui bahwa sebuah mobil yang dilihatnya adalah hasil korupsi) dan dapat mengobati berbagai penyakit.</li>
<li>Setelah itu, ia didatangi oleh mahluk gaib yang kemudian mendampinginya serta memberikan ajaran dan tuntunan agama Islam. Makhluk itu kemudian diketahui (mengaku) sebagai malaikat Bernama Habib al-Huda.</li>
</ol>
<p>c.   Pada suatu hari, seorang pasien bernama Indra yang menurut Lia, <em>kasyaf</em> jin memberitahukan bahwa pendamping Lia Aminuddin adalah Malak Jibril. Kemudian di hari lain, datang lagi seorang yang memberikan kesaksian serupa. Dan ketika Lia Aminuddin bertanya kepada pendampingnya tentang kebenaran kesaksian dua orang tersebut, penndamping itu membenarkan dan mengaku bahwa sebenarnya ia adalah Malak Jibril. <em> </em></p>
<p>d.   Kemudian Lia Aminuddin disuruh beribadah umrah oleh ”Jibril” untuk mendapat kesaksian (pembuktian) bahwa ia adalah Jibril. Sepanjang perjalanan umrah ia melihat peristiwa-peristiwa yang memberikan keyakinan kepadanya bahwa pendampingnya adalah benar-benar Jibril.</p>
<p>e.   Lia Aminuddin pun juga menjelaskan bahwa ia dapat berkomunikasi dengan Jibrilnya jika ia memerlukan dan Jibril tidak bisa datang semaunya. Tegasnya, kedatangan Jibril tidak bergantung pada Lia Aminuddin, kecuali jika ada amanat yang harus disampaikan kepadanya.</p>
<p>Berpijak dari surat Ir. Andan Nadriasta dan pernyataan serta pengakuan Lia Aminuddin sendiri dihadapan sekretaris Komisi Fatwa MUI tertanggal 4 Nopember 1997 dan dalam sidang Komisi Fatwa pada 11 Nopember 1997 bahwa semua yang terjadi dan dialami Lia Aminuddin adalah benar adanya dan ia tidak menolaknya. Dari pengakuan Lia Aminuddin tersebut Majelis Ulama Indonesia perlu mengambil sebuah tindakan untuk menyelesaikan dan menyelamatkan akidah <em>(aqidah)</em> ajaran Islam yang mempunyai kedudukan sangat penting yang harus di jaga dan  didasarkan pada dalil-dalil qot’iy, supaya aqidah tersebut terjaga dan terlindungi kemurniannya.</p>
<p>MUI sebagai wadah organisasi keagamaan yang dibentuk oleh pemerintah sebagai pengayom dan pelindung hak-hak sipil umat islam didalam menjalankan ajaran aqidahnya jangan sampai ternodai oleh ajaran-ajaran sesat yang dalam dekade akhir-akhir ini sering muncul dan marak menyita perhatian umat islam secara keseluruhan, disini Majelis Ulama Indonesia punya peranan penting untuk menjaga kemurnian aqidah umat Islam.</p>
<p>Dari langakah yang diambil Majelis Ulama Indonesia tersebut tentunya akan bisa mengurangi keresahan umat islam yang selama ini merasa terusik oleh ulah Lia Aminuddin didalam melakukan pengajian dan ajaran barunya yang lebih dikenal dengan ajaran salamullahnya tersebut. Jika Majelis Ulama Indonesia yang selama ini mempunyai wewenang untuk menyelesaikan sengketa aqidah yang dianut sebagian besar umat islam di Indonesia tidak cepat mengambil sikap dan tindakan maka sangat mungkin sekali akan muncul konflik internal aqidah umat yang tentunya akan menimbulkan rasa permusuhan, penyalahgunaan, penodaan atau penyesatan  suatu agama yang dianut oleh mayoritas umat Islam yang ada di Indonesia.</p>
<p>Dalam deskripsi diatas tersebut sangat jelas bahwa persoalan tentang ajaran agama  baru yang dibawa oleh Lia Aminuddin yang bernama Salamullah/ agama perenialisme yang menghimpun seluruh agama, serta Lia Aminuddin mengaku menjadi juru bicara Jibril <em>Alaihi Salam, </em>dan mengaku sebagai Nabi dan Rasul, mengaku mendapat wahyu dan mukjizat dari Jibril, mengaku sebagai Imam Mahdi, Ahmad Mukti (puteranya) dianggap sebagai Nabi Isa  <em>Alaihi Salam</em>, merupakan bentuk-bentuk pelecehan agama yang dapat menimbulkan perpecahan antar umat bahkan kesatuan Republik Indonesia. Karena kasus tersebut bersentuhan langsung dengan akar konflik horizontal yaitu konflik yang berkaitan dengan aqidah dan kepercayaan mayoritas umat beragama Islam.</p>
<p>Dari latar belakang uraian tersebut maka Majelis Ulama Indonsia sebagai wadah organisasi keagamaan yang ada di Indonesia mempunyai hak untuk memberikan Fatwa dan berhak menyelamatkan dan menjaga kemurnian akidah umat agama Islam.</p>
<p>Dengan ini Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia mengadakan sidang komisi dan mengeluarkan Surat Keputusan Fatwa Nomor. Kep-768/MUI/XII/1997 tentang PENDAMPINGAN MALAK JIBRIL TERHADAP MANUSIA. Pertimbangan dari Surat Keputusan Fatwa Majelis Ulama Indonesia tersebut adalah sebagai berikut:<a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<ol>
<li>Akidah <em>(aqidah)</em> dalam ajaran Islam mempunyai kedudukan sangat penting dan harus didasarkan pada dalil-dalil qat’iy, karena akidah tersebut harus dijaga dan dilindungi kemurniannya.</li>
<li>Masalah Jibril merupakan masalah penting yang menyangkut akidah Islam; oleh karena itu, akidah atau keimanan (kepercayaan) kepada Jibril harus berdasarkan dan tunduk pada dalil-dalil qat’iy.</li>
<li>Bahwa menurut akidah Islam, Jibril hanya turun kepada para nabi untuk menyampaikan wahyu Allah, dan mengingat Nabi Muhammad Saw adalah nabi terakhir maka Jibril tidak lagi turun menemui manusia untuk menyampaikan wahyu.</li>
<li>Bahwa pengakuan seseorang, dalam hal ini Lia Aminuddin, didampingi dan mendapat ajaran dari Jibril harus segera ditanggapi dan diluruskan oleh Majelis Ulama Indonesia.</li>
</ol>
<p>Adapun isi dari Surat Keputusan Fatwa Nomor. Kep-768/MUI/XII/1997 tentang PENDAMPINGAN MALAK JIBRIL TERHADAP MANUSIA tersebut adalah sebagai berikut: <a href="#_ftn4">[4]</a></p>
<ol>
<li>Keyakinan atau akidah tentang malaikat, termasuk malak Jibril, baik mengenai sifat maupun tugasnya harus didasarkan pada keterangan atau penjelasan dari wahyu (al-Qur’an dan hadist ).</li>
<li>Tidak ada satu pun ayat maupunhadist yang menyatakan bahwa malak Jibril masih diberi tugas oleh Allah untuk menurunkan ajaran kepada umat manusia, baik ajaran baru maupun ajaran yang bersifat penjelasan terhadap ajaran agama yang telah ada. Hal ini karena ajaran Allah telah sempurna.</li>
<li>Pengakuan seseorang bahwa dirinya didampingi dan mendapat ajaran keagamaan dari malak Jibril bertentangan dengan al-Qur’an. Oleh karena itu, pengakuan tersebut dipandang sesat dan menyesatkan.</li>
<li>Pertimbangan Hukum Fatwa Majelis Ulama Indonesia.</li>
</ol>
<p>Berdasarkan Surat Keputusan Fatwa No: Kep-768/MUI/XII/1997 Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia terhadap pelarangan Ajaran Salamullah Lia Eden yang di Fatwa sesat dan menyesatkan ini didasarkan pada pertimbangan hukum yang bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah (hadist) yang telah disepakati oleh para ulama (<em>jumhur al ulama’</em>) diantara pertimbangan sumber hukum tersebut adalah: <a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<ol>
<li>Sumber al- Qur’an
<ol>
<li>Dalam al-Qur’an diterangkan bahwa salah satu rukun Iman dalam sistem akidah Islam yang wajib diyakini dan menjadi akidah setiap muslim adalah iman kepada malikat. Cukup banyak ayat al-Qur’an menjelaskan hal ini: antara lain firman Allah yang berbunyi:</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p dir="rtl">لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَالْمَلائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ…&#8230;.</p>
<p><em>Artinya: “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan; akan tetapi, sesungguhnya kebajikan itu adalah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi…” (QS. Al-Baqarah.[2]: 177</em><em>)</em><a href="#_ftn6">[6]</a><em> </em></p>
<p dir="rtl">…..وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالا بَعِيدًا</p>
<p><em>Artinya: “Barang siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya” (QS. An-Nisa [4]:136)</em><a href="#_ftn7">[7]</a></p>
<ol>
<li>Menurut ajaran Islam (al-Qur’an), malaikat adalah mahluk gaib dan termasuk ke dalam hal (alam) yang gaib. Mengenai hal yang gaib, Allah berfirman:</li>
</ol>
<p dir="rtl">َعلِمُ الْغَيْبِ فَلا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا إِلا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا</p>
<p><em>Artinya: &#8220;(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahuiyang gaib: maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu, kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya; maka sesungguh-Nya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya” (QS.</em><em>Al jin [72]: 26-27)</em><a href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p><em> </em></p>
<ol>
<li>Atas dasar itu, dalam melaksanakan keimanan kepada malaikat yang gaib itu, setiap muslim yang yakin (beriman) bahwa sumber akidah dalam Islam mengenai persoalan gaib hanyalah al-Qur’an semata, harus tunduk dan mengikuti, serta terbatas pada keterangan yang dijelaskan oleh al-Qur’an, baik menyangkut materi mereka, sifat, tugas, maupun dalam hal melihat mereka. Malaikat,dalam akidah muslim, adalah makhluk (alam) gaib yang tidak dapat diketahui oleh manusia melalui <em>idrak basyari</em> (intelek manusia). Mereka hanya dapat diketahui melalui pemberitaan valid <em>(al-khbar as-sadiq)</em> dari Allah SWT., yaitu keterangan yang terdapat dalam al-qur’an. (perhatikan Mahmud Syaltut, <em>al-Islam Aqidah wa Syariah</em>, t.t.: Dar al-Qalam, 1966, h.32). dengan kata lain, pengetahuan tentang malaikat haruslah berdasarkan wahyu.</li>
<li>Al-Qur’an pun menjelaskan tentang sifat-sifat malaikat; diantaranya adalah:
<ol>
<li>Malaikat suci dari sifat-sifat manusia <em>(a’ rad al-basyariah).</em> Hal ini ditujukan oleh Allah, melalui dalalah iltizam, dalam firman-Nya:</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p dir="rtl">يُسَبِّحُونَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لا يَفْتُرُونَ</p>
<p><em>Artinya: “Mereka (malaikat) selalu bertasbih (beribadah kepada Allah)      pada waktu malam dan siang hari tiada henti-hentinya” (QS al-Anbiya [21]: 20)</em><a href="#_ftn9">[9]</a><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<ol>
<li>Malaikat selalu takut <em>(al-khauf)</em> dan taat kepada Allah, sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya:<em> </em></li>
</ol>
<p dir="rtl">يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ</p>
<p><em>Artinya: “Mereka (malaikat) takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka)” (QS. An-Nahl[16]:50)</em><a href="#_ftn10">[10]</a><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<ol>
<li>Bahwa malaikat selalu taat kepada Allah, tidak durhaka (melakukan maksiat) kepada-Nya. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Anbiya [21]: 26-28.</li>
</ol>
<p dir="rtl">(#qä9$s%ur xsªB$# ß`»oH÷q§9$# #V$s!ur 3 ¼çmoY»ysö7ß 4 ö@t/ ×$t6Ïã cqãBtõ3B ﴿26﴾  w ¼çmtRqà)Î7ó¡o ÉAöqs)ø9$$Î/ Nèdur ¾ÍnÌøBr&#8217;Î/ cqè=yJ÷èt ﴿27﴾  ãNn=÷èt $tB tû÷üt/ öNÍkÉ÷r&amp; $tBur öNßgxÿù=yz wur cqãèxÿô±o wÎ) Ç`yJÏ9 4Ó|Ós?ö$# Nèdur ô`ÏiB ¾ÏmÏGuô±yz tbqà)Ïÿô±ãB ﴿28﴾</p>
<p><em>Artinya: ”Dan mereka berkata: ”Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak’. Maha Suci Allah. Sebenarnya (malaikat-malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan, mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya. Allah mengetahui segala apa yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang dibelakang mereka, dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah,dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya”(QS.Al-Anbiya [21]: 26-28)</em><a href="#_ftn11">[11]</a></p>
<p dir="rtl">لا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ</p>
<p><em>Artinya: “… mereka (malaikat) tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan ” (QS. </em><em>At-Tahrim [66]:6).</em><a href="#_ftn12">[12]</a> <em> </em></p>
<p>Bahwa malaikat itu selalu taat kepada Allah, tidak durhaka (melakukan maksiat) kepada Allah. Jadi durhaka kepada Allah adalah berbohong. Dengan demikian, tidak mungkin ada malaikat berbohong, seperti hari ini mengaku Jibril dan esok harinya atau kenmarin mengakui selain Jibril.</p>
<ol>
<li>Malak Jibril, sebagai salah satu malaikat yang menurut al-Qur’an mempunyai nama lain seperti ar-ruh, ar-ruh al-qudus, dan ar-ruh al-amin, tertentu memiliki sifat-sifat malaikat sifat lain dan tugas tertentu, antara lain sebagaimana dijelaskan dalam:
<ol>
<li>Firman Allah:</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p dir="rtl">إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ.ذِي قُوَّةٍ عِنْدَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ.مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِين.وَمَا صَاحِبُكُمْ بِمَجْنُونٍ.وَلَقَدْ رَآهُ بِالأفُقِ الْمُبِينِ.</p>
<p><em>Artinya: “sesungguhnya al-Qur’an itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah Yang mempunyai Arasy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya. Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah sekali-kali orang yang gila; dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang” (QS. At-Takwir [8]: 19-23).</em><a href="#_ftn13">[13]</a><em> </em></p>
<p>Ayat di atas tidak hanya menjelaskan sifat malaikat Jibril, tetapi juga menjelaskan tugasnya, yaitu menjadi perantara (delegasi) antara Allah dengan para rasul-Nya; ia menurunkan (membawa) wahyu (al-Qur’an) kepada Nabi Muhammad SAW.</p>
<ol>
<li>Firman Allah;</li>
</ol>
<p dir="rtl">وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِين.نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الأمِينُ.عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ</p>
<p><em>Artinya: “Dan sesungguhnya al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril),ke dalam hatimu (Muhammad) agar menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan”(QS. Asy-Syu’ara [26] 192-194)</em><a href="#_ftn14">[14]</a><em>. </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Ayat asy-Syu’ara di atas menegaskan bahwa malak Jibril mempunyai tugas sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Menyampaikan/menurunkan pesan dan ajaran dariAllah</li>
<li>Pesan dan ajaran yang dibawa turun oleh malak Jibril adalah kalam  (wahyu dari) Allah, dalam hal ini al-Qur’an</li>
<li>Wahyu tersebut dibawa turun oleh malak Jibril kedalam hati (kalbu)  Nabi Muhammad SAW, dan</li>
<li>Bahwa tujuan penurunan wahyu kepada Nabi Muhammad ialah agar ia menjadi nabi (<em>munzir</em>). Atas dasar ini, maka:</li>
</ol>
<p>1)          Tidak dapat benarkan jika Jibril membawa turun selain wahyu, misalnya pendapat atau penjelasan dari Jibril sendiri, baik kepada Nabi Muhammad maupun orang lain,</p>
<p>2)          Sesudah Nabi Muhammad wafat Jibril tidak akan lagi menurunkan wahyu maupun ajaran kepada siapapun, karena Nabi Muhammad adalah nabi terakhir dan ajaran Allah untuk umat manusia telah dinyatakan sempurna.</p>
<p>Dua hal disebut terakhir ini, yakni bahwa Nabi Muhammad adalah nabi terakhir dan bahwa ajaran Allah untuk umat manusia telah sempurna dijelaskan dalam firman Allah:</p>
<p dir="rtl">مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا</p>
<p><em>Artinya: ”Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi ia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS. Al-Ahzab [33]:40).</em><a href="#_ftn15">[15]</a><em> </em></p>
<p dir="rtl">&#8230;الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا</p>
<p><em>Artinya: “… pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu jadi agama bagimu…”(QS. Al-Mai’idah [5]:3).</em><a href="#_ftn16">[16]</a><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<ol>
<li>Jibril, sebagaimana dijelaskan di atas, hanyalah bertugas menyampaikan wahyu dari Allah dan ia tidak diberi wewenang oleh Allah untuk menjelaskan kandungan (isi dan maksud)-nya. Dalam hal al-Qur’an, tugas menjelaskannya dibebankan Nabi, sebagaimana dikemukakan dalam firman Allah :</li>
</ol>
<p dir="rtl">وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ.</p>
<p><em>Artinya: “… Dan Kami turunkan kepadamu (Muhammad) al-Qur’an, agar kamu menerangkan kapada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan” (QS. An-Nahl[16]:44)</em><a href="#_ftn17">[17]</a><em> </em></p>
<p>Selain Nabi Muhammad, tugas menjelaskan al-Qur’an juga menjadi tanggung jawab para ulama.</p>
<ol>
<li>Sebagaimana malaikat pada umumnya yang tidak akan pernah melakukan maksiat,</li>
<li>Malak Jibril hanya turun dan datang kepada Nabi Muhammad atas izin dan perintah Allah. Tanpa izin dan perintah Allah ia tidak akan turun, betapa pun Nabi Muhammad sangat menginginkan dan mengharapkan. Cukup banyak peristiwa yang memerlukan segera mendapat jawaban dan penjelasan wahyu,tetapi Jibril tidak kunjung datang membawa wahyu.</li>
<li>Menurut al-Qur’an, manusia dapat melihat, ditemui, atau bahkan dibantu oleh malaikat, dan itu termasuk <em>karomah.</em> Mengingat hal tersebut sebagai karomah, tentu <em>sahib al-karamah</em> (orang-orang yang mempunyai karomah) diharuskan memenuhi suatu persyaratan, yaitu amal perbuatannya harus sesuai dengan dan berdasarkan Kitab (al-Qur’an) dan sunnah: atau menurut Abu Yazid al-Bustami ia harus memahami dan mengamalkan <em>awamir</em> dan <em>nawahi</em> (perintah dan larangan agama).
<ol>
<li>Sumber Hadist  <strong> </strong></li>
</ol>
</li>
</ol>
<p>Dalam hadist pun juga diterangkan sebagi orang yang beriman harus wajib mengimani rukun iman yang semuanya ada lima, salah satu rukun Iman dalam sistem akidah Islam yang wajib diyakini dan menjadi dasar setiap muslim adalah iman kepada malikat. Cukup banyak hadist-hadist yang menjelaskan tentang sifat-sifat malaikat, antara lain adalah:</p>
<ol>
<li>Bahwa sifat malaikat adalah mempunyai sifat malu. Hal imi sebagaimana di jelaskan oleh Nabi :<a href="#_ftn18">[18]</a></li>
</ol>
<p dir="rtl">الااستحى من رجل تستحى منه الملا ئكة (رواه مسلم)</p>
<p><em>Artinya: ”Bagaimana aku tidak malu terhadap seorang lak-laki yang malaikat pun malu terhadapnya ” (HR. Muslim)</em></p>
<p><em> </em></p>
<ol>
<li>Bahwa malaikat itu merasa sakit (tidak suka, terganggu) dengan hal-hal yang tidak disenangi <em>(makruh)</em>, misalnya bau tidak sedap;demikian juga anjing dan patung, sebagaimana halnya manusia. Nabi menjelaskan:<a href="#_ftn19">[19]</a><em> </em></li>
</ol>
<p dir="rtl">من اكل من الثوم والبصل والكراث فلايقربن مسجدنا فاء ن الملائكة تتاذى مما يتاذى منه بنوادم (راوه مسلم)   <em> </em></p>
<p><em>Artinya: ”Barang siapa makan bawang putih, bawang merah, dan bawang bakung janganlah mendekati masjid kami, karena malaikat merasa sakit (terganggu) dengan hal-hal yang membuat manusia pun merasa sakit”(HR. Muslim).</em></p>
<p><em> </em></p>
<ol>
<li>Sebagaimana malaikat pada umumnya yang tidak akan pernah melakukan maksiat, misalnya melihat aurat, Malaikat Jibril tidak mau masuk ke dalam suatu rumah yang didalamnya ada aurat terbuka. Ini dapat diketahui dari hadist berikut:<em> </em></li>
</ol>
<p dir="rtl">ﹶقدْوَردَأن السيدة خديجة رضي الله عنها كانت تمتحن نزول الوحي على الرسول باءماطةالخمارعن رأسها،فاءذا كشفت شعرها هدأت حالةالرسول،واذاغطت شعرها عادت إليه الحالة،لعلمهابان الملك جبريل لايدخل بينا فيه امرأة مكشوفة الرأس.ولذلك قالت له:لماحسرت عن رأسها:هل تراه؟قال:لا،قالت:ياابن عم اثبت وابشرفوالله لملك،وماهذابشيطان. (عقيدةإسلامية ص268)</p>
<p><em>Artinya: ”Terdapat keterangan (hadist) bahwa Khadijah r.a. pernah mencoba (menguji) turunnya wahyu kepada Rasul dengan melepaskan kerudung dari kepalanya. Jika ia membuka rambutnya, tenanglah keadaanRasul; dan jika ia menutup rambutnya, keadaan Rasul kembali seperti semula. Hal itu ia lakukan karena ia mengetahui bahwa malaikat Jibril tidak akan masuk ke dalam rumah yang di dalamnya ada seorang perempuan yang terbuka kepalanya. Oleh karena itu, ketika membuka kepalanya ia (Khadijah) bertanya kepada Rasul:’Apakah engkau melihatnya (Jibril)?’Rasul menjawab :’Tidak!’ Khadijah berkata:’Wahai putra paman! Tabah dan bergembiralah! Demi Allah! (Yang datang kepada engkau) itu adalah malaikat, dan bukan syaitan’. ”</em><a href="#_ftn20">[20]</a></p>
<ol>
<li>Malaikat Jibril hanya turun dan datang kepada Nabi Muhammad atas izin dan perintah Allah. Tanpa izin dan perintah Allah ia tidak akan turun, betapa pun Nabi Muhammad sabgat menginginkan dan mengharapkan. Cukup banyak peristiwa yang memerlukan segera mendapat jawaban dan penjelasan wahyu, tetapi Jibril tidak kunjung datang membawa wahyu. Contoh penantian Nabi yang paling mendesak. Di samping itu , Nabi pernah meminta kepada Jibril agar lebih sering datang mengunjungi Nabi, tetapi Jibril menjawab bahwa kunjungannya harus atas izin Allah. Hal ini dijelaskan dalam hadist berikut: <a href="#_ftn21">[21]</a></li>
</ol>
<p dir="rtl">روى البخاري واحمد عن ابن عباس رضي الله عنه أن رسو ل الله ص م. قال لجبر يل : ما يمنعك أن تزورنا أكثرمماتزرونا؟ فنرلت الاية :وما نتزل إلابأمرك الاية : له ما بين أيدبنا وما خلفنا وما بين ذلك :وماكان ربك نسيا (مربم 64)</p>
<p><em>Artinya: ”Imam Bukhari dan Ahmad meriwayatkan dari Ibn Abbas bahwa Rasulullah berkata keapad Jibril: ’Apa yang menghalangimu untuk berkunjung kepada kami lebih sering dari kunjunganmu selama ini?’ Nabi berkata. Lalu turunlah ayat : ’Dan tidaklah kami (Jibril) turun kecuali dengan perintah Tuhanmu. Kepunyaan-Nya-lah apa-apa yang ada di hadapan kita, apa-apa yang ada di belakang kita, dan apa-apa yang ada di antara keduanya, dan tidaklah Tuhanmu lupa’.”(HR. Bukhari, Ahmad,dari Ibnu Abbas)</em>.</p>
<p><strong>C. Kesimpulan</strong><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p>Dalam deskripsi di atas sangat jelas bahwa persoalan tentang ajaran agama  baru yang dibawa oleh Lia Aminuddin yang bernama Salamullah/ agama perenialisme yang menghimpun seluruh agama, serta Lia Aminuddin mengaku menjadi juru bicara Jibril <em>Alaihi Salam, </em>dan mengaku sebagai Nabi dan Rasul, mengaku mendapat wahyu dan mukjizat dari Jibril, mengaku sebagai Imam Mahdi, Ahmad Mukti (puteranya) dianggap sebagai Nabi Isa  <em>Alaihi Salam</em>, merupakan bentuk-bentuk pelecehan agama yang dapat menimbulkan perpecahan antar umat bahkan kesatuan Republik Indonesia. Karena kasus tersebut bersentuhan langsung dengan akar konflik horizontal yaitu konflik yang berkaitan dengan aqidah dan kepercayaan mayoritas umat Islam.</p>
<p>Dari pengakuan Lia Aminuddin tersebut Majelis Ulama Indonesia perlu mengambil sebuah tindakan untuk menyelesaikan dan menyelamatkan akidah <em>(aqidah)</em> ajaran Islam yang mempunyai kedudukan sangat penting yang harus di jaga dan  didasarkan pada dalil-dalil <em>qot’iy</em>, supaya aqidah tersebut terjaga dan terlindungi kemurniannya.</p>
<p>Demi menjaga kemurnian aqidah agama sudah seyogyanya Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengajak semua pihak merujuk kembali kepada kaidah <em>ushul fiqh</em> (dasar hukum Islam) yang berbunyi <em>”dar’ul mafasid muqaddamun ala jalbil mashalih</em>” (mencegah kejahatan lebih diutamakan dari mengambil manfaat atau kemaslahatan). ”itu artinya menindak aliran sesat misalnya, (aliran jamaah salamullah Li Eden) untuk menyelamatkan akidah umat lebih utama dari pada mempertimbangkan keselamatan atau kemaslahatan segelintir orang.” kemaslahatan disini adalah merupakan urgen inti pokok ”<em>maqashid al-syari’ah”. </em>Diantara<em> maqashid</em> nya adalah<em>:</em></p>
<ol>
<li><em>Maqashid al-dharuriyat</em>, maqashid untuk memelihara lima unsur pokok dalam kehidupan manusia yang meliputi memelihara agama, jiwa, akal, keturunan dan harta.</li>
<li><em>Maqashid al-hajiyyat</em>, ialah maqashid untuk menghilangkan kesulitan terhadap lima unsur pokok.</li>
<li><em>Maqashid al-tahsiniyyat</em> ialah maqashid yang dimaksudkan agar manusia melakukan yang terbaik untuk menempurnakan terhadap lima unsur pokok tersebut.</li>
</ol>
<p>Menanggapi perdebatan dan silang pendapat yang muncul belakangan ini, Fatwa Munas VII Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan maklumat penetapan 10 kriteria aliran sesat yang di dalamnya membahas sebelas fatwa yang dilarang oleh MUI karena berbau menyimpang dan  sesat menyesatkan diantara fatwa tersebut diantaranya adalah : ”Fatwa tentang sesatnya aliran jamaah salamullah” (kaum Eden) yang mana dalam fatwa tersebut untuk menegaskan kembali keputusan Fatwa MUI  No.768/MUI/XII/1997. Supaya bisa kembali dan mendalami ajaran Islam, terutama dalam bidang aqidah, dengan memahami dan mempelajari al-Qur’an dan hadis kepada ulama, dan menurut kaidah-kaidah yang telah dirumuskan dan diakui kebenarannya oleh para ulama sebagai pedoman dalam mempelajari al-Qur’an dan hadis. Adapun maklumat Fatwa sesat tersebut adalah sebagai berikut:<a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<ol>
<li>mengingkari salah satu rukun Iman dan rukun Islam atau mengikuti aqidah  yang tidak sesuai dengan dalil syar’i, yaitu <em>al-Qur’an</em> dan <em>as-sunnah</em>,</li>
<li>Meyakini turunnya wahyu setelah <em>al-Qur’an</em></li>
<li>Mengingkari otentisitas atau kebenaran isi ajaran <em>al-Qur’an</em></li>
<li>Melakukan penafsiran <em>al-Qur’an</em> yang tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir</li>
<li>mengingkari kedudukan hadis Nabi sebagai sumber Islam</li>
<li>Menghina, melecehkan, dan atau merendahkan para nabi dan rasul</li>
<li>Mengingkari Nabi Muhammad saw.sebagai nabi dan rasul terakhir</li>
<li>Mengubah, menambah, dan atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan oleh syari’at, seperti haji tik ke Baitullah</li>
<li>Shalat fardhu tidak ima waktu, dan</li>
</ol>
<p>10.  Mengkafirkan sesama muslim tanpa dalil syar’i, seperti mengkafirkan muslim hanya karena bukan kelompoknya.</p>
<p>Dari langakah yang diambil Majelis Ulama Indonesia tersebut tentunya akan bisa mengurangi keresahan umat islam yang selama ini merasa terusik oleh ulah Lia Aminuddin didalam melakukan pengajian dan ajaran barunya yang lebih dikenal dengan ajaran salamullahnya tersebut. Jika Majelis Ulama Indonesia yang selama ini mempunyai wewenang untuk menyelesaikan sengketa aqidah yang dianut sebagian besar umat islam di Indonesia tidak cepat mengambil sikap dan tindakan maka sangat mungkin sekali akan muncul konflik internal aqidah umat yang tentunya akan menimbulkan rasa permusuhan, penyalahgunaan, penodaan atau penyesatan  suatu agama yang dianut oleh mayoritas umat Islam secara umumnya dan lebih-lebih umat Islam yang ada di Indonesia secara khususnya.<strong> </strong></p>
<p><strong>D. </strong><strong>Penutup </strong></p>
<p>Demikianlah makalah yang dapat saya susun mudah-mudahan bisa bermanfaat dan bisa manambah khazanah keilmuan Islam secara umum dan bagi keilmuan syariah dan ushuluddin pada khususnya. Penulis tidak bisa menyajikan secara komplit dan sempurna karena kami adalah sebagai insan yang jauh dari kesempurnaan dan lebih dekat pada manusia yang dloif, maka dari itu bagi para pembaca kami harapkan masukan saran dan review demi perbaikan tugas saya ini.</p>
<p>Tidak lupa puja dan puji syukur kehadlirat Allah SWT yang telah melimpahkan taufik,hidayah serta inayah-Nya sehingga penyusunan tugas ini bisa terselesaikan dengan baik walaupun masih banyak kekurangan disana- sini, untuk itu saya mohon maaf atas segala khilaf dalam penyusunan tugas ini.<strong> </strong></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> A. Yogaswara, Maulana Ahmad Jalidu, <em>Aliran-Sesat dan Nabi-nabi Palsu</em>, jakarta: Narasi, 2008, hlm. 106</p>
<p>&nbsp;</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Keputusan <em>Fatwa MUI No. 768/MUI/XII/1997</em> <em>tentang penyimpangan agama oleh ajaran Salamullah Lia Eden,</em> hlm.114</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> <em>Ibid</em>, hlm. 115</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> <em>Ibid</em>, hlm. 115-116</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> <em>Ibid</em>, hlm. 126</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> <em>Ibid</em>, hlm. 116</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> KH. Arwani Amin. AH, Hisyam, KH. Hisyam, KH. Sya’roni Ahmadi, <em>Al-Qur’an dan Terjemahannya</em>, Kudus: Menara, 1974, hlm. 28</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Yayasan penyelenggara penterjemah/ pentafsir Al-Qur’an, <em>Al-Qur’an dan Terjemahannya juz 1-30</em>, Surabaya: Mekar Surabaya, 2002, hlm. 131</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> IKAPI Lajnah pentashih  mushaf Al-Qur’an Departemen Agama RI Al-aliyy, <em>Al-Qur’an dan Terjemahan</em>, Bandung: Diponegoro, 2000, hlm. 458</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> <em>Ibid</em>, hlm. 258</p>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> DEPAG, <em>Al-Qur’an dan Terjemahannya</em>, Jakarta: hlm.409</p>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> IKAPI Lajnah pentashih  mushaf Al-Qur’an Departemen Agama RI Al-aliyy, <em>Al-Qur’an dan Terjemahan</em>, <em>Op-Cit</em>, hlm. 495</p>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> <em>Ibid,</em> hlm. 951</p>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a> DEPAG, <em>Al-Qur’an dan Terjemahannya</em>, <em>Op-Cit,</em> hlm. 1028</p>
<p><a href="#_ftnref14">[14]</a> <em>Ibid,</em> hlm. 587</p>
<p><a href="#_ftnref15">[15]</a> <em>Ibid</em>, hlm, 674</p>
<p><a href="#_ftnref16">[16]</a> <em>Ibid</em>, hlm, 157</p>
<p><a href="#_ftnref17">[17]</a> <em>Ibid,</em> hlm. 408</p>
<p><a href="#_ftnref18">[18]</a> Keputusan <em>Fatwa MUI No. 768/MUI/XII/1997,</em> <em>Ibid</em>, hlm.119</p>
<p><a href="#_ftnref19">[19]</a> Keputusan <em>Fatwa MUI No. 768/MUI/XII/1997,</em> <em>Ibid,</em></p>
<p><a href="#_ftnref20">[20]</a> Sayyid Sabiq, <em>Aqidah Islamiyah</em>, hlm. 268</p>
<p><a href="#_ftnref21">[21]</a> Keputusan <em>Fatwa MUI No. 768/MUI/XII/1997,Ibid,</em> hlm.125</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a>.M. Yuanda Zara, dkk, <em>Aliran-aliran Sesat di Indonesia</em>, Yogyakarta: Banyu Media, 2007, Cet. Ke-1, hlm.1</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a>.Haidar Nashir, <em>Agama dan Krisis Kemanusiaan Modern</em>, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998, hlm. 87</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a>.Ahmad Warson Munawir, <em>Al-Munawir: Kamus Arab-Indonesia</em>, Surabaya: Pustaka Progressif, Cetakan ke-7, 1997, hlm. 827</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a>M. Yuanda Zara, dkk, <em>Aliran-aliran Sesat di Indonesia</em>, <em>0p.Cit, hlm.2</em></p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a>HR. Abu Dawud pada hadist no.4596, HR. At-Tirmidzi dalam bab Iman, pada hadist no.2642, dia berkata bahwa hadisr ini berderajat hasan shahih. HR. Ibnu Maajah dalam bab <em>Al- Fitan</em> secara singkat, pada hadist no.3991. juga Ibnu Hibban sebagai yang ada dalam AL-Mawardi pada hadist no. 1834; HR. AL-Hakim, Dia menyatakan bahwa hadist ini shahih sesuai dengan syarat Muslim.</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> M. Yuanda Zara, dkk, <em>Aliran-aliran Sesat di Indonesia</em>, <em>0p.Cit, hlm.3</em></p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> <em>Ibid</em></p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> <em>Ibid</em></p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> <em>Ibid, hlm.4</em></p>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> <em>Ibid</em></p>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> <em>Ibid</em></p>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> <em>Ibid, hlm.5</em></p>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a><em> Ibid</em></p>
<p><a href="#_ftnref14">[14]</a>Harmoni, <em>Jurnal Multikultural dan Multireligius</em>,Jakarta: Puslitbang Kehidupan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama RI,2006, Volume V,hlm.9</p>
<p><a href="#_ftnref15">[15]</a>M. Yuanda Zara, dkk, <em>Aliran-aliran Sesat di Indonesia</em>,Op. Cit<em> , hlm.6 </em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asfuriahmad.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asfuriahmad.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asfuriahmad.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asfuriahmad.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/asfuriahmad.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/asfuriahmad.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/asfuriahmad.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/asfuriahmad.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asfuriahmad.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asfuriahmad.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asfuriahmad.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asfuriahmad.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asfuriahmad.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asfuriahmad.wordpress.com/66/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asfuriahmad.wordpress.com&amp;blog=8304576&amp;post=66&amp;subd=asfuriahmad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asfuriahmad.wordpress.com/2009/11/02/penyimpangan-atau-penyesatan-agama-oleh-ajaran-salamullah-lia-eden/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c978a72734be85dc6f9b3d6cb47d6db4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">asfuriahmad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TAHAJJUD SARANA PEMBINAAN DAN PEMBEKALAN PRIBADI</title>
		<link>http://asfuriahmad.wordpress.com/2009/10/15/tahajjud-sarana-pembinaan-dan-pembekalan-pribadi/</link>
		<comments>http://asfuriahmad.wordpress.com/2009/10/15/tahajjud-sarana-pembinaan-dan-pembekalan-pribadi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Oct 2009 08:00:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>asfuriahmad</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://asfuriahmad.wordpress.com/?p=58</guid>
		<description><![CDATA[بسم الله الرحمن الرحيم PENGANTAR Qiyamullail atau tahajjud yang juga disebut tarawih apabila dikerjakan pada bulan Ramadlan, kita yakini mempunyai manfaat besar dalam kehidupan muslim. Namun kita juga tidak memungkiri bahwa ibadah malam ini belum membudaya di tengah-tengah ummat. Karena banyak kesulitan menghadang kita ketika bermaksud menunaikannya. Kesulitan yang sering menghadang utuk bertahajjud lebih banyak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asfuriahmad.wordpress.com&amp;blog=8304576&amp;post=58&amp;subd=asfuriahmad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">بسم الله الرحمن الرحيم</p>
<h2><strong>PENGANTAR</strong></h2>
<p align="center">
<p>Qiyamullail atau tahajjud yang juga disebut tarawih apabila dikerjakan pada bulan Ramadlan, kita yakini mempunyai manfaat besar dalam kehidupan muslim. Namun kita juga tidak memungkiri bahwa ibadah malam ini belum membudaya di tengah-tengah ummat. Karena banyak kesulitan menghadang kita ketika bermaksud menunaikannya.</p>
<p>Kesulitan yang sering menghadang utuk bertahajjud lebih banyak bersumber dari diri sendiri dan ketidaktahuan manfaat yang ada dalam ibadah malam ini. Buku kecil ini disusun, sekedar untuk memberikan gambaran praktis, mengungkap nilai-nilai strategis serta menyingkap rahasia-rahasia tahajjud. Semoga dapat membangkitkan kesadaran kita untuk membudayakannya dalam kehidupan sehari-hari.Tentu saja, hanya dengan mengamalkannya sepenuh hati, kita baru akan dapat menikmati buah ibadah malam yang istimewa ini.</p>
<h3><strong> </strong></h3>
<h3><strong>KEUTAMAAN TAHAJJUD</strong></h3>
<p>Untuk mengetahui betapa mulianya ibadah tahajjud, cukuplah bagi kita menyimak perintah Allah kepada Nabi Muhammad SAW dalam ayat berikut :</p>
<p dir="rtl">z`ÏBur È@ø©9$# ô¤fygtFsù ¾ÏmÎ/ \&#8217;s#Ïù$tR y7©9 #Ó|¤tã br&amp; y7sWyèö7t y7/u $YB$s)tB #YqßJøt¤C ﴿79﴾</p>
<h4><em>Artinta: Dan pada sebagain malam hari bersembahyang tahajjud kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tampat yang terpuji </em>(Q.S Al-Isro’: 79)</h4>
<p>Meskipun berkenaan dengan ayat diatas mayoritas ulama salaf berpendapat bahwa tahajjud merupakan kewajiban tambahan khusus bagi Nabi Muhammad SAW. Namun kita sebagai ummatnya juga tetap dianjurkan untuk meneladani kehidupan beliau.</p>
<p>Kalau tahajjud bagi Nabi Muhammad SAW berfungsi untuk mendapatkan derajat mulia “maqomammahmuda” tempat dinama beliau akan dapat memohonkan syafaat kepada Allah bagi ummatnya pada hari Qiyamat, maka demikian pula bagi kita, posisi dan kedudukan mulai akan dapat kita gapai melalui jalan tahajjud ini.</p>
<p>Untuk mengetahui lebih jauh keutamaan tahajjud, kita mendapatkan bahwa ibadah ini juga merupakan ciri  khas orang-orang yang bertaqwa, seperti firmat allah dalam surah Ad-Dzariat  ayat 17 yaitu:</p>
<p dir="rtl">(#qçR%x. WxÎ=s% z`ÏiB È@ø©9$# $tB tbqãèyföku  ﴿17﴾</p>
<p><em>Artinya: “Mereka sedikit  sekali tidur diwaktu malam dan diakhir-akhir malam mereka memohon ampunan”.</em> (Q.S Ad-Dzariat:17).</p>
<p>Demikianlah gambaran ketekunan ibadah kaum salaf, mereka menghidupkan malam untuk munajat kepada Allah, mereka panjangkan ibadah itu sehingga saat sahur, untuk beristighfar. Dengan demikian jelas sedikit sekali waktu yang tersisa bagi mereka untuk beristirahat. Hal ini sangat terbalik dengan kondisi ummat saat yang suka tenggelam dalam tidur nyenyak sepanjang malam, kalaupun ada yang terbangun, itupun hanya sebagain kecil waktu malam yang mereka hidupkan. Untuk itu waktu sedikit ketika berjaga itu mestinya benar-benar dapat kita manfaatkan seefesien mungkin untuk bermunajat kepada Allah: “<em>Berbahagialah yang tidur ketika mengantuk dan selalu bertaqwa ketika terjaga (atsar shohabi)”</em>.</p>
<p>Kalau kita selidiki lebih jauh mengapa generasi salaf mampu menghidupkan malam, kita akan dapatkan jawabannya dalam ayat berikut :</p>
<p dir="rtl">4nû$yftFs? öNßgç/qãZã_ Ç`tã ÆìÅ_$ÒyJø9$# tbqããôt öNåk®5u $]ùöqyz $YèyJsÛur $£JÏBur öNßg»uZø%yu tbqà)ÏÿZã ﴿16﴾</p>
<p><em>Artinya: Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezki yang kami berikan. </em>(Q.S As-Sajdah: 16).</p>
<p>Maksudnya mereka tidak tidur di waktu Biasanya orang tidur untuk mengerjakan shalat malam. Takut akan siksaat Allah serta rasa rindu yang menjadi-jadi dengan pahala Allahlah yang telah mensuport mereka untuk bertahajjud semalaman, mereka jadikan tahajjud sebagai kebiasaan, hobby dan kebutuhan sehari-hari. Mereka yang demikian itulah yang termasuk ibadurrohman “<em>Dan orang yang mengisi malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka </em>(Al-Furqon : 64)<em>”</em>.</p>
<p>Maka sangat wajar bila orang-orang yang sholeh membuat tradiri tahajjud dalam agenda kehidupan mereka, karena mereka telah mengetahui dengan pasti  manfaat-manfaat yang tergantung di dalamnya, seperti sabda Rasulullah: Hendaknya kalian membiasakan qiyamullail, karena itu merupakan tradisi orang-orang sholeh sebelumnya, pendekat kepada Allah (Tuhanmu), pengapus kejelekan-kejelekanmu, pencegah dari dosa-dosa dan pengusir penyakit dari jasad. Rasulullah juga menjelaskan bahwa sholat sunnah yang paling utama setelah sholat fardlu adalah tahajjud (H.R. Muslim).</p>
<p>Akhirnya kita menyimpulkan bahwa tahajjud mempunyai pengaruh besar dalam menumbuhkan kegembiraan jiwa, optimisme, kekuatan batin dan percaya diri. Maka dari itu bila kita ingin  mempunyai jiwa yang tangguh jalan pengemblengannya tak lain  adalah qiyamullail. Sungguh tepat sabda Rasulullah  SAW: Ketahuilah bahwa sesungguhnya kemulyaan seseorang itu qiyamullail, dan harga dirinya adalah ketidak tergantungannya kepada orang lain.</p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong>RAHASIA QIYAMULLAIL</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p>Rahasia apa gerangan yang tersimpan dalam qiyamullail, sehingga Allah mempersiapkan dan membina pribadi Nabi Muhammad dengannya. Kita ketahui bahwa setelah turun perintah Allah SWT.</p>
<p dir="rtl">ÉOè% @ø©9$# wÎ) WxÎ=s%</p>
<p>Artinya: Bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya). (Q.S Al-Muzammi: 2).</p>
<p>Sembahyang malam ini mula-mula wajib, sebelum turun ayat ke 20 dalam surat ini. setelah turunnya ayat ke 20 ini hukumnya menjadi sunat. Rasulullah tergugah bahwa hidup beliau bukan untuk bermalas-malasan, bersantai-santai, tetapi hidup ini untuk bangkit dan berkarya. Maka beliaupun sejak saat itu bangun malam, bertahajjud hingga dipanggil kembali kepada Allah. Dan ketika istrinya Khodijah melihat beliau dalam kepayahan lalu berkata “Beristirahatlah dan tidurlah terlebih dahulu”. Maka beliau bersabda: “Masa untuk tidur telah berlalu wahai khodijah”. Ya, karena didepan tugas dan amanat berat telah menanti, jihad dan perjuangan panjang telah terbentang. Rosulullah bangun, bangkit, bertahajjud, berjuang, bekerja keras selama hidupnya, tidak pernah beristirahat, tidak pernah berhenti, beliau hidup tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi hidup untuk Allah, untuk perjuangan dakwah.</p>
<p>Kontinuitas qiyamullail dapat menjadi standar kwalitas kegigihan seseorang dalam berjuang. Karena mengemban amanat perjuangan sangatlah berat, berbagai macam tantangan yang sering tumbuh dari diri sendiri bermunculan; hasad, iri, dengki, nifaq, pamer, kemalasan, syahwat dan masih banyak lagi yang semua itu dapat ditaklukkan dengan qiyamullail.</p>
<p>Seorang pejuang mana mungkin akan mamapu melawan musuh kalau dia sendiri dikuasai oleh kemalasannya, ditundukkan oleh tidur dan dinginnya malam. Mestinya sebelum dia memerangi lawa, harus terlebih dahulu memerangi dan menguasai dirinya sendiri. Seorang pemimpin islam yang enggan menunaikan qiyamullail sulit untuk berhasil dalam kepemimpinannya.</p>
<p>Lebih jauh dari itu, seorang pejuang membutuhkan bekal, terutama bekal jiwa semangat ketentraman, optimisme, yang semua itu hanya akan dia dapatkan manakala ia dekat dengan Allah, karena itu Allah berfirmat:</p>
<p dir="rtl">¨bÎ) spy¥Ï©$tR È@ø©9$# }Ïd x©r&amp; $\«ôÛur ãPuqø%r&amp;ur ¸xÏ% ﴿6﴾</p>
<p>Artinya: Sesungguhnya bangun diwaktu malam itu adalah lebih tepat (untuk khusu’) dan bacaan diwaktu itu lebih berkenan (Q.S Al-Muzammil : 6).</p>
<p>Karena diwaktu malam gangguan banyak berkurang, suasana hening yang akan berpengaruh pada keheningan fikiran dan hati. Malam hari  memang waktu yang istimewa, sebagai ilustrasi berikut disebutkan beberapa kejadian penting yang terjadi pada malam hari :</p>
<ol>
<li>Turunnya Al-Qur’an</li>
</ol>
<p dir="rtl">!$¯RÎ) çm»oYø9tRr&amp; Îû 7&#8242;s#øs9 &gt;px.t»t6B 4 $¯RÎ) $¨Zä. z`ÍÉZãB ﴿3﴾</p>
<p>ِArtinya: Sesungguhnya kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan Sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. (Q.S Ad-Dukhan: 3).</p>
<ol>
<li>Peristiwa lailatul qodar, malam yang sangat utama karena lebih baik dari pada seribu malam bulan:</li>
</ol>
<p dir="rtl">ä&#8217;s#øs9 Íôs)ø9$# ×öy{ ô`ÏiB É#ø9r&amp; 9öky­ ﴿3﴾</p>
<p>Artinya: Lailatul  qodar itu lebih utama dari seribu bulan (Al-Qodr : 3)</p>
<p dir="rtl">z`»ysö6ß üÏ%©!$# 3uó r&amp; ¾ÍnÏö7yèÎ/ Wxøs9 ÆÏiB ÏÉfó¡yJø9$# ÏQ#tysø9$# n&lt;Î) ÏÉfó¡yJø9$# $|Áø%F{$# Ï%©!$# $oYø.t»t/ ¼çms9öqym ¼çmtÎã\Ï9 ô`ÏB !$oYÏG»t#uä 4 ¼çm¯RÎ) uqèd ßìÏJ¡¡9$# çÅÁt7ø9$# ﴿1﴾</p>
<p>Artinya: Maha suci Alla hyang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam (Q.S Al-Isro’: 1) dan masih banyak lagi.</p>
<p>Malam hari adalah waktu istimewa untuk berdo’a karena Allah menyediakan waktu istijabah untuk berdo’a: « Sesungguhnya dalam satu malam itu ada waktu yang tidak seorang muslim memanfaatkannya untuk berdo’a kepada Allah ta’ala tentang kebaikan dari urusan dunia dan akhirat kecuali Allah mengabulkan baginya. Dan hal itu ada pada setiap malam ».</p>
<p>Kalau kita sudah mengetahui rahasia-rahasia yang ada pada qiyamullail, maka tidak pantas bagi kita untuk menelantarkan keheningan malam hanya untuk mendengkur di atas kasur. Berkaitan dengan hal ini, dikisahkan bahwa Nabi Muhammad SAW diberitahu tentang seseorang yang tidur satu malam penuh hingga pagi, maka Nabi bersabda: « Itu adalah orang yang kedua telinganya dikencingi oleh syetan (Muttafaq alaih) ».</p>
<p>Dari kisah pendek ini terasa betapa leluasanya syetan menghinakan dan mempermainkan kita apa bila kita hanya tidur semalaman, sehingga ia dapat seenaknya membuang hajat di telinga kita.</p>
<p align="center"><strong>ADAB TAHAJJUD</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<ol>
<li>Bagi yang akan menunaikan sholat malam hendaknya berniat dahulu menjelang tidur:</li>
</ol>
<p dir="rtl">من أتى فراشه وهو ينوى أن يقوم فيصلي من الليل فغلبته  عينه حتى يصبح كبت له ما نوى وكان نومه صدقة عليه من ربه (النساء وابن ماجه)</p>
<p>Siapa yng mendatangi kasurnya, sedang ia berniat untuk bangun kemudian sholat pada malam itu, kemudian tertidur hingga pagi hari, maka telah tertulis baginya pahala yang ia niati, sedang tidurnya adalah shodaqoh Tuhan kepadanya (HR. Nasai dan Ibnu Majah).</p>
<ol>
<li>Segera berdzikir kepada Allah apabila bangun di tengah malam, kemudian berwudzu. Diantara dzikir yang dibaca adalah :</li>
</ol>
<p dir="rtl">الحمد لله الزى أحيانا بعد ما أماتنـا و اليـه النشـور</p>
<p>Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami sesudah mati kami, kepadaNya tempat kembali.</p>
<p>Kemudian melanjutkan dengan membaca sepuluh ayat terakhir dari surah Ali Imron, dari ayat :</p>
<p dir="rtl">ان في خلق ا لسماواث والأرض &#8230; ا لخ</p>
<ol>
<li>Membuka shalat tali dengan dua rakaat ringan (pendek), kemudian shalat lail sepuasnya  :</li>
</ol>
<p dir="rtl">ازاقامااحدكم من الليل فليفتح صلا ته بركعتين خفيفتنين [رواه مسـلم ]</p>
<p>Apabila salah seorang diantara kamu bangun suatu malam (untuk shalat) maka hendaklah ia membuka shalatnya dengan dua rakaat ringan (HR. Muslim).</p>
<ol>
<li>Membangunkan anggauta keluarga untuk menunaikan shalat lail bersamanya.</li>
<li>Boleh melaksanakan shalat lail dengan dua rakaatan, kemudian ditutup dengan witir satu rakaat atau tiga rakaat  :</li>
</ol>
<p dir="rtl">صلاة ا لليل مثنى مثتى</p>
<p>Shalat malam itu dua rakaat – dua rakaat (Muttafaq ‘alaih).</p>
<p>Atau dengan empat rakaaat salam, kemdian ditutup dengan witir tiga rakaat, seperti dalam hadits ‘Aisyah r.a.</p>
<p dir="rtl">وعن عا ءـشة رضي الله عنهما قا لت : ما كان رسول الله يزيد  في  رضان و لا في غيره علي احدى عشرة ركعة يصلى أ ربعا فلا تنسأل عن حسنهن و طولـهن ثم يصلى اربعا فلا تسأل عن حسنهن وطولهن ثم يصلى ثلا ثا  فقلت يا رسول لله أتنام قبل أن تو تر ؟ فقال</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asfuriahmad.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asfuriahmad.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asfuriahmad.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asfuriahmad.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/asfuriahmad.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/asfuriahmad.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/asfuriahmad.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/asfuriahmad.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asfuriahmad.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asfuriahmad.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asfuriahmad.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asfuriahmad.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asfuriahmad.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asfuriahmad.wordpress.com/58/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asfuriahmad.wordpress.com&amp;blog=8304576&amp;post=58&amp;subd=asfuriahmad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asfuriahmad.wordpress.com/2009/10/15/tahajjud-sarana-pembinaan-dan-pembekalan-pribadi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c978a72734be85dc6f9b3d6cb47d6db4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">asfuriahmad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>IBADAH KEPADA ALLAH</title>
		<link>http://asfuriahmad.wordpress.com/2009/10/13/hidup-untuk-ibadah/</link>
		<comments>http://asfuriahmad.wordpress.com/2009/10/13/hidup-untuk-ibadah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Oct 2009 09:33:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>asfuriahmad</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://asfuriahmad.wordpress.com/?p=40</guid>
		<description><![CDATA[Untuk menyambut seruan Allah SWT. Dalam menunaikan ibadah shalat, marilah kita bersama-sama berusaha meningkatkan kadar iman kita untuk semakin memantapkan taqwa dan bakti kita kepada Allah SWT. Karena pada hakekatnya, disisi-Nya nantinya lah taqwa seseorang yang menjadi ukuran mulianya. Ketika datang di tengah-tengah orang kafir quraisy, islam begitu mengejutkan, mencengangkan, dan tampak sangat asing bagi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asfuriahmad.wordpress.com&amp;blog=8304576&amp;post=40&amp;subd=asfuriahmad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p dir="ltr">Untuk menyambut seruan Allah SWT. Dalam menunaikan ibadah shalat, marilah kita bersama-sama berusaha meningkatkan kadar iman kita untuk semakin memantapkan taqwa dan bakti kita kepada Allah SWT. Karena pada hakekatnya, disisi-Nya nantinya lah taqwa seseorang yang menjadi ukuran mulianya.</p>
<p dir="ltr">Ketika datang di tengah-tengah orang kafir quraisy, islam begitu mengejutkan, mencengangkan, dan tampak sangat asing bagi kaum kafir. Betapa tidak, orang kafir quraisy ber-Tuhan banyak, penyembah patung yang mereka buat sendiri, dan hanya mengandalkan kekuatan untuk mendapatkan kursi kekuasaan. Mereka merasa dirinya sebagai manusia super, berada diatas luka dan derita manusia lemah dan miskin, dan sering memperlakukan wanita sesuka hatinya. Tiba-tiba mereka di kejutkan oleh datangnya Agama yang mengajarkan bahwa <em>&#8220;Tiada Tuhan yang wajib disembah selain Allah yang Maha Esa&#8221;.</em> Suatu ajaran yang mengatakan bahwa kekuatan bukanlah cara terpuji untuk memperoleh kekuasaan, tetapi hendaklah kekuasaan didirikan atas musyawarah dan keadilan.</p>
<p dir="ltr">Demikianlah Islam menjelaskan, tiada perbedaan kelas antara manusia yang satu dengan manusia lainnya, kecuali dibedakan oleh <strong>iman </strong>dan <strong>taqwanya,</strong> dan islam adalah suatu ajaran yang manempatkan kaum wanita dalam posisi mulia sebagai mahkluk yang di muliakan-Nya.</p>
<p dir="ltr">Ketika pertama kali mengenal Islam, orang kafir quraisya terkejut dan tampak asing. Hal ini sebenarnya telah diungkapkan Nabi saw, bahwa pada setiap kurun waktu akan kita temukan orang yang bersikap seperti itu, bahkan mungkin saat ini pun sikap seperti itu sudah ada.</p>
<p dir="ltr">Sabda Rasullullah saw. :</p>
<p dir="rtl">بدأ الإسلام غريبا وسيعود غريبا فطوبى للغرباء (رواه ابن ماجه)</p>
<p dir="ltr"><em>Artinya: &#8220;Pada mulanya islam itu asing dan akan kembali seperti semula yaitu asing, maka gembiralah orang –orang yang dianggap asing&#8221;. (Riwayat ibnu majah).</em></p>
<p dir="ltr">Bila kita perhatikan, sikap orang yang merasa asing dan tidak senang terhadap Islam, antara zaman dulu dan sekarang, hanya sedikit saja perbedaanya. Dahulu pada zaman jahiliyah, kedatangan  ajaran yang dianggap asing dihadapi dengan sikap yang konfrontatif setara terang-rerangan, mereka melakukan agresi terhadap pengikut Nabi  secara keji dan biadab. Akan tetapi, sekarang sikap ketidaksukaan mereka, dengan cara agresif, mereka juga melakukan cara akomodatif, bahkan dengan cara licik dengan propaganda menuduh islam sebagai agama radikal dan sarang teroris. Mereka tunjukkan pula dengan cara &#8220;<em>lempar batu sembunyi tangan&#8221;.</em> Umat islam atau label keislaman, mereka jadikan alat untuk menghancurikan islam dan para pemeluknya.</p>
<p dir="ltr">Mereka terus berusaha sekuat tenaga agar kita semakin lama semakin jauh dengan ajaran Islam, dengan harapan dapat memasukkan misinya. Usahanya itu antara lain menanamkan rasa rendah diri, rasa kurang bertanggung jawab, merasa malu mengatakan dan memperlihatkan bahwa dirinya muslim. Akhirnya sering terjadi, bila ada pihak lain yang merendahkan kebesaran islam, dengan latah mereka ikut merendahkan keagungan islam.</p>
<p dir="ltr">Kepada kaum muslimin mereka tanamkan paham kebarat-batan. Suatu kecenderungan yang mendewakan barat tanpa reserve. Nanti kaum muslimin tidak bisa lagi membedakan mana wertern dan mana pokoknya, kalau menurut barat itu adalah baik, baik pula menurut mereka. Kalau menurut barat itu adalah jelek, maka mereka pun beranggapan jelek. Maju dan mundurnya suatu peradaban menusia selalu mereka ukur dengan &#8220;kaca mata Barat&#8221;.</p>
<p dir="ltr">Bila ada pertanyaan, apakah kita tidak boleh mencontoh barat?  jawa banya, bukan boleh atau tidaknya kita memetik sesuatu dari barat, tetapi apakah semua yang dilakukan barat itu sesuai dengan norma islam atau tidak! Bila sesuai…. Silahkan !  dalam Islam tidak ada istilah barat atau timur. Yang menjadi masalah adalah apakah cara itu dibenarkan menurut ajaran islam atau tidak. Ketentuan dan noram suci ajaran islam handaknya tidak di jadikan nomor yang kesekian. Kita harus memprioritaskannya, sesuai dengan ikrar kita kepada Allah, bahwa apapun yang kita lakukan selalu atas dasar firman Allah:</p>
<p dir="rtl">إنّ صلاتى ونسكى ومحياى ومماتى لله ربّ العالمين</p>
<p dir="ltr"><em>Artinya: &#8220;Sesungguhnya sholat ku, ibahahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam&#8221;. (q.s. Al-An&#8217;am; 162).</em></p>
<p dir="ltr">Mereka berusaha dengan cara memanfaatkan setiap crlah, kesempatan dan kelemahan yang ada dalam tubuh ummat islam, antara lain memanfaatkan konflik kecil yang ada dalam tubuh ummat, mereka hembuskan semangat perbedaan yang bukan prinsip. Mereka sibukkan ummat islam dengan perdebatan disekitar khilafiyah menjadi tema besar. Tujuan mereka adalah menutup kesempatan bagi ummat islam untuk membenahi diri menjadi ummat yang bersatu dan kuat.</p>
<p dir="ltr">Sabda Nabi saw pada ujung kalimat hadits &#8221; Berhagia lah orang yag dianggap asing&#8221; yaitu orang yang senantiasa konsisten dan konsekuen dengan ajarannya sepenuh hati. Bahagia orang semacam ini Allah akan melimpahkan rahmat kebahagiaan :</p>
<p dir="rtl">الذين آمنوا وعملوا الصالحات طوبىلهم وحسن مآت</p>
<p dir="ltr"><em>Artinya; &#8220;Orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, bagi mereka keebahagianlah dan tempat kembali yang baik (Q.S. Ar-Ra&#8217;du 29).</em></p>
<p dir="ltr">Sebaliknya bagi mereka yang sekedar berpura-pura terhadap Islam, tidak simpati dengan kegiatan keislaman, membenci orang yang menyerukan ajaran Islam, mereka itu hanya mencari keuntungan duniawi dengan memanfaatkan lebel Islam. Karena orang yang demikian pada hakikatnya menentang Allah secara lantang. Ia identik dengan musuh Allah, kelak ia akan berhadapan langsung dengan Allah. Percayalah dengan seyakin-yakinnya, cepat atau lambat, siapa pun orangnya, semua yang memusuhi Allah pasti akan hancur.</p>
<p dir="rtl">من كان عدوّا لله وملائكته ورسوله وجبريل وميكال فإن الله عدوّ للكافرين</p>
<p dir="ltr"><em>Artinya; &#8220;Barang siapa menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.(al-Baqoroh 98)</em></p>
<p dir="rtl">كم أهلكننا من قبلهم من قرن فنادوا ولات حين مناص</p>
<p dir="ltr"><em>Artinya&#8217; &#8220;Betapa banyaknya ummat sebelum mereka yang telah kami binasakan, lalu mereka meminta tolong, padahal (waktu itu) bukanlah bukanlah saat untuk lari melepaskan diri&#8221;. (Shod : 3)</em></p>
<p dir="ltr">Pada kesempatan yang mulia ini mari kita mawaas diri, berdo&#8217;a semoga kita menjadi manusia yang senantiasa ridlo, magfiroh, dan rahmat Allah swt Amiin!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asfuriahmad.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asfuriahmad.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asfuriahmad.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asfuriahmad.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/asfuriahmad.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/asfuriahmad.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/asfuriahmad.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/asfuriahmad.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asfuriahmad.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asfuriahmad.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asfuriahmad.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asfuriahmad.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asfuriahmad.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asfuriahmad.wordpress.com/40/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asfuriahmad.wordpress.com&amp;blog=8304576&amp;post=40&amp;subd=asfuriahmad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asfuriahmad.wordpress.com/2009/10/13/hidup-untuk-ibadah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c978a72734be85dc6f9b3d6cb47d6db4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">asfuriahmad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jabir Ibn Haiyan</title>
		<link>http://asfuriahmad.wordpress.com/2009/10/06/jabir-ibn-haiyan/</link>
		<comments>http://asfuriahmad.wordpress.com/2009/10/06/jabir-ibn-haiyan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Oct 2009 05:15:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>asfuriahmad</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://asfuriahmad.wordpress.com/?p=33</guid>
		<description><![CDATA[Jabir Ibn Haiyan Bapa Ilmu Kimia Jabir Ibn Haiyan (750-803 Masihi), yang lebih akrab dipanggil &#8220;Si Geber dari Abad Pertengahan&#8221; juga dikenali sebagai &#8220;Bapa Ilmu Kimia Dunia&#8221;. Beliau yang nama penuhnya Abu Musa Jabir Ibn Hayyan, telah berhasil menempatkan dirinya sebagai ilmuwan terkemuka sejak dia mengamalkan bidang perubatan dan alkimia di Kufah (sekarang Iraq) di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asfuriahmad.wordpress.com&amp;blog=8304576&amp;post=33&amp;subd=asfuriahmad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">Jabir Ibn Haiyan</p>
<p style="text-align:center;">Bapa Ilmu Kimia</p>
<p><em>Jabir Ibn Haiyan (750-803 Masihi), yang lebih akrab </em></p>
<p><em>dipanggil &#8220;Si Geber dari Abad Pertengahan&#8221; juga dikenali </em></p>
<p><em>sebagai &#8220;Bapa Ilmu Kimia Dunia&#8221;. Beliau yang nama </em></p>
<p><em>penuhnya Abu Musa Jabir Ibn Hayyan, telah berhasil </em></p>
<p><em>menempatkan dirinya sebagai ilmuwan terkemuka sejak </em></p>
<p><em>dia mengamalkan bidang perubatan dan alkimia di Kufah </em></p>
<p><em>(sekarang Iraq) di sekitar tahun 776 Masihi yang silam.</em></p>
<p>Pada peringkat awal kerjaya Abu Musa Jabir Ibn Hayyan, beliau pernah berguru pada Barmaki Vizier iaitu semasa zaman Khalifah Abbasiah pimpinan Harun Ar-Rasyid.</p>
<p>Sumbangan terbesar beliau ialah dalam lapangan ilmu kimia. Beliau cukup terkenal kerana hasil penulisan yang melebihi daripada seratus risalah yang telah diabadikan sehingga kini. Terdapat sebanyak 22 risalah yang antaranya berkaitan dengan alkimia (Al-Kimiya dari bahasa Arab) dan ilmu kimia.</p>
<p>Beliaulah yang memperkenalkan model penelitian dengan cara eksperimen didunia alkimia. Maknanya, beliau yang menjana momentum bagi perkembangan ilmu kimia moden.</p>
<p>Jabir banyak mengabdikan dirinya dengan melakukan eksperimen dan pengembangan kaedah untuk mencapai kemajuan dalam bidang penyelidikan. Beliau mencu-rahkan daya upayanya pada proses pengembangan kaedah asas ilmu kimia dan kajian terhadap pelbagai mekanisme tindak balas kimia. Jadi, beliau mengembangkan ilmu kimia sebagai cabang ilmu alkimia.</p>
<p>Beliau menegaskan bahawa kuantiti yang tepat daripada bahan kimia saling berhubungan dengan wujudnya tindak balas kimia yang akan berlaku. Oleh sebab itu, bolehlah dikatakan bahawa Jabir telah meletakkan dasar ke atas hukum nisbah tetap.</p>
<p>Sumbangan yang paling asas oleh Jabir dalam bidang ilmu kimia termasuk juga dalam bidang penyempurnaan pendekatan saintifik, seperti pada proses penghabluran, penyulingan, kalsinasi (penukaran logam kepada oksidanya dengan cara pembakaran), pejalwap dan penyejatan serta pengembangan terhadap beberapa peralatan untuk menjalankan eksperimen itu.</p>
<p>Pencapaian praktis utama yang disumbangkan oleh beliau ialah penemuan bahan mineral dan asid, yang telah pun dipersiapkan pertama kali dalam penelitian tentang alembik (Anbique). Rekaannya terhadap alembik membuatkan proses penyulingan menjadi lebih mudah dan sistematik.</p>
<p>Antara beberapa kejayaannya yang lain dalam bidang kimia, salah satunya ialah dalam penyediaan asid nitrik, hidroklorik, sitrik, dan tartarik. Penekanan Jabir dalam bidang eksperimen sistematik ini diketahui umum tidak ada duanya didunia.</p>
<p>Oleh sebab itulah, mengapa Jabir diberi kehormatan sebagai &#8220;Bapa Ilmu Kimia Moden&#8221; oleh rakan sejawatnya diseluruh dunia. Bahkan dalam tulisan Max Mayerhaff, disebutkan bahawa jika ingin mencari susur galur perkembangan ilmu kimia di Eropah maka bolehlah dijejaki secara langsung pada karya-karya Jabir Ibnu Haiyan.</p>
<p>Tegasnya, Jabir merupakan seorang pelopor dalam beberapa bidang pengembangan ilmu kimia gunaan. Sumbangan beliau termasuk juga dalam pembangunan keluli, penyediaan bahan-bahan logam, bahan antikarat, tinta emas, penggunaan bijih mangan dioksida untuk pembuatan kaca, bahan pengering pakaian, dan penyamakan kulit.</p>
<p>Sumbangan beliau juga pada menyediakan pelapisan bahan anti air pada pakaian, serta campuran bahan cat, dan gris. Selain itu, beliau juga mengembangkan teknik peleburan emas dengan menggunakan bahan aqua regia.</p>
<p>Idea eksperimen Jabir itu sekarang telah menjadi dasar untuk mengklasifikasikan unsur-unsur kimia, terutamanya pada bahan logam, bukan logam, dan penguraian bahan kimia. Beliau telah merumuskan tiga bentuk berbeza daripada bahan kimia berdasarkan unsur-unsurnya:</p>
<p>Cecair (spirit), yakni yang mempengaruhi pengewapan pada proses pemanasan, seperti pada bahan kapur barus (camphor), arsenik, dan ammonium klorida. Logam, seperti emas, perak, timah, tembaga, besi. Bahan campuran, yang boleh ditukar menjadi serbuk.</p>
<p>Pada abad pertengahan, risalah-risalah Jabir dalam bidang ilmu kimia &#8211; termasuk kitabnya yang masyhur, Kitab Al-Kimya dan Kitab Al-Sab&#8217;een, telah diterjemahkan ke bahasa Latin. Bahkan terjemahan Kitab Al-Kimya telah diterbitkan oleh orang Inggeris yang bernama Robert Chester pada tahun 1444, dengan judul The Book of the Composition of Alchemy.</p>
<p>Buku kedua, Kitab Al-Sab&#8217;een diterjemahkan juga oleh Gerard dari Cremona. Berthelot pula menterjemahkan  beberapa  buku beliau, yang antaranya dikenali dalam judul Book of Kingdom, Book of the Balances, dan Book of Eastern Mercury.</p>
<p>Berikutnya pada tahun 1678, seorang berbangsa Inggeris, iaitu Richard Russel mengalihbahasakan karya Jabir yang lain dengan judul Sum of Perfection. Berbeza dengan pengarang sebelumnya, Richardlah yang pertama kali menyebut Jabir dengan sebutan Geber. Dialah yang memuji Jabir sebagai seorang pendeta Arab dan juga ahli falsafah.</p>
<p>Buku ini kemudiannya menjadi sangat popular di Eropah selama beberapa abad lamanya dan telah member! impak dan pengaruh yang cukup besar kepada evolusi ilmu kimia moden. Istilah alkali, pertama kali ditemukan oleh Jabir. Sungguhpun begitu, daripada semua karyanya, hanya sedikit sahaja yang telah diterjemahkan. Sebahagian besar karyanya tetap kekal dalam bahasa Arab.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asfuriahmad.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asfuriahmad.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asfuriahmad.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asfuriahmad.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/asfuriahmad.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/asfuriahmad.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/asfuriahmad.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/asfuriahmad.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asfuriahmad.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asfuriahmad.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asfuriahmad.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asfuriahmad.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asfuriahmad.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asfuriahmad.wordpress.com/33/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asfuriahmad.wordpress.com&amp;blog=8304576&amp;post=33&amp;subd=asfuriahmad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asfuriahmad.wordpress.com/2009/10/06/jabir-ibn-haiyan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c978a72734be85dc6f9b3d6cb47d6db4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">asfuriahmad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ibn Sina</title>
		<link>http://asfuriahmad.wordpress.com/2009/10/06/ibn-sina/</link>
		<comments>http://asfuriahmad.wordpress.com/2009/10/06/ibn-sina/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Oct 2009 04:29:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>asfuriahmad</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://asfuriahmad.wordpress.com/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[Ibn Sina Ibnu Sina merupakan doktor Islam yang terulung. Sumbangannya dalam bidang perubatan bukan sahaja diperakui oleh dunia Islam tetapi juga oleh para sarjana Barat. Nama sebenar Ibnu Sina ialah Abu Ali al-Hussian Ibnu Abdullah. Tetapi di Barat, beliau lebih dikenali sebagai Avicenna. Ibnu Sina dilahirkan pada tahun 370 Hijrah bersamaan dengan 980 Masihi. Pengajian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asfuriahmad.wordpress.com&amp;blog=8304576&amp;post=25&amp;subd=asfuriahmad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ibn Sina</p>
<p>Ibnu Sina merupakan doktor Islam yang terulung. Sumbangannya dalam bidang perubatan bukan sahaja diperakui oleh dunia Islam tetapi juga oleh para sarjana Barat. Nama sebenar Ibnu Sina ialah Abu Ali al-Hussian Ibnu Abdullah. Tetapi di Barat, beliau lebih dikenali sebagai Avicenna.</p>
<p>Ibnu Sina dilahirkan pada tahun 370 Hijrah bersamaan dengan 980 Masihi. Pengajian peringkat awalnya bermula di Bukhara dalam bidang bahasa dan sastera. Selain itu, beliau turut mempelajari ilmu-ilmu lain seperti geometri, logik, matematik, sains, fiqh, dan perubatan.</p>
<p>Walaupun Ibnu Sina menguasai pelbagai ilmu pengetahuan termasuk falsafah tetapi beliau lebih menonjol dalam bidang perubatan sama ada sebagai seorang doktor ataupun mahaguru ilmu tersebut.</p>
<p>Ibnu Sina mula menjadi terkenal selepas berjaya menyembuhkan penyakit Putera Nub Ibn Nas al-Samani yang gagal diubati oleh doktor yang lain. Kehebatan dan kepakaran dalam bidang perubatan tiada tolok bandingnya sehingga beliau diberikan gelaran al-Syeikh al-Rais (Mahaguru Pertama).</p>
<p>Kemasyhurannya melangkaui wilayah dan negara Islam. Bukunya Al Qanun fil Tabib telah diterbitkan diRom pada tahun 1593 sebelum dialihbahasakan ke dalam bahasa Inggeris dengan judul Precepts of Medicine. Dalam jangka masa tidak sampai 100 tahun, buku itu telah dicetak ke dalam 15 buah bahasa. Pada abad ke-17, buku tersebut telah dijadikan sebagai bahan rujukan asas diuniversiti-universiti Itali dan Perancis. Malahan sehingga abad ke-19, bukunya masih diulang cetak dan digunakan oleh para pelajar perubatan.</p>
<p>Ibnu Sina juga telah menghasilkan sebuah buku yang diberi judul Remedies for The Heart yang mengandungi sajak-sajak perubatan. Dalam buku itu, beliau telah menceritakan dan menghuraikan 760 jenis penyakit bersama dengan cara untuk mengubatinya. Hasil tulisan Ibnu Sina sebenarnya tidak terbatas kepada ilmu perubatan sahaja. Tetapi turut merangkumi bidang dan ilmu lain seperti metafizik, muzik, astronomi, philologi (ilmu bahasa), syair, prosa, dan agama.</p>
<p>Penguasaannya dalam pelbagai bidang ilmu itu telah menjadikannya seorang tokoh sarjana yang serba boleh. Beliau tidak sekadar menguasainya tetapi berjaya mencapai tahap zenith iaitu puncak kecemerlangan tertinggi dalam bidang yang diceburinya.</p>
<p>Di samping menjadi zenith dalam bidang perubatan, Ibnu Sina juga menduduki ranking yang tinggi dalam bidang ilmu logik sehingga digelar guru ketiga. Dalam bidang penulisan, Ibnu Sina telah menghasilkan ratusan karya termasuk kumpulan risalah yang mengandungi hasil sastera kreatif.</p>
<p>Perkara yang lebih menakjubkan pada Ibnu Sina ialah beliau juga merupakan seorang ahli falsafah yang terkenal. Beliau pernah menulis sebuah buku berjudul al-Najah yang membicarakan persoalan falsafah. Pemikiran falsafah Ibnu Sina banyak dipengaruhi oleh aliran falsafah al-Farabi yang telah menghidupkan pemikiran Aristotle. Oleh sebab itu, pandangan perubatan Ibnu Sina turut dipengaruhi oleh asas dan teori perubatan Yunani khususnya Hippocrates.</p>
<p>Perubatan Yunani berasaskan teori empat unsur yang dinamakan humours iaitu darah, lendir (phlegm), hempedu kuning (yellow bile), dan hempedu hitam (black bile). Menurut teori ini, kesihatan seseorang mempunyai hubungan dengan campuran keempat-empat unsur tersebut. Keempat-empat unsur itu harus berada pada kadar yang seimbang dan apabila keseimbangan ini diganggu maka seseorang akan mendapat penyakit.</p>
<p>Setiap individu dikatakan mempunyai formula keseimbangan yang berlainan. Meskipun teori itu didapati tidak tepat tetapi telah meletakkan satu landasan kukuh kepada dunia perubatan untuk mengenal pasti punca penyakit yang menjangkiti manusia. Ibnu Sina telah menapis teori-teori kosmogoni Yunani ini dan mengislamkannya.</p>
<p>Ibnu Sina percaya bahawa setiap tubuh manusia terdiri daripada empat unsur iaitu tanah, air, api, dan angin. Keempat-empat unsur ini memberikan sifat lembap, sejuk, panas, dan kering serta sentiasa bergantung kepada unsur lain yang terdapat dalam alam ini. Ibnu Sina percaya bahawa wujud ketahanan semula jadi dalam tubuh manusia untuk melawan penyakit. Jadi, selain keseimbangan unsur-unsur yang dinyatakan itu, manusia juga memerlukan ketahanan yang kuat dalam tubuh bagi mengekalkan kesihatan dan proses penyembuhan.</p>
<p>Pengaruh pemikiran Yunani bukan sahaja dapat dilihat dalam pandangan Ibnu Sina mengenai kesihatan dan perubatan, tetapi juga bidang falsafah. Ibnu Sina berpendapat bahawa matematik boleh digunakan untuk mengenal Tuhan. Pandangan seumpama itu pernah dikemukakan oleh ahli falsafah Yunani seperti Pythagoras untuk menghuraikan mengenai sesuatu kejadian. Bagi Pythagoras, sesuatu barangan mempunyai angka-angka dan angka itu berkuasa di alam ini. Berdasarkan pandangan itu, maka Imam al-Ghazali telah menyifatkan fahaman Ibnu Sina sebagai sesat dan lebih merosakkan daripada kepercayaan Yahudi dan Nasrani.</p>
<p>Sebenarnya, Ibnu Sina tidak pernah menolak kekuasaan Tuhan. Dalam buku An-Najah, Ibnu Sina telah menyatakan bahawa pencipta yang dinamakan sebagai &#8220;Wajib al-Wujud&#8221; ialah satu. Dia tidak berbentuk dan tidak boleh dibahagikan dengan apa-apa cara sekalipun. Menurut Ibnu Sina, segala yang wujud (mumkin al-wujud) terbit daripada &#8220;Wajib al-Wujud&#8221; yang tidak ada permulaan.</p>
<p>Tetapi tidaklah wajib segala yang wujud itu datang daripada Wajib al-Wujud sebab Dia berkehendak bukan mengikut kehendak. Walau bagaimanapun, tidak menjadi halangan bagi Wajib al-Wujud untuk melimpahkan atau menerbitkan segala yang wujud sebab kesempurnaan dan ketinggian-Nya.</p>
<p>Pemikiran falsafah dan konsep ketuhanannya telah ditulis oleh Ibnu Sina dalam bab &#8220;Himah Ilahiyyah&#8221; dalam fasal &#8220;Tentang adanya susunan akal dan nufus langit dan jirim atasan.</p>
<p>Pemikiran Ibnu Sina ini telah rnencetuskan kontroversi dan telah disifatkan sebagai satu percubaan untuk membahaskan zat Allah. Al-Ghazali telah menulis sebuah buku yang berjudul Tahafat al&#8217;Falasifah (Tidak Ada Kesinambungan Dalam Pemikiran Ahli Falsafah) untuk membahaskan pemikiran Ibnu Sina dan al-Farabi.</p>
<p>Antara percanggahan yang diutarakan oleh al-Ghazali ialah penyangkalan terhadap kepercayaan dalam keabadian planet bumi, penyangkalan terhadap penafian Ibnu  Sina dan al-Farabi mengenai pembangkitan jasad manusia dengan perasaan kebahagiaan dan kesengsaraan di syurga atau neraka.</p>
<p>Walau apa pun pandangan yang dikemukakan, sumbangan Ibnu Sina dalam perkembangan falsafah Islam tidak mungkin dapat dinafikan. Bahkan beliau boleh dianggap sebagai orang yang bertanggungjawab menyusun ilmu falsafah dan sains dalam Islam. Sesungguhnya, Ibnu Sina tidak sahaja unggul dalam bidang perubatan tetapi kehebatan dalam bidang falsafah mengatasi gurunya sendiri iaitu al-Farabi.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asfuriahmad.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asfuriahmad.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asfuriahmad.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asfuriahmad.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/asfuriahmad.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/asfuriahmad.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/asfuriahmad.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/asfuriahmad.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asfuriahmad.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asfuriahmad.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asfuriahmad.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asfuriahmad.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asfuriahmad.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asfuriahmad.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asfuriahmad.wordpress.com&amp;blog=8304576&amp;post=25&amp;subd=asfuriahmad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asfuriahmad.wordpress.com/2009/10/06/ibn-sina/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c978a72734be85dc6f9b3d6cb47d6db4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">asfuriahmad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ibn Qayyim</title>
		<link>http://asfuriahmad.wordpress.com/2009/10/06/ibn-qayyim/</link>
		<comments>http://asfuriahmad.wordpress.com/2009/10/06/ibn-qayyim/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Oct 2009 04:17:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>asfuriahmad</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://asfuriahmad.wordpress.com/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[Ibn Qayyim Menghuraikan Falsafah Ekonomi Islam. Ibn Qayyim al-Jawziyyah (691/1292 &#8211; 751/1350) bukanlah tokoh yang asing dalam kalangan orang Islam, tetapi ramai yang tidak tahu pemikiran dan sumbangannya dalam falsafah ekonomi Islam. Ibn Qayyim banyak membincangkan konsep kekayaan dan kemiskinan, ekonomi dan zakat, konsep faedah, riba al-fadi dan riba al-nasiiah, dan mekanisme pasaran. Ibn Qayyim [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asfuriahmad.wordpress.com&amp;blog=8304576&amp;post=22&amp;subd=asfuriahmad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">Ibn Qayyim</p>
<p style="text-align:center;">Menghuraikan Falsafah Ekonomi Islam.</p>
<p>Ibn Qayyim al-Jawziyyah (691/1292 &#8211; 751/1350) bukanlah tokoh yang asing dalam kalangan orang Islam, tetapi ramai yang tidak tahu pemikiran dan sumbangannya dalam falsafah ekonomi Islam. Ibn Qayyim banyak membincangkan konsep kekayaan dan kemiskinan, ekonomi dan zakat, konsep faedah, riba al-fadi dan riba al-nasiiah, dan mekanisme pasaran.</p>
<p>Ibn Qayyim atau nama asalnya Shams al-Din Abu &#8216;Abd Allah Muhammad bin Abu Bakr bin Sa&#8217;ad, lahir pada 7 Safar 691H bersamaan 9 Januari 1292M di Damsyik. Beliau meninggal dunia pada tahun 751H/1350M ditempat yang sama. Beliau dibesarkan dalam keluarga yang mementingkan ilmu pengetahuan. Ayahnya merupakan guru pertama yang mengajar Ibn Qayyim tentang ilmu-ilmu asas Islam termasuk ilmu al-fara&#8217;id.</p>
<p>Sebenarnya, beliau telah menuntut pelbagai bidang pengajian dengan beberapa orang ulama terkenal pada waktu remajanya. Antara guru beliau ialah Qadi Sulayman bin Hamzah (711H/1311M), Shaykh Abu Bakr (718H/1318M), al-Majd al-Tunisi (718 H), Abu al-Fath al-Ba&#8217;li (709H), al- Saffi al-Hindi (715H), al-Taqi al-Sulayman, Abu Bakr bin &#8216;Abd al-Da&#8217;im (718H), Abu Basr bin al-Shirazi (723H), &#8216;Isa al-Mut&#8217;im (719H), Isma&#8217;il Maktum (716H), dan Ibn Taymiyyah (661 &#8211; 728/1263 &#8211; 1328).</p>
<p>Antara bidang pengajian yang dipelajari daripada mereka ialah tafsir al-Quran, hadith, usul al-fiqh, dan fiqh. Kesungguhan dan ketekunan Ibn Qayyim mempelajari ilmu dan pelbagai bidang, akhirnya menjadikan beliau terkenal sebagai seorang tokoh dalam bidang fiqh, usul al-fiqh, tafsir, bahasa Arab, ilmu kalam, dan hadith. Malah menurut Ibn &#8216;Imad, Ibn Qayyim merupakan seorang yang alim dalam bidang tasawuf.</p>
<p>Ibn Qayyim sangat terkenal sebagai seorang tokoh ilmuwan pada zamannya dan dapat menguasai pelbagai bidang ilmu. Beliau merupakan salah seorang faqih yang mempunyai autoriti dalam Mazhab Hambali. Ada sesetengah Ulama Sufi menggelarkannya sebagai sufi agong. Beliau juga mempunyai personaliti dan peribadi yang baik yang amat sukar ditandingi oleh orang lain yang semasa dengannya. Ibn Kathir (774H/1373M), salah seorang anak muridnya pernah menyatakan bahawa Ibn Qayyim kuat beribadat dan peribadinya disukai oleh orang ramai pada waktu itu. Antara lain Ibn Kathir menulis, &#8220;Aku tidak pernah melihat pada zaman kami ini, orang yang kuat beribadat seperti Ibn Qayyim. Apabila sembahyang, sembahyangnya begitu lama. Beliau memanjang rukuknya dan juga sujudnya.&#8221;</p>
<p>Selaku seorang ulama yang terkenal, Ibn Qayyim telah didampingi oleh ramai orang yang berguru dan mempelajari pelbagai bidang ilmu dengannya. Antara anak muridnya yang masyhur ialah Ibn Kathir tokoh dalam ilmu hadith dan sejarah, Zayn al-Din Ibn Rajab al- Hambali (795H/1397M) seorang tokoh dalam Mazhab Hambali, dan Ibn Hajar al-&#8217;Asqalani (852H/1449M) seorang tokoh hadith yang tidak asing lagi.</p>
<p>Menurut penyelidikan Dr. &#8216;Iwad Allah Jad Hijazi penulisan Ibn Qayyim dalam pelbagai bidang ilmu pengetahuan berjumlah 66 buah. Penulisan itu ada yang berjilid-jilid, ada yang tebal dan ada yang kecil serta ringkas. Dalam bidang tafsir Ibn Qayyim menulis Kitab al&#8217;Tibyan fi Iqsam al&#8217;Qur&#8217;an, Tafsir al Muuawwizatayn, Tafsir Surah al&#8217;Fatihah yang terdapat di awal Kitab Madarij al-Salikin, dan lain-lain lagi.</p>
<p>Dalam bidang Hadith, Ibn Qayyim menulis kitab-kitab seperti Tahdhib al-Siman oleh Abu Dawud, al-Wabilal Sayyab min al-Kalam al-Tayyib, dan sebagainya. Dalam bidang Fiqh dan Usul Fiqh beliau menyumbangkan kitab-kitab seperti, Ilam al-Muwaqqi&#8217;in &#8216;an Rabb al-&#8217;Alarum, al-Turuq al-Hukmiyyah fi al-Siyysah al-Shar&#8217;iyyah, al-Solah wa Ahkam Tariqiha, Tuhfah al-Mawdud biAhkam al-Mawlud, Bayan al-Dalil &#8220;An Istighna&#8221; al-Musabaqah &#8216;an al-Tahlil, al-Tahlil Fima Yaaill wa Yaarum min Libas al-Harir, dan sebagainya.</p>
<p>Dalam bidang tasawuf Ibn Qayyim menulis yang antaranya, kitab-kitab Madarij al-Salikin, Rawdah. al-Muhibbin wa Nuzhah ai-Mushtaqin, al-Fawa&#8217;id li Ibn Qayyim, &#8216;Uddah al-Sabirin wa Dhakhirah al-Shakirin, Taraq al-Hijratayn wa Bab al-Sa&#8217;adatayn, dan sebagainya. Dalam bidang kalam dan falsafah Ibn Qayyim menulis beberapa kitab seperti, Shifa&#8217; a-&#8217;Alil fi Masa&#8217;il al-Qada&#8217; wa Al-Qadar wa al-hikmah wa al-Ta&#8217;lil, Kitab al-Ruh, Hadi al-Arwah ila Bilad al-Afrah, dan Miftah dar al-Sa&#8217;adah wa Manshur Wilayah al-&#8217;Ilm wa al-Iradah.</p>
<p>Dalam bidang sejarah, beliau menulis Kitab Zad al-Ma&#8217;ad fi Hady Khayr al-&#8217;Ibad. Ibn Qayyim juga menulis al-Tibb al-Nabawi, Talbis Iblis, al-Jawab al-Kafi &#8216;an Lima Sa&#8217;ala &#8216;An al-Dawa&#8217; al-Shafi, dan lain-lain lagi.</p>
<p>Ibn Qayyim dalam penulisannya juga telah menyentuh beberapa perkara berkenaan dengan falsafah ekonomi Islam iaitu konsep manusia Islam (homo islamicus) dan manusia bukan ekonomi (non homo economicus), konsep keadilan dan nilai-nilai etika dalam ekonomi, aktiviti ekonomi, kerjasama dan pembahagian buruh, pemilikan harta kekayaan oleh individu, dan peranan kerajaan dalam ekonomi.</p>
<p>Dalam hal ini, Ibn Qayyim menggariskan asas kepercayaan Islam bahawa setiap manusia bertanggungjawab membimbing diri sendiri ke arah menjadi hamba Allah yang baik dan Allah S.W.T merupakan sumber pedoman dan petunjuk.</p>
<p>Dalam pengajian ekonomi, manusia digambarkan sebagai makhluk yang sifat, gelagat, dan tindakannya mementingkan diri sendiri, tamak, haloba, dan menjadikan keuntungan sebagai asas penting dalam semua jenis aktiviti ekonomi. Jadi, setiap manusia bertanggungjawab terhadap perbuatannya dan Allah S.W.T menjadi pedoman dan petunjuk ke arah jalan yang betul.</p>
<p>Selain itu, Ibn Qayyim menekankan bahawa hidup di dunia ini merupakan ujian dan cubaan daripada Allah S.W.T. Ujian yang dikenakan kepada manusia itu boleh sama ada dalam bentuk anugerah harta kekayaan ataupun diberikan kehidupan yang susah. Anugerah kekayaan kepada seseorang tidak bermaksud Allah S.W.T sayang kepadanya. Demikian juga ujian kemiskinan tidak bermaksud Allah S.W.T benci kepada seseorang. Harta kekayaan yang dimiliki oleh manusia bukanlah bererti hidup ini penuh dengan kesenangan.</p>
<p>Ibn Qayyim juga ada menyentuh soal keadilan yang merupakan teras semua aspek dalam kehidupan. Menurut Ibn Qayyim, keadilan merupakan objektif dan matlamat utama Syariah. Hal ini demikian adalah kerana Syariah itu mengandungi keadilan, keberkatan, dan kebijaksanaan. Perkara yang bercanggah dengan keadilan akan menukarkan keberkatan dan kebajikan kepada laknat dan kejahatan, dan daripada kebijaksanaan kepada sesuatu yang tidak berfaedah kepada Syariah.</p>
<p>Sehubungan dengan itu Ibn Qayyim menjelaskan nilai-nilai etika yang baik seharusnya diamalkan oleh orang Islam dalam kegiatan ekonomi mereka. Antara nilai etika yang baik ialah kepatuhan kepada Allah SWT, ketaatan</p>
<p>kepada agama, sifat baik, jujur, dan benar. Apabila nilai etika tersebut diamalkan dalam kehidupan seharian terutamanya dalam kegiatan ekonomi, akan menjauhkan nilai-nilai jahat seperti pembohongan, penipuan, dan korupsi.</p>
<p>Selanjutnya beliau menjelaskan bahawa akibat daripada sifat semula jadi yang suka berbohong akan menyebabkan kejayaan tidak tercapai dalam kehidupan.</p>
<p>Apabila keadaan ini berlaku, kehidupan perekonomian akan cacat termasuk juga aspek-aspek lain dalam kehidupan. Dalam perkataan lain, pembohongan memberi impak yang besar dalam kehidupan orang-orang Islam.</p>
<p>Memandangkan akibat yang besar daripada ketidaktaatan dan kejahatan sosial, Ibn Qayyim ada menulis bahawa kesan-kesan dosa akan membawa kepada tidak baik dan dikutuk. Dosa-dosa ini mencacatkan jasad dan roh manusia yang merosakan kehidupan di dunia ini dan selepas mati.</p>
<p>Sifat-sifat yang negatif seperti pembohongan, penipuan, dan pengeksploitasian serta ketidakjujuran mendorong kepada keadaan yang tidak tenteram dalam kehidupan masyarakat. Akan berlaku huru-hara, kecurigaan, ketidakstabilan, dan kekecewaan dalam kalangan masyarakat. Apabila semua perkara ini berlaku, kegiatan ekonomi akan menguncup.</p>
<p>Sebaliknya nilai-nilai etika yang diamalkan dalam masyarakat akan menyuburkan suasana keyakinan dan jaminan keselamatan dalam masyarakat. Pada masa yang sama, masyarakat akan bekerjasama dalam proses pengeluaran dan kestabilan ekonomi. Dalam perkataan lain pengeluaran barang-barang dan perkhidmatan akan meningkat, dan masyarakat akan hidup mewah.</p>
<p>Selain itu, Ibn Qayyim menganjurkan campur tangan kerajaan dalam pemilikan harta kekayaan individu jika individu berkenaan menggunakan harta kekayaan berkenaan pada jalan yang bertentangan dengan faedah masyarakat. Dalam hubungan ini, Ibn Qayyim telah memetik sepotong hadith Rasulullah s.a.w. mengenai seorang hamba (harta) yang dimiliki bersama oleh</p>
<p>beberapa rakan kongsi (tuan) yang hendak dibebaskan oleh salah seorang daripada tuannya, sedangkan tuan-tuan yang lain tidak bersetuju dengan pembebasan tersebut.</p>
<p>Dalam kes ini Rasulullah s.a.w. memutuskan harga yang adil dan rakan-rakan kongsi yang lain diminta menerima bahagian masing-masing. Selepas itu, hamba berkenaan telah dibebaskan.</p>
<p>Hadith ini menjadi asas pada Ibn Qayyim dalam menentukan peraturan bahawa sesuatu harta yang tidak boleh dibahagikan dan dimiliki bersama boleh dijual jika salah seorang daripada para pemiliknya berhasrat untuk menjualnya.</p>
<p>Jelas, beberapa aspek dalam falsafah ekonomi Islam yang dihuraikan oleh Ibn Qayyim tersebut merupakan antara prinsip dan teras ekonomi Islam yang membezakannya dengan falsafah ekonomi konvensional.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asfuriahmad.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asfuriahmad.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asfuriahmad.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asfuriahmad.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/asfuriahmad.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/asfuriahmad.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/asfuriahmad.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/asfuriahmad.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asfuriahmad.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asfuriahmad.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asfuriahmad.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asfuriahmad.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asfuriahmad.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asfuriahmad.wordpress.com/22/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asfuriahmad.wordpress.com&amp;blog=8304576&amp;post=22&amp;subd=asfuriahmad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asfuriahmad.wordpress.com/2009/10/06/ibn-qayyim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c978a72734be85dc6f9b3d6cb47d6db4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">asfuriahmad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Al-Biruni  Ahli Falsafah Yang Serba Boleh</title>
		<link>http://asfuriahmad.wordpress.com/2009/10/06/al-biruni-ahli-falsafah-yang-serba-boleh/</link>
		<comments>http://asfuriahmad.wordpress.com/2009/10/06/al-biruni-ahli-falsafah-yang-serba-boleh/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Oct 2009 04:04:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>asfuriahmad</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://asfuriahmad.wordpress.com/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[Pada zaman awal kedatangan Islam, masyarakat Islam tidak begitu terdedah kepada ilmu falsafah. Walau bagaimanapun menjelang abad ke-3, para sarjana Islam mulai memberikan perhatian kepada persoalan dan pemikiran yang berkaitan dengan falsafah. Asas kepada falsafah yang dipelopori oleh para ilmuwan Islam, berpaksikan ajaran Islam dan kalimah syahadah bertujuan untuk meningkatkan keyakinan dan ketakwaan umat Islam. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asfuriahmad.wordpress.com&amp;blog=8304576&amp;post=19&amp;subd=asfuriahmad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada zaman awal kedatangan Islam, masyarakat Islam tidak begitu terdedah kepada ilmu falsafah. Walau bagaimanapun menjelang abad ke-3, para sarjana Islam mulai memberikan perhatian kepada persoalan dan pemikiran yang berkaitan dengan falsafah.</p>
<p>Asas kepada falsafah yang dipelopori oleh para ilmuwan Islam, berpaksikan ajaran Islam dan kalimah syahadah bertujuan untuk meningkatkan keyakinan dan ketakwaan umat Islam. Berbeza dengan falsafah Yunani yang lebih tertumpu kepada pencarian kebenaran berlandaskan pemikiran dan logik semata-mata sehingga menimbulkan kekeliruan serta kecelaruan yang tidak berpanjangan.</p>
<p>Aliran falsafah pada zaman Islam tidak sekadar membataskan perbicaraan kepada persoalan yang berkaitan dengan metafizika ketuhanan dan kejadian alam. Tetapi juga meliputi perbincangan yang berkaitan dengan nilai-nilai akhlak, masyarakat, dan kemanusiaan. Walaupun ahli falsafah pernah dicap oleh Imam Al-Ghazali sebagai golongan yang sesat lagi menyesatkan, tetapi perkembangan ilmu falsafah itu telah berjaya membantu menyelesaikan pelbagai persoalan keagamaan, ekonomi, politik, sosial, budaya, dan bidang-bidang lain.</p>
<p>Wahyu sebenarnya tidak bercanggah dengan akal. Menerusi paduan wahyu dan akal seperti yang dicernakan oleh para ilmuwan Islam telah berjaya membantu meletakkan batu asas yang kukuh kepada pembinaan peradaban Islam.</p>
<p>Kerana itu, umat Islam digalakkan mencari dan menimba ilmu hatta sampai ke negara China. Dorongan yang diberikan oleh Islam itu telah memberikan semacam motivasi kepada para sarjana Islam untuk terus menggali dan mempelajari pelbagai ilmu pengetahuan sama ada di timur ataupun barat.</p>
<p>Salah seorang ilmuwan tersebut ialah Al Biruni atau nama asalnya Abu al-Raihan Muhammad ibn Ahmad al-Biruni. Beliau dilahirkan pada tahun 362 H (973 M) diBirun, ibu negara Khawarizm atau lebih dikenali sebagai Turkistan. Gurunya yang terawal ialah Abu Nasr Mansur ibn Alt ibn Iraqin yang juga merupakan seorang pakar ilmu matematik dan alam.</p>
<p>Minat dan kecenderungannya untuk mempelajari serta meluaskan dimensi ilmu pengetahuannya telah mendorong Al-Biruni merantau sehingga ke negara India. Tetapi semasa berada di India, Al-Biruni telah ditawan oleh Sultan Mahmood al-Ghaznawi. Setelah menyedari keilmuwannya beliau ditugaskan di istana sebagai salah seorang ulama. Kesempatan itu digunakan sepenuhnya oleh Al-Biruni untuk mempelajari bahasa Sanskrit dan bahasa lain di India.</p>
<p>Di sana beliau mengambil kesempatan untuk mengenali agama Hindu dan falsafah India. Hasilnya beliau telah menulis beberapa buah buku yang mempunyai hubungan dengan masyarakat India dan kebudayaan Hindu.</p>
<p>Dalam satu tulisannya, beliau menyatakan bahawa ajaran Hindu berasaskan konsep penjelmaan yang mempunyai persamaan dengan syahadah Tauhid dalam Islam dan triniti dalam agama Kristian.</p>
<p>Tembok penjara tidak menjadi penghalang kepada Al-Biruni untuk terus menuntut dan menghasilkan karya-karya yang besar dalam pelbagai bidang. Sumbangannya kepada ilmu dan peradaban India amat besar. Sumbangannya yang paling penting ialah dalam penciptaan kaedah penggunaan angka-angka India dan kajiannya mencari ukuran bumi menggunakan kiraan matematik. Beliau juga telah berjaya menghasilkan satu daftar yang mengandungi peta dan kedudukan ibu-ibu negara di dunia.</p>
<p>Semasa berada dalam tawanan itu, Al-Biruni juga menggunakan seluruh ruang dan peluang yang ada untuk menjalinkan hubungan antara para ilmuwan sekolah tinggi Baghdad dan para sarjana Islam India yang tinggal dalam istana Mahmud al Ghaznawi.</p>
<p>Selepas dibebaskan, beliau telah menulis sebuah buku yang berjudul Kitab Tahdid al Nih-ayat al Amakin Lita&#8217;shih al Masafat al Masakin. Di samping itu, beliau turut mendirikan sebuah pusat kajian astronomi mengenai sistem solar yang telah membantu perkembangan pengajian ilmu falak pada tahun-tahun yang mendatang. Kajiannya dalam bidang sains, matematik, dan geometrik telah menyelesaikan banyak masalah yang tidak dapat diselesaikan sebelum ini.</p>
<p>Penguasaannya terhadap pelbagai ilmu pengetahuan dan bidang telah menyebabkan beliau digelar sebagai &#8220;Ustaz fil Ulum&#8221; atau guru segala ilmu. Penulisannya tentang sejarah Islam telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris dengan judul &#8220;Chronology of Ancient Nation&#8221;. Banyak lagi buku tulisan Al-Biruni diterbitkan di Eropah dan tersimpan dengan baiknya di Museum Escorial, Sepanyol. Dalam sepanjang hidupnya</p>
<p>Al-Biruni telah menghasilkan lebih 150 buah buku termasuk satu senarai kajian yang mengandungi 138 tajuk.</p>
<p>Antara buku itu ialah Al-Jamahir fi al-Jawahir yakni mengenai batu-batu permata; Al-Athar al-Baqiah berkaitan kesan-kesan lama tinggalan sejarah dan Al-Saidalah fi al-Tibb, tentang ubat-ubatan. Karya ini dikatakan karyanya yang terakhir sebelum meninggal dunia pada 1048M.</p>
<p>Al-Biruni bukan sahaja dapat menguasai bahasa Sanskrit dengan baik tetapi juga bahasa-bahasa Ibrani dan Syria. Beliau yang memiliki ilmu pengetahuan yang luas tentang falsafah Yunani menjadikannya seorang sarjana agung yang pernah dilahirkan oleh dunia Islam. Al-Biruni berjaya membuktikan bahawa gandingan falsafah dan ilmu pengetahuan telah membolehkan agama terus hidup subur dan berkembang serta membantu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh umat.</p>
<p>Pemikiran falsafahnya tidak semata-mata bersandarkan kepada imaginasi dan permainan logik tetapi berdasarkan kepada kajian yang dilakukannya secara empirikal. Kepakarannya dalam ilmu Islam tidak boleh dipertikaikan kerana dalam umur yang masih muda lagi beliau telah menghasilkan sebuah karya besar yang berjudul Kitabul Asar al baqiya &#8216;Anil Quran al Khaliya.</p>
<p>Sebelum ke India, Al-Biruni sering menjalinkan hubungan dengan Ibnu Sina. Keadaan ini menjadi bukti pengiktirafan ilmuwan Islam lain terhadap ketokohan dan kesarjanaannya. Sekali gus menjadikan beliau seorang ahli falsafah Islam yang serba boleh dengan sumbangan yang telah memberikan manfaat yang besar kepada manusia seluruhnya.</p>
<p>Dalam masa yang sama, Al-Biruni juga membuktikan bahawa golongan ahli falsafah bukan merupakan golongan yang sesat dan hidup di awang-awangan. Sebaliknya mereka merupakan golongan ilmuwan yang perlu diberi pengiktirafan. Peranan dan kedudukan mereka amat besar dalam pembinaan tamadun Islam serta peradaban manusia.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asfuriahmad.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asfuriahmad.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asfuriahmad.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asfuriahmad.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/asfuriahmad.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/asfuriahmad.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/asfuriahmad.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/asfuriahmad.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asfuriahmad.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asfuriahmad.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asfuriahmad.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asfuriahmad.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asfuriahmad.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asfuriahmad.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asfuriahmad.wordpress.com&amp;blog=8304576&amp;post=19&amp;subd=asfuriahmad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asfuriahmad.wordpress.com/2009/10/06/al-biruni-ahli-falsafah-yang-serba-boleh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c978a72734be85dc6f9b3d6cb47d6db4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">asfuriahmad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>LAPORAN Pe-Pe-El</title>
		<link>http://asfuriahmad.wordpress.com/2009/07/02/laporan-pe-pe-el/</link>
		<comments>http://asfuriahmad.wordpress.com/2009/07/02/laporan-pe-pe-el/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Jul 2009 07:04:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>asfuriahmad</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://asfuriahmad.wordpress.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[BAB I PENDAHULUAN Sebagian besar yang tinggal di panti asuhan Ar-Rodiyah adalah anak-nk yatim piatu dan kaum dhu’afa. Menurut sejarawan asal Mesir, Farij Wajdi mengartikan anak yatim adalah anak yang bapaknya sudah meninggal. Pendpat yang senada juga disampaikan oleh Sayyid Alwi bin Sayyid Abas. Hanya saja Sayyid Alwi menambah batasan yaitu ”masih belum batas balegh”. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asfuriahmad.wordpress.com&amp;blog=8304576&amp;post=11&amp;subd=asfuriahmad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>BAB I</strong></p>
<p align="center"><strong>PENDAHULUAN</strong><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p>Sebagian besar yang tinggal di panti asuhan Ar-Rodiyah adalah anak-nk yatim piatu dan kaum <em>dhu’afa</em>. Menurut sejarawan asal Mesir, Farij Wajdi mengartikan anak yatim adalah anak yang bapaknya sudah meninggal. Pendpat yang senada juga disampaikan oleh Sayyid Alwi bin Sayyid Abas. Hanya saja Sayyid Alwi menambah batasan yaitu ”<em>masih belum batas balegh</em>”.</p>
<p>Dalam konteks Indonesia, kata yatim identik dengan anak yang bapaknya meninggal, sedangkan bila bapak dan ibunya meninggal maka dikatakan yatim piatu. Otomatis perhatian (baca santunan) lebih dicurahkan pada yatim piatu dari pada yang yatim saja.<a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Sedangkan kaum <em>dhu’afa</em> adalah mereka yang hidup dalam kefakiran, kemiskinan dan penderitaan. Dalam islam sebagai bagian mutlak dari keislamannya, seseorang harus memiliki rasa kepedulian yang tinggi, menghilangkan sefat kikir dan rakus, menumbuhkan ketenangan hidup sekaligus mengembangkan serta mensucikan harta yang dimiliki.<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Anak yang jauh dari orang tua biasanya kurang memiliki kasih sayang, perhatian dari keluarga yang khusus hingga hal seperti ini menjadikan sebuah karakter terjadinya kepribadian ke-Aku-an.<a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Yang terpenting dalam kebahagiaan adalah penerimaan dan kasih sayang, baik penerimaan diri sndiri ataupun penerimaan sosial, agar merasa puas dengan kehidupan sehingga merasa dirinya bahagia. Anak tidak hanya menyukai dan menerima diri sendiri akan tetapi juga merasa bahwa dirinya diterima orang lain. Semakin menyukai dirinya sendiri maka ia akan semakin bahagia, demikian apabila banyak orang yang menyukai dirinya maka ia akan semakin bahagia dan merasa puas dengan setatus sosial yang ia miliki dalam kelompok sosialnya. Demikian pula semakin kuat keprihatinannya akan dukungan sosial pada dirinya maka ia akan semakin khawatir akan penampilan dirinya.<a href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Sedangkan Siti Solekah adalah anak yang pandai bergaul dalam lingkungan sosialnya, akan tetapi dibalik itu semua ada satu permasalahan yang membuat keadaan fobik itu muncul padanya, diwaktu ia ingat kejadian yang pernah menimpa dirinya, yaitu pernah disakiti oleh seniornya, maka efek yang timbul adalah perasaan takut, cemas gelisah dan rasa benci terhadap orang yang pernah menyakitinya.</p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong>BAB II</strong></p>
<p align="center"><strong>IDENTIFIKASI MASALAH</strong></p>
<p align="center">
<ol>
<li><strong>A. </strong><strong>Identitas Subyek</strong></li>
</ol>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="110" valign="top">Nama</td>
<td width="19" valign="top">:</td>
<td width="415" valign="top">Siti Solekah</td>
</tr>
<tr>
<td width="111" valign="top">Lahir</td>
<td width="16" valign="top">:</td>
<td width="439" valign="top">Semarang 24 Desember 1995</td>
</tr>
<tr>
<td width="111" valign="top">Alamat</td>
<td width="16" valign="top">:</td>
<td width="439" valign="top">Jl. Bader Raya Rt 01/Rw VII Kel. Bandaharjo</td>
</tr>
<tr>
<td width="111" valign="top">Hobi</td>
<td width="16" valign="top">:</td>
<td width="439" valign="top">Membaca apa aja</td>
</tr>
<tr>
<td width="111" valign="top">Cita-cita</td>
<td width="16" valign="top">:</td>
<td width="439" valign="top">Guru</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="3" width="544" valign="top"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<ol>
<li><strong>B. </strong><strong>Identifikasi Masalah</strong>
<ol>
<li><strong>1. </strong><strong>Menurut Pengelola</strong>
<ol>
<li>Subyek adalah anak yang baik, sopan, <em>cool</em>, ramah, dalam kesehariannya subyek tidak menyukai hidup boros, tidak suka jajan, subyek selalu berpenampilan sederhana. Disamping itu subyek tergolong anak yang cerdas juga anak yang berprestasi, kepribadiannya yang baik sehingga subyek disukai oleh teman-temannya.<a href="#_ftn5">[5]</a></li>
</ol>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p>b.  Subyek adalah anak yang baik, mempunyai latar belakang dari keluarga yang baik sehingga mempunyai kepribadian yang baik pula. Empat bulan yang lalu subyek pernah kena kasus bersama lima temannya, ketika itu mereka mengerumpi pada malm hari, begadang semalaman sampai-sampai tidak tidur, akhirnya pada pagi hari mereka tidak bisa bangun pagi dan mereka sakit semua. Karena kesalahannya sehingga subyek dan teman-temannya kena sanksi hukuman. Kepribadiannya baik sehingga banyak yang menyukai dan subyek mempunyai kedewasaan yang lebih dibanding teman-temannya.<a href="#_ftn6">[6]</a></p>
<ol>
<li><strong>2. </strong><strong>Menurut Subyek</strong></li>
</ol>
<p>Disini pengambilan data yang dilakukan oleh penulis dengan cara meminta kepada subyek untuk mendiskripsikan pengalaman atau suatu yang menghambat dirinya baik di sekolah, dilingkungan skitarnya dengan menulis pada lembaran buku untuk curhat pada penulis dan wawancara langsung. Berikut akan kami lampirkan.</p>
<p>Menurut subyek ia sangat kesulitan dalam beberapa mata pelajaran yaitu Bahasa <strong>Inggris</strong> dan <strong>Fisika</strong>, dalam bidang agama subyek merasa kesulitan dalam mata pelajaran <strong>Bahasa Arab</strong>, ia juga mengaku merasa kesulitan dalam masalah hapalan berikut penuturannya “Kak Puri kenapa ya&#8230; saya itu kalau hapalan sulit sekali tidak bisa masuk-masuk padahal sudah hampir satu jam saya menghapal, terus kalau sudah hapal cepet hilang? Kak kasih solusi dong biar cepet dan mudah hapalan”. Subyek juga menuturkan “Kak Puri kata ustadz kalau pengen cepet hapalan itu pada waktu pagi setelah bangun tidur dan stelah sholat maghrib apa betul kak?”.</p>
<p>Dilingkungan sekolah subyek tergolong anak yang rajin, disiplin dan anak yang taat terhadap peraturan bahkan dari kelas satu sampai sekarang subyek selalu mendapat peringkat tiga besar. Subyek adalah anak yang berprestasi.</p>
<p>Kemudian dilingkungan keluarga subyek mengaku ketika ingat bapaknya yang masih sakit, subyek menjadi sedih dan merasa bersalah tidak bisa merawat bapaknya. Subyek juga merasa kasihan ketika bapaknya sakit parah dan muntah darah, kata ibunya sakit yang diderita bapaknya akibat diguna-guna oleh bosnya sejak ia bekerja di hotel. Sejak saat itu subyek selalu teringat oleh bapaknya dan sedikitpun tidak bisa melupakannya.</p>
<p>Dilingkungan panti subyek pernah mengaku kalau dia pernah disakiti oleh teman seniornya berikut penuturannya “ Kak Puri saya itu tidak tau salah saya itu apa tiba-tiba saya <em>diomelin</em> dan <em>dikatain</em> yang tidak-tidak, bahkan kata-kata yang jorok yang kotor yang tak pantas untuk dikatakan&#8230; saya dituduh merampas pacarnya, dikatain cewek ganjen, cewek gatelan dan sampai-sampai dia bawa-bawa orang tua saya segala saya malu kak, didepan teman-teman. Itulah yang membuat hati saya sakit sampai saat ini dan saya belum bisa melupakan kejadian itu dan tiap kali saya ingat saya selalu menangis. Demikian apa yang dikatakan subyek dengan problema yang ia rasakan.<a href="#_ftn7">[7]</a></p>
<ol>
<li><strong>3. </strong><strong>Menurut Teman</strong>
<ol>
<li>Subyek adalah anak yang baik peduli terhadap sesama, setia kawan, jujur, dan tidak sombong. Subyek memang agak pendiam tapi ia baik, ia suka menolong temannya disaat temannya dalam kesulitan. Di sekolah ia selalu dapat ranking tiga besar, ia anak yang berprestasi.<a href="#_ftn8">[8]</a></li>
</ol>
</li>
</ol>
<p>b.  Subyek anak yang baik, disipin, memang selama sebulan penuh subyek selalu aktf di dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh tim PPL. Disamping itu kepribadian subyek yang baik sehingga banyak disukai oleh teman-temannya, meskipun agak pendiam subyek adalah anak yang rajin dan pintar.<a href="#_ftn9">[9]</a></p>
<ol>
<li>Subyek adalah anak yang baik, di sekolahan dia tidak pernah kena kasus, meskipun dia kelihatan pendiam tapi kalau di sekolahan dia bisa-biasa saja, subyek mudah bergaul dengan teman-temannya, pandai menghargai waktu, ini terlihat ketika jam kosong atau tidak ada kegiatan subyek selalu datang keperpustakaan.<a href="#_ftn10">[10]</a></li>
</ol>
<ol>
<li><strong>4. </strong><strong>Hasil Observasi</strong></li>
</ol>
<p>Penulis telah mengamati subyek (Siti Solekah) selama kurang lebih satu bulan penuh, dalam bergaul dan berinteraksi dengan teman-temannya. Penulis melihat dia adalah anak yang cerdas, berprestasi dan penuh bakat, rajin dan disiplin. Di sekolahan subyek adalah anak yang cerdas dan berprestasi ini terlihat pada nilai raportnya yang selalu mendapatkan ranking tiga besar.</p>
<p>Subyek adalah anak yang mempunyai semangat yang tinggi, rasa keingintahuannya terhadap hal-hal baru begitu besar, bahkan subyek tidak malu-malu untuk bertanya kepada siapa pun, termasu kepada tim PPL. Meskipun dia agak pendiam, tapi sebenarnya dia humoris, menurut pengamatan penulis subyek tidak akan bicara kalau kita tidak ada yang memolainya dulu, ibarat kata ”<em>tidak akan mukul kalau tidak diukul duluan</em>”.</p>
<p>Dia adalah anak yang sopan, kepada yang lebih tua dia <em>andap ashor</em> meskipun sebenarnya anak yang pemalu tapi dia pandai menghargai orang lain, pandai menghargai waktu, sehingga tak heran jika dia berprestasi di sekolahanya dan pandai.</p>
<p>Seperti yang tertulis dalam surat yang pernah diberikan kepada penulis sebenarnya subyek ingin curhat terhadap masalah-masalah yang ada pada dirinya, tapi malu disamping itu tidak adanya keberanian. Sehingga masalah-masalah yang dia hadapi dipendam dan menumpuk. Dan ini sangat bahaya sekali karna kalau masalah yang sedikit demi sedikit yang menumpuk dan tidak dicarikan jalan keluar maka lambat laun akan menjadi bom waktu yang suatu saat bisa meledak dan berujung pada gangguan mental depresi dan sebagainya.</p>
<ol>
<li><strong>C. </strong><strong>Diagnosa</strong>
<ol>
<li><strong>1. </strong><strong>Landasan Teori</strong></li>
</ol>
</li>
</ol>
<p>Puber adalah masa dimana tubuh mulai berkembang dan berubah, yang menandai adanya masa peralihan dari masa anak-anak menjadi dewasa. Puber memang merupakan saat yang ditunggu-tunggu oleh kaum remaja.</p>
<p>Masa remaja usia 12 sampai 21 tahun dikenal dengan masa <em>storm and stress</em>. Pada masa ini terjadi pergolakan emosi yang diiringi dengan pertumbuhan fisik yang pesat dan pertumbuhan secara psikis.<a href="#_ftn11">[11]</a></p>
<p>Bahaya pada masa puber pada umumnya gawat, terutama kerena berakibat jangka panjang. Bahaya ini bertentangan dengan tahap perkembangan yang terdahulu, dimana bahayanya sendiri yang lebih penting dibandingkan dengan akibat jangka panjangnya. Seperti halnya pada akhir masa kanak-kanak, bahaya psikologis lebih banyak dan akibatnya lebih luas dari pada bahaya fisik, hanya sedikit anak puber yang terpengaruh bahaya fisik sedangkan semua anak puber terpengeruh oleh bahaya psikologis meskipun dalam tingkat yang berbeda-beda.<a href="#_ftn12">[12]</a></p>
<p>Yang terpenting dalam kebahagiaan adalah penerimaan dan kasih sayang, baik penerimaan diri sendiri ataupun penerimaan sosial agar merasa puas dengan kehidupan sehingga merasa dirinya bahagia. Anak puber tidak hanya menyukai dan menerima diri sendiri akan tetapi juga merasa bahwa dirinya diterima orang lain. Semakin menyukai dirinya sendiri maka ia akan semakin bahagia dan merasa puas dengan status sosial yang ia miliki dalam kelompok sosialnya. Demikian pula semakin kuat keprihatinannya akan dukungan sosial pada dirinya paka ia akan semakin khawatir akan penampilan dirinya.<a href="#_ftn13">[13]</a></p>
<p>Selain faktor keluarga masih ada beberapa faktor lain yang ikut menentukan pembentukan kepribadian, yaitu pengalaman awal masa kanak-kanak, kebudayaan masyarakat, kondisi fisik, emosi, kegagalan, dan keberhasilan, penerimaan sosial, dan simbol status.<a href="#_ftn14">[14]</a></p>
<p>Determinan-determinan dalam perkembangan kepribadian ada tiga yaitu <em>pertama, </em>hereditas <em>kedua, </em>lingkungan dan interaksi antara hereditas dan <em>ketiga</em> lingkungan. Lingkungan dapat berupa lingkungan fisik yaitu keadaan rumah, udara, gizi. Lingkungan soaial budaya yaitu orang tua, sekolah, kelompok lain. Lingkungan sosial dapat membentuk prilaku dan sikap yang diharapkan dalam suatu lingkungan budaya. Individu belajar tentang peran sosial dari interaksinya dengan kelompok sosial budaya yang berkaitan. Interaksi antara hereditas dan lingkungan terjadi secara terus menerus sehingga lambat laun menumbuhkan perasaan adanya ”Aku”. Seseorang terbentuk apabila ia telah dapat membedakan apa yang merupakan dirinya, keinginannya dengan apa yang merupakan kenyataan yang ada diluar dirinya.<a href="#_ftn15">[15]</a></p>
<p>Interaksi kepribadian atau ”Aku” individu dengan lingkungan dapat menimbulkan setres yang dapat diatasi dengan baik dan yang tidak dapat diatasi dengan baik, untuk menjelaskan terjadinya tingkah laku abnormal maka harus melihat tingkah laku tersebut dalam kaitannya dengan <em>frustasi</em> dan sebagai usaha mengatasinya.<a href="#_ftn16">[16]</a> Gangguan mental merupakan bentuk penyimpangan dari pola pikir, emosi, prilaku, persepsi, yang menyimpang dari suatu norma sosial dan menimbulkan kelemahan sosial.<a href="#_ftn17">[17]</a></p>
<p>Dalam diri manusia terkandung makna atau nilai personal yang tidak bisa dikwantifikasi dan tidak bisa dijelaskan secara biologis sehingga tidak bisa disubordinasikan atau direduksikan pada angka-angka (statistik) dan pengukuran fisik mekanistik (biologis). Oleh karena itu, untuk mengungkap individunya secara utuh dan menyeluruh diperlukan pendekatan yang bersifat intersubjektif. Metode atau pendekatan yang tepat untuk mengungkap eksistensi manusia tersebut adalah analisis eksistensial. Dalam ilmu psikologi pendekatan ini termasuk dalam pendekatan humanistik atau psikologi humanistik. Pada umumnnya terapi eksistensial bertujuan agar klien memperluas kesadaran diri klien akan keberadaanya dan kebermaknaannya serta bagaimana ia dapat mengoptimalkan seluruh potensi-potensi yang dimilikinya.</p>
<p>Tentunya hal yang tak kalah pentingnya adalah pada pendekatan eksistensial ini, manusia harus dapat bertanggung jawab terhadap segala keputusan dan pemikirannya. Hal ini bukan sesuatu yang mudah dimana manusia harus bertanggung jawab terhadap menjadi apa dia sekarang dan menjadi apa dia selanjutnya. Sebab dalam prosesnya tidak ada sesuatu pun yang dapat menjamin bahwa keputusan-keputusan yang diambilnya itu merupakan keputusan yang baik. Disinilah molai akan muncul kecemasan eksistensial.</p>
<p>Sehubungan dengan kecemasan eksistensial itulah konselor bertujuan membantu klien agar mampu menghadapi kecemasan ketika mengambil tindakan, mengambil keputusan untuk dirinya dan menerima kenyataan terhadap hal-hal yang terjadi diluar dirinya sebagai kekuatan-kekuatan deterministik semata.<a href="#_ftn18">[18]</a></p>
<p>Pendekatan eksistensial meletakkan kebebasan, determinasi diri, keinginan dan putusan pada pusat keberadaan manusia. Jika kesadran dan kebebasan dihapus dari manusia maka dia tidak lagi hadir sebagai manusia, sebab kesanggupan-kesanggupan itulah yang memberinya kemanusiaan. Pandangan eksistensial adalah bahwa individu dengan putusan-putusannya membentuk nasib dan mengukir keberadaan sendiri, seseorang menjadi apa yang diputuskannya, dan dia harus bertanggung jawab atas jalan hidup yang ditempuhnya.<a href="#_ftn19">[19]</a></p>
<ol>
<li><strong>2. </strong><strong>Kesimpulan Diagnosa</strong></li>
</ol>
<p>Dari data-data yang penulis peroleh, subyek mengalami gangguan traumatik fobia sosial dikarenakan <em>shock</em>, kesedihan yang berlarut-larut, setres yang berkepanjangan sehingga membuat korban mengalami penderitaan. Sebab-sebab itulah yang dialami subyek, seperti kesedihannya ketika teringat keadaan ayahnya yang sakit parah dan subyek tidak bisa berbuat apa-apa. Kemudian ketika lingkungannya tidak menerima subyek apa adanya subyek menjadi <em>schock</em> hingga berujung pada depresi tingkat sedang. Adapun diagnosa yang penulis peroleh menurut buku panduan PPDGJ=III adalah sebagai berikut:</p>
<p>Diagnosis multiaksial pada subyek adalah <strong>AKSIS IV</strong> masalah psikososial dan lingkungan. Pedoman diagnosisi semua kriteria dibawah ini harus dipenuhi untuk diagnosis pasti.</p>
<ol>
<li>Gejala psikologi, prilaku atau otonomik yang timbul harus merupakan manifestasi primer dari anxietasnya dan bukan sekedar dari gejala-gejala lain seperti waham atau pikiran obsesif.</li>
<li>Anxietasnya harus mendominasi atau terbatas pada situasi sosial tertentu.<strong> </strong></li>
<li>Memutuskan hubungan persahabatan dan juga menghindari situasi fobik sudah merupakan gejala yang menonjol.<a href="#_ftn20">[20]</a><strong> </strong></li>
</ol>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong>BAB III</strong></p>
<p align="center"><strong>PEMBAHASAN</strong><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<ol>
<li><strong>A. </strong><strong>Treatment/Perkiraan Treatment</strong></li>
</ol>
<p>Dari apa yang telah disampaikan, penulis akan memperkirakan treatment untuk subyek dari trauma fobia sosial yang telah dialaminya. <em>Pertama</em> penyebab dari taruma adalah sesuatu “yang lain” dari taruma itu sendiri.<em> Kedua</em> trauma mempunyai kecenderungan untuk mengalami peningkatan intensitas. Selama sebab dari trauma itu masih ada, selama itu pula intensitas trauma akan terus meningkat. <em>Ketiga</em> trauma akan terus ada walaupun sebabnya sudah tidak ada, trauma tidak langsung lenyap ketika sebabnya sudah tidak ada ”selama korban dan keturunannya masih hidup”. Dan <em>keempat</em> taruma akan berlangsung selama-lamanya. Bahkan jika orang yang mengalami dan keturunannya sudah tidak ada, trauma akan terus ada dan menjadi semacam legenda tragis dari masa lalu.<a href="#_ftn21">[21]</a></p>
<p>Dari treatment yang diberikan kepada subyek diharapkan akan membantu subyek untuk memahami bagaimana ia dibentuk dengan pengalaman-pengalaman masa–lalunya, dia akan mampu mengendalikan fungsi dirinya sendiri sekarang, ketakutan-ketakutan yang irasional serta pemikiran-pemikiran yang negatif akan menjadi disadari dan kemudian energi -ketakutannya tidak akan tetap terpaku mempertahankan dirinya dari perasaa-perasaan yang tak ia sadari.<a href="#_ftn22">[22]</a></p>
<ol>
<li><strong>B. </strong><strong>Prognosa</strong></li>
</ol>
<p>Hambatan dan dukungan yang akan dialami subyek dalam mengaktualisasikan treatment adalah:</p>
<ol>
<li>Apabila ketika subyek sedang berusaha mengalahkan rasa sedih, takut dan sebagainya akan tetapi ada orang lain yang menyakitinya lagi maka trauma itupun akan semakin menguat pada pikiran dan alam bawah sadarnya.</li>
<li>Teman-teman yang kondusif akan membuat subyek merasa lebih aman.</li>
<li>Lingkungan yang mendukung subyek untuk memunculkan sebuah kepercayaan bahwa orang-orang yang ada disekitar subyek adalah baik.</li>
<li>Apabila hubungan fundamental antara subyek dan kedua orang tuanya/ pengasuhnya tidak tercipta maka subyek akan selalu merasa hidup sendiri dalamketakutan dan kegelisahan.</li>
</ol>
<ol>
<li><strong>C. </strong><strong>Hasil Sukses/Tidak Treatment</strong></li>
</ol>
<p>Dari treatment yang sudah diberikan kepada subyek, penulis mengamati adanya perubahan pada tingkah laku yang selama ini subyek khawatirkan dan membuat subyek cemas, <em>schoch</em>, kesedihan dan setres terhadap seseorang yang pernah menyakitinya, dan terhadap lingkungannya yang belum bisa menerima subyek apa adanya, karena subyek khawatir terhadap trauma yang pernah dialaminya.</p>
<p>Kemudian untuk memerangi hal-hal semacam itu subyek berusaha menghindari orang-orang yang pernah menyakitinya dengan memutuskan tali persahabatan. Dan subyek lebih menyukai sendirian kadang juga menghabiskan waktunya untuk aktifitas tau mencari kegiatan ketika gejala-gajala tersebut mulai muncul dan merasuki pikirannya.</p>
<ol>
<li><strong>D. </strong><strong>Hambatan dan Dukungan</strong></li>
</ol>
<p>Hambatan yang dialami penulis adalah tempat yang kurang kondusif untuk pencarian data, ketika subyek ingin mengutarakan apa yang ia anggap masalah akan tetapi teman-teman subyek datang ikut mendengarkan sehingga subyek merasa kurang nyaman, merasa enggan dan malu. Disamping itu ketika penulis dalam proses pencarian data banyak dari tim PPL yang ikut bergabung sehingga penulis merasa terganggu dan tdak bisa fokus terhadap subyek, jadwal kegiatan panti yang begitu padat sehingga penulis mengalami kesulitan untuk melakukan wawancara dan mencari informasi tetang subyek.</p>
<p>Sedangkan dukungan yang diperoleh enulis dalah subyek mau terbuka dan antusias pada penulis karena merasa akrab dan diperhatikan. Pengasuh serta teman-teman yang mudah untuk dimintai keterangan dan informasi sehingga mempermudah proses pencarian data. Cara berpikir subyek yang mendukung penulis untuk memberikan tratmen.</p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong>BAB VI</strong></p>
<p align="center"><strong>PENUTUP</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<ol>
<li><strong>A. </strong><strong>Kesimpulan</strong></li>
</ol>
<p>Subyek adalah Siti Solekah mengalami trauma fobia sosial dikarenakan subyek pernah disakiti oleh seseorang, subyek pernah dicaci maki didepan umum dihina dan difitnah oleh orang tersebut. Shingga adanya perubahan tingkah laku yang selama ini subyek khawatirkan dan membuat subyek cemas, <em>shock</em>, kesedihan dan setres terhadap seseorang yang pernah menyakitinya. Untuk hal tersebut subyek mencoba menghindari orang-orang yang pernah menyakitinya dengan cara memutuskan tali persahabatan dengan mereka. Disatu sisi ketika subyek mengalami kesedihan yang mendalam saat ingat keadaan bapaknya sedang sakit dan muntah darah, subyek mencoba mencari kesibukan untuk menghilangkan rasa kesedihan itu.</p>
<p>Dari data-data yang penulis peroleh, subyek mengalami gangguan traumatik fobia sosial dikarenakan dirinya pernah disakiti oleh teman seniornya, juga subyek merasa sedih ketika teringat bapaknya yang sedang sakit, dan yang lebih parahnya lagi keadaan subyek belum bisa diterima oleh lingkungan sekitarnya. Sehingga subyek menjadi kurang percaya diri. Diagnosis multiaksial pada subyek adalah<strong> AKSIS IV </strong>masalah psikososial dan lingkungan.</p>
<p>Analisa yang didapatkan penulis dari kasus diatas ada beberapa treatment yang digunakan penulis sebagai terapi eksistensial-humanistik untuk menyembuhkan terauma psikis yang dialami oleh subyek. Dari treatmen yang diberikan kepada subyek diharapkan akan membantu subyek untuk memahami bagaimana ia dibentuk dengan pengalaman-pengalaman masa lalunya, dia akan mampu mengendalikan fungsi dirinya sendiri sekarang, ketakutan-ketakutan yang irasional dan pemikiran-pemikiran yang negatif akan menjadi disadari dan kemudian energi ketakutannya tidak akan tetap terpaku mempertahankan dirinya dari perasaan-perasaan yang tak ia sadari.</p>
<ol>
<li><strong>B. </strong><strong>Saran</strong></li>
</ol>
<p>Dunia anak-anak adalah dunia yang mengasyikkan, disinilah masa-masa kebahagiaan bagi mereka, untuk berkembang dan mencari-tahu serta mengenal lingkungan sekitarnya karena setiap masa bagi anak-anak mempunyai fungsi tersendiri. Tak seharusnya kekerasan itu sebagai jalan untuk mengatasi masalah bagi anak, karena mereka butuh kasih sayang dan yang tidak kalah pentingnya adalah sebuah perhatian dan pengertian bukan kekerasan.</p>
<p>Dinegeri ini masih banyak anak-anak yang tidak mendapat perhatian dari orang tuanya, serta lingkunmgan sekitarnya, terabaikan hak-haknya, kasih sayangnya hingga mendapatkan perlakuan yang tidak wajar. Sebenarnya mereka adalah sumber inspirasi bagi kita dan sekaligus sebagai <em>amanat</em> yang senantiasa harus kita jaga sampai benar-benar mereka menjadi orang yang mandiri.</p>
<p>Menurut penulis masa lalu bukanlah segala-galanya untuk menentukan hidup seseorang, akan tetapi masa lalu adalah sesuatu yang harus kita pikirkan untuk diambil sebuah kemanfaatannya. Setiap orang mempunyai masa lalu, baik masa lalu yang menyenangkan ataupun masa lalu yang menyedihkan. Akan tetapi masa lalu yang buruk tidak selamanya membuat masa depan seseorang menjadi buruk pula, keburukan akan seseorang didapatkan bukan karena masa lalunya tapi masa sekarang yang tidak dimaksimalkan sebaik-baiknya.</p>
<p>Dari itu penulis menyarankan khususnya untuk diri penulis sendiri dan umumnya untuk semua pembaca, bahwa hidup seseorang untuk seseorang itu sendiri, bukan untuk orang lain. Keputusan seseorang untuk seseorang itu sendiri dan bukan untuk orang lain. Ketika seseorang mengambil keputusan yang salah dan persepsi yang salah pula dan yang ia anggap benar, maka langkah untuk menuju masa depan yang sempit akan didapatkan, langkahnya terbatas, pikirannya dangkal dan hanya pemikiran emotif yang akan ia dapatkan. Dari hal itu penulis sarankan berkumpullah dengan orang-orang pandai dan bijak, bukan bijaksana saja juga bijaksini, yang mengetahui apa-apa yang belum kita ketahuai.</p>
<p>Dengan tulisan yang penulis sajikan ini, penulis berharap para pembaca tidak puas dengan berhenti sampai disini, tapi kami berharap ada saran masukan kritik dan lain-lain. Yang nantinya akan dapat mengacu pada penelitian yang lebih baik lagi, dan apabila dalam penulisan ini terdapat kesalahan dalam penulisan ataupun kata-kata yang kurang berkenan dihati para pembaca penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya dan yang seikhlas-ikhlasnya. Oleh karena itu hanya kepada Allah-lah kami memohon agar segala usaha ini ada manfaatnya bagi pembaca maupun bagi penulis sendiri. Semoga bermanfaat di dunia dan di akherat. <em>Amien</em>.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong>LAMPIRAN DATA ASLI</strong></p>
<p align="center"><strong>IDENTIFIKASI MASALAH SUBYEK</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<ul>
<li><strong>Menurut Saudara Ahmad Muzamil 20 tahun (orang kepercayaan Bapak Ahmad Suhari)</strong></li>
</ul>
<p>Menurut saya dia anak yang sopan, <em>cool</em>, ramah, yang jelas dia anak yang baik tidak suka jajan, penampilannya sederhana tapi juga oke&#8230;&#8230;&#8230;???</p>
<p>Anaknya jujur, pandai menghargai waktu, rajin belajar juga cerdas&#8230;&#8230;&#8230;???</p>
<p>Oh ya&#8230; hampir aku lupa dia anaknya pendiam.<a href="#_ftn23">[23]</a></p>
<ul>
<li><strong>Menurut Bapak Ahmad Suhari 47 tahun (Pengasuh Panti Asuhan Ar-Radiyah)</strong></li>
</ul>
<p>Siti Solekah berasal dari keluarga yang miskin, ibunya adalah seorang PRT (Pembantu Rumah Tangga) sedangkan bapaknya adalah seorang ofice boy. Penghasilan orang tuanya untuk mencukupi kebutuhan keluarganya pun pas-pasan, apalagi untuk membiayai sekolah kedua anaknya. Makanya Siti Solekah dititipkan disini.</p>
<p>Disamping itu keharmonisan antara kedua orang tuanya pun tidak terjaga, keduanya sering <em>cekcok</em> mulut. Terkadang ayahnya sampai beberapa bulan tidak pulang. Orang tuanya berangkat kerja pagi hari pulangnya malam, kadang juga tidak pasti. Kalau orang tuanya bekerja dia ikut sama <em>Simbahnya</em>.</p>
<p>Pertama kali dia tinggal disini ya&#8230;? sama kaya anak-anak yang lain. Satu dua hari kelihatannya murung sedih ya&#8230;? mungkin itu proses adaptasi karna mungkin anak itu masih teringat sama kampung halamannya, sama keluarganya. Tapi setelah seminggu dua minggu dia sudah bisa adaptasi dengan lingkungan disini, dengan teman-temannya, dan sudah berani bergaul sama teman-temannya.</p>
<p>Selama disini sepengetahuan saya dia anak yang baik, sopan, pandai menghormati yang tua, <em>andhap ashor</em>, <em>tawahdu</em>. Dia anak yang penurut dan cerdas meskipun dia sedikit pendiam.</p>
<p>Kurang lebih empat bulan yang lalu dia pernah kena kasus bersama lima temannya. Ketika itu mereka pada ngerumpi pada waktu malam hari sampai tidak tidur, akhirnya pada pagi harinya mereka tidak bisa bangun pagi dan mereka sakit semua mungkin masuk angin atau apalah saya tidak tahu pasti&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p><em>Lha iya</em>&#8230;&#8230;&#8230;yang dingerumpiin itu apa lha <em>wong wadon</em> begadang ko’ semaleman kan tidak pantas&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p>Kemudian saya memarahi mereka semua hingga membentaknya dan saya mengatakan kalau sampai kalian mengulangi kedua kalinya maka kalian akan saya beri hukuman yang lebih berat. Saya meyakinkan kepada mereka supaya mereka tidak mengulanginya lagi.</p>
<p>Meskipun dia anaknya pendiam tapi dia anak yang ”<em>sregepan</em>” juga cekatan dibanding anak-anak yang lainnya. Terkadang anak-anak yang lain saya suruh <em>ro’an</em> mereka pada <em>ngumpet</em>, kadang juga pekerjaan belum selesai tapi yang tersisa tinggal satu dan dua anak saja. Beda dengan Siti kalau melakukan pekerjaan kalau semuanya belum beres dia tidak akan istirahat.<a href="#_ftn24">[24]</a></p>
<ul>
<li><strong>Menurut Subyek Siti Solekah 13 tahun</strong></li>
</ul>
<p><em>Assalamu’alaikum Wr, Wb.</em></p>
<p>Pada suatu hari ibuku menawari tinggal di Panti Ar-Rodiyah ini, waktu itu aku tidak bisa menjawab karena dalam hatiku masih ada dua perasaan antara mau dan tidak. Mau karena aku kasihan sama orang tuaku, mereka bekerja berangkat pagi pulang malam untuk membiayai sekolahku dan kakakku. Aku pun waktu itu berpikir kalau aku disana pasti aku bisa sekolah kejenjang yang lebih tinggi dan pasti mempunyai pengalaman yang banyak. Tidak maunya nih kak??? Yaitu belum siap berpisah dengan keluarga, karena kalau aku di rumah mempunyai masalah sekecil apapun pasti ada yang <em>mbantuin</em> tapi kalu disana bagaimana??? itu yang menjadi aku bingung? Dan siapa yang mau <em>mbantuin</em>. Akhirnya setelah beberapa hari berpikir saya menjawab ya dan mau.</p>
<p>Setelah disana setiap pulang sekolah atau mau tidur pasti aku ingin nangis, apalagi kalu punya masalah banyak, tidak ada tempat curhat untuk aku.</p>
<p>Pada suatu hari aku disukai oleh seseorang karena aku tidak suka sama dia, aku jengkel sama dia, aku kesal sama dia, karena dia selalu memperhatikan tingkah lakuku. Aku <em>ngaji</em> disana dia mengikutiku aku bingung akhirnya aku menangis waktu itu karna aku belum pernah mengalami hal seperti ini.</p>
<p>Pada waktu lebaran aku berada di masjid lantai dua terus dia nyuruh-nyuruh anak-anak untuk turun supaya dia bisa minta ma&#8217;af sama aku. Mungkin dia malu kak ya sama anak-anak??? terus aku marah saat itu kak, kenapa mau minta maaf saja anak-anak disuruh turun kan aku jadinya takut dingapa-ngapain sama dia. Akhirnya saya memarahinya dan tidak bisa memaafkan. Diapun menangis aku pikir kenapa anak ini <em>cengeng</em> padahal kan cowok masa di begitukan kok nangis. Dan akhirnya aku menemukan seorang sahabat tapi kedekatanku sama dia tidak disukai teman-teman setelah lama aku bersahabat dengannya. Kemudian saudranya datang akhirnya aku ”<em>dicuwekkin</em>” perhatiannya tidak seperti dulu lagi sama aku. Perhatiannya ke aku berkurang, dia sifatnya sudah berubah tidak seperti dulu. Setelah itu aku berteman dengan teman yang dulu pernah aku benci ternyata aku sama dia bisa nyambung, tidak seperti sahabatku yang itu. Tapi ketika jauh dengannya aku merasa sudah tidak ada yang memerhatikan aku lagi. Walaupun aku saat ini cukup bahagia.</p>
<p>Teman-teman pada bilang kalau aku tidak berteman dengan sahabatku yang pertama, maka aku jadi lebih baik tidak ada masalah denganku karena waktu berteman dengannya masalah silih berganti seperti aku pernah dituduh pacaran dengan seseorang, padahal aku sama dia hanya berteman saja. Sampai-sampai aku diintrograsi kok kaya penjahat saja ya kak&#8230;&#8230;&#8230;??? ya mungkin teman-teman khawatir dan takut kalau kejadian sahabatku dulu akan menimpa aku. Yaitu sahabatku dulu pernah pacaran sampai-sampai kelewat batas akhirnya dihukum sama bapak.</p>
<p>Kak puri kenapa ya&#8230;&#8230;&#8230;??? aku ngersa sulit banget kalau pas pelajaran <strong>Bahasa Inggris </strong>dan<strong> Fisika. </strong>Dalam hal agama seperti Al-qur’an Hadits, Fiqih, Aqidah Akhlah aku lumayan bisa tapi pas baktu <strong>Bahasa Arab</strong> aku tidak bisa apa-apa, terus dalam hal <strong>hapalan</strong> kak kenapa ya aku itu kalau hapalan sulit sekali, tidak bisa masuk-masuk padahal sudah hampir satu jam aku mencoba menghapal. Terus gini kak kalau sudah hapal cepet hilang. Kak kasih solusi dong biar cepet dan mudah hapalan??? Kenapa kak ya&#8230;&#8230;&#8230;??? Ada apa dengan diriku apa aku memang sudah ditakdirkan seperti ini.</p>
<p>Kalau di kampung kan ada pak Kyai, ada juga pak Ustadz kebetulan saya punya Ustadz kak, katanya kalau pengen cepet hapalannya masuk dan bisa menguasai, hapalannya setelah bangun tidur dan setelah sholat maghrib apa betul kak&#8230;&#8230;&#8230;???</p>
<p>Kak Puri kalau aku ingat sama bapak, aku jadi sedih aku pengin menangis karena ketika itu bapak sedang sakit Ibu tidak punya uang untuk biaya berobat kedokter akhirnya bapak dirawat dirumah seadanya dirumah. Ketika itu bapak sakit dan muntah darah dan aku melihatnya sendiri. Sejak saat itu, kalau aku ingat bapak aku jadi kasihan,  sedih dan penginnya nangis aku merasa sebagai anak yang tidak berguna.</p>
<p>Ka Puri, di panti ini aku juga pernah disakiti sama teman, aku itu nggak tau kak? salah aku itu apa? tiba-tiba aku dikatain yang nggak-nggak bahkan kata-kata yang jorok, kata-kata kotor yang tidak pantas untuk dikatakan. Aku dituduh merampas pacarnyalah&#8230;&#8230;&#8230;, dikatain <em>cewek ganjen</em>, <em>cewek gatelan</em> dan sampai-sampai dia bawa-bawa orang tuaku segala, itulah yang membuat hatiku sakit kak, sampai saat ini aku sangat sakit aku nggak bisa melupakan kejadian itu setiap kali aku ingat aku selalu menangis.</p>
<p>Karena dengan kejadian itu aku tidak percaya lagi dengan adanya sahabat ternyata benar kata pepatah ”<em>sahabat baru datang, sahabat lama dilupakan</em>” yang aku inginkan adalah perhatian dari seorang teman dan yang masih membuat aku bingung adalah kenapa teman-teman tidak bisa menerima segala kekuranganku. Tetapi disini aku bertekad untuk bersungguh-sungguh mencari ilmu supaya bisa sukses dan membahagiakan orang tuaku.</p>
<p>Ini yang bisa aku sampaikan sama kak Puri&#8230;&#8230;&#8230;??? kalau ada kata-kata yang salah aku minta maaf karna itu datangnya dari diriku dan jika ada kebenaran itu datangnya dari Allah SWT.</p>
<p>Udah dulu ya kak&#8230;&#8230;&#8230; bay???</p>
<p><em>Wasalamu’alaikum Wr. Wb</em></p>
<p align="center">Dari</p>
<p align="center">
<p align="center">Siti Solekah</p>
<p>Dari hasil wawancara dengan obyek penelitian ini ditemukan beberapa data yang penting, berikut akan penulis sampaikan.</p>
<p>Penulis memberikan pertanyaan ”pengalaman apa yang kamu anggap pernah disakiti oleh orang lain” subyek menjawab di panti ini saya pernah disakiti sama teman, saya itu tidak tau salah saya itu apa tiba-tiba saya dikatain yang tidak-tidak bahkan kata-kata yang jorok, kata-kata yang kotor yang tidak pantas diucapkan. Bahkan saya dituduh merampas pacarnya, <em>cewek ganjen</em>, <em>cewek gatelan</em> dan sampai-sampai dia bawa-bawa orang tuaku segala. Itulah yang membuat hatiku sakit sampai saat ini aku masih sakit, aku belum bisa melupakan kejadian itu. Setiap kali aku ingat kejadian itu aku selalu menangis.<a href="#_ftn25">[25]</a></p>
<p>Penulis melanjutkan pertanyaan lain dalam sebuah pertanyaan yang penulis ajukan yaitu ”bagaimana cara kamu menjadi teman yang baik” teman yang baik adalah teman yang bisa diajak susah, tidak sombong. Terus teman yang baik tidak bisa disamakan dengan banyang-banyang, meskipun bayang-bayang itu selalu ada dan mengikuti sebuah benda. Akan tetapi adanya bayang-bayang itu karena sebab adanya cahaya, jadi teman yang baik adalah seperti cahaya, yang selalu memberi penerangan disaat kita dalam kegelapan, selalu menolong disaat kita susah dan selalu ada disaat kita membutuhkan.</p>
<p>Penulis melanjutkan ”apakah ada masalah sampai saat ini yang membuatnya sedih” subyek mengatakan, dulu ketika subyek masih tinggal bersama kedua orang tuanya, saat itu bapak subyek sedang menderita sakit, dan kata keluarganya sakit yang diderita bapaknya adalah akibat diguna-guna oleh bosnya. Ketika sakitnya parah subyek melihat bapaknya muntah darah, sejak saat itu subyek merasa kasihan sama bapaknya dan setiap kali ingat kejadian itu subyek menjadi sedih sampai-sampai menangis, subyek merasa berdosa dan merasa dirinya tidak berguna.<a href="#_ftn26">[26]</a></p>
<ul>
<li><strong>Menurut Isnaini 13 tahun (teman satu kampung)</strong></li>
</ul>
<p>Setahu saya dia anak yang baik kak&#8230;&#8230;&#8230;dia tidak pernah bermusuhan sama saya&#8230;&#8230;&#8230;peduli terhadap sesama, setia kawan lagi&#8230;&#8230;&#8230;meskipun anaknya agak pendiam tapi sebenarnya dia suka menolong temen, disaat temennya membutuhkan.</p>
<p>Gini kak dulu ketika saya lagi tidak punya uang, saya coba cari pinjaman keteman-teman, tapi mereka lagi tidak punya uang, akhirnya saya meminjam sama Siti eS&#8230;&#8230;&#8230;akhirnya saya dikasih pinjaman. Dia itu baik kak dia sering main kerumahku padahal rumahku agak jauh&#8230;???</p>
<p>Em&#8230;em&#8230;eeeh ini kak dia itu orangnya agak pendiam tapi pinter selalu dapat ranking tiga besar, kalau tidak dapat ranking dua ya&#8230;&#8230;&#8230;dapetnya ranking tiga. Karna setahu saya dia tidak pernah dapat ranking satu.<a href="#_ftn27">[27]</a></p>
<ul>
<li><strong>Menurut Aziz Kurniawan 13 tahun</strong></li>
</ul>
<p>Saya kan baru setengah tahun di panti ini kak dan saya termasuk anak yang paling baru disini, jadi saya belum tau banyak tentang kepribadian Siti eS&#8230;&#8230;&#8230;yang saya tau dia anaknya baik, disiplin rajin belajar dan mudah bergaul, meskipun dia itu agak pendiam&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p>Cuman itu kak??? Kalau bisa pendiamnya itu dikurangin terus kalau bisa mulutnya dibuka lebar-lebar dan selalu senyum tidak cemberut terus&#8230;&#8230;&#8230;biar kelihatan cantik.<a href="#_ftn28">[28]</a></p>
<ul>
<li><strong>Menurut Siti Maisarah 14 tahun (teman satu sekolahan)</strong></li>
</ul>
<p>Meskipun saya dan Siti eS tidak satu kelas tapi saya tau betul bagimana Siti di sekolahan kak??? setahu saya dia di sekolahan anaknya baik, tidak pernah kena kasus. Meskipun dia kelihatan pendiam tapi kalau di sekolahan dia kelihatan biasa-biasa saja, bergaul sama teman-temannya, ya&#8230;pokoknya seperti itulah kak???</p>
<p>Dia anaknya tidak suka jajan, paling-paling jajannya sekedarnya saja. Kalau lagi tidak punya uang ya paling-paling di kelas baca-baca buku kadang juga keperpustakaan&#8230;dia pandai menghargai waktu kak? disiplin dan rajin belajar tidak seperti aku belajar kalau pas lagi kumat&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p>Oh ya&#8230;&#8230;&#8230;Siti eS itu cerdas, pandai dan slalu dapet ranking tiga besar, udah dulu ya kak, udah malem besuk takut tidak bisa bangun pagi.<a href="#_ftn29">[29]</a></p>
<ul>
<li><strong>Instrumen Treatment</strong></li>
</ul>
<p>Analisa yang didapat penulis dari kasus diatas, ada beberapa treatment yang digunakan penulis sebagai terapi eksistensial humanistik untuk penyembuhan trauma psikis yang dialami oleh subyek. Adapun treatment tersebut sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Apa yang akan kamu lakukan ketika kamu disakiti oleh teman kamu?</li>
<li>Jika suatu hari teman yang pernah menyakiti kamu meminta ma&#8217;af apakah kamu mau memaafkannya?</li>
<li>Jika suatu hari teman yang pernah menykiti kamu ingin bersahabat lagi denganmu apakah kamu mau menerimanya kembali?</li>
<li>Pernahkah kamu berpikir untuk berbuat baik kepada teman yang pernah menyakitimu?</li>
<li>Seberapa besar rasa bencimu terhadap teman yang pernah menyakitimu?</li>
<li>Perlakuan apa yang kamu inginkan dari teman yang pernah menyakitimu sekarang?</li>
</ol>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Untuk <em>http://sidogiri.com/modules.php?name=News&amp;file=print&amp;sid=553</em>.</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Untuk <em>http://sidoarjokab.go.id/?content=08-lemb-non-pem/baz/berita_terkini.htm&amp;menu=menus/menu-baz-1.htm&amp;top=08-lem-non-pem/baz/top.htm</em>.</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Suprapti Slamet dan Sumarmo Markam, <em>Pengantar Psikologi Klinis</em>, UI-Press, Cet ke-3, Jakarta 2006, hal 38-39.</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Elisabeth B. Horlock, <em>Psikologi Perkembangan, Perc Erlangga</em>, Cet. Ke-5, Jakarta 2005, hal 196</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Wawancara dengan Saudara Ahmad Muzamil tanggal 25 Nopember 2008 jam 15:30 WIB di Asrama Putra P.A Ar-Radiyah</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Wawancara Bapak Ahmad Suhari tanggal 27 Nopember 2008 jam 19:30 WIB di kantor Panti Asuhan Ar-Rodiyah</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Wawancara dengan Saudari Siti Solekah tanggal 23 Nopember 2008 jam 19:30 WIB di depan kantor Panti Asuhan Ar-Rodiyah</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Wawancara dengan Saudari Isnaini tanggal 5 Desember 2008 jam 19:30 WIB di depan Aula Panti Asuhan Ar-Rodiyah</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> Wawancara dengan Saudara Aziz Kurniawan tanggal 2 Desember 2008 jam 21:30 WIB di depan Aula Panti Asuhan Ar-Rodiyah</p>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> Wawancara dengan Saudari Siti Maisaroh tanggal 1 Desember 2008 jam 20:30 WIB di depan Aula Panti Asuhan Ar-Rodiyah</p>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> Untuk <a href="http://info-sehat.com/inside-levwl">http://info-sehat.com/inside-levwl</a> 1.asp?intid=4&amp;secid=45</p>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> <em>Op. Cit</em> Elisabeth B. Hurlock, <em>Psikologi Perkembangan</em></p>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a> <em>Ibid</em>, hal 201</p>
<p><a href="#_ftnref14">[14]</a> Drs. M.S. Hadi Subrata M.A, <em>Pengembangan Kepribadian Anak Balita,</em> PT. BPK Gunung Mulia, Cet. Ke-3, Jakarta 1997</p>
<p><a href="#_ftnref15">[15]</a> <em>Op. Cit</em>, Suprapti Slamet dan Sumarmo Markam, <em>Pengantar Psikologi Klinis, </em>UI-Pres, Cet ke-3, Jakarta 2006, hal 39-39</p>
<p><a href="#_ftnref16">[16]</a> <em>Ibid</em>. Hal 40</p>
<p><a href="#_ftnref17">[17]</a> <em>Ibid</em>. Hal 57</p>
<p><a href="#_ftnref18">[18]</a> Untuk http://siar.endonesa.net/utty/2008/10/15/laporan-verbotim-dengan-pendekatan-eksistensialisme-sebuah-contoh.</p>
<p><a href="#_ftnref19">[19]</a> Gerald Corey, <em>Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi</em>, Penerbit PT. Refika, cet ketiga, bandung 1997 hal 297</p>
<p><a href="#_ftnref20">[20]</a> Rusdi Muslim, <em>PPDGJ=III</em>, hal 73</p>
<p><a href="#_ftnref21">[21]</a> <em>Op. Cit</em>, untuk <a href="http://siarendonesa.net/">http://siarendonesa.net</a></p>
<p><a href="#_ftnref22">[22]</a> <em>Op. Cit</em>, Gerald Corey, <em>Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi</em>, hal 297</p>
<p><a href="#_ftnref23">[23]</a> Wawancara dengan Saudara Ahmad Muzamil tanggal 25 Nopember 2008 jam 15:30 WIB di Asrama Putra  Panti Asuhan Ar-Radiyah</p>
<p><a href="#_ftnref24">[24]</a> Wawancara Bapak Ahmad Suhari tanggal 27 Nopember 2008 jam 19:30 WIB di kantor Panti Asuhan Ar-Rodiyah</p>
<p><a href="#_ftnref25">[25]</a> Wawancara dengan Saudari Siti Solekah tanggal 23 Nopember 2008 jam 19:30 WIB di depan kantor Panti Asuhan Ar-Rodiyah</p>
<p><a href="#_ftnref26">[26]</a> Wawancara dengan Saudari Siti Solekah tanggal 25 Nopember 2008 jam 19:30 WIB di depan Aula Panti Asuhan Ar-Rodiyah</p>
<p><a href="#_ftnref27">[27]</a> Wawancara dengan Saudari Isnaini tanggal 5 Desember 2008 jam 19:30 WIB di depan Aula Panti Asuhan Ar-Rodiyah</p>
<p><a href="#_ftnref28">[28]</a> Wawancara dengan Saudara Aziz Kurniawan tanggal 2 Desember 2008 jam 21:30 WIB di depan Aula Panti Asuhan Ar-Rodiyah</p>
<p><a href="#_ftnref29">[29]</a> Wawancara dengan Saudari Siti Maisaroh tanggal 1 Desember 2008 jam 20:30 WIB di depan Aula Panti Asuhan Ar-Rodiyah</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asfuriahmad.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asfuriahmad.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asfuriahmad.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asfuriahmad.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/asfuriahmad.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/asfuriahmad.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/asfuriahmad.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/asfuriahmad.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asfuriahmad.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asfuriahmad.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asfuriahmad.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asfuriahmad.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asfuriahmad.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asfuriahmad.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asfuriahmad.wordpress.com&amp;blog=8304576&amp;post=11&amp;subd=asfuriahmad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asfuriahmad.wordpress.com/2009/07/02/laporan-pe-pe-el/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c978a72734be85dc6f9b3d6cb47d6db4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">asfuriahmad</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
